Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Ibadah Ala Yerobeam
Ibadah Ala Yerobeam
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 6 Maret 2009
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 13/12/09

Mendapat kedudukan sebagai raja dari TUHAN bukannya membuat Yerobeam semakin teguh di dalam iman. Dia malah membuat aturan ibadah yang menyimpang dari TUHAN. Ibadah ala Yerobeam ini masih dijumpai dalam gereja masa kini. Kita perlu mempelajari ciri-cirinya agar tidak terjerumus dalam ibadah imitasi yang sia-sia, tidak berkenan kepada TUHAN, bahkan pada akhirnya mendatangkan hukuman bagi orang yang melakukan ibadah tersebut.

1 RAJA-RAJA 12 : 29 - 30
29 Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. 30 Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain.

Yerobeam adalah raja Israel pertama setelah kerajaan itu terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel di bawah pemerintahannya dan kerajaan Yehuda dipimpin oleh anak Salomo, Rehabeam. Latar belakang Yerobeam adalah lahir dalam keluarga biasa tanpa ada garis keturunan ningrat. Sebagai pegawai Salomo, Yerobeam merupakan pribadi yang memiliki karakter yang rajin dan tekun dalam pekerjaannya. Dan atas anugerah TUHAN, Yerobeam yang bukan apa-apa ditunjuk menjadi raja Israel. Sayangnya, Yerobeam berontak terhadap raja Salomo sebelum dia mendengar visi TUHAN yang menentukannya menjadi raja. Namun visi TUHAN terhadapnya tidak dibatalkan oleh TUHAN. Yerobeam tetap naik tahta.

Kedudukan Yerobeam sebagai raja malah membuatnya dihinggapi rasa kuatir, perasaan yang dulu tidak pernah dirasakannya saat belum naik tahta. Kekuatiran itu berupa kekuatiran rakyatnya akan pergi ke negara tetangga, kerajaan Yehuda, untuk beribadah di Yerusalem. Untuk membendung rakyatnya beribadah ke Yerusalem, raja Yerobeam mendirikan tempat ibadah tandingan. Tempat ibadah yang didirikan Yerobeam ini dibuat menurut versi Yerobeam, alias ibadah imitasi, bukan menurut peraturan yang ditentukan oleh TUHAN. Perbuatan Yerobeam ini bukan saja membuat dia berdosa, namun juga rakyat Israel.

Kepalsuan ibadah ini nyata dari ciri ibadah yang memiliki dua tempat, yakni di Betel dan yang satu lagi berada di Dan. Rakyat Israel boleh beribadah di salah satu tempat itu, boleh memilih sesuai selera, memilih mana yang lebih nyaman untuk tiap-tiap orang. Padahal TUHAN ALLAH sudah menetapkan mereka untuk beribadah di Yerusalem, tidak ada alternatif lain. Dua tempat ibadah ini menggambarkan ibadah yang kompromistis, mau begini boleh, mau begitu juga tidak dilarang. Misalnya kompromi, boleh minum minuman keras asal tidak sampai mabuk. Padahal, aturan gereja bukan ditentukan oleh manusia, tetapi oleh TUHAN. Dan aturan itu wajib kita patuhi.

Hal yang berbeda diterapkan untuk memilih tanah Kanaan atau berkat. TUHAN membebaskan orang Israel memilih bagian mana dari tanah Kanaan yang akan menjadi milik mereka, gambaran anak TUHAN boleh memilih berkat yang diinginkan. Namun untuk ibadah, jangan coba-coba menawar peraturan yang telah ditentukan oleh TUHAN.

KISAH PARA RASUL 4 : 12
12 "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam DIA, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Kala menjalani sidang di hadapan Mahkamah Agama, dengan tegas Petrus menjelaskan bahwa jalan menuju keselamatan hanya satu, YESUS KRISTUS. Dua jalan yang disediakan Yerobeam untuk ibadah jelas bukan jalan menuju keselamatan. Dua tempat ibadah (palsu) ini dibuat Yerobeam untuk mempermudah dan menyenangkan rakyat, bukan untuk menyenangkan TUHAN. Pemilihan Betel dan Dan adalah karena letaknya berada di jalan menuju ke Yerusalem, tujuannya adalah untuk mencegah rakyat agar tidak ke Yerusalem, tempat ibadah yang benar.

Kita beribadah untuk mencari keselamatan, tentunya kita harus mencari pola ibadah yang benar, bukan ibadah yang boleh memilih ke kiri dan juga ke kanan. Contohnya, cara baptisan air hanya satu, yaitu diselam seperti yang dicontohkan oleh TUHAN YESUS. Baik yang dibaptis maupun hamba yang membaptis, keduanya masuk ke dalam air. Banyak orang ingin mempermudah ibadah, antara lain dalam melaksanakan baptisan air, ada gereja yang membaptis jemaatnya di dalam bathtub. Yang dibaptis duduk di dalam bathtub, sedangkan pendetanya tidak masuk ke air dan membaptis di luar bathtub. Saya katakan kepada jemaat gereja kita yang dibaptis dengan cara itu (dibaptis sebelum menjadi anggota GKT) harus dibaptis ulang sebab tidak sesuai dengan Firman TUHAN.

Contoh berikutnya adalah tentang bahasa ROH. Gereja kita mengakui bahasa ROH sebagai karunia dari TUHAN yang diberikan kepada orang sesuai dengan kehendak TUHAN. Berarti tidak semua orang memperoleh karunia tersebut. Namun, banyak gereja yang menekankan jemaat harus berbahasa ROH. Jemaat kami yang pindah ke luar negeri kesulitan mencari gereja yang mengajarkan doktrin yang benar tentang karunia bahasa Roh ini. Saat dia datang ke sebuah gereja, dia ditanya oleh pendeta di gereja itu apakah sudah dapat "berbahasa ROH"? Ketika dia mengatakan tidak menerima karunia bahasa ROH, sang pendeta berkata, "Gampang, katakan saja ‘Laba-laba-laba’ kalau ingin dapat berbahasa ROH." Ini contoh karunia TUHAN yang dianggap mainan. Gereja kita sungguh menghargai karunia ROH. Terbukti gereja kita melakukan ibadah Pencurahan ROH KUDUS selama 10 hari, dan banyak orang yang datang menerima karunia ROH KUDUS.

1 RAJA-RAJA 12 : 31 - 33
31 Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi. 32 Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu. Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah diangkatnya. 33 Ia naik tangga mezbah yang dibuatnya di Betel itu pada hari yang kelima belas dalam bulan yang kedelapan, dalam bulan yang telah direncanakannya dalam hatinya sendiri; ia menentukan suatu hari raya bagi orang Israel dan ia naik tangga mezbah itu untuk membakar korban.

Ibadah yang dibuat Yerobeam mirip dengan ibadah di Yerusalem, ada tempat ibadah, ada imam (imam yang dilantik oleh Yerobeam). TUHAN sudah menetapkan bahwa imam harus berasal dari suku Lewi, sedangkan yang diangkat oleh raja Yerobeam berasal dari kalangan rakyat yang bukan suku Lewi. Raja mengangkat imam. Ini adalah suatu penyimpangan. Seharusnya imamlah yang melantik raja.

Contoh pola ibadah seperti ini pada zaman sekarang adalah gereja (termasuk pendeta) diatur oleh orang awam yang memiliki kedudukan terhormat dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan. Bahkan harus tunduk kendati aturan yang diterapkan melanggar pola ibadah yang benar. Karena mengikuti pola ibadah yang sesuai dengan Firman TUHAN, di gereja kita pendeta tidak dilantik oleh majelis, namun justru pendetalah yang melantik majelis.

Selain itu, raja juga menentukan hari-hari raya yang bukan menjadi wewenangnya. Memiliki wewenang seperti Yerobeam ini merupakan favorit bagi sebagian orang Kristen untuk leluasa mengatur gereja dengan tujuan mencari untung atau popularitas. Salah satu cerita yang cukup menyedihkan diceritakan oleh seseorang yang kini menjadi jemaat GKT. Suatu hari dia datang ke sebuah gereja. Karena datangnya terlalu awal, dia menyaksikan latihan pemimpin pujian dan backing vocal yang akan bertugas. Dalam latihan itu juga dibahas kapan dan siapa dari antara mereka yang akan "berbahasa ROH". Anak TUHAN yang menyaksikan hal ini heran, apakah bahasa ROH harus dilatih. Kejadian itu membuatnya urung beribadah di gereja tersebut.

Ayat 33 menuliskan bahwa ibadah itu ditentukan sesuai dengan rencana Yerobeam, bukan rencana TUHAN. Rencana manusia dalam menentukan pola ibadah mungkin membawa kenyamanan bagi dirinya, tapi tidak membawa keselamatan. Satu lagi contoh mementingkan kenyamanan dan gengsi dalam ibadah adalah cara baptisan air. Pada saat Injil dibawa ke sebuah kerajaan, seorang raja dibaptis di sungai atau di luar istana dianggap tidak terhormat. Diselam di kolam istana pun dianggap mengurangi gengsi dan wibawa sehingga akhirnya lahirlah baptisan percik. Ini bukan pola Alkitab, tetapi pola kerajaan.

1 RAJA-RAJA 13 : 1
1 Sedang Yerobeam berdiri di atas mezbah itu sambil membakar korban, maka atas perintah TUHAN datanglah seorang abdi ALLAH dari Yehuda ke Betel.

Kesalahan lainnya yang diperbuat raja Yerobeam adalah dia ikut membakar korban. Dalam ibadah yang benar, tugas membakar korban merupakan tugas imam. Saat tengah berdiri di atas mezbah, seorang abdi ALLAH atau hamba TUHAN mendatangi Yerobeam. Hamba TUHAN ini datang bukan atas kemauannya sendiri, namun dia datang atas perintah TUHAN. Dari hal ini kita belajar bahwa ciri pendeta yang benar adalah pendeta yang diperintah oleh TUHAN. Namun, pada masa kini banyak orang yang ingin berprofesi sebagai pendeta walaupun TUHAN tidak mengutusnya. Ada pula pendeta yang melakukan sesuatu sesuai ambisinya sendiri. Contohnya saja, dialami oleh para pendeta yang ingin membuka sidang sendiri padahal TUHAN tidak atau belum memerintahkannya untuk berbuat demikian. Akibatnya, kegagalan yang dialami mereka. Jemaatnya stagnan, bahkan merosot. Ciri lainnya, abdi ALLAH yang benar datang dari Yerusalem yang saat itu berada di wilayah kerajaan Yehuda.

1 RAJA-RAJA 13 : 2
2 Lalu atas perintah TUHAN berserulah orang itu terhadap mezbah itu, katanya: "Hai mezbah, hai mezbah! Beginilah Firman TUHAN: Bahwasanya seorang anak akan lahir pada keluarga Daud, Yosia namanya; ia akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan yang membakar korban di atasmu, juga tulang-tulang manusia akan dibakar di atasmu."

Anehnya, abdi ALLAH ini berseru, "Hai mezbah, hai mezbah!" Mengapa abdi ALLAH ini berbicara kepada mezbah, bukan kepada raja Yerobeam dan imam-imamnya yang berada di situ? Abdi ALLAH ini berbicara kepada mezbah dengan tujuan menyindir semua orang yang ada di sekeliling mezbah, sebab semua orang itu tidak mau lagi mendengar nasehat yang benar, yaitu nasehat Firman TUHAN.

Abdi ALLAH ini menyampaikan Firman TUHAN yang akan terjadi di masa mendatang atau disebut juga nubuat. Hanya di dalam gereja yang benar dan hamba TUHAN yang benar yang ada nubuat, ada visi. Di dalam ibadah ala Yerobeam tidak ada petunjuk TUHAN, dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Visi yang diterima oleh abdi ALLAH ini jelas dan mendetail: namanya Yosia, berasal dari keturunan raja Daud, akan menyembelih imam-imam palsu. Semua itu akan terjadi tepat seperti yang dikatakan abdi ALLAH itu, padahal saat itu Yosia belum lahir.

Perkataan bahwa Yosia akan menyembelih imam-imam palsu ini merupakan teguran yang disampaikan TUHAN melalui abdi ALLAH. Salah satu ciri gereja dan hamba TUHAN yang benar adalah memberikan teguran bagi jemaat yang menyimpang.

Merupakan cara pandang yang salah bila orang Kristen bertanya kepada paranormal tentang masa depannya; petunjuk TUHAN tentang masa depan akan kita dapatkan di dalam gereja kita yang benar. Adanya visi di gereja kita merupakan indikator bahwa gereja kita adalah gereja yang sehat. Contohnya, saya mendoakan janin yang dikandung Puja (salah seorang anggota GKT) pada saat Puja dan Manoj (suami Puja) belum mengetahui kehamilan tersebut. Visi dari TUHAN itu mendetail, dalam doa saya sebutkan bahwa anak mereka perempuan. Setelah Puja memeriksakan kehamilan, ternyata memang dia telah hamil beberapa minggu. Dan pada saat lahir, anaknya perempuan, sesuai dengan visi yang saya terima dari TUHAN.

YEREMIA 28 : 9
9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.

Banyak nubuat palsu yang dilancarkan oleh nabi-nabi palsu. Untuk mengetahui seorang nabi atau hamba TUHAN itu benar-benar diutus TUHAN adalah dari prediksinya benar-benar terjadi atau tidak. Ayat di bawah ini merupakan bukti bahwa abdi ALLAH yang mendatangi raja Yerobeam ini merupakan nabi yang diutus TUHAN.

2 RAJA-RAJA 23 : 14 - 16
14 Ia memecahkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala, lalu ditimbuninya tempat-tempat itu penuh dengan tulang-tulang manusia. 15 Juga mezbah yang ada di Betel, bukit pengorbanan yang dibuat oleh Yerobeam bin Nebat yang mengakibatkan orang Israel berdosa, mezbah dan bukit pengorbanan itupun dirobohkannya dan batu-batunya dipecahkannya, lalu ditumbuknya halus-halus menjadi abu, dan dibakarnyalah tiang berhala. 16Dan ketika Yosia berpaling, dilihatnyalah kuburan-kuburan yang ada di gunung di sana, lalu menyuruh orang mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, membakarnya di atas mezbah dan menajiskannya, sesuai dengan Firman TUHAN yang telah diserukan oleh abdi ALLAH yang telah menyerukan hal-hal ini.

Ayat-ayat di atas membuktikan bahwa Firman TUHAN yang disampaikan abdi ALLAH, yaitu mezbah di Betel yang dibangun raja Yerobeam benar-benar diruntuhkan oleh raja Yosia. Adakah visi dari TUHAN yang disampaikan di gereja tempat kita beribadah benar-benar terjadi? Jika tidak, gereja itu belum merupakan gereja yang sehat. Berarti pula keselamatan belum diraih oleh jemaat yang ada di gereja tersebut. Jangankan berkat hidup kekal di dalam Sorga, menikmati berkat di dunia saja belum mereka raih.

1 RAJA-RAJA 13 : 3 - 5
3 Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: "Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya." 4 Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi ALLAH yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: "Tangkaplah dia!" Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali. 5 Mezbah itu pun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi ALLAH itu atas perintah TUHAN.

Terdapat jarak waktu antara visi atau nubuatan yang disampaikan abdi ALLAH dan penggenapan visi tersebut. Saat itu Yosia yang dinubuatkan belum lahir, dan setelah lahir harus menunggu sampai dewasa untuk memenuhi nubuatan itu. Dalam waktu penantian itu, TUHAN tidak pernah membiarkan kita bertanya-tanya, apakah yang menyampaikan visi itu nabi yang diutus TUHAN atau bukan. Setelah menyampaikan nubuatan, saat itu juga abdi ALLAH memberikan tanda ajaib. Di dalam gereja yang benar selalu ada tanda ajaib berupa mujizat yang dialami oleh jemaat. Gunanya tanda ajaib adalah untuk menguatkan bahwa apa yang dikatakan nabi itu akan benar-benar terjadi.

Apakah respon raja Yerobeam ketika abdi ALLAH itu memberitahukan tanda ajaib sebagai penguatan atas nubuat yang disampaikannya? Yerobeam bukannya tertempelak dan bertobat, tetapi malah menuding abdi ALLAH itu dan memerintahkan orang untuk menangkap abdi ALLAH itu. Hati Yerobeam sudah mengeras dan tidak percaya kepada abdi ALLAH itu; dia lebih memilih imam-imam palsu. Akibatnya, tangannya kejang.

Di zaman ini pun banyak orang Kristen yang lebih senang mendengarkan nabi palsu yang memberikan hiburan palsu, dan bersikap berani terhadap hamba TUHAN yang diutus TUHAN. Pengalaman jemaat GKT ini menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua. Jemaat gereja kita ini kedatangan tamu yang tidak senang kepada saya sehingga akhirnya terbawa menggosipkan saya. Tidak lama kemudian, dia mengalami problem tidak bisa kentut. Dia tahu panggilan alam ini akan mengganggu kesehatan jika tidak dituntaskan. Dia sadar dan berkata di dalam hatinya, "TUHAN, ampuni saya, saya janji mau minta maaf kepada Pdt. Handoyo." Setelah berkata begitu, panggilan alam yang ditunggu-tunggunya itu pun terlaksana.

1 RAJA-RAJA 13 : 6 - 7
6 Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi ALLAH itu: "Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, ALLAH-mu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali." Dan abdi ALLAH itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula. 7 Kemudian berbicaralah raja kepada abdi ALLAH itu: "Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu."

Raja Yerobeam yang biasanya bisa mengatur imam-imam palsu yang diangkatnya, kini mulai merasakan kuasa ALLAH yang menghajarnya. Abdi ALLAH ini mau berdoa bagi raja yang sudah bersikap kurang ajar kepadanya saat raja Yerobeam meminta tolong kepadanya. Inilah karakter seorang hamba TUHAN: memiliki kasih, namun tidak mau diajak kompromi. Jemaat jangan menginginkan dibimbing oleh pendeta yang bisa diatur. Dengan berani abdi ALLAH ini menyampaikan Firman berupa teguran, sehingga raja memerintahkan untuk menangkapnya. Namun dengan kasih abdi ALLAH ini mau memaafkan dan mendoakan raja sehingga tangan raja pulih dari kejangnya.

Setelah dipulihkan tangannya, Yerobeam bukannya bertobat, namun malah tindakannya mau menyuap abdi ALLAH. Ini adalah tindakan yang tidak benar dan tidak disukai TUHAN. Jemaat boleh, bahkan harus memberikan persembahan. Tapi perlu diingat, persembahan itu bukan untuk "membeli" pendeta. Abdi ALLAH ini menolak dan tidak mau mampir ke tempat Yerobeam. Jika saja abdi ALLAH itu mau menerima suap dari raja, kedua-duanya akan dihukum oleh TUHAN.

1 RAJA-RAJA 14 : 9 - 11
9 Sebab engkau telah melakukan perbuatan jahat lebih dari semua orang yang mendahului engkau dan telah membuat bagimu allah lain dan patung-patung tuangan, sehingga engkau menimbulkan sakit hati-KU, bahkan engkau telah membelakangi AKU. 10 Maka AKU akan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam. AKU akan melenyapkan dari pada Yerobeam setiap orang laki-laki, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. AKU akan menyapu keluarga Yerobeam seperti orang menyapu tahi sampai habis. 11Setiap orang dari pada Yerobeam yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung yang di udara. Sebab TUHAN telah mengatakannya.

Tiadanya keinginan raja Yerobeam untuk bertobat membuatnya menerima hukuman dari TUHAN. Setelah melihat sendiri kuasa TUHAN yang membuat tangannya kejang sehingga mengurungkan niatnya menangkap abdi ALLAH tidak membuatnya berbalik kepada TUHAN. Dia tidak membantai nabi palsu dan membangun ibadah yang benar. TUHAN bukan kejam dan tidak mau mengampuni, namun Yerobeamlah yang tidak mau menerima teguran-teguran dari TUHAN sehingga akhirnya TUHAN sebagai Hakim mengetuk palu dan menetapkan hukuman, yaitu keluarga Yerobeam akan disapu sampai tak bersisa, seperti orang menyapu tahi.

Hukuman TUHAN juga berlaku bagi setiap orang yang sudah mendengar Firman, namun membangkang. Sebaliknya, kita akan menerima berkat besar dari TUHAN jika kita mau menerima teguran dan bertobat. Amin.