Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Reward Setelah Ujian
Reward Setelah Ujian
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 4 September 2009
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 29/11/09

Saat mengalami ujian memang tidak enak. Tapi, tanpa ujian kita tidak akan tahu sampai di mana kemampuan kita, dan tentunya tidak akan menerima tanda lulus ujian.

KEJADIAN 22 : 1
1 Setelah semuanya itu ALLAH mencoba Abraham. IA berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, TUHAN."

Ayat di atas dalam Alkitab NIV, kata "ALLAH mencoba" digunakan istilah "menguji", sebab IA tidak mencobai, melainkan menguji Abraham. Di dalam hidup ini, tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu atau kapan datangnya ujian menerpa hidup seseorang, demikian juga kapan jawaban yang diberikan TUHAN sebagai solusi bagi ujian tersebut. Mengapa? Sebab TUHAN sendiri yang akan menentukan waktunya. Ada waktu untuk mengalami ujian, ada pula waktu untuk menerima reward dari ujian tersebut. Yang perlu kita perbuat saat ini adalah selalu siap dalam menghadapi datangnya ujian dan yakin bahwa TUHAN mengetahui seberapa besar kemampuan kita untuk menjalani ujian tersebut.

Ketika manusia memberikan ujian (misalnya guru terhadap murid), pemberi ujian maupun penerima ujian sama-sama belum mengetahui kemampuan orang yang diuji. Berbeda dengan TUHAN. IA adalah ALLAH yang Maha Tahu, yang mengetahui seberapa besar kemampuan setiap orang di dalam menghadapi ujian. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa IA memberikan ujian kepada kita, padahal IA sudah mengetahui kapasitas kita? Oleh sebab itu, kita akan melihat makna dibalik ujian yang TUHAN berikan kepada Abraham.

YEREMIA 17 : 10
10 AKU, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Kata "untuk memberi balasan" dalam ayat di atas dalam Alkitab NIV adalah "to reward". Di dalam ayat di atas, dijelaskan bahwa tujuan ALLAH memberikan ujian adalah agar ada suatu alasan untuk memberikan reward. Contoh mudahnya saja, tidak ada satu sekolah pun yang akan memberikan ijazah atau pernyataan lulus dari sekolah kepada murid-muridnya tanpa melalui ujian terlebih dahulu. Jadi, ujian merupakan suatu alasan bagi ALLAH untuk memberikan reward kepada kita karena telah melewati ujian tersebut dengan baik. Dengan mengetahui tujuan ALLAH dalam menguji kita, kita akan bersyukur kepada TUHAN ketika menghadapi ujian, sebab kita akan menerima reward atau hadiah dari ALLAH.

Hal berikutnya yang harus kita ingat setelah menerima reward adalah pandangan kita jangan terlalu terfokus kepada reward yang telah kita terima. Sebab setelah itu akan ada ujian yang lain dan ada reward berikutnya. Dan perlu diingat bahwa selama manusia masih hidup di dalam dunia ini, akan banyak ujian dan reward yang akan datang dan akan kita terima silih berganti. Tindakan yang bijaksana adalah kita selalu siap untuk menghadapi ujian yang kita tidak ketahui kapan akan datang dan menghampiri hidup kita.

Contohnya saja Abraham yang diuji kesetiaannya dengan tidak memperoleh anak selama sekian tahun, dan setelah lulus dari ujian tersebut TUHAN memberikan anak sebagai reward dari kesetiaan Abraham. Setelah mendapat reward, ada lagi ujian berikutnya, yakni TUHAN memerintahkan anaknya dikorbankan. Dalam hal ini pun Abraham lulus dari ujian dan mendapatkan reward. Setelah itu masih ada lagi ujian-ujian dan reward yang dialami dan diterima oleh Abraham.

Dalam terjemahan NIV, Yeremia 17:10 dituliskan: "...to reward a man according to his conduct, according to what his deed deserve." Jadi reward yang TUHAN berikan tergantung kepada materi ujian yang kita alami. Dengan demikian jika ujian yang dihadapi semakin berat, maka reward yang kita peroleh juga akan semakin besar.

KEJADIAN 22 : 2
22 Firman-NYA: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan KU-katakan kepadamu."

Sepanjang sejarah Alkitab, ujian yang dihadapi oleh Abraham adalah ujian yang terberat. Mengapa? Banyak orang yang menyerahkan anaknya kepada ALLAH secara sukarela (contohnya, Hana menyerahkan Samuel), tetapi bukan untuk disembelih dan dijadikan korban bakaran. Sedangkan Abraham diuji oleh ALLAH untuk menyerahkan Ishak sebagai korban bakaran bagi ALLAH. Itu sebabnya reward yang diterima oleh Abraham sangat besar karena materi ujian yang dihadapinya sangat berat.

Kita juga lihat ayat ini dari sisi yang berbeda, yakni dari sisi rumah tangga. Banyak orang yang meminta karunia anak di dalam kehidupan rumah tangganya, tetapi banyak dari antara mereka yang lupa untuk mengasihi anak yang diberikan TUHAN kepada mereka. Biasanya seorang bapak mengalami kesulitan untuk mengasihi anaknya, sedangkan seorang ibu akan lebih mudah mengasihi anaknya sendiri. Namun Abraham benar-benar mengasihi anaknya. Tetapi yang terjadi, justru TUHAN meminta anak yang dikasihi oleh Abraham. Dari ujian ini, kita dapat melihat bahwa materi ujian yang diberikan ALLAH ternyata tidak hanya ditujukan kepada Abraham saja, melainkan kepada seisi rumah tangganya (mencakup Sarah dan Ishak). Sebab jika Ishak tidak mengetahui cara ibadah yang benar, maka Abraham sudah gagal pada langkah pertama menjalani ujian mempersembahkan Ishak.

Abraham tidak membohongi Sarah dengan mengatakan bahwa TUHAN memerintahkan kepada mereka hanya untuk beribadah. Itu sebabnya sebelum menghadapi ujian, kita harus mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk menghadapi ujian yang datang sewaktu-waktu (karena kita tidak tahu kapan ujian akan datang). Abraham telah menyiapkan rumah tangganya terlebih dahulu sehingga ketika ujian itu datang, mereka siap untuk menghadapinya. Hal ini berbuah Abraham dan seisi rumahnya dapat menikmati reward yang diberikan oleh TUHAN.

Jika di antara kita yang hingga saat ini belum menghadapi ujian, jangan pernah merasa takut untuk menghadapi ujian yang akan datang, sebab di balik ujian selalu ada reward yang setimpal dengan ujian itu yang akan kita terima. Selain itu, ketika memberikan ujian, TUHAN tidak pernah memberikannya secara asal-asalan (ngawur). Jika saat ini kita sedang berada di tengah-tengah ujian, tetap siapkan diri kita untuk menerima reward. Sebab TUHAN tidak pernah menguji seseorang melebihi kemampuannya.

KEJADIAN 22 : 6
6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Sampai pada titik ini, Abraham mengalami ujian yang terberat. Tetapi Abraham yang sangat mengasihi anaknya tidak memanjakan Ishak, melainkan ia mengajarkan dan menerapkan disiplin beribadah kepada Ishak anaknya.

Dari rahasia ini, kita diajarkan untuk mengasihi anak kita, tetapi juga jangan lupa untuk memberikan disiplin di dalam beribadah. Dengan demikian hidup kita akan berhasil. Tetapi jika kita hanya mencintai anak kita dan tidak mendisiplinnya untuk beribadah kepada TUHAN, maka nantinya anak kita sendiri yang akan menjadi batu sandungan dan akan menyebabkan hidup kita menjadi gagal. Akibatnya, reward dari TUHAN tidak akan kita terima.

Bukti dari sikap Abraham yang tidak memanjakan Ishak adalah sekalipun ada dua bujang, ia menyuruh mereka untuk tinggal dan menempatkan kayu di atas bahu Ishak untuk dipikulnya. Berarti disiplin rohani dan cinta kepada anak kita harus seimbang. Jika dilihat sekilas, sepertinya beban yang dipikul oleh Ishak lebih berat dibandingkan Abraham, sebab yang memikul kayu adalah Ishak. Tetapi sebenarnya apa yang dilakukan Abraham terhadap Ishak adalah sesuatu yang adil. Sebab Abraham yang sangat mengasihi anaknya harus menyalibkan dirinya; ia harus lebih mengasihi ALLAH dengan jalan taat kepada perintah-NYA. Dengan kata lain, kendati Abraham tidak memikul kayu secara fisik seperti yang dilakukan oleh Ishak, ia harus rela menyerahkan dan membunuh anaknya untuk dijadikan korban bagi ALLAH.

"... demikianlah keduanya berjalan bersama-sama." Rumah tangga yang seimbang dibuktikan dalam kalimat ini. Banyak kehidupan rumah tangga atau suami dengan istri atau dengan anak-anak yang tidak dapat berjalan bersama-sama karena tidak seimbang di dalam membagi tugas dan kewajibannya dalam beribadah, dalam mengasihi dan dalam mengasihi. Banyak orang yang hanya mendisiplin tetapi tidak melengkapinya dengan mengasihi, sehingga kehidupan rumah tangganya kacau. Banyak pula orangtua yang hanya mengasihi anaknya tanpa memberikan disiplin, sehingga anak-anaknya menjadi tidak karuan. Tetapi jika disiplin dan cinta dilakukan dengan benar maka seluruh anggota rumah tangga akan dapat berjalan bersama-sama ke arah yang sama, yakni Firman TUHAN.

AMOS 3 : 3
3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?

AMOS 3 : 3 (NIV)
3 Do two walk together unless they have agreed to do so?

Mungkinkah orang berjalan bersama tanpa kedua belah pihak menyetujui apa yang telah dijanjikan oleh masing-masing pihak? Abraham dan Ishak mampu berjalan bersama bukan karena proses yang terjadi satu dua hari, tetapi melalui proses yang telah lama dipersiapkan oleh Abraham. Sehingga ketika Abraham menyuruh Ishak memikul kayu, maka Ishak melakukannya dengan penuh kesadaran bahwa hal tersebut untuk beribadah kepada TUHAN.

Persiapan menghadapi ujian juga merupakan persiapan bagi kita untuk memperoleh reward. Tetapi jika kita tidak mempersiapkan diri, kita akan gagal di dalam menjalani ujian dan gagal pula menerima reward dari TUHAN.

KEJADIAN 22 : 7 – 8
7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" 8 Sahut Abraham: "ALLAH yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-NYA, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Bukti bahwa Abraham telah mendisiplin Ishak sejak lama adalah Ishak memahami dengan baik tata cara ibadah. Itu sebabnya ketika kayu, api dan pisau telah tersedia, Ishak menanyakan tentang domba yang akan dipersembahkan. Pada saat itu Abraham memang tidak membawa domba yang biasa digunakan untuk dijadikan korban. Ishak sangat teliti di dalam beribadah, sehingga dia langsung tahu jikaa ada sesuatu yang kurang dalam perlengkapan ibadah. Itu sebabnya sangat penting mendisiplin anak kita di dalam perkara rohani, sebab jika suatu saat kita lupa, anak kita itulah yang akan mengingatkan kekurangan kita.

Di sisi lain, banyak anak pada saat menghadapi masalah tidak berani bertanya kepada ayahnya. Sebab ada dua kemungkinan, karena ayahnya sudah kurang peduli kepada persoalan anak, atau ayahnya terlalu keras. Tetapi Abraham adalah seorang ayah yang mampu memberikan jawaban kepada Ishak. Berarti terjalin komunikasi yang baik antara Abraham dan Ishak, sehingga ada suatu solusi yang baik dari pertanyaan yang diajukan oleh Ishak. Jika kita mengasihi dan mendisiplin anak kita dengan porsi yang benar, maka rumah tangga kita akan menjadi rumah tangga yang ideal.

Pertanyaan Ishak mengenai domba untuk persembahan ini merupakan ujian yang diberikan ALLAH kepada Abraham. Di sini kita dapat melihat ujian yang diberikan ALLAH berkaitan dengan pola imannya. Dahulu, hanya untuk menyelamatkan hidupnya, Abraham berbohong, yaitu mengakui Sarah sebagai adiknya. Kini, untuk menjawab pertanyaan Ishak, Abraham berkata jujur dan dengan kata-kata hikmat. Sehingga jawaban yang diberikan Abraham itu nantinya akan menjadi reward. Sebab jawaban yang mengatakan: "TUHAN yang sediakan" ini adalah sebuah pernyataan iman Abraham kepada ALLAH. Atas dasar jawaban inilah ALLAH benar-benar menyediakan apa yang dibutuhkan oleh Abraham. Dengan demikian, Abraham terhindar dari dosa (kebohongan). Hingga peristiwa ini, ujian yang diberikan oleh ALLAH hanya tertuju kepada Abraham, sedangkan Ishak hanya diuji ketaatannya dalam beribadah.

Ketika mengalami persoalan, banyak orang yang berbohong karena tidak memiliki iman. Akibatnya, yang dituai adalah kebohongan yang sangat besar. Untuk itu sangatlah penting untuk kita renungkan dan kita lakukan: orang yang beriman tidak akan berbohong dan tidak akan berbicara munafik.

KEJADIAN 22 : 9 – 12
9  Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan ALLAH kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. 10  Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. 11  Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, TUHAN." 12 Lalu IA berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah KU-ketahui sekarang, bahwa engkau takut akan ALLAH, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-KU."

Ayat 8 diakhiri dengan kalimat: "Demikianlah keduanya berjalan mereka bersama-sama." Kalimat ini juga tertulis dalam akhir ayat 6. Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya iman serta ibadah Abraham dan Ishak berjalan bersama sehingga mereka memiliki kemampuan untuk menghadapi ujian besama-sama.

Hingga ayat 8 Ishak belum mengetahui bahwa yang akan dijadikan korban adalah dirinya; yang diketahuinya adalah TUHAN yang akan menyediakan korban. Tetapi pada ayat ke-9 setelah Abraham mendirikan mezbah bakaran secara lengkap, ia mulai mengikat Ishak. Ishak tidak memberontak terhadap apa yang dilakukan oleh Abraham, bapaknya itu. Dalam peristiwa ini barulah ujian yang dialami oleh Ishak setara dengan ujian yang dihadapi oleh Abraham. Dalam kesempatan ini, Ishak dan Abraham kembali dapat berjalan bersama-sama. Mengapa demikian? Karena Abraham telah mempersiapkan Ishak terlebih dahulu sehingga imannya bertumbuh dan memampukannya untuk mempersembahkan hidupnya secara total dalam rangka beribadah kepada ALLAH.

Mempersiapkan anak-anak kita sedini mungkin untuk memiliki kesadaran beribadah kepada TUHAN sangatlah penting. Itu sebabnya mengapa di Sekolah Minggu kita ada kelas untuk bayi. Mungkin ketika beribadah, anak-anak usia beberapa bulan ini tertidur, tetapi jika kita memulai untuk mendisiplin mereka beribadah kepada ALLAH maka nantinya akan membuat mereka mampu berjalan bersama orangtuanya atau memiliki iman yang sama dengan iman orangtuanya. Itu sebabnya sangatlah pantas jika Abraham disebut sebagai "bapak orang beriman" karena ia berhasil mempersiapkan anaknya untuk memiliki iman yang teguh.

Tanpa ragu-ragu Abraham mengulurkan tangannya mengambil pisau untuk menyembelih Ishak. Di saat itulah Malaikat TUHAN berseru memanggilnya dan memerintahkannya untuk tidak membunuh Ishak. Saya yakin bahwa ketika TUHAN berseru memanggil Abraham, Ishak juga mendengar suara TUHAN. Mengapa? Sebab iman Ishak sama dengan iman Abraham.

Perkataan TUHAN "telah KU-ketahui sekarang" seolah-olah sebelumnya TUHAN tidak mengetahui seberapa besar iman yang dimiliki oleh Abraham. Maksud sesungguhnya dari perkataan TUHAN ini adalah untuk menunjukkan bahwa Abraham telah sah untuk menerima reward, sebab ia telah lulus ujian. Jika Ishak tidak dapat mendengar suara TUHAN yang mencegah Abraham membunuh Ishak, maka ia tidak akan mengetahui apakah Abraham dan dirinya lulus dari ujian atau tidak. Selain itu, iman Ishak pasti tidak akan bertumbuh seperti iman Abraham. Atau bahkan boleh jadi Abraham dianggap oleh Ishak sebagai orang yang sudah tidak waras karena hendak membunuh anaknya sendiri. Jadi sekali lagi saya tekankan, Ishak juga mendengar perkataan TUHAN yang ditujukan untuk Abraham pada saat mau menghunjamkan pisau kepada Ishak.

KEJADIAN 22 : 13 – 14
13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Karena kata-kata iman yang diucapkan Abraham: "ALLAH yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-NYA" maka semuanya terjadi. Selain itu, karena imannya kepada ALLAH, ia tidak memikirkan bagaimana caranya atau kapan ALLAH akan menyediakan domba untuk korban sembelihan itu. Yang ia pikirkan hanyalah TUHAN pasti menyediakan apa yang diperlukan. Buktinya ketika Abraham menoleh, maka ia melihat seekor domba yang tersangkut di tengah semak belukar.

Kita juga harus ingat bahwa domba yang disediakan ALLAH sudah pasti bukanlah domba yang tidak memenuhi syarat sebagai domba korban. Jadi domba yang tersangkut di situ bukanlah suatu kebetulan. Sebab jika kebetulan, dombanya bisa jadi bukan domba jantan dan juga akan mengalami cacat. Jika TUHAN yang menyediakan maka apa yang disediakan-NYA itu sempurna adanya dan yang terbaik.

Dari pelajaran ini dapat kita pelajari bahwa jika kita sedang menghadapi persoalan dan telah siap untuk menghadapinya, maka TUHAN tidak pernah terlambat untuk menolong kita. Bahkan IA yang akan menyiapkan segala sesuatunya untuk memberikan pertolongan. Jangan memusingkan tentang dengan cara apa ALLAH akan menolong kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri kita dan seluruh anggota keluarga kita untuk bersama-sama menghadapi ujian tersebut. Jika hal ini yang kita lakukan, maka langkah demi langkah di dalam menghadapi ujian itu, maka kita akan melihat kemuliaan ALLAH dinyatakan.

KEJADIAN 22 : 15 – 18
15  Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16  kata-NYA: "AKU bersumpah demi diri-KU sendiri--demikianlah Firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-KU, 17  maka AKU akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18  Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan Firman-KU."

Hidup di dalam iman memiliki fase yang sudah pasti, yakni menghadapi ujian, lulus ujian, lalu reward yang sangat besar pasti kita terima. Hidup di dalam iman ini berbeda dengan prinsip orang dunia yang mengatakan bahwa hidup seperti roda, ada kalanya di bawah dan ada kalanya di atas. Sepintas prinsip orang dunia ini ada benarnya, tetapi sesungguhnya pandangan ini merupakan pandangan yang keliru, sebab anak TUHAN selalu ada di atas. Hanya saja fase hidup orang beriman adalah: ujian, lulus dari ujian dan mendapatkan reward.

Karena Abraham berhasil mengatasi ujian, maka reward yang diterimanya adalah TUHAN bersumpah demi Nama-NYA sendiri. Dari hal ini juga kita dapat petik suatu pelajaran bahwa yang boleh bersumpah hanyalah TUHAN, sedangkan kita sebagai manusia sama sekali tidak boleh bersumpah demi nama siapa pun.

TUHAN bersumpah untuk memberkati Abraham dan keturunannya dengan berlimpah-limpah. Berarti jika kita memberikan yang terbaik bagi TUHAN (seperti Abraham yang menyerahkan anaknya) maka TUHAN juga akan memberikan yang terbaik bagi kita, bahkan berlimpah-limpah.

Yang dimaksud dengan menduduki kota-kota musuh (dalam ayat 17) adalah keturunan-keturunan Abraham menjadi raja-raja di bumi. Jadi Abraham bukan sebagai raja, melainkan ia menjadi Bapak dari raja-raja yang ada di dalam dunia ini. Hal ini terjadi karena Abraham memberikan yang terbaik bagi ALLAH. Berkat lainnya bagi Abraham adalah melalui keturunan Abraham, semua bangsa akan mendapat berkat. Hal ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, sebab bukan hanya menerima berkat yang berlimpah-limpah bagi keturunan Abraham, namun mereka juga menjadi berkat bagi semua bangsa.

Karena Abraham berjalan di dalam iman, juga mempersiapkan diri dan keluarganya untuk beriman kepada ALLAH, Abraham dan keturunannya menerima reward yang sangat besar. Karena itu, marilah kita mempersiapkan diri kita dan seluruh anggota keluarga untuk menghadapi ujian. Sehingga ketika ujian itu datang, kita telah siap untuk menghadapinya dan reward yang akan kita peroleh adalah sesuatu yang terbaik dari TUHAN. Amin.