Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Iri Hati Menunda Ber...
Iri Hati Menunda Berkat TUHAN
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 31 Juli 2009
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 15/11/09

Iri hati merupakan tindakan kontra produktif yang menyengsarakan diri sendiri dan orang lain. Bukti nyata sudah dialami oleh Rahel yang iri kepada Lea.

KEJADIAN 30 : 1
1 Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati."

Seseorang akan cemburu, atau lebih tepatnya iri, jika dia tidak memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain, dan dia menginginkan hal yang tidak dimilikinya itu. Rahel iri kepada Lea yang telah melahirkan anak, sedangkan dia belum juga hamil. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menepis rasa iri agar tidak mampir di benak kita, yaitu jangan melihat apa yang tidak kita miliki, tapi syukurilah apa yang kita miliki. Contohnya, bila Rahel mampu mensyukuri bahwa Yakub lebih mencintai Rahel dari pada Lea, dia tak akan iri kepada kakak kandungnya itu. Namun Rahel tak merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya dan lebih memfokuskan pada kekurangannya yang sampai saat itu belum melahirkan anak, sehingga timbul rasa iri.

Apakah ketidakmampuan Rahel untuk hamil merupakan kesalahan Lea? Lea tidak ikut berperan apa-apa atas hal ini; Lea tidak melakukan tindakan yang menyebabkan Rahel tidak memiliki anak. Apalagi Rahel adalah istri kesayangan Yakub yang memiliki lebih banyak kesempatan tidur bersama suaminya dibandingkan kesempatan yang dimiliki Lea. Pikiran Rahel yang telah terbalut rasa iri membuatnya salah berpikir.

Cara pandang Rahel yang salah menghasilkan tindakan yang salah. Disertai sikap ngambek, dia berkata kepada Yakub untuk memberikan dia anak, kalau tidak dia akan mati. Rahel salah alamat! TUHAN-lah yang mengaruniakan anak; seharusnya Rahel memohon kepada TUHAN, bukan kepada Yakub.

1 SAMUEL 18 : 6 - 9
6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." 8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." 9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

Kita juga akan belajar dari seorang lain yang memiliki iri hati. Peristiwa yang dilukiskan pada ayat-ayat di atas ini terjadi pada saat Daud baru saja mengalahkan Goliat. Dalam perjalanan kembali dari medan pertempuran itu, Daud bersama raja Saul disambut para perempuan dengan nyanyian dan tari-tarian. Malang bagi raja Saul yang kalah pamor dari Daud. Hal itu tercetus dari syair lagu yang dinyanyikan para perempuan itu: Daud dipuji mengalahkan musuh berlaksa-laksa (berpuluh-puluh ribu), sedangkan Saul (hanya) beribu-ribu. Hal tersebut membuat Saul iri kepada Daud. Seharusnya Saul tidak marah kepada Daud, sebab para perempuan itu yang bernyanyi demikian tanpa diminta oleh Daud. Dan kenyataannya, Daud memang melakukan tindakan heroik sehingga patut dipuji. Rasa iri hati berkembang menjadi kebencian; Saul ingin membunuh Daud.
Dampak dari iri hati adalah maut atau kematian. Saul yang menginginkan kematian Daud, namun ternyata Saul yang akhirnya mati bunuh diri. Demikian pula dengan Rahel. Iri hati membuat Rahel ingin mati.

Karena Daud tidak bersalah, TUHAN melindunginya. Kesimpulannya, orang yang iri justru akan kalah. Jadi, untuk apa kita iri hati? Jika menginginkan sesuatu, mintalah kepada TUHAN yang akan memberikannya kepada kita.

KEJADIAN 30 : 2
2 Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: "Akukah pengganti ALLAH, yang telah menghalangi engkau mengandung?"

Orang yang iri hati memicu kemarahan orang di sekitarnya seperti yang dialami Yakub yang marah kepada Rahel karena perkataannya yang tidak rasional. Rahel belum memiliki anak bukan salah Yakub atau Lea, tetapi karena memang Rahel mandul. Terbukti Lea melahirkan anak-anak bagi Yakub.

Perkataan Yakub, "Akukah pengganti ALLAH, yang telah menghalangi engkau mengandung?" merupakan ajaran Yakub kepada Rahel bahwa yang memberi karunia anak adalah ALLAH. Jadi Rahel jangan menyalahkan Yakub dan iri hati kepada Lea, tetapi berdoa kepada TUHAN agar dapat mengandung. Tugas suami adalah mengarahkan iman istri. Sayangnya Yakub kurang tegas karena imannya masih pas-pasan.

KEJADIAN 30 : 3 - 8
3 Kata Rahel: "Ini Bilha, budakku perempuan, hampirilah dia, supaya ia melahirkan anak di pangkuanku, dan supaya oleh dia akupun mempunyai keturunan." 4 Maka diberikannyalah Bilha, budaknya itu, kepada Yakub menjadi isterinya dan Yakub menghampiri budak itu. 5 Bilha mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub. 6 Berkatalah Rahel: "ALLAH telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkan-NYA permohonanku dan diberikan-NYA kepadaku seorang anak laki-laki." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Dan. 7 Mengandung pulalah Bilha, budak perempuan Rahel, lalu melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub. 8 Berkatalah Rahel: "Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku, dan akupun menang." Maka ia menamai anak itu Naftali.

Petunjuk Yakub tersebut hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan Rahel. Tidak semudah itu Rahel mau mencari dan mengandalkan TUHAN agar dia mampu melahirkan. Rahel menyodorkan Bilha, budaknya, untuk menjadi istri Yakub. Anak yang dilahirkan Bilha menjadi anak Rahel. Kelahiran anak dari Bilha itu disambut dengan statement Rahel "ALLAH telah memberi keadilan kepadaku". Itu adalah statement yang salah. TUHAN tidak mungkin memakai jalan seperti itu untuk memberikan keadilan. Justru tindakan Rahel ini nantinya akan memicu keadaan yang tidak baik bagi Yusuf. Dengan enteng Rahel memakai Nama TUHAN, padahal saat memberikan Bilha menjadi istri Yakub, Rahel tidak berdoa.

Perkataan Rahel "Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku" menunjukkan tujuan Rahel memiliki anak bukan karena benar-benar ingin punya anak, namun ambisi mengalahkan kakaknya. Tindakan Rahel yang iri hati mampu menutupi akal sehatnya demi tercapainya ambisinya.

KEJADIAN 30 : 9 - 13
9 Ketika dilihat Lea, bahwa ia tidak melahirkan lagi, diambilnyalah Zilpa, budaknya perempuan, dan diberikannya kepada Yakub menjadi isterinya. 10 Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub. 11 Berkatalah Lea: "Mujur telah datang." Maka ia menamai anak itu Gad. 12 Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub. 13 Berkatalah Lea: "Aku ini berbahagia! Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia." Maka ia menamai anak itu Asyer.

Suasana keluarga Yakub-Rahel-Lea bertambah panas. Lea terbawa pola permainan Rahel; dia ikut-ikutan menyodorkan Zilpa, budaknya, menjadi istri Yakub. Sebagai kepala keluarga, Yakub seharusnya memimpin rumah tangganya, bukan malah menuruti istri-istrinya yang berbuat salah. Padahal sebelumnya Yakub telah mengatakan (secara tidak langsung) bahwa anak itu dari TUHAN. Yakub bukannya belajar dari masa lalu opa-omanya, Abraham dan Sarah, yang tersandung konflik gara-gara Hagar dan Ismael.

Akibatnya, anak-anak yang dilahirkan oleh Bilha dan Zilpa ini di kemudian hari membahayakan kehidupan anak-anak Rahel dan Lea. Salah satunya adalah mereka punya ide membunuh Yusuf, anak Rahel. Saat anak Lea (Ruben) mau melindungi Yusuf, Ruben takut kepada anak-anak Bilha dan Zilpa ini; dia hanya berhasil mencegah Yusuf dibunuh dengan memberi ide Yusuf dibuang ke sumur. Perkataan Rahel dan Lea bahwa kelahiran anak-anak dari budak-budak itu anugerah TUHAN, padahal mereka mencelakakan anak-anak kandung mereka sendiri. Dapat disimpulkan, orang yang iri hati membuatnya bertindak ngawur sehingga membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang terdekatnya.

Seandainya Rahel menunggu rencana TUHAN, Yusuf mungkin tidak akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dari kakak-kakak tirinya itu. Saya katakan mungkin, sebab TUHAN selalu punya rencana yang baik dalam hidup kita. Kendati TUHAN bisa mengubahkan hal yang tidak baik menjadi hal yang baik, janganlah kita berbuat sesuatu yang tidak baik. Contohnya Yudas Iskariot yang mengkhianati YESUS. ALLAH dapat memakai hal itu untuk kebaikan. Namun janganlah kita melakukan tindakan seperti yang dilakukan Yudas Iskariot.

KEJADIAN 30 : 22
22 Lalu ingatlah ALLAH akan Rahel; ALLAH mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya.

"Lalu ingatlah ALLAH akan Rahel" bukan berarti tadinya ALLAH lupa Rahel. ALLAH ingat Rahel karena Rahel ingat kepada ALLAH atau memohon kepada ALLAH. Jika kita berdoa kepada TUHAN, DIA akan menjawab, sebaliknya jika kita tidak meminta kepada-NYA, DIA juga tidak akan memberi berkat-NYA. Dua anak laki-laki dari Bilha tidak membuat Rahel puas, sebab tindakan berdasarkan iri hati tidak akan membawa kepuasan. Akhirnya Rahel berdoa kepada TUHAN dan DIA mendengarkan doa Rahel. Sebelumnya memang Rahel tidak berdoa; dia lebih bersandar pada usahanya sendiri. Seandainya Rahel sejak awal sudah berdoa meminta dikaruniai anak, dia akan hamil lebih awal dan dapat menikmati kebahagiaan lebih awal. Tindakan bodoh Rahel menunda berkat TUHAN, bahkan di kemudian hari mendatangkan masalah.

Yakobus 4:2 menggambarkan tindakan Rahel, Lea dan Yakub. Rahel menginginkan sesuatu, itu sah-sah saja. Namun, menginginkan sesuatu yang dimiliki Lea dan tidak dimilikinya menimbulkan iri hati. Tindakan Rahel bukan mencari TUHAN, namun mengandalkan kekuatannya sendiri dengan memberikan Bilha sebagai istri Yakub. Semakin Rahel berupaya dengan kekuatannya sendiri, semakin dia tidak mendapatkan apa-apa sebab Yakub semakin yakin bahwa yang mandul adalah Rahel, bukan Yakub. Tujuan Rahel punya anak bukan karena ingin bahagia memiliki anak; iri hati telah membelokkan tujuannya punya anak hanya untuk menyaingi Lea. Tindakan yang seharusnya dilakukan Rahel adalah berdoa. Dengan doa kita tidak perlu iri yang berakibat pada pertengkaran dan dapat berujung pada pembunuhan.

KEJADIAN 30 : 23 - 24
23 Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berkatalah ia: "ALLAH telah menghapuskan aibku." 24 Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata: "Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku."

Iri hati menghasilkan dua anak dari Bilha; dua anak yang tidak ada artinya. Berbanding terbalik dengan Yusuf -hadiah dari TUHAN bagi Rahel- yang nantinya menjadi penguasa Mesir. Kelahiran Yusuf ini telah menghapus aib dari wajah Rahel.

Walau harapan Rahel untuk mendapatkan anak lagi hanya separuh (dia mengatakan "mudah-mudahan"), namun TUHAN mendengar doanya. Sayangnya, saat Benyamin lahir, Rahel menghembuskan nafas terakhir. Seandainya saja jika sejak awal Rahel berdoa dia tidak perlu menunggu selama itu untuk melahirkan anak. Dan mungkin dia masih muda saat Benyamin lahir dan dapat membesarkan Benyamin. Mungkin dia dapat melihat Yusuf berangkat besar, bahkan menjadi penguasa Mesir.

Yusuf dan Benyamin adalah berkat TUHAN yang terbaik bagi Rahel. Sungguh sayang Rahel tidak mampu menikmati berkat TUHAN itu secara sempurna karena dia melakukan tindakan-tindakan bodoh yang disebabkan iri hatinya. Rahel telah menunda berkat TUHAN karena iri hati.

TUHAN memberikan resep di dalam Yesaya 30:15-17 untuk menerima berkat TUHAN, yaitu tinggal tenang. Bukan berarti harus diam saja dan mengatakan, "Terserah TUHAN!" Tinggal tenang berarti mengandalkan TUHAN, bukan usaha ngawur yang dipicu oleh iri hati dan amarah. Dengan tinggal tenang bersandar kepada TUHAN, berkat TUHAN tidak akan tertunda untuk dapat kita nikmati. Amin.