Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Lemah Lembut Dan Ren...
Lemah Lembut Dan Rendah Hati
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 10 Agustus 2012
Disadur oleh Sani | Tanggal Terbit : Minggu, 28/10/12
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Bagi sebagian orang, karakter lemah lembut dan rendah hati bukanlah karakter yang "wah". Tapi, dari pembahasan Firman kali ini, kita tahu bahwa ada berkat istimewa bagi orang yang memiliki kedua karakter ini.

MATIUS 11 : 29
29 Pikullah kuk yang KU-pasang dan belajarlah pada-KU, karena AKU lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

YESUS menawarkan pembelajaran bagi kita, murid-murid-NYA. Sebagai ALLAH, DIA bersedia menjadi Guru kita. Bimbingan yang dilakukan-NYA adalah dengan jalan merendahkan diri-NYA dari tahta-NYA di Sorga, untuk turun ke dunia menjadi "sama" dengan manusia. Pantas jika YESUS disebut Guru Agung, sebab metode mengajar demikian sangatlah efektif. Akan dirasa nyaman oleh seorang murid apabila di saat belajar bisa berdampingan dengan sang pengajar. Seperti itulah pengalaman saya pada waktu belajar instrumen musik. Saya berdampingan dengan sang guru yang turut memainkan alat musik sehingga mewujudkan proses belajar yang nyaman dan suasana yang menyenangkan, yang membuat makin betah belajar.

Pelajaran pertama yang diajarkan YESUS adalah kita sebagai murid diminta untuk memikul kuk (beban, menggambarkan Firman TUHAN) atau menjadikan Firman TUHAN sebagai pedoman yang harus dipegang dan dijalankan. Bukan dalam artian YESUS meninggalkan kita memikul sendiri, melainkan YESUS mau mengiring untuk memberi teladan dan turut memikul kuk bersama-sama dengan kita. Sangat berbeda jika kita bandingkan dengan guru Kung-Fu yang bisa kita saksikan di film. Saat si murid berlatih, sang guru hanya mengamati dengan santai; saat si murid salah, sang guru tinggal berteriak, kalau masih salah lagi tinggal memberikan pukulan sebagai hukuman atau peringatan.

YESUS memberikan perintah disertai dengan kelemahlembutan dan rendah hati, dengan tujuan yang mulia yaitu jiwa kita sebagai murid akan beroleh ketenangan. Pantas jika YESUS mampu menyalurkan damai sejahtera ke dalam jiwa kita yang rentan akan kegelisahan dan kekuatiran sebab DIA-lah sumber damai sejahtera itu sendiri.

Kita akan mempelajari dua karakter YESUS: lemah lembut dan rendah hati. Lemah lembut bukan berarti lemah di dalam menegakkan aturan atau membiarkan sebuah kesalahan. Orang yang lemah-lembut menuntun orang yang melakukan kesalahan agar menyadarinya dan bertobat sehingga mendapatkan pembenaran. Sebaliknya, orang yang tidak lemah lembut langsung memberikan hukuman tanpa memberitahu hal yang benar. Upaya pembenahan inilah yang TUHAN inginkan, supaya orang tersebut memiliki harapan. Jadi semakin banyak orang yang berkesempatan memperoleh pembenahan diri maka kita pun turut memiliki ketenangan, oleh karena kita hidup di tengah-tengah orang yang sudah mengalami pembenaran.

Ada bonus tambahan yang YESUS berikan jika kita memiliki kelemahlembutan:

MATIUS 5 : 5
5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Dikatakan bahwa anak TUHAN yang lemah lembut akan memperoleh kebahagiaan dalam hatinya karena otomatis memiliki bumi. Mengapa disebutkan bumi, bukan dunia? Sebab bumi menunjuk pada potensi yang terkandung di dalamnya seperti: emas, minyak dan sumber daya alam lainnya yang dapat kita ambil dan manfaatkan. Sedangkan kata "dunia" di dalam Alkitab lebih condong ke sisi perubahan yang tidak menentu, perihal dosa, permasalahan dan kejahatan di seluruh aspek kehidupan dll.

Upaya mewujudkan kelemahlembutan tidak selalu tanpa teguran keras. Sebatas hasilnya dapat membuat seseorang menyadari kesalahannya dan bertobat, pukulan berupa tongkat maupun cambuk masih dapat digolongkan lemah lembut. Sebab mengoreksi kesalahan dengan teguran terkait erat dengan kedisiplinan. Hendaklah kedisiplinan tidak diterima sebagai hukuman, melainkan sebuah cara untuk membenahi diri, sebab hal ini merupakan salah satu cerminan kelemahlembutan yang diajarkan YESUS. Jadi, dibenarkan dari kesalahan bukan dalam artian bebas tanpa syarat, melainkan mengganti kuk kejahatan dengan kuk kebenaran yaitu hukum-hukum ALLAH menjadi landasan setiap pemikiran dan tindakan kita. Melalui keteraturan ini maka kita akan merasakan nyaman untuk tinggal di belahan bumi mana pun. Inilah kaidah dari "memiliki bumi."

Tidak dipungkiri, kita sering merasa terasing atau tidak nyaman tinggal di bumi yang kita pijak (dalam lingkungan keluarga, berjemaat, pekerjaan) karena kita tidak mau menegakkan aturan kebenaran. Sebagai aplikasi di dalam keluarga: tidak nyaman dalam lingkungan keluarga terjadi karena tidak mau menegur kesalahan anak. Tentu kita tidak boleh kompromi dengan kesalahan, melainkan menerapkan batasan dengan sikap kelemahlembutan. Contoh yang lebih luas di lingkungan masyarakat: jika ada yang parkir menghalangi jalan masuk-keluar rumah kita, kita wajib menegur dengan kelemahlembutan dengan harapan orang tersebut dapat menerima dengan baik. Bahkan mungkin mau menjadi teman kita. Inilah contoh lemah lembut yang kita terapkan dengan tetangga. Tetapi bukan berarti kita bersikap "lemah lembut", berkawan dengan pengurus RT sebagai sarana dimudahkan membuat surat-surat palsu. Hal itu sudah bukan termasuk karakter lemah-lembut lagi sebab tidak menegakkan kebenaran.

Nah sekarang, bagaimana cara memiliki Sorga? Orang tidak akan memiliki ketenangan jiwa jika belum memiliki Sorga. Seiring pelayanan yang saya jalani, saya sering menyaksikan orang yang sudah mendekati ajalnya, terlihat gejolak ketidaktenangan dalam jiwanya, karena belum yakin memiliki Sorga.

LUKAS 9 : 46 - 47
46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid YESUS tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 47 Tetapi YESUS mengetahui pikiran mereka. Karena itu IA mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-NYA.

YESUS ingin mengajarkan pada kita bagaimana memiliki Sorga lewat pertengkaran yang terjadi di antara para murid. Pertengkaran itu mencerminkan tidak adanya kerendahan hati. Yang ada hanyalah kesombongan dan tinggi hati.

Melihat situasi yang tidak sehat, YESUS pun menjadikan peristiwa memanas tersebut menjadi sebuah pelajaran yang sangat penting. YESUS mengetahui pikiran mereka. Dengan demikian, otomatis YESUS pasti mampu memberikan solusi yang terbaik. YESUS merupakan cerminan Guru ideal, yang memahami kebutuhan dari murid-murid-NYA. Demikian halnya saya selalu berusaha untuk memahami kebutuhan jemaat, supaya pelajaran Firman yang diajarkan mampu mengubahkan hidup jemaat menjadi lebih baik, yaitu makin serupa dengan KRISTUS.

Langkah berikutnya yang diambil YESUS adalah mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-NYA. Sebagai tambahan pengetahuan sejarah, nama anak tersebut adalah Ignatius, yang semasa hidupnya turut berperan di dalam menyebarkan ajaran YESUS KRISTUS. Anak kecil ini ditempatkan di samping YESUS, sedangkan ada ayat yang mengatakan "YESUS duduk di sebelah kanan ALLAH BAPA di Sorga." Berarti anak kecil yang ditempatkan di samping YESUS otomatis juga "berada" di Sorga (memiliki Sorga) sehingga membuat kedudukannya lebih tinggi dari yang lainnya (para murid). Anak ini memiliki kerendahan hati. Terbukti respon yang ditunjukkannya bukan menjadi besar kepala karena didudukkan di samping YESUS, melainkan tetap bersikap biasa-biasa saja.

Secara teori sangat simpel: YESUS meminta kita menjadi seperti anak kecil. Tetapi mewujudkan sikap rendah hati seperti anak kecil tersebut, tidaklah semudah yang kita lihat. Seperti apa menjadi seperti anak kecil itu?

MATIUS 18 : 3 - 4
3 Lalu berkata: "AKU berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."

Ternyata pertobatan terjalin erat dengan cerminan sikap seperti anak kecil. Bahkan YESUS menegaskan, untuk masuk Kerajaan Sorga, apalagi ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Sorga, syarat yang harus dipenuhi adalah bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Sebelum bertobat posisi kita sebenarnya termasuk warga negara Neraka, setelah bertobat barulah kita dilayakkan menjadi warga negara Sorga. Nah, salah satu langkah awal pertobatan adalah merendahkan hati menjadi seperti anak kecil dalam artian mau menerima pengajaran YESUS dan mematuhinya. Sebab konsep pemikiran anak kecil adalah percaya dan taat tanpa banyak tanya atau membantah karena memiliki kerendahan hati.

Dalam pengajaran TRINITAS (ALLAH BAPA, ALLAH PUTERA, ALLAH ROH KUDUS) YESUS disebut sebagai ANAK ALLAH. Yang dimaksud adalah YESUS punya karakter seperti anak yang taat kepada BAPA. Teladan YESUS menunjukkan DIA tidak ingin menjadi yang terbesar. DIA datang ke dunia bukan sebagai seorang penguasa atau diktator. DIA rela menjadi turun dari Sorga untuk terlahir dengan wujud manusia dan mati untuk menebus dosa manusia. Namun kemudian bangkit untuk menang atas maut dan naik lagi ke Sorga, untuk menyiapkan tempat bagi kita orang yang percaya kepada-NYA. Yang memampukan-NYA melakukan itu semua: karena memiliki kerendahan hati. Namun, BAPA di Sorga telah menjadikan-NYA yang terbesar di kerajaan Sorga.

Matius 11:29 adalah ayat yang besar. Ayat ini merupakan ajakan YESUS untuk mengikuti teladan-NYA: memiliki karakter lemah lembut dan rendah hati. Lemah lembut agar kita memiliki bumi. Rendah hati agar memiliki Sorga, bahkan menjadi yang terbesar di Sorga. Ternyata, tidak semua umat di dalam Gereja memiliki sikap kerendahan hati. Hal inilah yang menjadikan mereka tak berlayak masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

LUKAS 18 : 10 , 13 - 14
10 "Ada dua orang pergi ke Bait ALLAH untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya ALLAH, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 AKU berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan ALLAH dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Contoh kedua orang dalam ayat di atas pastilah anak TUHAN, sebab keduanya datang ke Gereja untuk berdoa. Namun, isi doa juga dapat menjadi penentuan sikap kerendahan hati seseorang. Meskipun orang Farisi mengatakan dalam doanya bahwa dia bukan pezinah, perampok, selalu memberi perpuluhan dan berpuasa. Namun, di balik itu semua terselip kesombongan dan tinggi hati karena telah merendahkan orang lain yakni pemungut cukai. Sebaliknya, sikap pemungut cukai menunjukkan kerendahan hati. Mendekat dan menengadah pun tidak berani ia lakukan, bahkan penyesalan dosanya ditunjukkan dengan sedikit ekstrim: memukuli diri sendiri sebagai ekspresi memohon pengampunan dari TUHAN.

Meskipun berdoa hanya dengan kalimat singkat, doa pemungut cukai lebih berkenan dibandingkan doa orang Farisi itu. TUHAN YESUS membenarkan sikap ibadah pemungut cukai. Orang Farisi yang dalam doanya menyebutkan dengan lengkap segudang prestasi perbuatan baik tidak menerima pembenaran dari YESUS; dia tidak dapat memiliki Sorga karena tidak disertai kerendahan hati.

Begitu pentingnya kerendahan hati sebagai akses masuk ke dalam Sorga. Kerendahan hatilah yang mendatangkan pembenaran dari TUHAN dan kita pun ditinggikan-NYA untuk layak masuk dalam kerajaan Sorga.

ZEFANYA 2 : 3
3 Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-NYA; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Hanya orang yang memiliki kerendahan hatilah yang mau mencari TUHAN, menaati hukum-NYA, dan mencari keadilan berdasarkan Firman TUHAN. Sebaliknya dengan orang yang tidak rendah hati. Dia ingin TUHAN yang mencari dia atau TUHAN yang harus menuruti kemauannya. Inilah bentuk sikap yang tidak terpuji. Orang yang rendah hati akan terhindar dari murka TUHAN dan ikut bersama dengan DIA masuk Kerajaan Sorga.

AMSAL 22 : 4
4 Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Takut akan TUHAN pada ayat di atas dalam artian taat akan kehendak TUHAN. Jika kita berhasil mewujudkan ketaatan dalam hidup kita maka TUHAN tidak segan-segan menambahkan kekayaan atau harta benda dalam hidup kita. Bahkan ditambahkan pula kepada kita kehormatan dan berkat untuk mampu menikmati kehidupan. Hal-hal tersebut sungguh merupakan berkat yang luar biasa, yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan setiap insan di dunia.

Dengan landasan yang salah, orang dunia bersusah payah untuk mendapatkan harta. Dengan cara yang salah pula harta digunakannya untuk membeli kehormatan, membeli kenikmatan hidup. Bahkan kalau bisa untuk "membeli" TUHAN! Dan itu tidaklah mungkin terwujud! Sebaliknya jika kita kita, anak TUHAN, memiliki landasan yang benar yaitu "takut akan TUHAN" maka segalanya itu akan diserahkan kepada kita sebagai pemberian TUHAN atas ketaatan dan kerendahan hati kita.

ROMA 12 : 10
10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Wujud saling mengasihi sesama akan terlihat melalui tindakan mendahului dalam memberi hormat. Hal tersebut juga menjadi bagian dari karakter orang yang rendah hati. Hendaklah kita dapat mengaplikasikan ke seluruh aspek kehidupan, baik dari aspek keluarga, bergereja, dan bermasyarakat dengan tindakan saling mendahului dalam memberi pertolongan, dan juga mendahului dalam memberi hormat.

Kalau kita mau sedikit merenung, penyebab dari kejahatan dan peperangan semua itu didasari dari sifat yang tinggi hati atau tidak mau merendahkan hati. Jika murid-murid YESUS dalam peristiwa atas mau mengasihi dan saling mendahului dalam memberi hormat maka tidak akan terjadi pertikaian di antara mereka.

Contoh lainnya adalah teguran TUHAN yang keras terhadap Saul, yang disikapi Saul dengan tinggi hati. Hasilnya adalah kematian yang mengenaskan terjadi dalam kehidupan Saul. Lain halnya dengan Daud. Saat Daud melakukan dosa perzinahan, Daud pun mendapatkan teguran keras dari TUHAN. Namun, Daud merespon dengan rendah hati sehingga Daud tetap selamat. Bahkan, Daud mendapatkan kehormatan di kemudian hari, yaitu YESUS disebut "Anak Daud".

Begitu pentingnya arti kerendahan hati bagi kita orang percaya, sebab orang yang rendah hati mau menerima teguran. Mau menerima teguran merupakan bekal yang memampukan manusia untuk menyadari kesalahan, menyesal, memohon ampun dan bertobat sehingga layak menerima pembenaran dari TUHAN. Kerendahan hati membuat kita tak ingin menjadi yang utama. Namun, TUHAN-lah yang mengutamakan kita, meninggikan kita, sehingga kita mendapat tempat tinggal di Sorga. Tak kalah pentingnya adalah kelemahlembutan yang membuat kita memiliki bumi. Bahkan untuk segala keperluan kita pun TUHAN menyerahkan berkat yang melimpah dalam hidup kita, untuk kita nikmati dan syukuri.