Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Berjalan Dalam Renca...
Berjalan Dalam Rencana TUHAN
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 3 Minggu, 12 Juni 2011
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 04/09/11

Langkah kecil kita sering sulit selaras dengan rencana besar TUHAN. Walau tak mudah, kita mampu melakukannya asal mau belajar caranya.

1 SAMUEL 16 : 1
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah KU-tolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. AKU mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah KU-pilih seorang raja bagi-KU."

Peristiwa dalam ayat di atas terjadi setelah Saul berbuat dosa dan tak mau bertobat. Konsekuensinya, masa jabatan Saul sebagai raja Israel berakhir di hadapan TUHAN, dan TUHAN mengalihkan mandat-NYA untuk memimpin Israel kepada orang lain. Yang menjadi problem, Samuel berdukacita karena tidak dapat menerima rencana TUHAN ini. Memang TUHAN dulunya memilih Saul sebagai raja dan Samuel yang ditugaskan TUHAN mengurapi Saul. Mengapa sekarang TUHAN menolak Saul? Mungkin hal itu memenuhi isi kepala Samuel sehingga dia sulit menerima pikiran TUHAN.

Tidak mau menerima rencana TUHAN membuat kita terhambat atau tertunda dalam menerima berkat dan sukacita. Perkataan "berapa lama lagi?" ikut menentukan kemenangan kita. Pada waktu kita mengerti kehendak TUHAN dan tidak ngotot dengan kehendak kita sendiri, saat itulah TUHAN melaksanakan rencana-NYA yang indah di dalam hidup kita.

Masalah lainnya yang dihadapi orang Kristen adalah tidak mampu mendengar pemberitahuan dari TUHAN. Yang lebih celaka, tidak mampu membedakan suara TUHAN dan suara setan sehingga tertipu. Tidak mampu mendengar suara TUHAN terjadi karena orang Kristen itu belum menjadi anak TUHAN.

AYUB 42 : 2
2 "Aku tahu, bahwa ENGKAU sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-MU yang gagal.

Tidak ada rencana TUHAN yang gagal. Berapa pun lamanya Samuel berduka, seandainya sampai seratus tahun pun, hal itu tidak mengubah rencana TUHAN. Jadi, kita yang harus mengikuti rencana-NYA. Kebanyakan orang Kristen gagal karena mau "mengatur" TUHAN. Kita dapat menganalogikan hubungan direktur dan bawahan untuk memperjelas situasi ini. Contohnya, seorang direktur bertugas menyusun kebijakan dan program kerja bagi perusahaan. Tidak mungkin sang direktur yang diarahkan para bawahannya untuk melakukan ini itu. Demikian pula dengan TUHAN yang kedudukan-NYA sangat jauh di atas kita.

Mungkin di antara kita berpikir, apa susahnya bagi Samuel mengambil tabung tanduk dan mengurapi pengganti Saul? Salah satu penyebab Samuel berpikir panjang adalah karena ada risiko besar di balik tugasnya itu.

1 SAMUEL 16 : 2
2 Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. 3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu AKU akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-KU orang yang akan KU-sebut kepadamu."

Saat itu Saul masih duduk di takhta. Seandainya Saul tahu bahwa Samuel akan mengurapi Daud sebagai raja, Saul tentu akan murka semurka-murkanya. Itulah sebabnya Samuel mengatakan, bagaimana mungkin menjalankan rencana TUHAN? Mari kita aplikasikan dalam diri kita. Sewaktu kita memiliki problem "ombak besar" dan TUHAN mengatakan "Berjalanlah di atas air!" sering kita menjawab seperti Samuel. Kelihatannya tidak mungkin. Namun, Petrus sudah membuktikan bahwa dia mampu. Mengatakan, "Mana mungkin?" berarti kita sudah menolak rencana TUHAN. Seharusnya Samuel yakin seratus persen walau ada seratus Saul menghunus pedang untuk membantainya. Namun, Samuel lebih takut kepada manusia daripada kepada TUHAN.

Tidak ada orang lain yang mampu menggagalkan rencana TUHAN bagi hidup kita. Namun, jika kita sendiri tidak mau berjalan dalam rencana TUHAN maka rencana TUHAN itu gagal terjadi dalam hidup kita. Misalnya kita bertanya kepada TUHAN bahwa kita mau berbisnis di bidang tertentu. Dan TUHAN menjawab kita untuk maju, DIA akan menyertai dan memberikan kesuksesan. Namun kita batal berbisnis karena merasa pesaingnya banyak. Siapa biang kerok kegagalan kita? Kita sendiri.

Salah satu karakter TUHAN adalah Mahakudus. Dalam merealisasikan rencana-NYA tentu karakter kekudusan tidak akan ditanggalkan-NYA. Misalnya saja, TUHAN tidak mungkin memiliki rencana bagi kita untuk sukses dengan cara menyertai kita untuk membuka tempat judi.

Dalam menanggapi ketakutan Samuel akan risiko pembunuhan dari Saul, TUHAN tidak mengatakan agar Samuel berbohong saja kepada Saul. Tidak. Banyak orang yang berpendapat, "Hari gini tidak bohong, mana bisa sukses?" TUHAN sukses mengangkat Daud tanpa perlu Samuel berbohong kepada Saul sebab rencana TUHAN sempurna dan tidak mungkin gagal.

TUHAN memberi kita kemampuan menggunakan logika. Namun, TUHAN berada di atas logika manusia. Samuel berpikir logis. Saul berkuasa membunuh dia. Namun, TUHAN punya cara, cara yang kudus, bukan cara kebohongan atau trik kotor lainnya. Samuel diminta TUHAN menyelenggarakan ibadah dan mengundang Isai. Ini bukan kebohongan. Isai memang anak TUHAN dan wajar diundang beribadah.

Salah seorang jemaat gereja kita mengalami problem dalam pekerjaannya. Dia mengimpor alat untuk dipasang di sebuah pabrik. Teknisi ahli dari USA telah siap untuk memasangnya. Yang menjadi permasalahan, alat itu masih tertahan di bandara padahal teknisi ahli itu akan segera kembali ke negaranya. Jemaat tersebut mohon dukungan doa agar alat itu dapat segera keluar dari bandara sebelum sang teknisi ahli kembali ke negaranya (hari Kamis). Rencana jemaat tersebut logis. Ternyata, barang tersebut belum dapat juga keluar dari bandara sampai hari Kamis pagi, dan baru dapat keluar Kamis sore. Kendati doanya tidak dijawab TUHAN sesuai keinginannya, TUHAN mampu membuat alat yang terlambat keluar itu terpasang dengan baik. Oleh campur tangan TUHAN, jadwal kepulangan teknisi itu mundur sampai hari Senin minggu berikutnya. Itulah kerja TUHAN yang sempurna.

Isai memiliki banyak anak laki-laki; saat itu TUHAN belum mengatakan mana yang harus diurapi. TUHAN akan memberitahu apa yang selanjutnya harus dilakukan Samuel. Kendati belum tahu apa perintah TUHAN selanjutnya, yang penting harus ada langkah awal dari kita untuk mentaati-NYA. Kita sering ingin mengetahui rencana TUHAN secara utuh sedangkan TUHAN memberikan rencana-NYA tahap demi tahap. Bukan berarti TUHAN masih mencari ide untuk rencana berikutnya. Namun TUHAN ingin mengajarkan kita percaya sepenuhnya kepada DIA yang menyusun rencana. Sebab dengan mengetahui rencana TUHAN seluruhnya, iman kita tidak akan bekerja. Misalnya, TUHAN memberitahukan bahwa tahun ini kita belum kita sukses, kita baru akan sukses tahun depan. Mungkin logika kita akan berkata, percuma bekerja tahun ini, lebih baik mulai bekerja tahun depan.

1 SAMUEL 16 : 4 - 5
4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?" 5 Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

Berbuat seperti yang difirmankan TUHAN membuat kita semakin dekat dengan sukses. Rencana TUHAN tidak akan terlaksana bila Samuel tidak mau bertindak. Sekali lagi, bukan TUHAN yang gagal, tapi kita yang gagal berjalan dalam rencana TUHAN. Kalau mau taat, TUHAN yang memuluskan terlaksananya rencana-NYA sampai hal yang sekecil-kecilnya. Contohnya, dalam pelaksanaan rencana-NYA mengurapi raja baru, TUHAN telah menyiapkan Isai dan anak-anaknya ada di tempat sehingga rencana-NYA dapat berjalan mulus. Dan pada ayat-ayat selanjutnya kita ketahui, kulit Samuel tidak lecet sedikit pun oleh pedang Saul.

1 SAMUEL 16 : 6 - 7
6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-NYA." 7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab AKU telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat ALLAH; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Dengan mau mentaati TUHAN Samuel sudah mendekati masuk dalam kesempurnaan rencana TUHAN. Sayangnya, saat TUHAN belum memberitahukan siapa anak Isai yang dipilih-NYA, Samuel kembali memakai mata dan pikirannya sendiri. Ingat, indra dan pikiran kita bisa salah. Agar kita mampu bertindak dan berpikir seperti TUHAN, "pakailah" pikiran TUHAN atau selaraskan pikiran kita dengan pikiran TUHAN. Konkritnya, salibkan tubuh dan pikiran kita yang dikuasai hawa nafsu. Dengan tuntunan ROH KUDUS, kita akan mampu melakukannya.

Di dalam 2 Samuel 22:31 tertulis, "Adapun ALLAH, jalan-NYA sempurna; sabda TUHAN itu murni; DIA menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-NYA." Ayat ini menjelaskan bahwa TUHAN tidak perlu kita bantu atau rencana-NYA tidak perlu kita sempurnakan. Bahkan, jika kita mulai menggunakan pikiran kita, rencana TUHAN yang indah itu takkan terjadi dalam hidup kita. Dengan berlindung di dalam TUHAN, yaitu kita di dalam DIA, rencana kita akan sinkron dengan rencana TUHAN sehingga kita sukses.

1 SAMUEL 16 : 12
12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

Samuel mulai sadar tatkala TUHAN menolak Eliab; Samuel tidak membantah TUHAN. Anak-anak Isai yang hadir semuanya ditolak TUHAN, membuat Samuel bertanya, masihkah ada anak Isai yang lain. Samuel menyuruh menjemput anak Isai yang bungsu, Daud, yang sedang menggembalakan domba. TUHAN mau mengangkat Daud sebagai raja. Daud si gembala domba, profesi rendahan, bukanlah lulusan Universitas sekelas Harvard University. Kali ini Samuel tidak mengatakan, "Si gembala menjadi raja???" Dia kembali berjalan dalam rencana TUHAN.

Di balik suksesnya Daud menjadi raja yang diangkat TUHAN, ada peran Samuel yang menghantarkan gembala muda itu menjadi orang nomor satu di Israel. Inilah kesuksesan seorang nabi: mampu membawa kesuksesan bagi umat TUHAN. Kerinduan kita sebagai orangtua adalah kita sukses, dan mampu membawa anak-anak kita berangkat sukses. Hal itu dapat terlaksana kalau kita berjalan di dalam rencana TUHAN, yaitu mau menanggalkan hawa nafsu yang menguasai tubuh, hati dan pikiran kita. Amin.