Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Ruang Atas
Ruang Atas
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 3 Minggu, 6 Februari 2011
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 21/08/11
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Sesuai namanya, ruang atas adalah sebuah ruangan yang terletak di bagian atas rumah orang Israel, di mana ruangan ini memiliki sebuah jendela yang menghadap ke Yerusalem. Ruang atas ini penting keberadaannya, merupakan ruangan yang digunakan oleh orang Israel untuk berdoa kepada TUHAN.

KISAH RASUL 9 : 36 - 37
36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita-dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.

Yope adalah sebuah kota yang terletak dekat dengan pantai, dan nama modernnya disebut Yafo. Kota yang terletak di tepi pantai Mediteranian ini memiliki panorama alam yang cukup indah, sesuai dengan arti Yope yaitu "beautiful". Di kota itu tinggal seorang murid yang bernama Tabita, dalam bahasa Yunaninya adalah Dorkas. Tabita atau Dorkas berarti "rusa betina yang cantik". Pada zaman itu, jamak bagi orang Israel atau Yahudi untuk memberikan nama dengan mengkaitkannya dengan seekor binatang. Hal ini dilakukan untuk menggambarkan karakter orang yang menyandang nama tersebut. Rusa betina menggambarkan keindahan kaki dan matanya.

Sekalipun Dorkas atau Tabita tinggal di sebuah kota yang indah, memiliki nama yang sesuai dengan dirinya, dan telah menjadi murid YESUS, ternyata Tabita masih mengalami masalah. Dorkas jatuh sakit, bahkan akhirnya meninggal. Setelah jenazahnya dimandikan, lalu dibaringkan di ruang atas.

Mengapa jenazah Dorkas dibaringkan di ruang atas? Karena orang-orang hendak mengadakan ibadah duka. Tetapi doa mereka tidak membawa perubahan apa-apa, kendati jenazah Dorkas dibaringkan di ruang atas. Mengapa demikian? Karena doa mereka hanyalah sebuah kebiasaan atau adat istiadat saja. Ruang doa dalam hidup kita janganlah hanya merupakan sebuah kebiasaan atau adat istiadat belaka. Isi ruang doa kita haruslah sesuatu yang berbeda dengan dunia ini.

KISAH PARA RASUL 9 : 38 - 39
38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

Murid-murid lain yang mengenal Dorkas mengetahui bahwa Petrus berada di Yope maka mereka mengutus dua orang untuk meminta agar Petrus datang ke Yope. Petrus adalah gambaran dari iman. Petrus belum berada di ruang atas menggambarkan belum adanya iman dalam berdoa. Doa tanpa iman tidak membuahkan apa-apa, yang ada hanyalah jenazah Dorkas dan orang-orang yang menangis.

Banyak orang Kristen yang protes kepada TUHAN ketika menghadapi masalah yang tidak dapat teratasi, padahal mereka sudah berdoa kepada TUHAN. Persoalannya, doa mereka tidak disertai iman, hanya diisi oleh tangisan dan keputusasaan. Akibatnya, doa itu tidak mengubah keadaan.

KISAH PARA RASUL 9 : 40 - 42
40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada TUHAN.

Memandikan mayat Dorkas merupakan hal pertama yang dilakukan para perempuan yang datang ke rumah Dorkas. Padahal, yang pertama kali dilakukan seharusnya adalah bergegas memanggil Petrus terlebih dahulu. Hal ini menggambarkan kecenderungan orang Kristen untuk mengutamakan adat istiadat dibandingkan berdoa dengan iman. Jika adat istiadat dijadikan prioritas pertama dibandingkan dengan iman, TUHAN tidak akan mau menjawab doa kita.

Atas alasan inilah Petrus menyuruh perempuan-perempuan yang memandikan mayat Dorkas dan yang menangisinya untuk keluar ruang atas tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa adat istiadat tidak boleh mendahului iman. Namun, bukan berarti orang Kristen tidak boleh melakukan adat istiadat atau tidak boleh memiliki aturan. Yang tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen adalah jangan sampai adat istiadat menggeser iman kita.

Contoh kecil adat istiadat yang tidak menggeser iman Kristen adalah memberikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek "Gong Xi Fat Cai". Atau mungkin ada adat istiadat tertentu yang diungkapkan dengan cara mengirim makanan kepada orang lain. Tetapi jangan sampai beranggapan bahwa dengan mengirim makanan, doa kita akan dijawab. Sebab iman tidak dapat dicampur dengan tradisi. Sedangkan contoh yang tidak sejalan dengan Firman TUHAN adalah menilai calon pasangan anak kita berdasarkan shio-nya, jika memiliki shio tertentu akan ciong. Yang terpenting adalah calon pasangan anak kita itu seorang yang beriman kepada TUHAN.

Suatu ketika saya diminta untuk memberkati sebuah rumah salah seorang jemaat. Ketika si pemilik rumah mengutarakan maksudnya, ia berujar: "Pak, saya minta rumah saya didoakan. Tetapi tidak boleh tanggal tiga belas, sebab itu angka sial. Lalu datangnya pukul dua belas siang dan untuk masuk ke rumah harus melalui pintu belakang." Mendengar hal ini, saya tidak mau melayaninya, sebab hal seperti ini sudah tidak sesuai dengan Firman TUHAN. Apabila masih mau mengikuti adat istiadat yang bertentangan dengan iman, untuk apa meminta hamba TUHAN mendoakan rumahnya? Jika kita ingin mendapatkan pertolongan dari TUHAN, jangan pernah mencampuradukkan iman dengan tradisi.

Setelah para perempuan keluar dari ruang atas, barulah Petrus berdoa. Hal ini menggambarkan, ketika kita mampu mengeluarkan adat istiadat dari ruang doa kita, maka iman baru dapat bekerja atau melakukan sesuatu perubahan di dalam hidup ini.

Dalam mendoakan Dorkas, Petrus berlutut dengan membelakangi mayat Dorkas. Hal ini kita ketahui dari tindakan Petrus yang setelah berdoa berpaling kepada mayat tersebut lalu berkata "Tabita, bangkitlah!" Sikap doa Petrus ini memiliki arti bahwa ketika kita berdoa, jangan pandangan kita terarah atau memandang permasalahan. Banyak orang Kristen yang berdoa, tapi pandangannya tidak tertuju kepada ALLAH melainkan pada persoalan.

Penyebab lain dari doa kita yang tidak dijawab TUHAN adalah kita tidak benar-benar mengharapkan jawaban TUHAN. Sehingga ketika doa dijawab, kita malah kaget dan heran melihat jawaban doa tersebut. Coba kita bayangkan bila setelah Petrus berdoa dan berkata: "Tabita, bangkitlah!", dan Petrus heran saat Tabita benar-benar bangkit dari kematian. Berdoa namun tak benar-benar menginginkan jawaban sebenarnya merupakan hal yang tak masuk akal. Namun, hal ini terjadi pada banyak orang Kristen.

Orang yang benar-benar beriman tidak akan kaget ataupun heran ketika doanya dijawab. Karena dengan iman itulah ia memiliki keyakinan dan pengharapan yang pasti. Justru ia akan bertanya-tanya ketika imannya tidak menghasilkan perubahan. Tetapi hal seperti ini pasti tidak akan terjadi, sebab iman selalu menghasilkan sesuatu, persis seperti yang diharapkan orang beriman. Dengan iman, suatu keadaan yang tiada harapan dapat diubah menjadi keadaan yang penuh berkat, keadaan pahit berubah menjadi manis. Sedangkan adat istiadat, sama sekali tidak mampu melakukan apa-apa. Adat istiadat hanya mampu membuat keadaan "tampak manis" tetapi rasanya "tetap pahit".

Dengan iman, kita yang menghadapi persoalan dibangkitkan kembali, seperti Tabita yang telah bangkit dari kematian dibantu oleh Petrus untuk berdiri dengan tegak. Kebangkitan Tabita itu tersiar ke seluruh Yope dan membuat banyak orang percaya kepada TUHAN. Iman dapat membuktikan karyanya yang luar biasa itu kepada banyak orang. Dengan demikian banyak orang akan dikuatkan imannya dan menjadi percaya kepada TUHAN. Dari hal ini ada sisi lain yang dapat kita pelajari yakni, melalui persoalan dan kematian yang dialami Dorkas, kemuliaan dan kuasa ALLAH dinyatakan. Bukan hanya itu saja, kebangkitan yang dialami oleh Dorkas membuktikan bahwa iman lebih berkuasa daripada adat istiadat yang dilakukan manusia. Untuk itu ketika berdoa, singkirkanlah segala macam adat isitiadat dan logika manusia. Memang secara logika, orang yang mati seharusnya dikubur. Tetapi oleh iman, kematian menjadi kebangkitan.

Iman bukanlah sekadar kata-kata penghiburan bagi orang yang sedang mengalami kesusahan; iman mampu mencabut kesusahan. Ini adalah kesaksian dari salah seorang jemaat gereja kita. Di usia kehamilan tujuh bulan, dari pemeriksaan dokter diketahui bahwa berat bayi berada di bawah normal dan posisi bayi terbalik. Selain kedua masalah ini ada masalah lain, yakni ia mengalami kekurangan air ketuban serta fungsi ginjal bayi kurang baik. Dari hasil pemeriksaan tersebut, jemaat ini memutuskan untuk meminta second opinion" dari dokter lain. Setelah lewat satu minggu dari pemeriksaan dokter yang kedua, ditemukan bahwa sang bayi mengalami perkembangan berat badan yang membaik. Sedangkan posisi bayi masih tetap sama. Namun ditemukan sebuah kenyataan yang lebih mengejutkan, melalui USG 4D diketahui bahwa bayi yang dikandungnya ini berjenis kelamin ganda. Mengetahui kenyataan ini, jemaat yang sedang hamil ini menghadap saya dan mengutarakan permasalahannya.

Dengan iman, saya pun mendoakannya dengan singkat seperti ini: "Dalam nama TUHAN YESUS, hai janin engkau akan tumbuh sempurna. Amin." Selesai berdoa saya katakan kepada suami istri ini bahwa TUHAN sudah mengubahkan bayi yang dikandung menjadi sempurna. Dengan spontan jemaat yang sedang hamil ini berkata: "Ya... harapan kami seperti itu Pak." Lalu saya pun berkata dengan tegas bahwa iman di dalam YESUS bukan sekadar harapan, melainkan sebuah kepastian. Setelah itu saya pun menyuruhnya untuk memeriksakan diri kembali. Selang satu minggu, setelah kehamilannya diperiksakan, ternyata semua kondisi sang bayi berubah total menjadi sempurna. Berat badan dan posisi bayinya menunjukkan kondisi siap untuk lahir, fungsi ginjal sempurna dan jenis kelaminnya pun tidak ada kelainan.

1 RAJA RAJA 17 : 15 - 19
15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti Firman TUHAN yang diucapkan-NYA dengan perantaraan Elia. 17 Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi. 18 Kata perempuan itu kepada Elia: "Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi ALLAH? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?" 19 Kata Elia kepadanya: "Berikanlah anakmu itu kepadaku." Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.

Perempuan dalam ayat di atas adalah seorang janda di Sarfat yang miskin dan kelaparan (karena pada saat itu memang sedang terjadi kelaparan). Suatu hari perempuan ini dan anaknya pergi mencari ranting untuk memasak sisa tepung untuk makanan mereka. Itu merupakan bahan makanan terakhir yang mereka miliki. Dalam kondisi seperti itu Elia datang dan meminta kepada perempuan itu agar dibuatkan sebuah roti bundar yang kecil untuk Elia terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia memasak sisanya untuk dirinya dan anaknya. Perempuan itu taat. Dan karena ketaatannya, TUHAN memeliharanya dan anaknya.

Beberapa waktu kemudian, anak dari janda di Sarfat itu jatuh sakit dan mati. Ia sudah mentaati Firman TUHAN, bahkan saat itu Elia juga sedang berada di rumah janda Sarfat tersebut. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena perempuan ini salah dalam berdoa. Ketika menghadapi kesusahan, perempuan ini dalam doanya tidak menanyakan apa rencana TUHAN atas dirinya dan anaknya. Ia malah menyalahkan TUHAN dengan mengatakan: "...Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?"

Persoalan yang datang jangan kita pegang sendiri, melainkan serahkan persoalan itu kepada iman, ditunjukkan dengan perkataan Elia agar menyerahkan anak yang mati itu kepada Elia. Jika persoalan itu diserahkan kepada iman (kepada TUHAN), berarti kita sudah tidak memegang persoalan itu. Sebab selama hati dan pikiran kita tidak mau menyerahkan secara total persoalan itu, TUHAN tidak akan mau bekerja di dalam hidup kita.

Setelah ada penyerahan total maka iman mengambil alih persoalan tersebut. Tampak dalam tindakan Elia yang mengambil anak yang telah mati itu dari tangan ibunya. Tangan menggambarkan kekuatan, jadi yang memegang anak yang telah mati itu bukan lagi kekuatan atau tangan perempuan Sarfat itu. Untuk apa anak itu diambil oleh Elia? Untuk dibawa ke ruang atas, yakni ruang doa, yang menjadi kamar Elia selama dia tinggal di rumah janda Sarfat itu.

1 RAJA-RAJA 17 : 21 - 22
21 Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, ALLAH-ku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya." 22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.

Di ruang atas itu, Elia membaringkan anak laki-laki yang telah meninggal itu di atas tempat tidur dan kemudian Elia merentangkan badannya dan berbaring di atas mayat tersebut sebanyak tiga kali. Hati-hati bila ada pendeta yang mengikuti cara Elia berdoa ini. Kita harus ingat bahwa Elia melakukannya terhadap mayat (bukan orang hidup). Kedua, mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki. Jadi apabila saat ini ada hamba TUHAN yang mengikuti gaya dari doa yang Elia lakukan, apalagi terhadap lawan jenisnya, hal itu tidak benar.

Ada makna di balik cara doa Elia yang menelungkupkan tubuhnya di atas mayat anak laki-laki itu. Jika kita perhatikan, Elia menelungkupkan tubuhnya sebanyak tiga kali. Angka tiga berbicara mengenai kematian dan kebangkitan TUHAN YESUS. YESUS mati dan pada hari yang IA bangkit dan hidup selamanya. Jadi jika kita berpegang pada kematian dan kebangkitan TUHAN YESUS, maka kita akan mampu menaikkan doa yang benar, yang menghasilkan jawaban yang penuh kemenangan dari ALLAH. Doa Elia itu membawa kehidupan kembali bagi anak laki-laki yang telah meninggal itu.

1 RAJA-RAJA 17 : 23 - 24
23 Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: "Ini anakmu, ia sudah hidup!" 24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: "Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi ALLAH dan Firman TUHAN yang kau ucapkan itu adalah benar."

Setelah iman bertindak, anak laki-laki yang telah hidup kembali itu dibawa oleh Elia dan diserahkan kembali kepada ibunya. Ketika kita menyerahkan segala masalah kita kepada iman dan berdoa dengan cara yang benar, segala persoalan yang kita hadapi itu terselesaikan dengan sempurna di dalam TUHAN.

Mengapa janda di Sarfat ini diijinkan TUHAN menghadapi masalah, padahal ia sudah memberikan tumpangan kepada Elia di rumahnya? Pertama, agar perempuan Sarfat ini belajar sesuatu yang sangat berharga dari TUHAN, yakni ketika mengalami masalah jangan sampai mengomel atau menyalahkan TUHAN. Kedua, agar perempuan Sarfat ini tahu bahwa Firman TUHAN tidak pernah berbohong.

Ada sebuah kesaksian yang kelihatan kecil, namun sangat berharga. Seorang jemaat gereja kita hendak mengontrak sebuah rumah, tetapi uang untuk biaya kontrak mengalami kekurangan sebesar lima juta rupiah. Mungkin sebagian besar dari kita menganggap uang sejumlah itu tidaklah besar. Tetapi untuk anak TUHAN ini, jumlah itu sangat besar. Tanpa uang tersebut hidupnya akan terkatung-katung karena tidak memiliki tempat tinggal. Di tengah persoalannya, dia berdoa dengan sangat yakin bahwa uang yang dibutuhkannya pasti akan dicukupkan TUHAN. Caranya seperti apa, ia sendiri tidak tahu.

Mendekati hari jatuh tempo baginya untuk melunasi pembayaran kontrakan, seorang teman lamanya (sewaktu ia masih di sekolah menengah) yang berada di Amerika, hari itu menghubunginya melalui sebuah pesan singkat. Padahal sejak berpisah dari sekolah menengah, temannya itu tidak pernah menghubungi dia. Dalam pesan singkat itu temannya berkata, "Saya ingat 10 tahun lalu sewaktu mau berangkat ke Amerika saya meminjam uangmu sebesar lima juta rupiah. Sekarang saya mau mengembalikannya." Hari itu juga uang sebesar lima juta rupiah ditransfer kepada anak TUHAN ini. Ia dapat melunasi uang kontrakan yang dibutuhkan. Mengapa hal ini dapat terjadi? Semuanya karena iman.

Terbukti sekarang bahwa dengan iman kita mampu mencapai sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh pikiran manusia. Bahkan dengan iman kita akan menerima pertolongan tepat pada waktunya sesuai dengan rencana TUHAN atas hidup kita.

MARKUS 14 : 15 - 17
15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!" 16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan YESUS kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah. 17 Setelah hari malam, datanglah YESUS bersama-sama dengan kedua belas murid itu.

Ruang doa atau upper room biasanya berukuran kecil. Sebab bagian atas rumah biasanya lebih kecil daripada lantai dasar. Hal ini menggambarkan jarang ada ruang doa yang luas di dalam hidup kita. Contohnya saja, berapa banyak atau berapa lama waktu yang kita gunakan untuk berdoa dalam satu hari? Tetapi dalam ayat di atas dikatakan bahwa ada orang yang memiliki ruang doa yang besar yang lengkap dan siap digunakan. Apabila diaplikasikan pada masa sekarang, ruang doa yang besar, lengkap dan tersedia ini berbicara tentang gereja TUHAN. Lengkap dan tersedia juga menunjukkan keadaan di dalam gereja yang terdapat pujian kepada ALLAH, Firman TUHAN dan kesaksian. Gereja yang seperti inilah akan terlihat nyata karya imannya. Dan YESUS sendiri yang menjadi sumber iman di dalam gereja. Amin.