Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Faktor Penentu Pertu...
Faktor Penentu Pertumbuhan
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 2 Minggu, 8 Juli 2012
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 07/10/12

Layaknya pertumbuhan jasmani, pertumbuhan secara sosial maupun rohani juga memerlukan "makanan", dan "olahraga". Ayo kita pelajari faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan rohani dan sosial kita.

1 PETRUS 2 : 2
2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.

Sejak di dalam rahim ibu, janin membutuhkan zat-zat gizi untuk bertumbuh. Dan setelah lahir, setiap bayi membutuhkan susu agar dia dapat bertumbuh besar. Jenis makanan yang diberikan harus sesuai dengan usia; tak ada bayi, sekuat apa pun dia langsung diberi makanan keras dan pedas oleh sang ibu. Demikian pula dengan pertumbuhan rohani. Petrus mengumpamakan orang yang baru mengenal YESUS sebagai bayi rohani, yang memerlukan susu untuk pertumbuhan rohaninya. Susu yang murni menggambarkan Firman yang murni, yang tidak disusupi dengan hal-hal yang tidak baik. Terjemahan NIV ayat di atas, "Like newborn babies, crave pure spiritual milk, so that by it you may grow up in your salvation", atau dengan Firman yang murni, rohani kita akan bertumbuh di dalam keselamatan. YESUS memang telah memberikan keselamatan kepada kita. Namun, keselamatan itu perlu bertumbuh atau dipelihara sampai kita mencapai tujuan akhir kita: Surga.

ZAKHARIA 9 : 17
17 Sungguh, alangkah baiknya itu dan alangkah indahnya! Teruna bertumbuh pesat karena gandum, dan anak dara karena anggur.

Makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan remaja tak lagi terbatas pada susu; mereka telah mampu mengkonsumsi beragam makanan. Anak TUHAN yang sudah bukan bayi rohani lagi dapat mengkonsumsi gandum, menggambarkan Firman TUHAN yang lebih padat dan keras dibandingkan yang dikonsumsi oleh bayi rohani. Makanan rohani lainnya adalah anggur, menggambarkan ROH KUDUS. Bayi belum mampu mencerna anggur -orang Kristen yang masih termasuk kategori bayi rohani belum dipenuhi ROH KUDUS; setelah dia bertumbuh kerohaniannya barulah ROH KUDUS memenuhi dirinya.

Pesatnya pertumbuhan rohani tiap orang berbeda-beda, tergantung dari mencerna makanan rohani dan mengaplikasikannya di dalam kehidupannya. Tekun mendengar Firman dan mau mengaplikasikannya di dalam hidupnya, kerohaniannya akan bertumbuh pesat. Orang Kristen yang terus bertumbuh imannya akan terlihat "indah", yakni menginspirasi orang lain untuk memiliki iman yang sama.

1 KORINTUS 9 : 24 - 25
24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! 25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Selain asupan makanan, pertumbuhan yang baik harus disertai pula olahraga. Olahraga dalam gelanggang kehidupan sosial adalah persaingan. Ayat di atas menggambarkan setiap individu sebagai peserta lomba lari yang bersaing mencapai garis finish secepat mungkin.

Beberapa jemaat konseling dan mengeluh kepada saya, "Hidup di Jakarta tidak enak, banyak saingan dalam usaha. Pak, bolehkah saya berganti bidang usaha?" Saya menjawab bahwa berganti bidang usaha juga akan mendapat saingan. Justru persaingan itu perlu untuk memacu pertumbuhan atau perkembangan bisnis kita. Bidang usaha yang tanpa saingan biasanya juga bidang usaha yang tidak atau kurang menguntungkan, sebab minim pembeli. Contohnya, berjualan es batu di Kutub Utara. Tak ada saingan, tak ada pula pembeli.

Semakin banyak saingan, semakin pula kita terpacu untuk menjadi yang terbaik. Bayangkan bila dalam lomba lari hanya satu pesertanya. Sepelan apa pun dia berlari, tidak heran bila dia menjadi juara satu. Atau jadi murid satu-satunya di kelas, sejelek apa pun prestasinya, murid itu bisa jadi juara satu. Jadi juara seperti itu sama sekali tak membanggakan. Karena itu di kota-kota besar yang padat dan sibuk, anak-anak mudanya cenderung lebih kreatif. Itu terjadi karena terpacu dalam persaingan.

Bersaing ada aturannya. Misalnya dalam lomba lari. Para peserta harus mengikuti aturannya dengan sportif. Seandainya peserta tak mengikuti aturan, dia akan didiskualifikasi dan tak akan disebut pemenang walau paling cepat mencapai garis finish.

Begitu pula dalam kehidupan rohani ada "persaingan", yaitu berjuang untuk memiliki kerohanian yang lebih baik. Di dalam ibadah di gereja, kesaksian jemaat yang menerima pertolongan TUHAN membuat jemaat lainnya dikuatkan semangatnya untuk "bersaing" dan "berlari lebih cepat" dalam menerima berkat TUHAN.

LUKAS 19 : 3 - 5
3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah YESUS itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat YESUS, yang akan lewat di situ. 5 Ketika YESUS sampai ke tempat itu, IA melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini AKU harus menumpang di rumahmu."

Saat ingin bertemu dengan YESUS, Zakhesus menghadapi banyak "saingan", yakni orang banyak yang mengerumuni YESUS. Selain itu, dia memiliki hambatan: badannya pendek, yang membuatnya makin sulit untuk melihat YESUS. Apakah yang dihadapi Zakheus ini "persaingan" yang tidak sehat? Justru keadaan tersebut membuatnya kreatif dan terpacu mencari ide. Sebagai pemungut cukai, Zakheus bukan orang yang biasa berlari, apalagi memanjat pohon. Namun bersaing dengan orang banyak membuatnya mampu berlari cepat mendahului orang banyak, dan kemudian memanjat pohon. Zakheus "bersaing" dengan sportif; dia tidak mengambil batu lalu melempari orang-orang yang mengerumuni YESUS sehingga orang-orang itu pergi.

Kalau kita semangat dalam persaingan baik dalam kehidupan sosial maupun rohani, kita akan bertumbuh dan berkembang. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan gereja kita adalah jemaat "bersaing" ingin maju dalam rohani, maju dalam menerima berkat TUHAN. Saya sendiri "bersaing" dengan jemaat dalam belajar Firman TUHAN. Bayangkan bila pengetahuan DAN kematangan rohani pendeta kalah dibandingkan jemaat!

Di dalam keluarga pun marilah kita ajak anak-anak kita "bersaing", untuk semangat "berlari" mencari TUHAN. Anak-anak akan semangat jika melihat orangtuanya menikmati dalam "berlari" mencari TUHAN. Selain itu juga "bersaing" untuk terlebih dahulu mengasihi, menolong, menghormati. Jika hal-hal ini dilakukan, keluarga akan sehat secara rohani.

Dalam "persaingan" bertemu dengan YESUS, Zakheus keluar sebagai juara. Hadiahnya, secara pribadi YESUS mengatakan ingin menumpang di rumah Zakheus. Hanya Zakheus, orang-orang lain yang mengerumuni-NYA tidak mendapat berkat tersebut.

KEJADIAN 32 : 7 - 8, 27 - 28
7 Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. 8 Sebab pikirnya: "Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput." 27 Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." 28 Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan ALLAH dan manusia, dan engkau menang."

Selain itu, kesulitan dan tantangan merupakan faktor pemacu pertumbuhan. Ketika Yakub mau kembali ke kampung halamannya, Esau yang disertai 400 orang pasukannya menjemput Yakub. Sedangkan Yakub tak punya pasukan; dia hanya membawa anak-istrinya. Dalam keadaan ketakutan, Yakub mencari ALLAH. Dan dia bertemu dengan ALLAH yang mengubah namanya menjadi Israel, dari seorang yang suka mengambil milik orang lain menjadi pangeran TUHAN. Yakub bertumbuh, statusnya berubah. Pertumbuhan terjadi karena ada tantangan.

2 TIMOTIUS 2 : 6 - 7
6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. 7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; TUHAN akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

Faktor lainnya yang menentukan pertumbuhan adalah disiplin dan ketekunan, diibaratkan dengan ketekunan petani dalam bercocok tanam. Contoh lainnya adalah pelajar. Pelajar harus disiplin dalam belajar, jangan menunggu besok ujian baru belajar dengan "sistem kebut semalam". Hasil yang dicapai tentu berbeda antara yang disiplin belajar setiap hari dengan yang belajar dadakan. Pertumbuhan rohani yang baik dapat tercapai kalau anak TUHAN disiplin dalam mencari TUHAN, jangan datang ke gereja saat ada masalah saja.

Ayat 7 mengatakan bahwa disiplin dan ketekunan akan memberikan pengetahuan, baik dalam bidang rohani maupun pengetahuan dalam bidang sosial dan dalam mengelola rumah tangga.

2 TAWARIKH 14 : 6 - 7
6 Karena negeri itu aman dan tidak ada yang memeranginya di tahun-tahun itu, ia dapat membangun kota-kota benteng di Yehuda; TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya. 7 Katanya kepada orang Yehuda: "Marilah kita memperkuat kota-kota ini dan mengelilinginya dengan tembok beserta menara-menaranya, pintu-pintunya dan palang-palangnya. Negeri ini masih dalam tangan kita, karena kita mencari TUHAN ALLAH kita dan IA mencari kita serta mengaruniakan keamanan kepada kita di segala penjuru." Maka mereka melaksanakan pembangunan itu dengan berhasil.

Contoh kedisiplinan dapat kita pelajari dari Asa. Kerajaan Yehuda aman sebab Asa dan rakyatnya berjuang menghadapi tantangan dengan cara yang benar. Setelah negerinya aman, Asa dan rakyatnya tetap tekun dan disiplin menjaga negaranya dari ancaman musuh dengan membangun benteng-benteng. Kelihatannya tidak logis. Untuk apa membangun benteng saat sudah aman? Ingatlah pepatah, sedia payung sebelum hujan. Asa tak mau terlena; dia disiplin dalam memperkuat pertahanan negaranya sehingga tak mudah ditembus musuh.

KELUARAN 16 : 21 - 24
21 Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu. 22 Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. 23 Lalu berkatalah Musa kepada mereka: "Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi." 24 Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya.

Berbeda dengan Asa, bangsa Israel pada era perjalanan di padang gurun sulit disiplin diri dalam hal memungut manna. Aturannya: setiap hari memungut satu gomer, Mereka tidak boleh menyisakan manna sampai pagi. Aturan yang sebenarnya tidak sulit. Tapi, mereka seringkali melanggar disiplin aturan yang sudah ditetapkan ALLAH. Ada yang menyisakan sampai keesokan harinya dengan tujuan supaya tak usah memungut manna setiap hari. Akibatnya, manna itu berulat. Kecuali pada hari keenam mereka diminta memungut dua gomer, sebab besoknya hari Sabat, hari di mana mereka tidak boleh memungut manna. Karena TUHAN yang menetapkan aturan demikian, manna yang diambil pada hari keenam tidak akan berulat saat disisakan untuk keesokan harinya. Akibat dari pelanggaran disiplin dari orang Israel ini pertumbuhan rohani mereka terhambat.

Kita telah banyak makan Firman TUHAN sebagai makanan rohani kita. Marilah kita menggunakan "energi" kita untuk menghadapi persaingan, tantangan dan tetap menjaga disiplin kita, baik dalam rohani, bisnis, studi, sehingga kita akan terus bertumbuh.