Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Berbahagialah Orang ...
Berbahagialah Orang yang Dianiaya Karena YESUS
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 25 Januari 2011
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 09/10/11

Tidak mudah menerima aniaya dengan lapang dada, apalagi merasa berbahagia karenanya. Secara spesifik, kali ini kita akan belajar mengenai aniaya yang kita terima karena YESUS, dan respon kita atas aniaya tersebut.

MATIUS 5 : 10 - 12
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena AKU kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Seseorang akan berbahagia jika orang itu memiliki Sorga. Dan untuk memperolehnya ia harus mengalami aniaya. Di dalam ayat 10 dituliskan kata "aniaya", demikian pula dalam ayat 11. Meskipun memakai kata yang sama, namun memiliki perbedaan makna. Dalam ayat 10 istilah "aniaya" memiliki arti "penyangkalan diri", contohnya adalah berpuasa, berdoa dan seterusnya. Sedangkan dalam ayat 11 istilah "aniaya" adalah benar-benar pengalaman penaniayaan yang dilakukan orang lain terhadap kita karena nama KRISTUS. Hal ini lebih jelas jika ayat 11 kita baca dalam Alkitab NIV, "Blessed are you when people insult you...", artinya penganiayaan dari orang lain, bukan karena diri sendiri (menyangkal diri). Celaan, penganiayaan dan fitnah yang dialami adalah sebuah kenyataan yang dapat dilihat dan dialami secara jasmani. Contohnya adalah kita dikucilkan atau ditertawakan oleh karena menjadi pengikut KRISTUS. Berbahagialah kita sekalipun harus mengalami ketiga hal ini sebab di balik semuanya itu ada reward yang telah disediakan oleh TUHAN.

Beda makna, beda pula reward dari kedua aniaya tersebut. Reward yang diperoleh dari aniaya yang dialami dalam ayat 10 adalah memiliki kerajaan Sorga. Sedangkan reward yang diperoleh dalam ayat 11 adalah upah yang besar di Sorga. Jika kita perhatikan tentang "upah yang besar" di Sorga, berarti ada juga orang yang menerima upah yang kecil. Upah juga berbicara tentang mahkota yang akan diterima seseorang di dalam kerajaan Sorga. Jadi ia bukan hanya memperoleh kerajaan Sorga saja, tetapi juga akan memperoleh seluruh isi dari kerajaan Sorga.

Pembahasan kita kali ini dititikberatkan pada penganiayaan karena Nama YESUS yang dialami orang Kristen yang terdapat dalam ayat 11.

Semua orang yang menjadi anak TUHAN pasti akan mengalami penganiayaan karena YESUS. Dalam Alkitab NIV, menyikapi penganiayaan itu, YESUS mengajarkan kita untuk "rejoice and be glad", memuji TUHAN dan bersukacita sebab kita memiliki upah besar di Sorga. Banyak orang yang tidak berani menghadapi penganiayaan karena mereka tidak mengerti seperti apa upah yang besar di Sorga itu. Orang yang tidak mampu bersukacita dalam penganiayaan karena YESUS berarti dia tidak mengakui atau malu mengakui memiliki TUHAN yang mati di kayu salib.

Kita adalah terang dunia, sedangkan dunia ini dalam keadaan "gelap" dan menyukai kegelapan. Dunia yang gelap ini tidak menyukai kehadiran kita yang merupakan terang di tengah-tengah kegelapan. Itu sebabnya mereka yang menyukai kegelapan menganiaya kita, anak-anak terang. Dan kenyataan atau penganiayaan seperti ini tidak dapat ditolak.

KISAH PARA RASUL 16 : 16 - 18
16 Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. 17 Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: "Orang-orang ini adalah hamba ALLAH Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan." 18 Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: "Demi nama YESUS KRISTUS aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu.

Ketika Paulus, Silas, dan juga Lukas (penulis Kisah Para Rasul) pergi ke tempat sembahyang, mereka bertemu dengan seorang dukun perempuan (wanita petenung). Wanita petenung ini rupa-rupanya memiliki tuan yang memeliharanya, sehingga tuan-tuannya itu memperoleh keuntungan melalui praktek tenungnya itu. Dengan kemauannya sendiri perempuan petenung itu mengikuti mereka. Yang menjadi pertanyaan, mengapa perempuan petenung itu mengikuti Paulus? Karena ia ingin dilepaskan dari roh tenung yang mengikatnya. Ia mengetahui bahwa di dalam Paulus ada kerajaan Sorga. Sehingga hal ini mendorongnya untuk lepas dari ikatan roh tenung dan tuan-tuannya. Namun di sisi lain ia sulit untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan tersebut.

Perempuan petenung itu bukan hanya mengikuti Paulus, Silas dan Lukas saja, tetapi juga berseru: "Orang-orang ini adalah hamba ALLAH Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan." Di dalam pergumulannya seorang diri, petenung itu berusaha menyerukan pengakuannya tentang kerajaan ALLAH. Apa yang dilakukan perempuan petenung ini bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Di satu sisi ia terikat dan dikuasai oleh kuasa jahat. Tetapi, di sisi lain jiwanya menghendaki kebebasan dari ikatan tersebut. Itu sebabnya ketika Paulus melihat hal ini ia melakukan suatu perbuatan baik terhadap perempuan tersebut. Ia mengusir roh tenung yang menguasai perempuan itu demi nama YESUS KRISTUS. Seketika itu juga roh jahat itu keluar. Paulus melakukan suatu perbuatan baik di dalam nama YESUS. Sekalipun sudah berbuat baik di dalam nama TUHAN YESUS, Paulus justru mengalami penganiayaan.

KISAH PARA RASUL 16 : 19
19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.

Kata "menangkap" berkaitan dengan persoalan hukum, sebab biasanya orang yang ditangkap adalah orang yang dianggap melakukan perbuatan melanggar hukum. Sedangkan Paulus dan Silas tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Yang dilakukannya justru sebuah kebaikan, yaitu membebaskan perempuan petenung tersebut dari kuasa jahat demi nama TUHAN YESUS. Setelah Paulus dan Silas ditangkap, tuan-tuan perempuan itu menyeretnya ke pasar untuk diadili di hadapan penguasa.

KISAH PARA RASUL 16 : 23 - 25
23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada ALLAH dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

Setelah Paulus dan Silas ditangkap dan diseret ke pasar, ternyata penganiayaan yang mereka alami masih berlanjut. Paulus dan Silas didera (dipukuli) lalu dimasukkan ke dalam penjara dan kedua kakinya dibelenggu. Dalam kondisi seperti ini keadilan tidak ditegakkan. Paulus dan Silas tidak melakukan tindakan kejahatan, namun mereka diperlakukan seperti orang yang telah melakukan tindak kejahatan. Dari bentuk hukuman yang mereka terima terlihat dengan jelas bahwa penganiayaan yang Paulus dan Silas hadapi bukanlah suatu penganiayaan biasa, melainkan penganiayaan yang cukup berat.

Bagaimana respon dari Paulus dan Silas dalam menanggapi penganiayaan yang mereka alami? Mereka benar-benar menerima dan memahami Firman TUHAN yang mengatakan agar memuji TUHAN dan bersukacita jika mendapat aniaya karena YESUS. Hal ini terlihat dari tindakan nyata mereka dalam ayat 25, mereka berdua berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada ALLAH. Dengan kata lain, Paulus dan Silas tidak menyalahkan TUHAN sekalipun aniaya yang dihadapi mereka cukup berat.

Pada umumnya, ketika kita menghadapi aniaya mengiring KRISTUS, tindakan pertama yang dilakukan biasanya adalah menyesali dan menyalahkan TUHAN. Paulus dan Silas tidak melakukan hal ini, sebab mereka menyadari bahwa sebagai orang beriman, penganiayaan seperti ini memang harus dihadapi dengan penuh sukacita. Itu sebabnya saya sangat yakin bahwa dalam doa mereka selama di dalam penjara, baik Paulus maupun Silas sama sekali tidak pernah mengucapkan kata-kata penyesalan ataupun menyalahkan TUHAN, apalagi mendoakan agar orang-orang yang menganiaya mereka ditimpa celaka. Tidak. Mereka berdua menerima aniaya tersebut dengan penuh sukacita.

Sukacita itu mereka luapkan di dalam puji-pujian kepada TUHAN dengan suara nyaring, terbukti semua tahanan dapat mendengar puji-pujian yang mereka nyanyikan. Hal ini berarti sekalipun dalam masa penganiayaan, Paulus dan Silas tidak malu-malu menunjukkan jati dirinya sebagai pengikut KRISTUS.

Seberapa sering kita tidak mau mengakui jati diri kita sebagai pengikut KRISTUS di hadapan banyak orang, hanya untuk menghindari penganiayaan karena KRISTUS atas diri kita? Dengan lain kata, banyak orang yang tidak mau menunjukkan jati dirinya sebagai anak TUHAN hanya demi sebuah upah yang sangat kecil di dalam dunia ini. Namun saya tidak pernah menganjurkan kita untuk bersikap ekstrim dalam menunjukkan identitas kita sebagai anak-anak ALLAH. Contohnya: ketika makan bersama keluarga di sebuah restoran, kita tidak perlu berdiri kemudian dengan suara nyaring kita berkata: "Mari kita berdoa, di dalam nama TUHAN YESUS...". Tidak perlu berlaku seperti itu. Yang perlu kita lakukan adalah tunjukkanlah identitas kita sebagai anak-anak ALLAH dalam sikap yang wajar. Intinya adalah, kita tidak malu untuk menyatakan identitas kita sebagai anak TUHAN di hadapan orang lain. Sebab jika kita tidak mau menunjukkan identitas kita di hadapan orang lain hanya karena untuk menghindari aniaya, maka akan tiba saatnya bagi kita menerima aniaya yang jauh lebih berat di dalam neraka.

KISAH PARA RASUL 16 : 26
26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Karena Paulus dan Silas tetap bersukacita sekalipun sedang dalam penganiayaan, ALLAH tidak tinggal diam. Ketika mereka menyanyikan puji-pujian bagi ALLAH, terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Artinya, ketika kita bersukacita sekalipun sedang mengalami penganiayaan, ada upah yang kita terima di dalam dunia ini dalam bentuk berkat dan mujizat yang kita terima. Sebab upah yang kita terima di dalam dunia ini merupakan jembatan yang akan kita lalui untuk menerima upah di Sorga. Jadi jika kita tidak mau mengalami aniaya, jangan pernah kita berharap untuk memperoleh upah di Sorga. Sebab upah di dunia (berkat dan mujizat) saja kita tidak akan pernah melihat dan mengalaminya, apalagi upah di Sorga.

Dari hal ini kita belajar bahwa sebenarnya reward yang pertama dari aniaya karena KRISTUS adalah menerima reward yang ada di dalam dunia ini dalam bentuk pertolongan ataupun mujizat TUHAN. Sedangkan reward jangka panjangnya yakni upah yang besar di dalam kerajaan Sorga.

KISAH PARA RASUL 16 : 27 - 28
27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"

Salah satu bentuk sukacita Paulus dan Silas diekspresikan dalam doa dan puji-pujian bagi TUHAN. Ternyata ada ekspresi lain dari sukacita mereka berdua. Ketika kepala penjara menyadari bahwa pintu-pintu penjara dan belenggu para tahanan terbuka begitu saja, dia mengira para tahanan (terutama Paulus dan Silas) telah melarikan diri. Hal tersebut berdampak kepala penjara itu berusaha bunuh diri. Namun, Paulus mencegahnya. Tindakan Paulus ini merupakan salah satu bentuk lain dari ekspresi sukacita Paulus dan Silas, menunjukkan mereka tidak menyimpan dendam terhadap kepala penjara yang juga ikut andil dalam penganiayaan terhadap Paulus dan Silas.

KISAH PARA RASUL 16 : 29 - 31
29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" 31 Jawab mereka: "Percayalah kepada TUHAN YESUS KRISTUS dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

Tindakan Paulus mencegah kepala penjara itu bunuh diri membuat kepala penjara itu mendatangi Paulus dan Silas dengan berlari, lalu tersungkur di depan Paulus dan Silas. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kepala penjara itu langsung tersungkur di hadapan Paulus dan Silas, padahal pintu-pintu penjara yang lain terbuka? Padahal saat Paulus mengatakan, "Jangan celakakan dirimu..." saat itu ruangan gelap. Baru kemudian kepala penjara itu menyuruh membawa suluh untuk menerangi ruangan. Mengapa kepala penjara itu tahu bahwa yang mencegahnya bunuh diri adalah Paulus? Ada perbedaan antara seseorang yang mengalami hukuman karena kesalahannya sendiri (para tahananan biasa), dan orang yang dianiaya karena nama KRISTUS (Paulus dan Silas). Cepat atau lambat, kebenaran terbuka. Kepala penjara akhirnya tahu Paulus dan Silas dianiaya bukan karena salah mereka.

Tidak hanya sampai di situ saja, masih ada upah yang lain yang diterima Paulus dan Silas atas sukacita yang ada dalam hati mereka, yakni mereka berdua menjadi orang yang dihormati. Hal ini terlihat dari perkataan kepala penjara yang memaggil mereka dengan sebutan: "Tuan-tuan". Sebagai tahanan, disebut "Tuan" adalah penghormatan, merupakan upah yang diterima oleh Paulus dan Silas di dalam dunia ini. Jadi jika kita tetap bersukacita dalam penganiayaan demi penganiayaan, berkat demi berkat atau upah demi upah di dalam dunia ini kita terima, kemudian kita juga akan menerima upah di Sorga.

KISAH PARA RASUL 16 : 32 - 33
32 Lalu mereka memberitakan Firman TUHAN kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.

Situasi yang tidak menguntungkan bagi Paulus dan Silas telah berbalik. Tadinya mereka dianiaya karena YESUS. Kini, mereka memiliki ruang yang luas untuk memberitakan berita keselamatan kepada kepala penjara tersebut. Dalam keadaan tubuh masih ada bekas pukulan karena belum dibersihkan, Paulus dan Silas mereka memberitakan Firman kepada kepala penjara dan semua orang yang ada di rumahnya. Semuanya itu dilakukan oleh Paulus dan Silas karena sukacita yang besar yang ada dalam hati mereka. Setelah itu barulah kepala penjara itu membawa mereka untuk membasuh bilur mereka.

Jika tidak ada sukacita dalam menghadapi penganiayaan karena KRISTUS, Injil TUHAN tidak akan dapat diberitakan. Banyak orang Kristen yang hidupnya tidak berbahagia karena ia menyimpan dendam terhadap orang yang menganiayanya sehingga ia tidak memberitakan kabar keselamatan. Tetapi Paulus, sekalipun luka-luka pada tubuhnya belum dibasuh, ia tetap memberitakan Firman dengan sukacita. Setelah lukanya dibasuh, ketika kepala penjara dan orang-orang yang ada di rumahnya itu menerima YESUS dan memberi diri dibaptis, Paulus melakukan pembaptisan sekalipun tubuhnya masih terdapat luka. Jika kita bayangkan, kondisi tubuh yang penuh dengan luka karena penganiayaan lalu ia harus masuk ke dalam air untuk membaptis, pastinya luka tersebut akan terasa sakit. Hal ini juga merupakan sebuah penderitaan, namun dengan sukacita Paulus melakukannya. Upah yang Paulus dan Silas terima di Sorga adalah jiwa-jiwa yang diselamatkan bagi TUHAN.

LUKAS 15 : 10
10 AKU berkata kepadamu: "Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat ALLAH karena satu orang berdosa yang bertobat."

Bertobatnya kepala penjara dan keluarganya dikatakan sebagai upah yang besar di Sorga. Terlihat dalam ayat ini, di mana ada banyak malaikat ALLAH bahkan seluruh malaikat ALLAH bersukacita. Namun untuk mencapai upah yang besar ini, kita harus siap dan mau menghadapi apa yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh kita. Tetapi hal-hal tersebut menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kita.

KISAH PARA RASUL 16 : 34
34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada ALLAH.

Upah lain yang diterima Paulus dan Silas di dalam dunia ini adalah undangan makan dari kepala penjara. Begitu banyak upah baik di dunia maupun di Sorga yang diterima oleh orang yang dengan sukacita mengalami aniaya karena KRISTUS.

Penganiayaan juga sebagai alat untuk membuktikan iman kita kepada ALLAH. Karena itu, jangan pernah kita menjadi mundur dari iman kita kepada TUHAN. Namun kita harus tetap ingat bahwa TUHAN tidak pernah mau merugikan kita. Bahkan ketika penganiayaan itu menerpa kita, IA memberikan kekuatan sehingga kita mampu menanggungnya, sama seperti Paulus dan Silas. Bukan kerugian yang kita terima dari aniaya karena KRISTUS sebab penganiayaan itu justru menghantarkan kita pada reward di dunia maupun di Sorga. Amin.