Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Jemaat di Sardis
Jemaat di Sardis
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 3 Mei 2011
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 13/11/11
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Terdapat tujuh jemaat/gereja yang tercatat dalam Kitab Wahyu. Ketujuh jemaat/gereja itu menggambarkan keadaan gereja di seluruh dunia pada masa kini. Jika dilihat secara fisik, gereja-gereja di seluruh dunia sekilas terlihat sama: sama-sama ada gedung gerejanya, ibadahnya juga terlihat hampir sama. Tetapi jika kita perhatikan lebih jauh, ternyata dalam masing-masing gereja terdapat keunikan masing-masing.

WAHYU 3 : 1
1 Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah Firman DIA, yang memiliki ketujuh ROH ALLAH dan ketujuh bintang itu: AKU tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

Ayat ini ditujukan kepada salah satu jemaat/gereja, yakni jemaat di Sardis. Dan yang berbicara dalam kepada jemaat di Sardis ini adalah TUHAN sendiri, terlihat dalam kata, "Inilah Firman DIA". "Malaikat jemaat" berbicara tentang jemaat itu sendiri. Berarti TUHAN menghargai kita begitu rupa sehingga IA menyebut kita sebagai malaikat. Malaikat adalah pelayan TUHAN. Sebagai pelayan TUHAN, jika pola hidup kita tidak semestinya, hal itu akan mempermalukan nama-NYA.

TUHAN mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan, yakni sesuatu yang baik maupun yang tidak baik. Dari fakta ini, yang harus kita camkan adalah janganlah menjadi jemaat (orang Kristen) yang munafik. Jangan kita beribadah hanya untuk mencari muka di hadapan orang lain. Misalnya: seseorang rajin ke gereja karena pacarnya adalah seorang Kristen, dan lain sebagainya. Secara manusia, mungkin kita mampu mengelabui orang lain dengan sikap kita yang munafik itu, tetapi kita tidak akan pernah dapat mengelabui TUHAN. Sebab dengan tegas TUHAN berkata: "AKU tahu segala pekerjaanmu."

Jika TUHAN mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan maka IA juga pasti mengetahui segala pekerjaan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Itu sebabnya ketika mengalami suatu keadaan yang menyesakkan, jangan pernah berkata: "TUHAN tahu keadaanku atau tidak, ya?" Jangan kita meragukan kemahatahuan ALLAH.

"Engkau hidup, padahal engkau mati!" menunjukkan bahwa TUHAN bukan hanya mengetahui perbuatan kita yang tampak saja. IA juga mengetahui sampai segala sesuatu yang bersifat rohani, yang tidak kasat mata. Apabila kita masih mati rohani, segeralah bangkit bersama-sama dengan YESUS. Sebab IA sangat tidak menghendaki gereja yang mati di hadapan ALLAH. Dalam beribadah, jangan kita terlihat hidup, tetapi sesungguhnya mati rohani. Jika demikian untuk apa kita beribadah yang sebenarnya hanyalah sebuah kepura-puraan belaka. Contohnya, jika seorang pemimpin pujian berkata: "Marilah kita memuji TUHAN dengan lebih bersorak-sorai." Secara sekilas pernyataan ini tidak ada yang salah. Tetapi jika kita pikirkan lebih dalam, sesungguhnya jemaat yang benar-benar memiliki sukacita di dalam hatinya tidak perlu "diperintah" untuk bersorak sorai sebab mereka pasti dengan sendirinya akan bersorak-sorai, tidak perlu berpura-pura bersukacita dalam memuji TUHAN.

Contoh yang mudahnya saja adalah dalam pertandingan sepak bola. Ketika tim yang kita dukung menyarangkan gol ke gawang lawan, setiap pendukung tim pasti akan bertepuk tangan dan bersorak tanpa ada aba-aba ataupun ajakan dari orang lain. Begitu juga dalam beribadah. Jika jemaat memiliki sukacita dan semangat di dalam hatinya, tanpa harus diberi aba-aba pasti akan bersorak sorai dan bersemangat di dalam beribadah.

1 RAJA RAJA 8 : 39 - 40
39 Maka ENGKAU pun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-MU yang tetap, dan ENGKAU kiranya mengampuni, bertindak, dan membalaskan kepada setiap orang sesuai dengan segala kelakuannya, karena engkau mengenal hatinya -sebab ENGKAU sajalah yang mengenal hati semua anak manusia- 40 supaya mereka takut akan ENGKAU selama mereka hidup di atas tanah yang telah KAU-berikan kepada nenek moyang kami.

Ayat ini merupakan doa yang dinaikkan oleh Salomo pasca-pembangunan Bait ALLAH. Ia memohon agar TUHAN mengampuni, bertindak dan membalaskan kepada setiap orang sesuai dengan segala kelakuannya. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN pasti mengenal segala kelakuan manusia, sehingga IA mampu memberikan balasan yang tepat. Karena ALLAH mengetahui segala sesuatu, termasuk segala yang kita lakukan, jawaban doa yang kita terima tergantung pada cara atau bagaimana kita beribadah kepada TUHAN. Inilah yang menjadikan alasan mengapa saya selalu berusaha untuk menyampaikan Firman dengan sebaik-baiknya agar jemaat dapat benar-benar memiliki kerohanian yang hidup. Tetapi jika di antara kita masih ada yang berpura-pura hidup, padahal mati, cepat-cepatlah berubah. Agar kita benar-benar hidup, hendaklah kita bertobat dan minta ampun kepada TUHAN. Sebab apabila tidak mau berubah, TUHAN akan membalaskan sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Jika gereja sudah menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang dikehendaki TUHAN, tetapi jemaat secara individu masih ada yang berpura-pura dalam ibadahnya, maka pembalasan yang dilakukan TUHAN akan ditanggung oleh masing-masing jemaat itu sendiri. Jadi jika ada salah satu jemaat berdosa, maka tidak seluruh anggota jemaat yang ada dalam satu gereja itu akan menanggung akibatnya, melainkan hanya orang bersangkutan sajalah yang menanggungnya.

Lebih lanjut Salomo mengatakan bahwa TUHAN mengenal hati manusia. Sebagai seorang hamba TUHAN, saya diberikan hikmat oleh-NYA sehingga terkadang saya dapat mengetahui apa yang sedang terjadi dalam kehidupan salah seorang jemaat. Tetapi saya tidak mahatahu; hanya TUHAN saja yang Mahatahu. Kemahatahuan TUHAN membuat ibadah yang dengan penuh kepura-puraan akan percuma saja.

Menyadari kemahatahuan TUHAN seharusnya membuat setiap orang beriman takut akan TUHAN seperti yang diungkapkan Salomo dalam doanya itu. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Salomo juga menjadi orang yang takut akan TUHAN? Pada awalnya Salomo takut akan TUHAN, tetapi lambat laun ia meninggalkan TUHAN. Dia berhasil membangun bait ALLAH yang luar biasa megah. Tetapi ironisnya, di kemudian hari ia tidak lagi takut akan TUHAN. Bahkan sampai matinya ia tetap menyembah kepada berhala-berhala dari istri-istrinya.

WAHYU 3 : 2
2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu AKU dapati sempurna di hadapan ALLAHKU.

"Pendahuluan" berupa teguran yang sangat keras diikuti dengan nasehat TUHAN dalam ayat kedua. Nasehat pertama, TUHAN menasehatkan kepada jemaat di Sardis agar rohaninya bangun. Jemaat di Sardis sudah dalam keadaan tidur secara rohani, bahkan hampir mati rohani.

Setiap kita yang datang beribadah bertujuan untuk memperoleh nasehat dari TUHAN. Untuk itu jangan pernah berpura-pura menjadi orang yang baik, melainkan milikilah hati yang mau diperbaiki. "Kuatkanlah apa yang masih tinggal" mengindikasikan masih ada kesempatan yang TUHAN berikan kepada jemaat di Sardis, kepada kita, untuk memperbaiki diri. Sampai kapan kesempatan itu ada? Selama kita masih bernafas atau hidup di muka bumi ini. Untuk itu pergunakanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.

Mengapa TUHAN masih memberikan kesempatan bagi kita? Karena TUHAN ingin melihat segala pekerjaan kita diselesaikan dengan sempurna. Berarti hingga saat ini masih ada, bahkan masih banyak pekerjaan-pekerjaan kita yang belum sempurna. Pertanyaan berikutnya, mampukah kita mencapai kesempurnaan di hadapan TUHAN? Kesempurnaan tidak dapat dicapai dengan kekuatan kita sendiri, melainkan oleh karena kekuatan YESUS KRISTUS.

WAHYU 3 : 3
3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, AKU akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah AKU tiba-tiba datang kepadamu.

Untuk mencapai kesempuranaan kita harus tetap mengingat segala Firman TUHAN yang telah kita terima. Kemudian langkah berikutnya adalah mengikutinya dengan penuh ketaatan. Mengapa dalam gereja banyak orang yang berpura-pura? Karena mereka tidak mau menerima dan mentaati Firman. Bagaimana mungkin jemaat yang tidak taat Firman layak menyandang predikat "malaikat" seperti yang dituliskan pada ayat di awal pembahasan? Jemaat, kita, disebut malaikat, maka hidup kita pun seharusnya seperti malaikat.

Dalam kitab Wahyu ini sesungguhnya dipaparkan suatu pelajaran yang sangat sederhana. Untuk mencapai kesempurnaan dan dapat masuk ke dalam Sorga, kita harus memiliki hati yang mau dikoreksi dan bersedia untuk bertobat. Oleh sebab itu, jika di antara kita masih ada yang hidup di dalam kesalahan, selagi masih ada waktu bersegeralah untuk meminta ampun dan bertobat. Sebab jika kita tidak berjaga-jaga, TUHAN akan datang seperti pencuri. Maksudnya adalah waktu kedatangan-NYA tidak akan diketahui oleh siapa pun. Berjaga-jaga bermakna selalu mau mendengar dan mentaati Firman, dan selalu memiliki kerinduan untuk bertobat jika terlanjur berbuat dosa.

Kita tidak pernah tahu kapan IA akan datang. Yang dapat kita perbuat dalam menantikan kedatangan-NYA adalah dengan cara bangun (secara rohani) dan berjaga-jaga. Sehingga ketika IA benar-benar datang, TUHAN menemukan kita dalam keadaan sempurna.

Dalam menyikapi kapan waktu kedatangan TUHAN, banyak orang yang bingung bahkan ribut dalam hal menentukan kapan waktunya. Yang lebih bermanfaat dalam menyikapi hari kedatangan TUHAN adalah dengan cara membangun kerohanian kita sendiri dan tetap dalam keadaan berjaga-jaga. Lagipula, yang berhak menentukan kapan waktunya untuk datang ke dalam dunia ini adalah ALLAH sendiri. Sebagai malaikat yang notabene adalah sebagai pelayan TUHAN, kita tidak berhak untuk menanyakan perihal kapan kedatangan TUHAN yang kedua kalinya tersebut.

2 KORINTUS 6 : 11 - 13
11 Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. 12 Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu. 13 Maka sekarang, supaya timbal balik -aku berkata seperti kepada anak-anakku-:Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!

Kita akan mencoba untuk mengaplikasikan ayat di atas yang diucapkan oleh Paulus dalam hidup kita, yang merupakan Firman dari YESUS kepada kita. Pada saat kita belum bertobat, IA sudah membuka hati-NYA terlebih dahulu bagi kita dengan cara memberi DIRINYA mati di kayu salib untuk kita. Tindakan yang dilakukan YESUS itu membuktikan bahwa IA sudah membuka lebar-lebar pintu atau kesempatan bagi kita untuk menerima keselamatan. Apalah artinya jika YESUS membukakan pintu lebar-lebar bagi kita, namun kita sendiri tidak mau membuka pintu lebar-lebar bagi YESUS. Membuka hati kita selebar-lebarnya berarti mengakui segala kesalahan kita di hadapan-NYA jika kita bersalah atau berdosa kepada ALLAH. Sehingga dengan demikian ALLAH melayakkan kita untuk dapat masuk ke dalam bagian yang telah IA sediakan bagi kita, yakni kerajaan Sorga.

Selain itu, jagalah agar ibadah yang kita lakukan bukan merupakan ibadah yang pura-pura. Jangan sampai kita senyum atau menyapa orang lain dengan manis, tetapi di dalam hati menyimpan dendam. Hal-hal seperti ini sangat tidak berkenan di hadapan ALLAH.

WAHYU 3 : 4
4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan AKU dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.

Tidak semua individu yang tergabung dalam jemaat di Sardis adalah orang yang mati rohani atau tidak mentaati Firman. Masih ada di antara mereka yang berusaha mencapai kesempurnaan di hadapan ALLAH dengan cara tidak mencemarkan "pakaiannya" atau hidupnya. Orang yang tidak mencemarkan pakaiannya adalah orang yang layak untuk berjalan bersama-sama YESUS dengan "memakai pakaian putih". Pakaian putih berarti kekudusan yang YESUS berikan kepada kita. Mereka yang dipandang layak merupakan orang Kristen yang memiliki kehidupan yang tidak munafik.

Ayat di atas dapat diterapkan pula dalam kehidupan kita. Sebagai individu, tidak semua karakter kita terdiri dari kekurangan. Di samping banyaknya kekurangan yang harus kita perbaiki, ada pula hal-hal baik yang hendaknya dipertahankan. Jangan hidup seperti Salomo yang mengawalinya dengan sesuatu yang baik, tetapi mengakhirinya dengan sesuatu yang tidak berkenan kepada TUHAN. Hendaknya kita terus berusaha mengikis kekurangan kita hari demi hari dan mau dibentuk menuju pada kesempurnaan.

LUKAS 9 : 28 - 30
28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, YESUS membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. 29 Ketika IA sedang berdoa, rupa wajah-NYA berubah dan pakaian-NYA menjadi putih berkilau-kilauan. 30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan DIA, yaitu Musa dan Elia.

YESUS adalah kudus. Digambarkan dalam ayat di atas ketika YESUS berdoa dan rupa wajah-NYA berubah dan pakaian-NYA menjadi putih berkilau-kilauan. Orang yang berjalan bersama-sama dengan YESUS pasti juga memakai "pakaian putih" karena YESUS menghendaki orang yang berjalan bersama-sama DIA adalah orang yang hidup di dalam kekudusan. Selain itu YESUS juga berkata, "AKU-lah jalan, kebenaran, dan hidup." YESUS adalah ALLAH yang hidup, sehingga IA tidak akan mungkin berjalan bersama dengan orang yang mati rohani, termasuk dengan orang yang berpura-pura "hidup", namun sesungguhnya "mati".

Apabila kita ingin bertemu dan berjalan bersama dengan TUHAN serta mendapatkan petunjuk-petunjuk daripada-NYA, hidup kita harus benar-benar bersih. Kapan kita dapat bertemu dan berjalan bersama dengan YESUS? Sejak kita masih ada di dalam dunia dalam rangka berjalan menuju Sorga. Jadi berjalan bersama YESUS dengan memakai pakaian putih bukan hanya saat nanti masuk Sorga, tetapi sejak sekarang ini kita harus mampu berjalan bersama YESUS. Contoh konkretnya adalah Henokh yang berjalan bersama dengan TUHAN hingga ia masuk ke Sorga tanpa harus melalui kematian terlebih dahulu.

Pada saat hendak melakukan sesuatu, orang yang selalu meminta petunjuk TUHAN merupakan salah satu contoh berjalan bersama dengan DIA. Sayangnya, banyak orang Kristen yang lebih memfokuskan diri meminta petunjuk TUHAN untuk hal-hal duniawi. Misalnya saja ada jemaat yang bertanya kepada saya, "Pak, kecenderungan dolar akan naik atau turun?" Bukan berarti TUHAN tidak akan memberikan berkat-berkat jasmani kepada kita. Berkat berjalan bersama TUHAN jauh lebih besar daripada berkat-berkat materi. Berkat itu berupa damai sejahtera dari ALLAH yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi dunia yang labil.

WAHYU 3 : 5 - 6
5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; AKU tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan AKU akan mengaku namanya di hadapan BAPAKU dan di hadapan para malaikat-NYA. 6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Tidak semua jemaat di Sardis yang dapat masuk ke dalam kerajaan Sorga. Sebab hanya orang-orang yang memenuhi kriteria atau syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh TUHAN saja yang dapat masuk ke Sorga. Salah satu syaratnya adalah orang yang menang, yakni yang berhasil mempertahankan kekudusannya di hadapan ALLAH dan menang terhadap kepura-puraan. Dengan demikian, nama kita tidak akan dihapus dari kitab kehidupan.

Begitu juga dengan kehidupan kita. Hendaklah kita jangan suka hidup di dalam kepura-puraan. Berjalanlah bersama dengan TUHAN setiap hari dan raihlah kemenangan dalam mempertahankan kekudusan di hadapan ALLAH. Beribadahlah dengan kesungguhan, jangan disertai dengan kepuraan-puraan dalam beribadah. Maka dengan cara ini nama kita tidak akan dihapuskan dari kitab kehidupan di Sorga. Sehingga ketika tiba waktunya kita masuk ke dalam Sorga, maka nama kita masing-masing akan dikenal oleh YESUS bahkan diakui di hadapan BAPA di Sorga.

MATIUS 22 : 10 - 13
10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Dengan beribadah dalam kepura-puraan, mungkin kita berhasil mengelabui orang lain. Tetapi pada saatnya nanti, ketika waktunya tiba untuk semua orang yang kudus dan menang masuk ke dalam Sorga, kepura-puraan dalam ibadah tidak dapat kita jadikan tiket untuk masuk Sorga. Perumpamaan dalam ayat ini ingin mengatakan kepada kita bahwa apabila baju pesta yang berwarna putih (kebenaran dan kekudusan ALLAH) itu tidak dikenakan, maka tidak akan ada kesempatan bagi kita untuk dapat berpesta di dalam kerajaan Sorga. Tetapi jika ada orang yang berasal dari latar belakang yang sangat buruk sekalipun, apabila ia bertobat kemudian mau memakai pakaian pesta yang diberikan TUHAN serta menang dalam mempertahankan kekudusan, maka orang itu akan masuk ke dalam kerajaan Sorga.

Namun alangkah celakanya orang yang karena kepura-puraannya ia justru dicampakkan ke dalam neraka. Sebab tidak semua orang yang sudah beribadah di dalam gereja akan masuk ke dalam Sorga. Kalau begitu siapa saja yang dapat masuk ke Sorga? Sudah pasti orang yang memenuhi persyaratan yang sudah dibahas di atas. Yakni yang tidak beribadah dengan kepura-puraan, mengenakan pakaian putih (kebenaran ALLAH) dan yang menang dalam mempertahankan kekudusan. Amin.