Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Memandang Wajah ALLA...
Memandang Wajah ALLAH
Pdt. Handoyo Santoso, M.Min. | PA Selasa, 9 Agustus 2005
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 30/10/05

Kita yang hina, penuh cacat cela
Akankah memandang Kekudusan-NYA?
Bertemu ALLAH secara pribadi
Bila hati setulus merpati

Kala memandang Wajah ALLAH
Perubahan besar terjadi
Penipu jadi Pangeran ALLAH
Rasa cemas pun terhalau pergi

KELUARAN 33 : 20
20 Lagi Firman-NYA: "Engkau tidak tahan memandang wajah-KU, sebab tidak ada orang yang memandang AKU dapat hidup."

Ayat di atas adalah suatu pernyataan, bahwa kita tidak dapat memandang ALLAH, sebab orang yang memandang wajah ALLAH akan mati. Mengapa demikian? Rasul Paulus dalam suratnya menjelaskan, bahwa kita ini terdiri dari darah dan daging yang penuh dosa, sedangkan ALLAH adalah ROH yang kudus.

Namun secara naluri, sejak dulu manusia ingin menyembah ALLAH. Manusia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Dalam segala keterbatasannya, manusia mencari sesuatu yang besar untuk disembah, misalnya mengkeramatkan pohon besar atau batu besar dan menyembahnya. Ada yang menciptakan patung berhala dan menganggapnya sebagai allah. Mungkinkah manusia dapat bertemu ALLAH dengan menyembah patung yang diciptakannya sendiri?

MAZMUR 11 : 7
7 Sebab TUHAN adalah adil dan IA mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-NYA.

Daud mengungkapkan dalam mazmurnya, bahwa orang yang tulus akan memandang wajah ALLAH. Mungkin kita berpikir, manakah yang benar dari kedua ayat di atas? Sekilas kedua ayat tersebut nampaknya bertentangan. Namun tidak, bahkan saling mendukung.

Bila kita telusuri lebih dalam, bukan sembarang orang yang dapat memandang-NYA, tetapi ditetapkan syarat yang harus dipenuhi untuk dapat memandang wajah-NYA, yaitu memiliki hati yang tulus. TUHAN YESUS mengajarkan kepada kita agar kita tulus seperti merpati, yang merupakan lambang ROH KUDUS. Seseorang akan mampu memandang wajah-NYA yang kudus jika ROH KUDUS tinggal di dalam dirinya. Pandangan Daud jauh ke depan dalam menuliskan mazmur ini, sebab dia menerima wahyu ilahi. Jika kita sendiri, tanpa ROH KUDUS di dalam hati kita, maka kita tidak akan tahan bertemu muka dengan muka dengan ALLAH.

TUHAN adalah ALLAH yang adil dan mengasihi keadilan. Walau di dunia ini ada pengadilan, namun tidak ada keadilan. Hanya di dalam Firman TUHAN, kita menemukan keadilan yang sejati. Kalau kita mengasihi keadilan -mengasihi Firman- dan ROH KUDUS tinggal di dalam diri kita, maka kita mampu memandang wajah-NYA.

YOHANES 1 : 18
18 Tidak seorangpun yang pernah melihat ALLAH; tetapi ANAK TUNGGAL ALLAH, yang ada di pangkuan BAPA, DIAlah yang menyatakan-NYA.

Tidak seorang pun yang pernah melihat ALLAH BAPA, namun melalui YESUS KRISTUS yang turun ke dalam dunia, kita dapat bertemu dengan ALLAH BAPA. Melihat YESUS KRISTUS berarti melihat ALLAH BAPA.

YOHANES 14 : 9
9 Kata YESUS kepadanya: "Telah sekian lama AKU bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal AKU? Barangsiapa telah melihat AKU, ia telah melihat BAPA; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah BAPA itu kepada kami.

TUHAN YESUS menjelaskan kepada Filipus, bahwa siapa yang telah bertemu dengan TUHAN maka dia telah melihat BAPA seperti yang telah dinyatakan di dalam Yohanes 1 : 18. Penyebab ketidaktahuan murid-murid TUHAN ini adalah ROH KUDUS belum turun ke dalam hati mereka, sehingga Filipus meminta kepada TUHAN YESUS untuk menunjukkan ALLAH BAPA kepada mereka.

Di zaman anugerah ini, ROH KUDUS telah dicurahkan ke dalam hati setiap orang beriman. Namun sekarang TUHAN YESUS telah berada di Sorga. Bagaimana kita dapat bertemu muka dengan muka dengan ALLAH? Firman itu telah turun ke dunia menjadi manusia; dengan kata lain, Firman itu adalah YESUS KRISTUS. Melalui Firman TUHAN, kita bertemu muka dengan TUHAN.

Bertatap muka dengan ALLAH tentu bukan sekedar bertatap muka, namun pastilah memiliki makna yang dalam. Tiga tokoh di dalam Alkitab yang akan kita pelajari mengalami perubahan yang sangat besar hidupnya setelah bertemu muka dengan muka dengan ALLAH.

KEJADIAN 32 : 30
30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat ALLAH berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"

Pernyataan Yakub ini mengesankan dia nyaris celaka saat bertemu dengan ALLAH. Namun sebenarnya tidak demikian. Dalam terjemahan New King James Version: "And Jacob called the name of the place Peniel: "For I have seen God face to face, and my life is preserved."" Yakub bertemu ALLAH, dan dia hidup. Jadi jelaslah berkat yang diperoleh Yakub dalam bertemu muka dengan ALLAH adalah dia memperoleh hidup, yakni kehidupan baru di dalam TUHAN.

KEJADIAN 32 : 27 - 29
27 Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." 28 Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan ALLAH dan manusia, dan engkau menang." 29 Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

ALLAH bertanya kepada Yakub, "Siapakah namamu?" bukan berarti ALLAH tidak mengetahui nama Yakub. Arti kata Yakub adalah penipu. Saat kita bertemu muka dengan muka dengan TUHAN, kita harus mengakui siapa nama kita, siapa kita. Akuilah, bahwa kita adalah orang berdosa. Yakub ditanya namanya supaya dia mau mengakui, bahwa dia adalah Yakub, si penipu. Dengan mau mengakui bahwa kita adalah orang berdosa, maka kita akan memperoleh hidup baru di dalam TUHAN. Yakub mengalami perubahan total setelah bertemu dengan ALLAH. Nama Yakub diganti menjadi Israel; dari seorang penipu menjadi pangeran ALLAH.

Yakub tidak bergumul melawan ALLAH, sebab siapakah yang dapat menang melawan ALLAH? Dalam terjemahan NIV tertulis: "... because you have struggled with GOD and with men and have overcome." Yang terjadi sebenarnya adalah Yakub bergumul bersama ALLAH, dalam arti ALLAH mendampingi Yakub dalam pergumulannya, sehingga dia menang. Dalam mengarungi kehidupan ini, kita juga menghadapi pergumulan hidup yang berat seperti yang dialami Yakub. Dengan mau mengakui bahwa kita adalah orang berdosa, dan TUHAN bersama kita dalam menghadapi pergumulan, maka kemenangan yang gilang gemilang akan menjadi bagian kita.

Pergumulan yang dialami Yakub disebabkan ketakutan yang hebat karena tidak lama lagi dia akan bertemu dengan Esau yang merencanakan membunuhnya. Banyaknya harta yang dimiliki Yakub tidak mampu mengenyahkan ketakutannya. Namun pertemuannya secara pribadi dengan ALLAH membawa perubahan besar di dalam dirinya. Yakub tidak lagi cemas dalam menghadapi Esau, sebab dia telah memperoleh kemenangan dari TUHAN.

Seperti Yakub, kekayaan tidak dapat menjadi jaminan kemenangan dalam pergumulan melawan penyakit atau untuk memperoleh kebahagiaan. Namun dengan bertemu secara pribadi dengan ALLAH, kita akan mampu menghadapi setiap pergumulan hidup dan menangguk kemenangan.

Keluaran 33 : 11
11 Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu.

Keluaran 33 : 20 menyatakan bahwa orang yang memandang wajah ALLAH akan mati, tetapi di dalam ayat 11, Musa mampu berhadapan muka dengan TUHAN. Mengapa Musa tidak mati? Saat itu Musa berhadapan dengan YESUS. TUHAN berbicara dengan Musa seperti kepada teman atau lebih tepat, sahabat-NYA.

Jika kita ingin berhadapan muka secara pribadi dengan TUHAN, jadilah sahabat-NYA. Di dunia ini tidak ada orang yang dapat menjadi sahabat yang tidak pernah mengecewakan kita. Tetapi di dalam Pribadi YESUS, kita menemukan sahabat sejati. Sahabat yang selalu menyediakan Telinga-NYA untuk mendengar keluhan kita, Sahabat yang mampu menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi.

YOHANES 15 : 14 - 15
14 Kamu adalah sahabat-KU, jikalau kamu berbuat apa yang KUperintahkan kepadamu. 15 AKU tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi AKU menyebut kamu sahabat, karena AKU telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah KUdengar dari BAPA-KU.

Sungguh suatu kehormatan besar bagi kita kala YESUS menyatakan bahwa kita adalah sahabat-NYA. Menjadi sahabat YESUS berarti mentaati perintah-NYA atau hidup sesuai yang digariskan oleh Firman TUHAN. Sebagai sahabat yang selalu kembali kepada Firman TUHAN, kita akan dapat bertemu muka dengan YESUS, yang menjadi Pengantara kita dengan ALLAH BAPA di Sorga. Bersahabat dengan YESUS berarti kita dapat bertemu dengan BAPA melalui YESUS.

Sebagai Pengantara kita dengan BAPA di Sorga, maka YESUS akan selalu memberitahu kepada kita segala rencana BAPA yang digariskan-NYA bagi kehidupan kita. Kalau kita tahu pasti rencana BAPA di dalam kehidupan kita, maka kita tidak akan tersesat dan mencari-cari, apakah sebenarnya yang direncanakan BAPA bagi kita. Kita dapat menjalin komunikasi dengan BAPA melalui Sahabat kita. Bahkan kita dapat memohon kepada Sahabat kita menjadi Pengantara Agung untuk mengubah jalan hidup kita yang telah digariskan BAPA. Misalnya saja kita menginginkan alih profesi, kita menyatakannya kepada YESUS yang akan menyampaikannya untuk kepada BAPA.

KELUARAN 33 : 1
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah KUjanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan KUberikan negeri itu.

Apakah yang diperoleh Musa dari Sahabatnya setelah bertemu muka? TUHAN sebagai Sahabat Musa, menyertai perjalanan Musa dan bangsa Israel di padang gurun. Perjalanan Musa memimpin bangsa Israel bukanlah perkara mudah. Padang gurun yang luas tidak dilengkapi dengan rambu-rambu dan petunjuk jalan. Dalam perjalanan ke negeri yang dijanjikan TUHAN, Musa dan bangsa Israel tidak membekali diri dengan kompas, peta dan alat-alat bantu lainnya. Bagaimana Musa dapat menentukan arah, jika bukan TUHAN yang menuntun?

Keadaan dunia boleh makin sulit, tetapi tidak berpengaruh dalam kehidupan sahabat TUHAN. Perjalanan di padang gurun kehidupan kita mendapat tuntunan dari Sahabat, yang juga menjadi Guru kita. Tentunya lebih menyenangkan bila guru yang mengajar atau menuntun kita juga menjadi Sahabat kita.

Kita pernah mengalami dalam kuliah, bahwa bila kita mengenal dekat secara pribadi atau mengenal karakter dosen kita, maka kita akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. Sebaliknya bila berhadapan dengan dosen killer, maka sulit bagi kita untuk menyerap pelajaran.

Seorang ayah yang memiliki seorang anak yang berbakat musik,mengirim anaknya untuk belajar piano. Sang ayah berangan-angan anaknya akan segera mahir memainkan piano. Namun harapan itu tidak segera menjadi kenyataan. Sudah berbagai guru berusaha mengajarnya, namun si anak yang masih kecil itu tidak mahir juga memainkan piano. Hanya satu lagi yang dapat dimainkannya, lagu yang paling mudah, "Chopstick".

Bapak ini tidak putus asa. Dia menghubungi seorang profesor musik yang paling ternama di kota itu. Bersama anaknya, dia mendatangi sang profesor dan mengutarakan keinginannya supaya anaknya diterima sebagai murid. Di rumah profesor, anak itu melihat grand piano dan tergoda untuk memainkan satu-satunya lagu yang dikuasainya. Pemilik grand piano itu tidak mencegah si anak. Setelah berbincang singkat dengan sang ayah, profesor itu duduk di samping anak itu dan ikut mengiringi permainannya. Anak itu terpana dan merasa lagu yang dimainkannya menjadi semakin indah. Dia terus bermain dan sang profesor terus mengiringinya. Timbul semangat si anak yang kemudian menjadi murid yang berhasil. Pertemuannya dengan sang guru menjadi langkah awal dalam menapaki jalan kehidupan sebagai seorang pianis yang terkenal.

Anak yang diajar oleh guru yang membawa tongkat untuk memukul muridnya akan membuat si murid enggan belajar karena takut. Guru yang merupakan sahabat tidak akan mendidik dengan kekerasan. Dia mengetahui cara untuk mendekati murid-muridnya, dia mengenal sifat muridnya satu persatu. Seperti itulah gambaran Sahabat dan Guru kita yang mengajarkan jalan kehidupan kepada kita hingga kita mampu mencapai tujuan kita: hidup berkelimpahan di tanah Kanaan.

HAKIM HAKIM 6 : 22 - 23
22 Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: "Celakalah aku, TUHANku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka." 23 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati."

Pribadi ketiga yang bertemu muka dengan ALLAH adalah Gideon. Gideon menyadari konsekuensi yang diterimanya bila berhadapan muka dengan ALLAH, karena itu dia mengatakan, "Celakalah aku!" Tetapi TUHAN mengatakan, bahwa Gideon tidak perlu takut. Gideon tidak akan mati, bahkan dia akan memperoleh hidup yang kekal.

HAKIM HAKIM 6 : 13
13 Jawab Gideon kepada-NYA: "Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian."

Sebelum bertemu muka dengan muka dengan TUHAN, pikiran Gideon disesaki dengan rasa putus asa. Keputusasaan Gideon diungkapkan dalam keluhannya, "Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?" Mengapa Gideon kehilangan harapan? Sebab dia belum bersahabat dengan YESUS, sehingga dia tidak mengetahui kehendak ALLAH BAPA di dalam hidupnya.

Perbedaan sikap akan terjadi kalau kita mengenal Sahabat kita. Bukannya mengeluh, tetapi kita justru bersyukur. Kita akan berkata, "Terima kasih TUHAN atas semua yang telah terjadi, karena kami tahu rencana-MU selalu baik." Perkataan Gideon: "Di manakah segala perbuatan-perbuatan yang ajaib" merupakan celaan kepada TUHAN. Gideon hanya mendengar mujizat yang dialami oleh nenek moyangnya. Kalau kita belum bertemu muka dengan muka dengan TUHAN, kita tidak mengalami mujizat di dalam kehidupan kita. Kita hanya tahu melalui Alkitab, bahwa TUHAN melakukan mujizat yang dilakukan TUHAN.

HAKIM HAKIM 7 : 25
25 Mereka berhasil menawan dua raja Midian, yakni Oreb dan Zeeb. Oreb dibunuh di gunung batu Oreb dan Zeeb dibunuh dalam tempat pemerasan anggur Zeeb. Mereka mengejar orang Midian itu, lalu mereka membawa kepala Oreb dan kepala Zeeb kepada Gideon di seberang sungai Yordan.

Keputusasaan berganti dengan kemenangan setelah bertemu muka dengan muka dengan TUHAN. Dengan gagah berani, Gideon mengalahkan seteru-seterunya.

Betapa besar perubahan yang kita terima setelah berhadapan muka dengan ALLAH. Dari seorang berdosa, kita mengalami transformasi menjadi pangeran ALLAH seperti yang dialami Yakub. Kemudian kita menjadi sahabat TUHAN, yang tahu akan setiap rencana BAPA di dalam kehidupan kita. Sahabat dan Guru kita akan menuntun kita dalam menapaki padang gurun kehidupan yang keras ini. Berkat lainnya yang disediakan bagi orang yang bertemu muka dengan TUHAN adalah dapat mengatasi setiap persoalan kita.

MAZMUR 17 : 15
15 Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-MU, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-MU.

Oleh ilham Roh, Daud menyatakan dalam mazmurnya bahwa dia akan memandang wajah ALLAH dalam kebenaran. Siapakah kebenaran? YESUS adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Yang dimaksudkan Daud dalam ayat di atas adalah di dalam YESUS, dia akan memandang wajah BAPA di Sorga.

"Pada waktu bangun, aku akan menjadi puas dengan rupa-MU" artinya pada waktu akhir zaman, pengangkatan tiba, maka orang-orang beriman yang mati akan bangun atau dibangkitkan dan bertemu dengan TUHAN. Kita akan ke rumah BAPA dan memandang wajah TUHAN tanpa rasa takut, sebab kita hidup di dalam keberanan Firman. Amin.