Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Garam Dunia Dan Perj...
Garam Dunia Dan Perjanjian Garam
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 8 Januari 2008
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 09/11/08

Umumnya pembahasan mengenai garam dunia difokuskan pada fungsi garam dapur yang menyedapkan dan mengawetkan. Kita akan belajar lebih dalam lagi tentang garam dunia dan perjanjian garam.

MATIUS 5 : 13
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Maksud TUHAN YESUS dengan mengatakan, “Kamu adalah garam dunia…” bukan sekedar bermakna bahwa orang Kristen membawa suasana gurih bagi orang-orang di lingkungannya. Banyak orang yang perkataan gurih plus senyum manis, contohnya seperti yang dilontarkan waitress di depan pintu resto untuk mengajak bersantap di resto tersebut (tentunya bukan makan gratis!). Orang itu belum tentu garam dunia.

Ada yang berpendapat, bahwa sebagai garam dunia, maka orang Kristen menggarami dunia. Makna garam dunia berbeda jauh dengan menggarami dunia, Bung! Di dalam Hakim-Hakim 9:45 Abimelekh menyerang Israel, khususnya warga Sikhem, dengan menerapkan taktik perang “menggarami dunia”, yakni menaburkan garam ke tanah wilayah musuh setelah mengalahkannya. Tujuannya adalah supaya tanaman tidak dapat tumbuh. Jadi menggarami dunia sangat bertolak belakang dengan menjadi garam dunia.

IMAMAT 2 : 11, 13
11 Suatu korban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN janganlah diolah beragi, karena dari ragi atau dari madu tidak boleh kamu membakar sesuatupun sebagai korban api-apian bagi TUHAN. 13 Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian ALLAHmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.

Peraturan dalam memberi persembahan sajian adalah tidak boleh membubuhkan ragi; yang harus dibubuhkan adalah garam. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa garam dan ragi saling berlawanan. Ingat bahwa TUHAN YESUS pernah menasehati murid-murid-NYA agar waspada terhadap ragi Farisi. Saat itu murid-murid berpikir TUHAN YESUS mengatakan hal itu, karena mereka tidak membawa roti. Padahal yang dimaksud TUHAN YESUS bukan ragi untuk membuat roti, tetapi ajaran orang Farisi. Demikian pula saat TUHAN YESUS mengatakan, kita adalah garam dunia. Jangan kita terjebak dan menafsirkan garam dunia dengan penafsiran garam dapur.

Ragi dan garam dunia berlawanan. Ragi adalah ajaran yang bukan dari TUHAN, berlawanan dengan ajaran Firman TUHAN yang murni. Kita akan menjadi garam dunia kalau di dalam tiap persembahan (artinya ibadah) yang diberitakan adalah Firman TUHAN yang murni. Membubuhkan garam pada persembahan itu bukan sekedar persyaratan saja, tetapi merupakan perjanjian. Garam bukan sekedar pelengkap, tapi merupakan meterai perjanjian kita dengan ALLAH. Repotnya, kadang-kadang kita sungkan menolak undangan teman, calon mertua, atau bos untuk datang ke persekutuan, padahal kita tahu dalam persekutuan itu tidak diberitakan Firman TUHAN yang murni. Memang kita harus menghormati orang lain berikut segala kepercayaan yang mereka anut, namun bukan berarti kita harus mengikuti ibadah mereka, bukan?

Bukan saja korban sajian yang harus dibubuhi garam, tapi di dalam Yehezkiel 43:24-25 tertulis, bahwa korban bakaran dan korban penghapus dosa juga harus dibubuhi garam. Korban penghapus dosa adalah awal ibadah kita atau pertobatan kita dari orang berdosa menjadi orang Kristen. Artinya setiap persembahan atau ibadah itu harus mengikuti perjanjian garam.

2 TAWARIKH 13 : 5
5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN ALLAH Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam?

Perjanjian garam adalah perjanjian untuk selama-lamanya atau kekal. TUHAN YESUS menyebut kita sebagai garam dunia karena memiliki ciri, yaitu rasanya yang asin, artinya kita punya kekekalan atau hidup kekal. Kalau garam tidak lagi asin, maka tidak ada gunanya selain diinjak-injak orang. Artinya sia-sia menjadi orang Kristen jika tidak memiliki hidup kekal.

TUHAN mengikat perjanjian garam atau perjanjian kekal dengan Daud, terbukti TUHAN YESUS disebut Anak Daud. Perjanjian garam antara orang beriman dengan TUHAN adalah perjanjian kekal sampai di Sorga.

MATIUS 16 : 16 - 19
16 Maka jawab Simon Petrus: "ENGKAU adalah MESIAS, ANAK ALLAH yang hidup!" 17 Kata YESUS kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BAPAKU yang di sorga. 18 Dan AKUpun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini AKU akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 19 Kepadamu akan KUberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Perjanjian garam antara kita dengan ALLAH terjadi saat kita mengakui YESUS sebagai MESIAS seperti yang dilakukan oleh Petrus. Sejak saat itulah kita beralih dari alam maut pada hidup kekal, atau kita menjadi garam dunia.

“Apa yang kau ikat di dunia akan terikat di Sorga dan apa yang kau lepas di dunia akan terlepas di Sorga” artinya TUHAN di Sorga memonitor keadaan anak-anak-NYA di dunia. Jika kita di dunia mengalami kesulitan, TUHAN di Sorga tahu dan merasakannya. Tentu saja ALLAH tidak mungkin mengalami kesulitan, karena itu DIA pasti akan menyesaikan segala masalah kita.

YEHEZKIEL 16 : 4
4 Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.

Kondisi kita sebelum bertobat adalah tali pusat kita tidak dipotong, artinya hubungan dengan Adam yang membawa dosa asal belum terputus. Tidak dibasuh dengan air sama dengan tidak bersih dari dosa atau masih berbuat dosa. Kita juga tidak dibendung kain lampin, kita masih telanjang karena dosa. Kain lampin adalah tanda spesifik, sebab TUHAN YESUS lahir dibungkus dengan kain lampin. Sebelum naik ke kayu salib, TUHAN ditelanjangi dan kebenaran-NYA itu diberikan supaya kita bisa mengikat perjanjian garam dengan ALLAH yang membawa pada hidup kekal.

MARKUS 9 : 50
50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Orang Kristen tidak dituntut hendaklah engkau berbahasa roh, hendaklah engkau memiliki karunia nubuat, tetapi dituntut memiliki garam di dalam hidupnya, yaitu memiliki hidup kekal. Itu adalah tujuan utama kita sebagai orang Kristen. Tanpa memiliki hidup kekal, maka di dalam hidup kita tidak akan ada damai sejahtera.

Garam yang hambar sama saja bukan garam, kekristenan tanpa hidup kekal tidak ada artinya. Namun kita tidak mungkin dapat mengusahakan hidup kekal dengan usaha kita sendiri. Cara satu-satunya untuk memulihkannya adalah dengan berbalik kepada TUHAN YESUS dan mengakui DIA sebagai Juruselamat kita.

Setelah kita memiliki garam di dalam hidup kita atau kita menjadi garam dunia, maka sebagai buktinya adalah kita hidup damai dengan orang lain. Hidup damai dan mengasihi anggota keluarga yang lain di dalam rumah tangga, damai di dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan, di mana pun kita berada.

1 YOHANES 4 : 20
20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi ALLAH," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi ALLAH, yang tidak dilihatnya.

Bohong kalau orang Kristen mengatakan dia mengasihi ALLAH tapi membenci saudaranya. Sebab tidak mungkin seseorang bisa mengashi ALLAH yang tidak kasat mata jika dia tidak bisa mengasihi saudaranya sendiri. Warna asli garam adalah transparan, bukan putih. Hidup kekal itu transparan, tidak terlihat, tetapi ada dan nyata. Garam dunia ini bukan dilihat dari warnanya, karena memang tidak terlihat, tetapi dari rasanya yang dinyatakan dengan saling mengasihi.

Perlu diingat, mengasihi itu bukan bersikap kompomi, namun justru menegur orang yang berbuat salah. Sikap tidak mau menengur malah menunjukkan sikap menjerumuskan dan tidak adanya kasih. TUHAN sendiri berfirman, “Barangsiapa KUkasihi, ia KUtegor.”

Tunjukkanlah kasih kita dengan mau bersaksi kepada orang lain, agar mereka juga terikat dengan perjanjian garam, perjanjian kekal dengan ALLAH. Itulah tugas kita sebagai garam dunia. Amin.