Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Dosa Akhan
Dosa Akhan
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. II Minggu, 4 Oktober 2009
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 27/12/09

Kata "dosa" bukanlah sesuatu yang asing di telinga kita. Namun kita perlu belajar tentang definisi dosa, akibat dosa, dan bagaimana agar kita dapat dipulihkan dari akibat perbuatan dosa melalui peristiwa penyerangan terhadap kota Ai.

YOSUA 7 : 1
1 Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.

Banyak orang mengartikan atau mendifinisikan dosa adalah membunuh, mencuri, berdusta, dan lain sebagainya. Padahal membunuh, mencuri, berdusta yang disebutkan itu bukan definisi dosa yang sesungguhnya; itu semua merupakan perbuatan dosa. Definisi dosa adalah berubah setia terhadap TUHAN. Oleh karena berubah setia terhadap TUHAN, seseorang dapat melawan perintah-NYA. Dengan demikian segala perbuatan kita yang melawan atau melanggar perintah TUHAN akan disebut dosa.

Ketika bangsa Israel mengalahkan kota Yerikho, TUHAN memerintahkan kepada bangsa itu agar tidak mengambil satu barang pun. TUHAN memerintahkan agar segala yang ada di dalam kota itu dibakar habis, kecuali emas, perak barang-barang dari tembaga dan besi dikhususkan untuk perbendaharaan rumah TUHAN. Jika hal tersebut mereka taati maka bangsa Israel tidak berbuat dosa. Tetapi pada kenyataannya salah seorang dari antara bangsa Israel berubah setia; Akhan mengambil jubah, emas dan perak.

Mengapa umat Israel tidak boleh mengambil barang yang telah dikhususkan itu? Pertanyaan yang sama juga sering dilontarkan berkaitan dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, mengapa buah yang ada di tengah taman itu tidak boleh dimakan? Ada orang yang berkata seperti ini: "Jika buah dari pohon yang ada di tengah taman itu tidak boleh dimakan, mengapa TUHAN menaruh pohon itu di sana? Pertanyaan tersebut mengarah pada menyalahkan TUHAN. Padahal merupakan hak TUHAN untuk menaruh pohon itu di mana saja, sebab TUHAN yang memiliki taman itu.

Contoh sehari-hari untuk hal di atas: seseorang kehilangan handphone yang ditaruhnya di atas meja di dalam rumahnya sendiri. Setelah ditelusuri, ternyata benda itu diambil oleh pembantunya. Dalam interogasi yang dilakukan pemilik rumah tersebut, pembantu itu berkata: "Kalau HP itu tidak boleh diambil, mengapa Bapak/Ibu menaruhnya di atas meja?" Mendengar perkataan seperti itu dengan spontan pemilik rumah berkata: "Ini kan rumah saya, jadi saya mau menaruh barang di mana saja terserah saya karena ini hak saya. Kamu tidak boleh mengambil barang-barang yang bukan milikmu."

Akibat perbuatan Akhan itu, ALLAH murka terhadap bangsa Israel. Perlu kita ketahui bahwa murka ALLAH tidak sama dengan murka (marah) pada manusia. Mungkin selama ini bayangan kita terhadap murka ALLAH adalah "ALLAH tolak pinggang dengan wajah yang marah dan siap untuk memukul kita". Jika demikian, seperti apakah murka ALLAH itu?

1 SAMUEL 3 : 1
1Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu Firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering.

Pada saat Samuel masih belia dan berada dalam pengawasan imam Eli, saat itu jarang ada Firman atau penglihatan. Mengapa? Karena imam Eli telah berbuat dosa dengan membiarkan anak-anaknya hidup di dalam dosa. Inilah yang menyebabkan TUHAN tidak memberikan petunjuk-NYA bagi umat Israel. Secara logika kita dapat berpikir seperti ini: "Untuk apa memberikan petunjuk, jika hal itu justru dilanggar." Sebab jika instruksi pertama tidak kita ikuti, maka tidak akan pernah ada instruksi kedua atau pun selanjutnya. Seperti inilah yang disebut murka TUHAN, yaitu tidak memberikan visi kepada manusia. Apabila hidup kita tanpa petunjuk TUHAN, usaha yang kita lakukan pasti akan mengalami kegagalan. Jika tidak mendapatkan petunjuk TUHAN, kita patut mengkoreksi diri, apakah kita masih hidup di dalam dosa atau tidak.

Ketika Yosua hendak menyerang kota Yerikho, ia mendapatkan petunjuk yang jelas dari TUHAN, bahkan IA memberikan petunjuk secara detail. Tetapi pada saat Akhan melanggar perintah ALLAH, Yosua tidak mendapatkan petunjuk dari TUHAN tentang langkah selanjutnya yang harus ia lakukan. Peristiwa ini sama persis dengan apa yang dialami oleh imam Eli, di mana selama ia belum membereskan permasalahan dosa yang dilakukan oleh anak-anaknya, tidak akan ada visi yang diterimanya.

Beberapa waktu yang lalu seorang anak TUHAN mengundang saya untuk mendoakan sebuah proyek pembangunan suatu fasilitas umum yang ditanganinya. Sebelumnya proyek tersebut telah dikerjakan oleh orang lain. Namun proyek tersebut pada akhirnya macet, karena yang bertanggung jawab untuk mengerjakan pembangunan tersebut berbuat hal yang tidak benar. Setelah hal tersebut terungkap, orang tersebut diberhentikan. Namun karena merasa tidak terima atas perlakuan tersebut, ia menggunakan kuasa gelap untuk mengerjai tempat yang sedang dibangun tersebut. Tujuannya agar pengerjaan tempat tersebut tidak pernah dapat diselesaikan. Akibatnya, setiap ada pemborong lain yang hendak melanjutkan proyek tersebut, selalu gagal karena berbagai macam hal yang terjadi. Pada akhirnya jemaat gereja kita ini mendapatkan proyek ini untuk melanjutkan pekerjaan yang telah berhenti kurang lebih selama dua tahun. Jemaat ini meminta saya untuk berdoa di lokasi proyek tersebut.

Sebelumnya saya telah melakukan persiapan terlebih dahulu, dan setibanya di lokasi, saya merasakan ada sesuatu yang lain. Lalu saya berdoa kepada TUHAN dan meminta kepada-NYA untuk menunjukkan apa yang harus saya perbuat. Lalu saya berjalan dengan diikuti oleh jemaat tersebut dan seorang petugas yang menjaga tempat tersebut. Hingga pada suatu titik (lokasi), saya berkata: "Tepat di sini (sambil menunjuk) terdapat sesuatu yang menyebabkan kuasa gelap bercokol." Lalu saya berdoa dan mengurapi tempat tersebut dengan minyak urapan. Petugas yang menyertai kami terlihat heran dan berkata: "Kok Bapak tahu, kalau tepat di tempat ini terdapat kuasa gelap?" Saya menjawabnya bahwa TUHAN yang memberitahukannya kepada saya. Setelah itu ia mulai menceritakan bahwa tepat di tempat yang saya tunjuk itu telah disirami oleh air bekas memandikan mayat yang juga air tersebut telah dijampi-jampi oleh dukun. Itu sebabnya tidak ada seorang pun yang berani melewati tempat tersebut. Namun sejak hari itu (setelah saya mendoakan tempat tersebut), proyek pembangunan yang dikerjakan oleh jemaat gereja kita itu berjalan dan hingga hari ini tidak ada gangguan apa-apa. Semuanya itu dapat terjadi karena campur tangan ALLAH yang luar biasa. Seperti inilah yang disebut sebagai visi, di mana ALLAH memberitahukan langkah apa yang harus kita perbuat di dalam sebuah peperangan.

Visi dari TUHAN kita terima bila kita telah membuang dosa jauh-jauh. Kita tidak usah menghiraukan kondisi di sekeliling kita. Yang penting adalah kita tinggalkan segala perbuatan dosa agar TUHAN mau memberikan petunjuk-NYA bagi kita. Sebab sebaik apa pun kondisi di sekitar kita, jika TUHAN tidak memberikan petunjuk-NYA bagi kita, semuanya itu tidak akan ada faedahnya.

YOSUA 7 : 2 - 3
2 Yosua menyuruh orang dari Yerikho ke Ai, yang letaknya dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dan berkata kepada mereka, demikian: "Pergilah ke sana dan intailah negeri itu." Maka pergilah orang-orang itu ke sana dan mengintai kota Ai. 3 Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."

Setelah Yosua berhasil merobohkan tembok Yerikho, dan ia dan bangsa Israel hendak menyerang kota Ai, Yosua mulai tidak sensitif. Kali ini ALLAH tidak memberikan petunjuk tentang penyerangan kota Ai. Yosua terlalu menargetkan untuk meraih Kanaan (berkat), sehingga ketika ALLAH tidak memberikan Firman-NYA, ia mengambil inisiatif sendiri dengan jalan mengutus pengintai ke kota Ai. Padahal ALLAH tidak pernah memerintahkan Yosua untuk mengintai kota tersebut. Inilah kesalahan yang dilakukan oleh Yosua: ia tidak mencari petunjuk dari TUHAN terlebih dahulu; ia mulai tidak sabar untuk meraih Kanaan. Ketika ALLAH tidak berbicara atau tidak memberikan visi, seharusnya Yosua mulai mengkoreksi diri dengan menanyakan: "Mengapa kali ini ALLAH tidak berbicara?" Sebab biasanya ALLAH selalu memberikan petunjuk dengan jelas ketika Yosua dan bangsa Israel hendak menyerang sebuah kota.

Sebagai indikator apakah kita masih berjalan di dalam jalur ALLAH atau tidak adalah tergantung dari adanya petunjuk TUHAN atau tidak. Jika ternyata kita telah berada di luar jalur ALLAH dan kita tetap melakukan sesuatu tanpa membereskan dosa dan mulai bertindak sendiri, maka apa yang kita perbuat digambarkan sebagai orang yang membangun rumah di atas lumpur. Seberapa pun tingginya tembok yang dibangun, pasti akan roboh. Jika sudah seperti itu, kita harus memulai perkejaan yang sama dari awal. Itu sebabnya ketika Yosua menyerang kota Ai, yang diperoleh adalah justru kegagalan. Hal itu terjadi karena Yosua tidak membereskan dosa yang ada di dalam bangsa Israel terlebih dahulu.

Dalam ayat tiga Yosua mengutus pengintai untuk memata-matai kota Ai. Orang yang melangkah di dalam dosa, ia tidak mendapatkan petunjuk dari ALLAH melainkan dari manusia, yakni dari mata-mata yang sama sekali tidak mendapatkan otoritas dari ALLAH untuk memberikan nasehat kepada Yosua. Dan pada kenyataannya, nasehat yang mereka berikan justru menuju pada kefasikan (dosa) yang berujung pada kebinasaan. Oleh sebab itu, dengan tegas Firman TUHAN mengatakan kepada kita bahwa dosa sekecil apa pun yang ada di dalam hidup ini harus diselesaikan. Sebab jika kita melangkah di dalam dosa, maka hidup kita hanya akan menghasilkan dosa yang berakibat kepada kegagalan demi kegagalan.

MAZMUR 1 : 1
1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.

Orang yang hidup di dalam dosa, nasehat yang ia dengar justru bukan dari ALLAH, melainkan dari orang fasik yang nasehat-nasehatnya tidak memiliki kepastian dan tidak tepat. Terbukti, para pengintai memberikan nasehat agar tidak usah membawa semua bangsa Israel untuk menyerang kota Ai; mereka menasehatkan Yosua agar ia hanya membawa pasukan sekitar dua atau tiga ribu orang saja. Dua atau tiga ribu menunjuk jumlah yang tidak pasti, artinya nasehatnya tidak memiliki kepastian. Tetapi jika kita membereskan dosa, maka ALLAH akan memberikan petunjuk yang sangat jelas, tepat dan pasti.

YOSUA 7 : 4 - 5
4 Maka berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana; tetapi mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai. 5 Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat.

Tindakan Yosua setelah mendapat nasehat pengintai adalah membawa kira-kira tiga ribu orang. Kata "kira-kira" ini mengindikasikan ketidakpastian, atau Yosua sendiri tidak mengetahui seberapa jumlah pasukan yang dibawanya secara pasti. Karena Yosua lebih mendengarkan nasehat pengintai, ada dua hal yang dialami Israel: pertama kematian tentara Israel, dan yang kedua mereka menjadi tawar hati. Sepanjang sejarah peperangan mereka selama ini, tak seorang pun tewas akibat peperangan. Dengan tewasnya 36 orang Israel tersebut memiliki pemahaman bahwa ada akibat dosa yang bersifat permanen. Permanen, karena nanti, ketika Yosua dan segenap bangsa Israel bertobat, dan kota Ai dapat dikalahkan, 36 orang yang mati itu tidak hidup kembali. Inilah yang harus menjadi perhitungan ketika "ada keinginan untuk berbuat dosa". Sekalipun ALLAH mengampuni kita saat kita minta ampun, ada akibat permanen yang harus kita tanggung. Jangan sampai terbuai perkataan "TUHAN Maha Pengampun" sehingga berani bermain-main dengan dosa.

Contohnya pengalaman Kelvin Soh, seorang penyanyi rohani mantan pecandu narkoba yang harus mendekam di penjara selama 21 tahun karena narkoba. Dengan penuh ucapan syukur ia menerima anugerah pengampunan (keselamatan) dari TUHAN, namun ada penyesalan di batinnya. Ia menyesal karena telah menyia-nyiakan usia yang seharusnya produktif untuk melayani TUHAN. Waktu yang terbuang tak mungkin didapat kembali. Selain itu, ada bagian-bagian tubuhnya yang rusak, termasuk giginya hancur akibat narkoba. Ini akibat permanen dari dosa masa lalunya.

Akibat kedua, yakni tawar hati membuat mereka tidak memiliki semangat lagi untuk berjuang. Akibat yang kedua ini tidak bersifat permanen, sebab TUHAN sanggup mengubahkan tawar hati menjadi sesuatu yang manis.

YOSUA 7 : 13 - 15
13 Bangunlah, kuduskanlah bangsa itu dan katakan: Kuduskanlah dirimu untuk esok hari, sebab, demikianlah Firman TUHAN, ALLAH Israel: Hai, orang Israel ada barang-barang yang dikhususkan di tengah-tengahmu; kamu tidak akan dapat bertahan menghadapi musuhmu, sebelum barang-barang yang dikhususkan itu kamu jauhkan dari tengah-tengah kamu. 14 Besok pagi kamu harus tampil ke muka suku demi suku dan suku yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka kaum demi kaum, dan kaum yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka keluarga demi keluarga dan keluarga yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka seorang demi seorang. 15 Dan siapa yang didapati menyimpan barang-barang yang dikhususkan itu, akan dibakar dengan api, ia dan segala sesuatu yang ada padanya, sebab ia telah melanggar perjanjian TUHAN dan berbuat noda di antara orang Israel."

Ayat ini adalah bukti bahwa jika TUHAN murka berbeda dengan manusia yang sedang marah. Kecenderungan kemarahan manusia pada arah negatif, sedangkan kemarahan ALLAH selalu tertuju pada penyelesaian dosa. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah akui dosa kita, kemudian berhenti berbuat dosa dengan cara menguduskan diri. Sebab jika kita melakukan sesuatu atas dasar dosa, maka apa yang kita bangun di atasnya tak akan berhasil. Oleh sebab itu, kita harus menghentikan pembangunan itu bahkan harus dihancurkan secara total dan memulainya dari awal atas dasar Firman ALLAH. Memang resikonya adalah kehilangan waktu. Jika kita tidak memulainya dari sekarang, akan lebih banyak waktu terbuang sia-sia.

Pengakuan dosa di hadapan TUHAN bukan untuk melegalkan perbuatan tersebut. Contohnya, seseorang melakukan korupsi 10 milyar rupiah, kemudian mengaku dosa kepada TUHAN dan berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi. Tetapi kemudian melakukan dosa yang sama, bahkan uang yang dikorupsi lebih besar lagi. Lagi-lagi dia minta ampun dan berjanji takkan melakukan hal itu lagi. Hal seperti ini tidak mungkin berkenan kepada ALLAH.

Saat Yosua mengaku dosa kepada ALLAH, Ai masih belum dikalahkan. Begitu kita mengakui dosa dan minta ampun kepada ALLAH, bukan berarti masalah yang kita hadapi otomatis terselesaikan. Kita perlu menjalin hubungan yang erat dengan ALLAH, agar dapat menguduskan diri. Sebab setelah Yosua melakukan perintah ALLAH, maka ALLAH menguduskan umat Israel: Akhan dan seisi rumahnya dimusnahkan di hadapan TUHAN. Sangat penting bagi kita untuk menyelesaikan dosa di hadapan ALLAH, agar kita dikuduskan dan dipulihkan oleh ALLAH sehingga kita mampu meraih kemenangan.

YOSUA 8 : 1 - 2
1Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, AKU serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya, 2 dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang-barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah. Suruhlah orang bersembunyi di belakang kota itu."

Setelah mereka menyucikan diri, ALLAH mulai berfirman kembali. Lalu setelah perintah ALLAH itu telah dilakukan, maka IA memberikan instruksi selanjutnya bagi Yosua. Bukan hanya itu, ALLAH mulai memulihkan tawar hati orang Israel dengan memberikan kekuatan dan melenyapkan segala ketakutan mereka, sekalipun saat itu orang-orang Ai belum dikalahkan. TUHAN akan memulihkan kita dari perasaan tawar hati jika kita mau menyelesaikan dosa kita dan berhenti berbuat dosa.

Pemulihan dari TUHAN atas takut dan tawar hati telah diterima Israel. Selanjutnya TUHAN memberikan perintah agar mereka mempersiapkan diri untuk berperang melawan Ai. Ini berarti Yosua harus memulai dari titik awal lagi untuk mengalahkan kota Ai. Padahal jika sejak awal Yosua menyelesaikan segala dosa, Israel tidak perlu membuang waktu dan tidak perlu 36 orang mati di medan perang. Nasihat TUHAN sangat berbeda dengan nasehat yang diberikan oleh para pengintai yang menasehatkan membawa dua atau tiga ribu orang untuk berperang. TUHAN memerintahkan Yosua untuk membawa seluruh tentara Israel untuk berperang dengan jaminan bahwa TUHAN menyerahkan raja, seluruh rakyat dan semua kota Ai ke tangan Yosua. Dengan kata lain, sebelum maju berperang, ALLAH menjamin kemenangan yang pasti diraih oleh Yosua. Inilah yang akan kita terima jika kita mau berdiri dan hidup di dalam kekudusan ALLAH.

Perintah TUHAN selanjutnya adalah memusnahkan semua orang yang ada di kota itu seperti apa yang dilakukan terhadap orang Yerikho. Hanya barang-barang dan ternak-ternaknya saja yang boleh diambil oleh Yosua dan bangsa Israel. Bukan berarti kota Ai lebih baik daripada kota Yerikho, tetapi ALLAH ingin menunjukkan kepada kita bahwa TUHAN punya hak untuk menentukan apa saja yang dapat menjadi milik kita. Dengan mengikuti perintah TUHAN, kita akan berbahagia dan dipuaskan di dalam hidup ini.

YOSUA 8 : 3 - 7
3 Lalu bersiaplah Yosua beserta seluruh tentara untuk pergi ke Ai. Yosua memilih tiga puluh ribu orang, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, mereka disuruhnya pergi pada waktu malam 4 dan kepada mereka diperintahkannya, katanya: "Ketahuilah, kamu harus bersembunyi di belakang kota itu untuk menyerangnya, janganlah terlalu jauh dari kota itu, dan bersiap-siaplah kamu sekalian. 5 Aku dan semua orang yang bersama-sama dengan aku akan mendekati kota itu; apabila mereka keluar menyerbu kami, seperti yang pertama kali, maka kami akan melarikan diri dari hadapan mereka. 6 Jadi mereka akan keluar menyusul kami, sehingga kami memancing mereka jauh dari kota itu, sebab mereka akan berkata: orang-orang itu melarikan diri dari hadapan kita seperti yang pertama kali. Jika kami melarikan diri dari hadapan mereka, 7 maka kamu harus bangun dari tempat persembunyianmu itu untuk menduduki kota itu, dan TUHAN, ALLAH-mu, akan menyerahkannya ke dalam tanganmu.

Di dalam TUHAN selalu ada kepastian; Yosua memilih 30.000 orang untuk berperang. Padahal secara hitungan manusia, untuk menghitung 30.000 orang lebih sulit dari pada menghitung 3.000 orang. Namun dengan kekuatan dari ALLAH, hal itu tidaklah sulit. Pasukan yang dipilih oleh Yosua benar-benar 30.000 orang, bukan "kira-kira" 30.000 orang.

TUHAN memerintahkan agar Yosua menyerang kota Ai dengan cara bersembunyi dan menyerang dari belakang kota itu. Ini merupakan taktik perang yang luar biasa yang diajarkan TUHAN kepada Yosua. Strategi yang membawa kemenangan yang jitu akan kita peroleh dari TUHAN jika kita berhenti berbuat dosa, membuang dosa itu dari hidup kita, dan kuduskanlah diri kita.

MAZMUR 126 : 4 - 6
4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! 5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Doa Pemazmur ini dapat kita jadikan pelajaran untuk berdoa meminta pemulihan dari TUHAN. Kita harus rela melakukan lagi dari awal, harus mau menabur ulang untuk mencapai keberhasilan. Sekalipun ketika menaburnya disertai dengan cucuran air mata, namun kita memperoleh kepastian untuk menuainya dengan penuh sorak sorai. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang hanya mencucurkan air mata, tetapi lupa menabur benih. Akibatnya persoalan yang dihadapinya tidak pernah selesai. Yang harus kita perbuat justru maju sambil menaburkan benih, maksudnya adalah kita harus mau mengisi seluruh hidup kita dengan Firman TUHAN, menguduskan serta menyangkal diri dan tidak lagi mengikuti dunia ini. Maka kita akan pulang dengan sorak sorai sambil membawa hasil. Jangan buang waktu lagi, inilah saat pemulihan hubungan antarakita dengan ALLAH dan dengan sesama. Amin.