Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Meruntuhkan Yerikho
Meruntuhkan Yerikho
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. I Minggu, 5 Juli 2009
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 06/09/09

Hidup manusia tak lepas dari pergumulan dan peperangan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Sebagai anak-anak TUHAN sesungguhnya kita telah ditentukan oleh ALLAH untuk menjadi lebih dari pemenang. Namun untuk memperoleh kemenangan itu, kita harus tahu caranya.

YOSUA 6 : 1
1 Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk.

Di dalam kehidupan ini, kita seringkali menghadapi "tembok Yerikho" yang kuat, bahkan pintunya telah tertutup rapat sehingga tidak mungkin ada yang mampu masuk atau pun keluar. Benteng Yerikho ini adalah sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Itu sebabnya Israel tidak dapat masuk menyerang Yerikho karena sangat kuatnya tembok tersebut.

Kondisi seperti ini terkadang memiliki kesamaan dengan kehidupan kita yang dikelilingi oleh persoalan-persoalan besar yang seolah-olah tak dapat diselesaikan, tertutup rapat dari solusi. Bagaimana cara yang tepat untuk menembus tembok Yerikho yang tebal dan tertutup rapat itu, dan meraih kemenangan?

YOSUA 5 : 13 - 14
13 Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?" 14Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan Tuanku kepada hambanya ini?"

Ketika Yosua sudah berada di dekat Yerikho, dia melayangkan pandangannya dan melihat seorang laki-laki. Sebagai orang percaya, ketika menghadapi persoalan, jangan memfokuskan pandangan kepada masalah yang ada di hadapan kita. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan pandangan kita kepada ALLAH. Sebab apabila hanya mengarahkan pandangan kepada masalah yang ada di hadapan kita, sudah pasti kita akan menjadi takut untuk menghadapinya.

Dalam bahasa Inggris, kata "melihat" digunakan istilah "Look up" (melihat ke atas). Hal ini memberikan suatu pengertian kepada kita bahwa posisi ALLAH selalu di atas dan bukan di bawah masalah kita. Sebab itu TUHAN yang Mahatinggi itu pasti mampu mengatasi segala persoalan yang sedang kita hadapi.

Kemudian disebutkan bahwa Yosua melihat seorang Laki-laki dengan memegang pedang terhunus di tangannya. Hal itu menggambarkan TUHAN YESUS yang datang membawa pedang Firman. Setelah melihat laki-laki tersebut, tindakan Yosua adalah langsung mendekatinya. Apabila kita sedang menghadapi persoalan, yang harus kita lakukan bukanlah mendekati persoalan yang ada di hadapan kita, melainkan harus mendekati YESUS terlebih dahulu, karena DIA yang sanggup memberikan kemenangan bagi kita.

Setelah Yosua mendekati Laki-laki yang dilihatnya itu, ia melanjutkannya dengan sebuah pertanyaan yang sangat penting, Yosua bertanya: "Kawankah engkau atau lawan?" Pertanyaan seperti ini sebetulnya sebagai pertanyaan yang mengkoreksi diri kita. Apakah di dalam hidup ini kita masih menjadi seteru ALLAH atau sudah menjadi teman ALLAH? Jika ternyata kehidupan kita sedang berada dalam posisi sebagai musuh ALLAH, jangankan kota Yerikho yang besar dan kuat, untuk melawan suatu kota yang kecil dan lemah saja kita tidak akan memiliki kemampuan. Tetapi apabila kita telah menjadi kawan ALLAH bahkan bersatu dengan DIA (melalui baptisan dan persekutuan dengan Tubuh dan Darah YESUS), kota sebesar atau sekuat apa pun pasti dapat kita kalahkan dengan mudah.

Laki-laki yang dilihat Yosua menjawab, bahwa ia datang sebagai Panglima Balatentara ALLAH. Peristiwa serupa ini juga pernah dialami oleh Yakub, di mana dalam sebuah penglihatan Yakub didatangi oleh seorang Malaikat. Namun perbedaannya adalah jika Yosua didatangi oleh Panglima Balatentara ALLAH, sedangkan Yakub didatangi oleh Malaikat yang bergulat dengannya. Yang menjadi pertanyaan dalam benak kita adalah mengapa TUHAN menemui kedua tokoh ini dengan cara yang berbeda? Sebab dalam peristiwa menemui Yakub, ALLAH ingin mengajar Yakub agar ia mampu bergumul di dalam menghadapi hidup ini. Sedangkan dalam kehidupan Yosua, ALLAH datang sebagai PanglimaBalatentara ALLAH karena Yosua sedang menghadapi peperangan. Contoh lain yang dialami oleh Abraham, ALLAH menemuinya sebagai petualang. Sebab Abraham sepanjang hidupnya bertualang (pindah dari satu tempat ke tempat yang lain).

Dari peristiwa-peristiwa ini dapat kita tarik suatu pelajaran bahwa TUHAN datang tepat waktu dan berada di tengah-tengah persoalan kita dalam wujud yang sesuai dengan apa yang sedang kita hadapi. Saat hidup kita penuh dengan pergumulan, maka IA datang sebagai pegulat yang melatih kita untuk bergumul dalam menghadapi pergumulan hidup ini. Ketika kita berada dalam suatu medan peperangan, IA datang sebagai Panglima Balatentara TUHAN untuk mengajari kita berperang. Jadi tidak ada alasan untuk takut maju berperang. Kita harus meraih kemenangan, sebab TUHAN telah datang sebagai Panglima Balatentara ALLAH.

Sebab itu, di dalam menjalani hidup ini, hendaklah kita mengarahkan pandangan hanya kepada TUHAN, bukan kepada masalah yang sedang dihadapi. Lalu mendekatlah kepada-NYA untuk menanyakan apa yang akan dikatakan-NYA, dan meminta kepada-NYA untuk mengajari kita berperang dan bergumul di dalam menghadapi persoalan hidup ini.

KEJADIAN 18 : 1, 5
1 Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. 5biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu."

Ketika Abraham sedang dalam perjalanannya untuk menuju tanah Kanaan, ALLAH menjumpainya. Kondisi pada saat itu Abraham sedang duduk dekat pintu kemahnya dan sedang panas terik. Panas terik menggambarkan tantangan hidup yang saat itu sedang dihadapi oleh Abraham. Tantangan berat yang sedang dihadapinya adalah ia tidak memiliki keturunan. TUHAN mendatangi Abraham bukan sebagai Panglima Balatentara ALLAH, melainkan sebagai traveler. Tindakan yang dilakukan Abraham adalah ia meminta agar TUHAN yang mengambil rupa sebagai traveler itu untuk bersedia memenuhi permintaannya, yakni agar mau makan dan setelah itu barulah melanjutkan perjalanannya kembali. Dari hal ini Abraham belajar bahwa jika TUHAN berada di depannya, maka ia yakin bahwa di dalam perjalanan hidupnya Abraham tidak akan tersesat. Di samping itu, ketika TUHAN menjumpai Abraham, ia sedang duduk seorang diri. Itu berarti waktu pribadi bersama-sama dengan ALLAH sangatlah penting.

Dengan demikian kita juga harus mau menyediakan waktu secara pribadi untuk bersama-sama dengan TUHAN. Dalam waktu yang pribadi itu, kita tidak mau diganggu atau terganggu dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Waktu secara pribadi dengan TUHAN menjadi sesuatu yang sangat penting jika kita ingin berjumpa dengan DIA, sebab hal ini sudah dibuktikan baik oleh Abraham, Yakub maupun Yosua.

Jika kita tidak menyiapkan waktu sendirian (secara pribadi) dengan TUHAN, jangan pernah berharap untuk mendapatkan jawaban, apalagi jalan keluar dari segala persoalan yang sedang kita hadapi. Selain itu satu hal penting yang harus kita ingat adalah TUHAN tidak akan pernah menolak undangan kita. Manakala kita benar-benar menyiapkan waktu secara pribadi untuk TUHAN, IA pasti akan datang dan memenuhi undangan kita. Buktinya ketika Abraham meminta agar TUHAN menunggu beberapa waktu hingga makanan dihidangkan, IA mau melakukannya.

Memiliki waktu secara pribadi dengan TUHAN akan memampukan kita untuk mengungkapkan segala persoalan kita yang tidak mungkin diceritakan kepada orang lain, termasuk kepada orang terdekat sekalipun. Bukan berarti suami atau istri harus menyembunyikan segala persoalannya dari pasangan. Tetapi maksudnya adalah kadang kala kita menghadapi suatu masalah yang sangat sukar dan tidak mungkin diutarakan kepada istri atau suami; masalah tersebut hanya dapat diungkapkan kepada TUHAN di dalam doa dan di dalam waktu khusus yang kita berikan kepada ALLAH secara pribadi.

Contoh: misalnya sang istri tidak tahu menahu mengenai bisnis, sementara sang suami sedang mengalami kegoncangan di dalam bisnisnya tersebut. Jika istri mendengar cerita mengenai masalah yang dihadapi suaminya, maka sang istri akan menjadi panik dan membuat sang suami semakin mengalami masalah yang lebih berat. Tetapi dengan datang kepada TUHAN dan memberikan waktu secara pribadi bagi TUHAN, maka pertolongan akan kita peroleh. Bahkan dengan mata yang tertuju hanya kepada-NYA, maka IA akan mengajari kita sesuai dengan apa yang sedang kita hadapi saat ini.

YOSUA 5 : 15
15Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian.

Setelah mengarahkan pandangan tetap tertuju kepada ALLAH dan memperhatikan posisi kita (apakah berada di pihak ALLAH atau justru sedang menjadi musuh-NYA?), kita juga harus bertanya kepada ALLAH tentang apa yang harus kita perbuat selanjutnya di dalam menghadapi peperangan yang sedang dihadapi itu. Dengan demikian kita akan memperoleh petunjuk dari TUHAN seperti apa yang dikatakan oleh Panglima Balatentera ALLAH kepada Yosua.

Yang pertama, "Tanggalkanlah kasutmu…" Dalam arti kata, kita harus meninggalkan jalan hidup (sandal) yang lama dan menguduskan diri dari segala sesuatu yang dapat mencemari hidup ini. Selain itu kita juga diminta meninggalkan kekuatan pikiran kita.Itu sebabnya dalam peristiwa Yakub yang bergulat dengan ALLAH, pangkal pahanya terpelecok. Tujuannya adalah agar Yakub tidak mengandalkan kekuatannya sendiri dan mulai mengandalkan TUHAN. Berjalan bersama TUHAN berarti kita harus menguduskan pikiran ini dan jangan menggunakan pola pikir yang lama.

Kedua, melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh TUHAN. Jika TUHAN memerintahkan kepada kita untuk menanggalkan kasut, maka hal itu harus kita lakukan dengan segera. Sebab dengan jalan demikian kita akan menerima petunjuk TUHAN yang berikutnya. Seperti pengalaman Musa, ketika ia melihat semak berduri yang terbakar dan ketika ia mendekatinya ada suara yang mengatakan hal yang sama, yakni "tanggalkanlah kasutmu". Musa melakukan seperti apa yang diucapkan TUHAN, maka ia memperoleh visi dari ALLAH.

YOSUA 6 : 2
2Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, AKU serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.

TUHAN tidak menutupi fakta bahwa di tanah Kanaan yang akan Yosua perangi terdapat raja dan terdapat pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Artinya, masalah yang dihadapi memang bukanlah masalah yang ringan. Tetapi dengan mengikuti apa yang dikatakan TUHAN, maka IA memberikan jaminan bahwa kemenangan akan kita peroleh.

TUHAN tidak pernah mengajar umat-NYA untuk lari dari persoalan yang ada di hadapannya. TUHAN juga tidak mengambil alih peperangan tersebut. Yang benar adalah TUHAN mengajari kita untuk berperang dengan suatu kepastian bahwa kemenangan pasti menjadi milik kita. Jadi kita harus mau berperang (menghadapi masalah), tetapi kita juga harus ingat bahwa dalam peperangan itu kita tidak sendirian, sebab TUHAN memberikan kemenangan bagi kita. Kunci untuk memperoleh itu semua adalah awali hidup kita dengan memberikan waktu secara pribadi dengan TUHAN dan memandang YESUS senantiasa.

Mengapa kita harus menanggalkan pikiran kita yang lama? Sebab pikiran kita dengan pikiran TUHAN sangat berbeda. Strategi perang kita dengan TUHAN berbeda. Jika kita menggunakan pikiran ALLAH tapi juga berusaha memadukannya dengan pikiran kita, maka keduanya tidak akan pernah dapat berjalan bersama.

YOSUA 6 : 3 - 5
3Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, 4dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. 5Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan."

Alasan mengapa kita harus menanggalkan kasut atau pikiran yang lama karena cara yang dipakai TUHAN dalam berperang berbeda dengan cara yang dipikirkan oleh manusia. Di samping itu, seorang prajurit harus tunduk kepada panglima yang menjadi pemimpinnya. Dan saat itu yang menjadi pemimpin bagi bangsa Israel adalah Panglima Balatentara TUHAN. Oleh sebab itu cara yang digunakan oleh sang Panglima untuk meraih kemenangan haruslah dituruti dengan tepat. Instruksi yang diberikan saat itu adalah seluruh prajurit Israel harus mengelilingi kota Yerikho sekali saja. Dan hal itu harus dilakukan selama enam hari. Coba kita bayangkan, sebagai seorang prajurit yang biasa berperang, prajurit Israel malah hanya disuruh untuk mengedari/mengelilingi kota Yerikho.

Secara akal manusia, apa yang diperintahkan itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan pastinya merupakan sesuatu yang sulit untuk dituruti. Sebab yang harus melakukan hal tersebut adalah para prajurit yang biasanya berperang. Karena itu untuk melakukan hal ini harus menanggalkan pola pikir yang lama. Namun dari perintah yang diberikan TUHAN dapat kita pelajari bahwa cara bertempur yang diberikan oleh TUHAN bukanlah suatu pertempuran yang sukar. Sebab kunci bertempur bersama-sama dengan TUHAN adalah ketaatan. Sekeras apa pun usaha kita dalam peperangan, jika tidak disertai dengan ketaatan kepada Panglima kita dan tekun, maka kerja keras kita itu tidak akan menghasilkan apa-apa.

Metode yang TUHAN pakai untuk merobohkan tembok Yerikho: pertama, para prajurit harus mengelilingi tembok kota tersebut. Kemudian para imam serta Tabut Perjanjian ALLAH juga ikut didalam barisan tersebut, sedangkan ada para imam yang berdiri di depan Tabut meniup sangkakala dari tanduk domba. Jika sangkakala tersebut ditiup dengan panjang maka seluruh rakyat Israel harus bersorak sorai. Secara pikiran manusia hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi sekali lagi untuk memperoleh kemenangan diperlukan ketaatan. Dapat dibayangkan ketika mereka mengelilingi tembok Yerikho sebanyak satu kali sehari selama enam hari tetapi mereka belum melihat tanda-tanda akan runtuhnya tembok tersebut, akan ada banyak pertanyaan dalam hati mereka. Tetapi karena ketaatan terhadap Firman TUHAN, mereka melakukannya persis seperti apa yang dikatakan oleh TUHAN.

Selain itu pelajaran penting yang lainnya adalah ketika bunyi sangkakala ditiup panjang, maka mereka harus bersorak sorai, padahal saat itu tembok Yerikho masih tetap berdiri tegak. Biasanya orang akan bersorak sorai ketika kemenangan telah diraih. Tetapi TUHAN malah memberikan perintah bahwa justru sebelum tembok Yerikho runtuh, mereka harus bersorak terlebih dahulu. Dan sesudah itu barulah tembok Yerikho benar-benar runtuh.

Melalui hal ini TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur terlebih dahulu kepada ALLAH sekalipun persoalan yang sedang kita hadapi belum terselesaikan. Inilah prinsip yang harus ada di dalam kehidupan orang Kristen. Jika kita baru dapat bersyukur setelah memperoleh kemenangan, apa bedanya dengan orang yang tidak mengenal TUHAN? Sebab mereka pun pasti akan bersorak setelah memperoleh apa yang mereka inginkan. Jadi metode peperangan yang digunakan oleh TUHAN sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh orang dunia. Tetapi TUHAN adalah ahli berperang, sebab IA tidak pernah gagal dalam berperang. Itu sebabnya IA datang menemui Yosua sebagai ahli perang, namun tetap membutuhkan ketaatan dan ketekunan dari Yosua.

YOHANES 21 : 4 - 6
4Ketika hari mulai siang, YESUS berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah YESUS. 5 Kata YESUS kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." 6Maka kata YESUS kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.

Ada persoalan apa pun, termasuk dalam pekerjaan, TUHAN hadir tepat waktu dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Ketika murid-murid menghadapi masalah saat mereka tidak mendapatkan ikan sama sekali, YESUS datang dan mengajarkan mereka untuk mendapatkan banyak ikan. Jadi jika kita bersama dengan TUHAN, apa pun yang sedang kita alami dan di mana pun kita berada, IA akan datang menemui kita secara pribadi dan TUHAN akan memberikan solusi bagi kita. Bukanlah sesuatu yang keliru jika kita misalnya berlangganan SMS ayat dari Firman TUHAN, tetapi jangan hanya mengandalkan SMS saja. Tetapi lebih dari itu, yang harus kita andalkan adalah miliki waktu secara pribadi bersama dengan TUHAN, dan Inilah yang paling penting. Jika kita memiliki waktu secara pribadi dengan TUHAN, segala sesuatu yang sepertinya terlambat dan mustahil untuk dilakukan, dapat DIA lakukan bagi kita.

Contohnya saja apa yang diperintahkan YESUS kepada murid-murid untuk menebarkan jala mereka. Waktu itu hari sudah siang, padahal biasanya nelayan akan menjala ikan pada malam hari. Tetapi jika TUHAN yang datang sebagai Guru yang mengajari kita untuk melakukan sesuatu guna mengatasi masalah yang ada, maka DIA memberikan solusi yang tepat. Tetapi kita harus selalu ingat bahwa seringkali apa yang diajarkan oleh TUHAN bertolak belakang dengan apa yang kita pikirkan. Selain menebar jala di siang hari yang berlawanan dengan waktu normal menangkap ikan, murid-murid TUHAN mendapat instruksi untuk menebarkan jala di sebelah kanan lambung perahu mereka. Padahal biasanya para nelayan menebarkan jalanya di sebelah kiri perahu. Itu sebabnya untuk memperoleh keberhasilan di dalam hidup ini sangat diperlukan kerelaan menanggalkan pola pikir kita yang lama.

YOSUA 6 : 20
20Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.

Metode yang digunakan dunia adalah mendapatkan apa yang diinginkan terlebih dahulu barulah bersorak, tetapi sebagai anak-anak ALLAH kita justru harus berterimakasih terlebih dahulu sekalipun kemenangan belum kita peroleh. Akibat yang dihasilkan dari tindakan ini adalah tembok Yerikho benar-benar diruntuhkan oleh TUHAN. Jadi metode yang dipakai oleh ALLAH untuk berperang tidak pernah gagal. Terbukti bahwa metode TUHAN tidak membutuhkan kekuatan kita, melainkan membutuhkan ketaatan dan ketekunan kita dalam melaksanakan metode-NYA.

Setelah tembok Yerikho runtuh, tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh orang Israel adalah mereka majudan merebut kota yang telah diruntuhkan itu. Jadi TUHAN tidak mengambil alih peperangan yang sedang kita hadapi, tetapi IA mengajari kita untuk berperang dan setelah itu kita sendiri harus mau maju menghadapi dan memerangi musuh yang ada di hadapan kita.Melihat metode TUHAN ini, kita ambil suatu kesimpulan bahwa bukan kerja keras yang diposisikan di depan, melainkan ketaatan kepada ALLAH. Setelah tembok diruntuhkan, barulah kita bekerja keras untuk meraih kemenangan yang telah diberikan TUHAN bagi kita. Amin.