Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Kebahagiaan Semu Ora...
Kebahagiaan Semu Orang Fasik
Pdt. Dr. Benny Santoso, Ph.D. | Keb. III Minggu, 16 Juli 2000
Disadur oleh Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 14/11/04

MAZMUR 73 : 1 - 3
1 Mazmur Asaf. Sesungguhnya ALLAH itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. 2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. 3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

Di satu sisi Pemazmur mengatakan bahwa TUHAN itu baik kepada orang yang benar-benar mencari DIA. Tetapi di sisi lain dia juga mengatakan bahwa ia hampir tergelincir ketika melihat orang jahat yang hidupnya lebih makmur.

Dari ungkapan-ungkapan Pemazmur, kita dapat melihat kepribadiannya yang tidak menyembunyikan sesuatu. Dia membuka hatinya kepada TUHAN. Sebagai orang Kristen kita harus berani membuka hati kita kepada ALLAH. Sebab kadang-kadang kita sulit terbuka kepada manusia, tetapi alangkah baiknya jika kita dapat terbuka kepada ALLAH dalam doa. Sekalipun kita tidak dapat melihat ALLAH dengan mata jasmani, namun jika kita mengungkapkan semua ketakutan dan beban yang ada di dalam hati kita, maka beban tersebut akan terangkat. Jika kita tidak mau mengungkapkannya kepada TUHAN, tetapi kita tutupi dengan senyuman di wajah kita (munafik) maka semua itu akan merugikan kita.

Pemazmur ini memiliki pribadi yang mau terbuka kepada TUHAN, sekalipun yang diungkapkannya adalah suatu pertanyaan tentang keberhasilan orang fasik. Memang orang jahat sekalipun diizinkan TUHAN untuk berhasil, tetapi hidup orang yang takut akan TUHAN akan lebih diberkati. Dan berkat yang dinikmati orang benar itu tidak dapat dimiliki oleh orang fasik, yaitu berkat kebahagiaan dan damai sejahtera.

2 RAJA-RAJA 5 : 1
1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

Contohnya adalah Naaman. Sekalipun dia tidak mengenal ALLAH, tetapi ia diberi kemenangan dalam peperangan oleh TUHAN. Kemenangan demi kemenangan yang dialami oleh Naaman -yang menjadikannya panglima yang terpandang- tidak membuatnya bahagia karena dia memiliki penyakit kusta. Tentunya kita tidak mau menjadi orang yang sangat kaya tetapi menderita berbagai penyakit.

Tetapi orang yang di dalam TUHAN, pasti mengalami kebahagiaan sekalipun tidak kaya, apalagi bila diberikan kekayaan oleh TUHAN. Saya sangat berbahagia dalam hidup ini dan kebahagiaan itu bukannya kebahagiaan yang semu. Sekalipun sudah memasuki usia senja, namun kondisi tubuh saya tetap sehat. Bahkan orang yang belum pernah berjumpa dengan saya tetapi mendengarkan khotbah saya melalui kaset seringkali menyangka usia saya jauh di bawah usia saya yang sesungguhnya, karena suara saya yang lantang bagaikan orang yang masih muda. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena dalam menjalani hidup ini, saya selalu penuh pengharapan kepada ALLAH.

Kebahagiaan dapat diperoleh dengan cara tetap memelihara iman kita kepada TUHAN. Kalau kita tetap memiliki iman kepada TUHAN, maka TUHAN akan campur tangan terhadap segala kesukaran yang kita alami. Sehingga kita tidak merasa terjepit dan terbebani oleh segala persoalan yang ada. Karena itu kita harus seperti Daud, Ayub dan Yusuf, yang sekalipun menghadapi banyak masalah tetapi iman mereka tidak goyah. Seperti Pemazmur yang mengatakan bahwa ia hampir terpeleset (belum sampai terpeleset) namun akhirnya ia menyadari bahwa seberapapun kemujuran orang jahat, namun jauh lebih beruntung hidup orang benar.

Ketika saya dalam keadaan melarat, saya tidak goyah sekalipun melihat orang lain mengenakan pakaian bagus, naik mobil yang mentereng dan memiliki segala kemewahan yang tidak saya miliki. Dalam hati saya hanya berbicara seperti ini: "TUHAN orang itu, juga TUHAN saya. Kalau TUHAN memberkatinya, maka TUHAN pasti memberkati aku juga. Saya hanya tinggal menunggu waktunya saja." Hal yang saya imani akhirnya terjadi, dan saya sekarang menjadi seorang hamba TUHAN yang diberkati dan dapat menikmati hidup berkelimpahan. Jadi kalau kita melihat orang lain lebih berhasil dibandingkan kita, jangan pernah kita memiliki rasa iri terhadap mereka. Kita harus tetap teguh beriman, bahwa TUHAN pasti akan memberkati dan menolong kita.

AYUB 11 : 13 - 17
13 Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; 14 jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, 15 maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, 16 bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu. 17 Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari.

Kalau kita membuka hati kita kepada TUHAN dan menengadahkan tangan kepadaNYA, maka segala beban kita akan dilepaskan oleh TUHAN. Seperti yang difirmankan TUHAN dalam Matius 11 : 28 bahwa IA akan memberikan kelegaan bagi setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat yang datang kepadaNYA. Namun seringkali kita tidak menyambut uluran tangan TUHAN dengan menyimpan beban dan ketidak-puasan di dalam hati kita. Karena itu kita harus membuka hati kita untuk jujur kepada diri sendiri, kepada TUHAN dan kepada orang yang ada di sekeliling kita. Jujur terhadap diri sendiri maksudnya adalah kita hidup sebagaimana adanya diri kita saat ini. Contohnya: ketika di dalam keadaan kekurangan, kita tidak malu menampilkan diri kita apa adanya, bukan bertingkah laku layaknya orang kaya. Kalau kita berani jujur maka kita tidak akan pernah merasa malu, akan berdiri teguh dan tidak takut.

Dalam ayat 16 Ayub mengatakan, bahwa jika kita berani jujur kepada TUHAN dengan mengungkapkan segala kesusahan hati kita, maka kesusahan itu akan berlalu seperti sungai yang mengalir. Hal-hal yang sudah terjadi tidak akan membebani hati kita sedikitpun. Kita tidak akan pernah stress karena kita tidak menimbun masa lalu kita yang cukup sukar tersebut.

Orang yang tidak dapat mengubur masa lalu yang sukar tidak akan dapat mengalami kebahagiaan. Kejadian ini merupakan pengalaman seorang anak penghuni panti asuhan yang sukses di dalam pendidikan dan akhirnya berhasil menjadi dokter. Kehidupan ekonomi yang telah mapan tidak sepenuhnya dapat dinikmati sebab dia masih mengingat-ingat beratnya kehidupan yang dijalaninya di saat lalu, saat dia merasakan disia-siakan oleh orang lain dan mengalami penghinaan. Dokter ini belum bersikap jujur kepada TUHAN dan membuka hatinya kepada TUHAN yang berkuasa mengangkat beban di masa lampau. Keadaan ini menyebabkan sang dokter bersikap sangat hati-hati dalam merawat benda-benda dan harta miliknya. Tindakan yang dilakukan antara lain melarang sang istri menggunakan mobil di saat hujan, karena sayang mobilnya dikotori air hujan. Tentunya hal ini menimbulkan konflik di dalam rumah tangga mereka.

Hal tersebut tidak akan kita alami jikalau kita mau jujur kepada TUHAN. Memang sebagai orang Kristen kita juga akan mengalami saat-saat kegelapan atau hari-hari di mana TUHAN mengijinkan kita untuk mengalami sakit penyakit, kegagalan dalam usaha, dan lain sebagainya, tetapi semua akan segera berlalu dan kita akan kembali merasakan kehidupan dan masa depan yang cemerlang.

MAZMUR 94 : 18 - 19
18 Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-MU, ya TUHAN, menyokong aku. 19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-MU menyenangkan jiwaku.

Tidak ada seorangpun yang tidak pernah merasakan kesusahan atau ketakutan di dalam hidupnya. Tetapi justru dari kesusahan itu kita dapat merasakan pertolongan TUHAN yang melepaskan kita dari segala kesukaran kita. Pengalaman ini pernah saya rasakan ketika saya masih dalam keadaan serba kekurangan. Suatu saat saya sudah tidak memiliki makanan lagi. Beras yang ada hanya dapat dimasak dan dimakan hingga siang hari saja, sedangkan untuk makan malam sudah tidak tersedia suatu apapun. Tetapi saat itu saya tetap beriman kepada TUHAN bahwa DIA pasti mencukupi keperluan keluarga saya. Malam itu, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah dan membawa beras untuk saya. Dari pengalaman ini saya melihat bahwa justru dalam ketakutan, saya merasakan pertolongan TUHAN.

DANIEL 4 : 30 - 32
30 berkatalah raja: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" 31 Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; 32 engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-NYA

Dalam pemerintahan Nebukadnezar, Babel berkembang menjadi kerajaan yang sangat besar. Kekuasaan yang dimilikinya telah memabukkannya sehingga ia mengagungkan dirinya sendiri dan menyamakan dirinya dengan TUHAN. Dari hal ini kita dapat mempelajari suatu perbedaan yang mencolok antara orang fasik dengan orang benar. Dalam keadaan diberkati, orang fasik tidak pernah bersyukur kepada TUHAN, karena menganggap semua kekayaan, kekuasaan adalah jerih payahnya sendiri. Tidak adanya rasa terima kasih kepada TUHAN telah membawanya kepada hukuman, sehingga harta dan kekuasan yang dimilikinya tidak ada artinya lagi dan tidak dapat dinikmatinya. Nebukadnezar direndahkan serendah-rendahnya oleh TUHAN: menjadi sama seperti binatang. Ia terbuang dari istananya dan tinggal di padang, makan rumput seperti lembu, tubuhnya berbulu dan kukunya seperti burung rajawali.

Oleh sebab itu jangan pernah kita merasa iri hati terhadap orang fasik. Sebab akhir kehidupan mereka tidaklah menyenangkan seperti orang benar. Dari pengalaman Nebukadnezar kita juga dapat belajar bahwa kekuasaan dan kekayaan dunia ini tidak tetap. Hari ini seseorang yang hidupnya bergelimang kekayaan, tetapi mungkin hari esok tiba-tiba ia jatuh miskin.

PENGKHOTBAH 9 : 11 - 12
11 Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua. 12 Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

Salomo menuliskan bahwa kemenangan itu bukan karena kehebatan dan kekuatan kita, tetapi semua itu karena TUHAN. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas dan tidak dapat menduga hal yang akan terjadi di kemudian hari. Kalau seseorang tidak bersandar kepada TUHAN, sehingga lupa diri pada saat mengalami kesuksesan, maka bukan hal yang mustahil bila tiba-tiba dia jatuh. Bagaikan jerat, orang itu tidak akan mengetahui dan menduga kapan hal itu akan terjadi, seperti Salomo yang tanpa sadar telah terjerat oleh wanita.

Sehebat apapun orang fasik, dia pasti jatuh karena tidak bersandar kepada TUHAN. Tetapi TUHAN memberikan rahmat dan berkatNYA kepada orang yang dikasihiNYA pada saat orang itu tidur. Tidur disini bukanlah tidur secara hurufiah, atau kita tidak melakukan usaha apa-apa, tetapi memiliki pengertian beriman atau bersandar kepada TUHAN. Kita harus berusaha dan bekerja, tetapi semua itu tidak akan berhasil tanpa iman kepada TUHAN.

YEREMIA 9 : 23 -24
23 Beginilah Frman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, 24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal AKU bahwa AKUlah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu KUsukai, demikianlah Firman TUHAN."

Janganlah membanggakan segala yang kita miliki di dunia ini, baik itu berupa harta, kecerdasan, kedudukan, dll, karena semua hal tersebut adalah pinjaman, artinya bukan sesuatu yang abadi. Setiap manusia suatu saat pasti akan mengalami kematian, dan segala yang kita miliki tersebut tidak mungkin kita bawa. Digambarkan bahwa jangka waktu hidup kita di dunia ini hanyalah waktu persinggahan untuk minum, artinya hanya sebentar saja. Tubuh akan kembali menjadi debu, tetapi roh orang yang percaya kepada TUHAN akan kembali kepada TUHAN, sedangkan roh orang yang tidak beriman akan dicampakkan ke dalam api yang kekal. Jadi kebanggaan akan segala hal yang kita miliki itu sifatnya sementara, tetapi hendaknya kita bermegah karena mengenal TUHAN. Dengan mengenal DIA, segala sesuatu akan kita peroleh, bukan saja hal-hal sementara saja kita nikmati tetapi kita juga memperoleh hidup kekal di dalam Sorga.

Dahulu saya bermegah karena dengan kekayaan yang saya miliki, saya dapat menikmati kesenangan duniawi. Tetapi sekalipun demikian, saya tetap merasakan kekosongan dalam hidup ini. Itulah bukti bahwa kesenangan yang kita nikmati tidak dapat memuaskan hati kita. Tetapi jika kita memiliki TUHAN, maka kita akan merasakan sesuatu yang sangat berarti, yaitu berkat damai sejahtera dan kebahagiaan yang datang dari TUHAN. Berkat ini tidak dapat dibeli oleh uang ataupun kekayaan yang kita miliki di dunia ini, sebab tidak ternilai harganya. Di samping itu damai sejahtera dan kebahagiaan itu berasal dari TUHAN dan hanya dimiliki oleh TUHAN. Sekalipun demikian, berkat yang luar biasa itu akan diberikan kepada orang-orang yang percaya kepadaNYA dengan cuma-cuma. Karena itu jangan pernah kita kecewa ataupun goyah jika dalam hidup ini kita mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.

Yohanes Pembaptis mengalami kekecewaan ketika dia harus tinggal di dalam penjara. Kekecewaannya dilontarkan melalui pertanyaan kepada TUHAN YESUS, benarkah DIA Mesias. Tersirat dari pertanyaan Yohanes Pembaptis ini mengapa dia yang tekun memberitakan Injil harus masuk penjara, apakah TUHAN tidak mengetahui penderitaannya di dalam penjara. Memang Yohanes diizinkan TUHAN untuk mengalami kesengsaraan itu. Tetapi terlebih untung bagi Yohanes untuk mati dalam memberitakan Injil sehingga menerima perhentian kekal di dalam Sorga dari pada tetap hidup namun kemudian murtad. TUHAN YESUS juga mengajarkan kepada kita untuk tidak segan-segan membuang anggota badan yang menyesatkan dan membawa kita kepada kebinasaan. Lebih baik masuk ke dalam Sorga dengan hanya satu tangan dari pada dengan kedua tangan yang utuh kita dicampakkan ke dalam neraka.

AMSAL 10 : 2
2 Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut.

Harta benda yang diperoleh dengan jalan yang tidak halal tidak akan pernah berguna karena hasilnya tidak dapat kita nikmati. Tetapi kebenaran, yaitu Firman ALLAH, akan menyelamatkan manusia dari maut. Dalam Amsal 21 : 20 dituliskan "Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya." Firman itu adalah harta yang sangat indah yang tinggal di dalam hati orang yang percaya kepadaNYA. Namun demikian, tidak semua orang mau memilikinya, bahkan orang yang bebal tidak menghargai harta itu, tetapi menyia-nyiakannya. Kita dihadapkan pada dua pilihan: menggunakan cara yang mudah tetapi tidak berkenan kepada ALLAH dan mendatangkan kebinasaan; atau hidup dalam kebenaran Firman yang memang lebih sukar untuk dilakukan. Tetapi orang yang menghargai kebenaran Firman akan mendapatkan kebahagiaan kekal, yang menyelamatkannya dari kematian kekal. Amin.