Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Menduduki Tanah Kana...
Menduduki Tanah Kanaan
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. II Minggu, 1 Juni 2008
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 14/12/08

Banyak orang Kristen yang bercita-cita masuk Kanaan yang berlimpah susu dan madu –gambaran hidup yang berhasil. Tapi setelah sampai di Kanaan, nyatanya mereka tidak menikmati berkat Kanaan, sehingga akhirnya semangat mereka kendor. Mari kita simak apa yang harus kita lakukan agar dapat segera menikmati berkat di tanah yang dijanjikan TUHAN itu.

YOSUA 18 : 1
1 Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.

Saat itu segenap umat Israel telah sampai di tanah Kanaan. Langkah pertama yang mereka ambil adalah berkumpul di Silo dan mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat ibadah di sana. Langkah yang diambil oleh umat Israel ini menjadi contoh bagi kita, Israel rohani, untuk beribadah di gereja. Orang Kristen jangan berdalih dengan mengatakan tidak perlu ke gereja karena bisa berdoa, memuji TUHAN dan mendengar Firman TUHAN di rumah. Lihatlah teladan yang diberikan oleh umat Israel setelah masuk Kanaan.

Silo merupakan tempat yang sangat strategis di Kanaan; Silo berada di jantung Kanaan. Tempat seperti itulah yang pas untuk mendirikan Kemah Pertemuan untuk berkomunikasi dengan TUHAN. Langkah yang ditempuh orang Israel ini sudah benar, yakni menempatkan TUHAN di pusat kehidupan mereka. Sudahkah kita mendirikan Kemah Pertemuan di pusat kehidupan kita? Faktanya, masih ada orang Kristen yang mendirikan Kemah Pertemuan di samping atau di pojok kehidupannya. Jika itu yang terjadi dalam hidup kita, marilah kita pindahkan Kemah Pertemuan itu di tengah-tengah kehidupan kita.

Kemah Pertemuan itu berada di Silo selama 130 tahun. Ini adalah kurun waktu yang paling lama di mana Kemah TUHAN itu menetap. Saat itu Bait ALLAH belum dibangun.

1 SAMUEL 3 : 21
21 Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab IA menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan Firman-NYA.

Dalam Alkitab terjemahan NIV “The LORD continued to appear at Shiloh...” menjelaskan bahwa TUHAN selalu menampakkan DIRI kepada umat Israel. Selama kita mendirikan Kemah Pertemuan di Silo, selama kita mengutamakan TUHAN di tengah-tengah kehidupan kita, maka TUHAN selalu menampakkan DIRI dan menyatakan petunjuk-NYA bagi kita. Petunjuk-NYA merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk mengambil setiap keputusan, sehingga kesuksesan selalu menjadi bagian kita. Jika selama ini kita masih belum memperoleh petunjuk TUHAN, marilah kita koreksi diri kita apakah kita sudah memposisikan TUHAN sebagai sentral kehidupan kita.

YOSUA 18 : 2
2 Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.

Menurut teori, orang Israel sudah melangkah di jalan yang benar. Mereka sudah masuk Kanaan dan sudah mendirikan Kemah Pertemuan di Silo. Faktanya, dari dua belas suku Israel, masih ada tujuh suku yang belum mendapat tanah pusaka. Berarti mayoritas belum benar-benar menikmati kelimpahan berkat di tanah Kanaan yang seharusnya menjadi hak mereka. Padahal untuk mencapai Kanaan, mereka sudah menyeberangi sungai Yordan, artinya dibaptis ROH KUDUS. Memiliki tanah pusaka di Kanaan merupakan janji TUHAN bagi semua orang Israel, bukan hanya bagi segelintir orang saja. Suku-suku Israel yang belum memiliki tanah pusaka di Kanaan ini adalah wakil orang Kristen yang baru mendengar kesaksian orang lain menerima berkat TUHAN, tapi belum mengalaminya secara pribadi.

Di mana letak kesalahan suku-suku yang belum menerima bagian tanah pusaka? Jawabannya sederhana: terlalu nrimo.

KISAH PARA RASUL 3 : 25
25 Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan ALLAH dengan nenek moyang kita, ketika IA berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.

Rasul Petrus dalam khotbahnya di Serambi Salomo menegaskan tentang janji-janji TUHAN berupa bagian pusaka di tanah Kanaan dengan mengatakan, bahwa kita mewarisi nubuat-nubuat. Firman TUHAN berisi nubuat-nubuat atau janji TUHAN, yakni sakit disembuhkan, kekurangan diberi kelimpahan, kesedihan menjadi kebahagian. Kalau janji TUHAN itu belum terealisasi di dalam hidup kita, ayo kita rebut janji TUHAN itu dengan gairah menyala!

Lebih jauh lagi Petrus mengatakan, bahwa berkat TUHAN itu bukan hanya memberkati kita secara pribadi saja. Bahkan bangsa lain akan mendapat berkat melalui kita. Berarti berkat yang dijanjikan TUHAN itu lebih besar dari pada yang kita butuhkan. Kalau orang lain diberkati melalui kita, berarti berkat yang kita terima itu berlimpah ruah. Ini yang seharusnya dialami setiap orang Kristen.

YOSUA 18 : 3
3 Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?

Setelah Kemah Pertemuan didirikan di Silo, berkatalah Yosua kepada orang Israel. Yosua adalah gambaran YESUS KRISTUS. Jika kita sudah membangun persekutuan dengan TUHAN, barulah TUHAN angkat bicara. Firman TUHAN itu berupa teguran bagi orang Kristen agar tidak bermalas-malasan. Lebih lanjut Yosua memberi semangat bangsa Israel untuk menduduki Kanaan. Memasuki Kanaan itu bukan berarti sudah menduduki Kanaan. Setelah masuk, dudukilah Kanaan, maka tanah perjanjian itu akan menjadi milik kita.

Berkat belum kita terima bukan karena paket dari Sorga terlambat dikirim, tetapi karena kita terlalu enggan menggerakkan tangan untuk meraih berkat itu. Contoh tindakan nrimo yang kurang tepat adalah berkata di dalam doa, “TUHAN, saya tidak apa-apa tetap miskin, asal saya sehat”, atau secara pasif menerima keadaan tetap sakit, asal tidak sampai mati. Jangan salahkan TUHAN jika TUHAN seolah membiarkan orang itu tetap miskin, tetap sakit, karena itu memang permintaannya sendiri. Konsep “bersyukur” tetap sakit dan tetap miskin merupakan contoh kemalasan untuk meraih berkat kesehatan dan berkat materi.

Diperlukan teguran dari TUHAN yang menegur melalui hamba TUHAN. Karena itu saya tidak sungkan menegur dan mengarahkan jemaat agar secara aktif menerima berkat TUHAN. Tentunya sebagai hamba TUHAN saya juga tidak boleh bermalas-malasan dalam belajar Firman TUHAN.

HAKIM-HAKIM 18 : 1, 9 - 10
1 Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel dan pada zaman itu suku Dan sedang mencari milik pusaka untuk menetap, sebab sampai hari itu mereka belum juga mendapat bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel. 9 Jawab mereka: "Bersiaplah, marilah kita maju menyerang mereka, sebab kami telah melihat negeri itu, dan memang sangat baik. Masakan kamu tinggal diam! Janganlah bermalas-malas untuk pergi memasuki dan menduduki negeri itu. 10 Apabila kamu memasukinya kamu mendapati rakyat yang hidup dengan tenteram, dan negeri itu luas ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Sesungguhnya, ALLAH telah menyerahkannya ke dalam tanganmu; itulah tempat yang tidak kekurangan apapun yang ada di muka bumi."

Suku Dan (salah satu suku Israel) masih mencari milik pusaka, ini gambaran orang Kristen yang baru mendengar orang lain menerima berkat, tetapi dirinya sendiri belum menerima berkat TUHAN. Apa yang harus dilakukan suku Dan? Bersiaplah. Itulah yang harus dilakukan orang Kristen dalam beribadah. Coba tengok di sekeliling kita saat ibadah berlangsung. Tidak semuanya membawa Alkitab ke gereja. Ada pula jemaat yang dengan cuek-nya mengunyah biskuit dan menenggak air mineral. Sikap yang tidak siap dalam ibadah adalah salah satu faktor orang Kristen tidak dapat memiliki tanah pusaka di Kanaan.

Bersiap untuk maju menyerang. Orang Kristen tidak boleh hanya menunggu dengan pasif. Misalnya saja mendapat tawaran beberapa pekerjaan sekaligus yang prospeknya cerah, segeralah maju dan meraih berkat itu. Jangan berkata, “TUHAN, aku serahkan ke dalam Tangan-MU manakah yang harus kupilih?” TUHAN sudah memberikan berkat itu, kita yang harus memiliki rasa percaya diri dalam menentukan pilihan sesuai selera.

Alasan klise dalam meminta TUHAN memilihkan bagi dirinya adalah TUHAN Mahatahu, sehingga mampu memilihkan yang terbaik bagi kita. Namun janganlah lupa, TUHAN juga Mahaadil. TUHAN menciptakan manusia yang diperlengkapi dengan kehendak bebas. Sang Pencipta tidak memegang “remote control” untuk mengendalikan manusia bak robot yang tidak punya hak pilih. Selama area pilihan tersebut berlokasi di Kanaan, pilihan itu tidak mungkin pilihan yang buruk. Sebab Kanaan identik dengan berlimpah berkat. Ibarat memilih menu makanan, kita bebas menentukan sesuai selera apakah mau menikmati masakan Eropa, seafood dan menu lainnya.

Ada saatnya kita duduk diam di kaki TUHAN, ada pula saatnya kita maju dengan langkah tegap dan menyerang. Jangan salah ambil posisi diam atau menyerang. Banyak orang Kristen yang berkata, dengan duduk diam di bawah kaki TUHAN YESUS, kita akan terima berkat. Saat untuk duduk diam adalah saat bangsa Israel mau menyeberang Laut Teberau. TUHAN mengatakan, bahwa TUHAN yang akan berperang bagi mereka dan bangsa Israel diminta TUHAN untuk diam (Keluaran 14:13-14). Ini adalah gambaran kita yang dibebaskan dari perbudakan dosa dan menerima keselamatan dari TUHAN yang dipaku di atas kayu salib. Untuk menerima penebusan dari TUHAN YESUS, kita diam dan tidak perlu melakukan apa-apa. Sebab keselamatan tidak dapat peroleh dengan usaha sendiri. Namun saat sudah masuk Kanaan, sudah menjadi umat ketebusan TUHAN YESUS, kita harus maju untuk merebut berkat yang telah disediakan TUHAN bagi kita.

ALLAH sudah menyerahkan tanah Kanaan bagi orang Israel. Bodoh bila mereka -juga kita- tidak segera mendudukinya. Tanah Kanaan adalah tempat di mana tidak ada kekurangan apapun. Berarti kekurangan yang kita alami akan dicukupi oleh TUHAN kalau kita telah menduduki tanah Kanaan.

Bersiap maju untuk menduduki Kanaan bukan monopoli pekerjaan orang dewasa. Seorang anak Sekolah Minggu GKT, Gian (10 tahun) sudah mempraktekkan hal itu, dan menikmati manisnya madu Kanaan. Saat Kebaktian Pencurahan ROH KUDUS (Kebaktian Doa 10 Hari) , diumumkan ada satu hari khusus mendoakan bagi mereka yang menginginkan meraih prestasi di sekolah. Doa khusus yang dilakukan sebelum Kebaktian ini diresponi Gian dengan persiapan matang dan usaha sungguh-sungguh: datang awal, duduk paling depan. Terbukti setelah didoakan Gian mengukir prestasi fantastis: mendapat nilai 9 untuk ulangannya. Padahal sepanjang sejarah, Gian belum mampu meraih nilai 6.

Pengalaman senada juga dialami Bethoven yang sebelumnya tidak lulus tes di beberapa perguruan tinggi. Namun setelah didoakan, Bethoven merebut Kanaan, dinyatakan dengan hasil tes masuk peringkat pertama.

Sedangkan yang dialami Ingrid adalah mengalami kesembuhan setelah seminggu kadar trombositnya menurun terus hingga berada di angka 38.000. Orangtua Ingrid mulai panik dan minta saya mendoakan putrinya tersebut. Saat saya mendoakan, saya merasakan, bahwa ini bukan penyakit biasa. Salah satu berkat Kanaan adalah menerima petunjuk TUHAN, yang saya terima saat berdoa. Kemudian saya memutuskan akan mengunjungi Ingrid di rumah sakit. Memang benar, saya merasakan ada kuasa gelap yang melingkupi saat mengunjungi Ingrid di rumah sakit. Saya berdoa dan menghancurkan kuasa gelap dan mengembalikan kepada orang yang mengirimkan kuasa gelap itu.

Hari Sabtu ketika mendoakan Ingrid di rumah sakit, kadar trombositnya masih berada di angka 40.000 dan dokter menyatakan ada lumpur di empedunya. Namun semua itu tidak menggoyahkan iman kami. Saya berdoa, “Dalam Nama TUHAN YESUS, besok kamu akan pulang dalam tubuh yang sehat!” Dan benar, Minggu pagi dokter memeriksa Ingrid dan menyatakan bahwa hari itu juga Ingrid boleh pulang. Keesokan harinya Ingrid sudah dapat mengikuti ujian di kampus.

Berkat Kanaan berupa kesembuhan juga dirasakan oleh Jenny yang di rahimnya terdapat kista berdiameter 4 cm. Saya mendoakannya dan mengajak Jenny “menduduki tanah Kanaan” dengan tidak bermalas-malasan dalam ibadah. Dia datang dalam Kebaktian Pencurahan ROH KUDUS. Hasilnya, kista itu sudah tidak bersarang di rahimnya saat dokter melakukan pemeriksaan berikutnya.

Kesaksian-kesaksian tersebut adalah contoh dari beragam berkat Kanaan yang tersedia. Marilah kita memilih “kapling” Kanaan yang kita butuhkan, baik itu berkat ekonomi, keberhasilan di sekolah atau karir, kesehatan, dan berkat lainnya.

YOSUA 18 : 4
4 Ajukanlah tiga orang dari tiap-tiap suku; maka aku akan menyuruh mereka, supaya mereka bersiap untuk menjelajahi negeri itu, mencatat keadaannya, sekadar milik pusaka masing-masing, kemudian kembali kepadaku.

Cara menduduki Kanaan adalah mengajukan tiga orang dari tiap suku. Angka tiga ini menggambarkan iman, pengharapan dan kasih. Ketiga faktor ini penting agar pilihan kita mendapat persetujuan dari TUHAN. Sebaliknya jika kita memilih untuk menuruti hawa nafsu, keserakahan dan kebencian, tentu kita tidak akan mendapatkan bagian kita.

Yosua menyuruh mereka memutari negeri dan mencatat keadaannya. Jika kita sedang dibelit masalah keuangan dan mohon dibereskan oleh TUHAN, “catat” dan laporkan kepada TUHAN, agar pemulihan dalam segi finansial menjadi milik kita. Marilah kita tugaskan iman, pengharapan dan kasih yang ada di dalam hati kita “menjelajahi negeri Kanaan” untuk menentukan daerah mana yang kita pilih menjadi milik pusaka. Iman, pengharapan dan kasih tidak timbul begitu saja. Ketiga unsur penting itu timbul dan bertumbuh kalau kita mendengar Firman TUHAN yang bersumber dari hamba TUHAN yang diurapi.

“Sekadar milik pusaka masing-masing” lebih tepat jika dilihat dari terjemahan NIV “according to the inheritance of each” atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan dan selera tiap anak TUHAN berbeda. Karena itu TUHAN memberi hak penuh bagi anak-anak-NYA untuk memilih, “mencatat” dan mengajukannya kepada TUHAN. Itu berarti setelah kita memutuskan memilih yang ini atau yang itu, barulah kita mendoakan pilihan itu agar dikabulkan oleh TUHAN.

YOSUA 18 : 9 - 10
9 Orang-orang itu pergi dan berjalan melalui negeri itu; mereka mencatat keadaannya dalam suatu daftar, kota demi kota, dalam tujuh bagian, lalu kembali kepada Yosua ke tempat perkemahan di Silo. 10 Lalu Yosua membuang undi bagi mereka di Silo, di hadapan TUHAN, dan di sanalah Yosua membagikan negeri itu kepada orang Israel, sesuai dengan pembagian mereka.

Setelah mendapat petunjuk dari Yosua, ketujuh suku Israel yang belum mendapat tanah di Kanaan itu segera berjalan, mencatat dengan teliti wilayah yang mereka inginkan. Kalau kita telah mendengar petunjuk TUHAN melalui Firman TUHAN, segeralah bertindak. Tanpa mau mempraktekkan arahan dari TUHAN, malah mengatakan “Ah, itu kan omongan Pendeta saja!” tentu kita tidak akan mendapat berkat TUHAN.

Kemudian mereka kembali kepada Yosua di kemah pertemuan di Silo. Kalau sebelumnya umat Israel tidak membuat kemah pertemuan di Silo, mereka tentu tidak dapat menuju ke kemah pertemuan tersebut. Karena itu, sebagai langkah awal perlu dibangun hubungan yang sehat terlebih dahulu dengan TUHAN sebelum kita mengajukan permintaan memilih bagian tanah di Kanaan.

Yang aneh, Yosua kemudian membuang undi untuk menentukan bagian masing-masing suku. Padahal, mereka sebelumnya diminta mencatat tanah mana yang mereka pilih. Sepertinya pekerjaan mereka mencatat dan mengitari seluruh wilayah Kanaan hanya membuang energi saja, karena toh akan ditentukan melalui undian. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan seperti itu.

Orang Kristen diberi kebebasan TUHAN untuk memilih. Dan kita jangan takut memilih. Sebab seandainya saja pilihan kita salah, keputusan terakhir tetap berada di tangan TUHAN, dan DIA pasti akan memberikan keputusan yang terbaik bagi kita.

Hasilnya, setelah diundi, Yosua membagi-bagikan wilayah Kanaan sebagai milik pusaka sesuai dengan pembagian mereka. Artinya wilayah yang tadinya mereka diajukan sebagai milik pusaka mereka dikabulkan. Namun jika di antara ketujuh suku Israel yang belum mendapat bagian tanah Kanaan tidak mau berkeliling dan tidak mau mencatat, tentu mereka tidak akan mendapat bagian. Tugas kita adalah “mencatat” dengan detail dan mengajukannya kepada TUHAN.

Mengajukan detail kepada TUHAN juga ada aturannya. Misalnya ada seorang istri yang memiliki problem dengan suaminya. Contoh yang salah: karena tidak mengerti, dia menunjukkan foto suaminya dan meminta saya menemukan sumber masalahnya. Contoh yang benar adalah meminta TUHAN mengubahkan suami yang galak menjadi lembut, suami yang pelit menjadi paham kebutuhan istri untuk berbelanja.

Kejadian yang dialami oleh seorang jemaat TUHAN ini adalah contoh orang yang mau menjelajahi tanah Kanaan, mencatatnya dan mengajukannya kepada TUHAN. Ibu ini datang konseling sebelum ibadah Pendalaman Alkitab, sekitar jam 17.30. Dia mencuri waktu sebelum suaminya pulang dari kantor yang biasanya sampai di rumah sekitar pukul 18.00. Dia menuturkan, bahwa selama ini dia dilarang ke gereja oleh suaminya. Dia minta didoakan, agar bisa ke gereja tanpa diketahui suaminya. Saya katakan, bahwa tidak bisa seperti itu. Suaminya harus tahu, bahwa dia pergi ke gereja. Dia mengatakan, apakah mungkin mendapatkan ijin, sebab sebelumnya dia sudah meminta ijin. Yang didapat bukannya ijin, tetapi pipi yang merah karena ditampar sang suami. Saya katakan, saat itu dia masih di luar Kanaan.

Saya mengajarinya untuk “mencatat” detailnya dan mengajukannya kepada TUHAN sebagai berikut: saat kamu berkata, “Pa, saya mau ke gereja”, suamimu akan memberikan ijin. Saya mengajaknya untuk mengajukan detail tersebut kepada TUHAN dengan mendoakannya, “Di dalam Nama TUHAN YESUS, kamu akan mendapat ijin ke gereja.” Memang benar. Saat suaminya pulang dari kantor, dia meminta ijin seperti detail yang telah “dicatatnya” dan diajukannya kepada TUHAN. Jawaban yang diberikan suaminya sungguh di luar dugaan. Suaminya bukan saja memberi ijin, namun mengajukan diri untuk mengantarkannya ke gereja! Dan pada hari Minggu, suaminya benar-benar mengantarkannya. Saya doakan, agar tiga bulan kemudian suaminya juga akan ikut berbakti.

Contoh pengalaman dari anak TUHAN yang sudah mengajukan pilihannya dalam memilih tanah pusaka di Kanaan ini menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk mau “menjelajahi” tanah Kanaan, berani memilih bagian yang kita inginkan, “mencatat” dan mengajukannya kepada TUHAN. Dengan demikian kita akan memiliki tanah pusaka di Kanaan seperti yang dijanjikan oleh TUHAN. Amin.