Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Ahasyweros dan Wasti
Ahasyweros dan Wasti
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 1 Minggu, 25 April 2010
Disadur oleh Sani | Tanggal Terbit : Minggu, 22/08/10
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Ahasyweros dan Wasti, pasangan yang sanggup membuat siapa saja berdecak kagum, bahkan iri kepada mereka. Raja yang berkuasa atas wilayah dari India sampai Etiopia, dan ratu dengan kecantikannya yang memukau. Namun, kebiasaan dan karakter negatif sang raja kafir tersebut telah menorehkan noda kelabu dalam sejarah kerajaan Persia dan Media.

ESTER 1 : 10 - 11
10 Pada hari yang ketujuh, ketika raja riang gembira hatinya karena minum anggur, bertitahlah baginda kepada Mehuman, Bizta, Harbona, Bigta, Abagta, Zetar dan Karkas, yakni ketujuh sida-sida yang bertugas di hadapan raja Ahasyweros,11 supaya mereka membawa Wasti, sang ratu, dengan memakai mahkota kerajaan, menghadap raja untuk memperlihatkan kecantikannya kiepada sekalian rakyat dan para pembesar-pembesar, karena sang ratu sangat elok rupanya.

Dari ayat di atas kita pelajari, Ahasyweros --gambaran manusia dunia atau orang kafir-- mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk. Yang pertama, hidup dalam kemabukan. Sebagai anak TUHAN, tentu kita boleh memiliki harta dan kekuasaan. Bahkan saya menghimbau, supaya kita berjuang meraih prestasi tertinggi dalam setiap profesi kita. Demikian juga dengan nafsu makan dan nafsu seks, itu adalah berkat dari TUHAN. Namun, bila kita mabuk oleh harta, kekuasaan dan hawa nafsu, itu yang tidak diperkenankan TUHAN. Harta, kekuasaan, dan nafsu itu tidaklah jahat, jika kita mampu mengendalikannya. Oleh sebab itu, hendaklah berhati-hati supaya kita tidak diperbudak oleh hal-hal tersebut.

Ternyata di situasi ini, raja telah diperbudak oleh hal-hal tersebut. Di dalam suasana pesta, raja mabuk anggur. Dan dalam kemabukannya, raja melakukan tindakan yang kurang tepat: menyuruh ketujuh sida-sida untuk menjemput ratu Wasti. Ini adalah bukti perbuatan orang dunia yang tidak menunjukkan kasih terhadap istrinya, seharusnya suamilah yang menjemput sang istri. Apalagi kalau kita melihat motivasi raja dalam menjemput bukan untuk diajak dinner berdua, namun hanya untuk dipamerkan kecantikannya kepada rakyat dan para pembesar. Memiliki budaya pamer merupakan kebiasaan buruk lainnya yang dimiliki Ahasyweros.

Dalam hal ini kita juga dapat melihat bahwa pernikahan raja sebatas mendapat kecantikan fisik yang dimanfaatkan untuk mengejar status. Hal ini sangat bertolak belakang dengan cara hidup anak TUHAN. Ratu Wasti dipanggil menghadap dengan memakai mahkota (lambang status), memiliki makna orang dunia mampu memberi status terhormat, namun mampukah dia memberikan kebahagiaan dan mengasihi pasangannya? Kalau orang Kristen masih punya budaya pamer tanpa punya hati penuh kasih, berarti dia sama dengan orang kafir yang diperbudak oleh hawa nafsu kedagingan. TUHAN YESUS mengibaratkan orang Kristen seperti ini dengan ahli Taurat dan orang Farisi.

MATIUS 23 : 27
27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Ahli Taurat dan orang Farisi punya kebiasaan berdoa di jalan yang banyak dilalui orang, selalu memperkatakan Taurat di mana-mana; mereka melakukan semua itu hanya untuk pamer dan dipuji orang. Namun, di dalam hatinya menyimpan kebusukan, yaitu tidak pernah mau menerima YESUS, bahkan menyalibkan YESUS. Sama halnya dengan ketidakharmonisan yang ditutupi dengan kepura-puraan. Bila saatnya terbongkar, pasti tidak mengenakkan dan sangat memalukan. Kita akan belajar bahwa kepura-puraan tidak akan sanggup menutupi ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

ESTER 1 : 12
12 Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya.

Ternyata, sang ratu berani memberontak terhadap sang raja. Ratu Wasti akhirnya tidak tahan juga dengan kepura-puraan itu. Sebagai wanita, siapa pun pasti bangga menjadi pendamping raja yang sangat berkuasa, dan tentu dalam kehidupannya tidaklah kekurangan segala sesuatu. Namun, kita belajar bahwa kekuasaan, harta, dan kekayaan tidak mampu membendung kerusakan rumah tangga. Untuk itu, saya mengadakan retret keluarga sebagai salah satu sarana meningkatkan kualitas kehidupan keluarga Kristen.

EFESUS 5 : 33
33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Yang menjadi kendala untuk mewujudkan saling mengasihi dan menghormati dalam rumah tangga, tak lain karena gengsi kita yang tidak mau saling mendahului dalam mengasihi dan menghormati. Kalau kita mau diperhatikan, seharusnya terlebih dahulu kita memberi perhatian; demikian pula sebaliknya. Siapa yang telah mengerti akan pentingnya hal ini, dialah yang lebih dahulu rela berkorban untuk memulainya. Ingat, meskipun posisi kita "bermahkota" (punya harta dan kekuasaan), tetapi tanpa kasih dan tidak mau menghormati pasangan kita, kita sama kafirnya dengan Ahasyweros. Meskipun "berjubah putih" (merasa punya kerohanian tinggi), tetapi tanpa kasih, kita sama dengan orang Farisi dan ahli Taurat yang diumpamakan YESUS seperti kuburan dengan cat putih di luar, namun dalamnya penuh dengan kotoran.

Apakah ada harapan bagi Ahasyweros dan Wasti untuk hidup di dalam kasih dan saling menghormati? Tidak, karena orang kafir tidak tidak mempunyai kasih KRISTUS. Tanpa kasih, ratu Wasti tetap bersikukuh dalam pemberontakannya. Meskipun hanya wanita lemah, tanpa pasukan dan kekuasaan, dan dengan resiko yang besar, dia tetap berani menolak ketetapan Raja. Tanpa kasih, raja Ahasyweros juga tetap tinggal dalam kemarahannya. Keduanya sama-sama tidak mau saling instrospeksi. Dari kegeraman dan murka raja Ahasyweros, kita menemukan satu lagi kebiasaan dari orang kafir: jika tidak dituruti keinginannya, langsung marah tanpa melihat di mana letak kesalahannya.

AMSAL 19 : 19
19 Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.

Orang yang temperamennya panas akan menerima kerugian. Marah itu manusiawi. Namun, kita harus mengendalikan amarah itu, dan menimbang apakah kita memang pantas untuk marah. YESUS marah saat Bait ALLAH dijadikan tempat berdagang. YESUS memang pantas marah atas hal itu. Sebaliknya, Ahasyweros tidak pantas untuk marah saat Wasti menolak perintahnya, sebab tindakannya itu tidak menghargai istrinya. Tindakan menang sendiri seperti ini mendatangkan kehancuran bagi rumah tangganya.

ESTER 1 : 19, 21
19 Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan suatu titah kerajaan dari hadapan baginda dan dituliskan di dalam undang-undang Persia dan Media, sehingga tidak dapat dicabut kembali, bahwa Wasti dilarang menghadap raja Ahasyweros, dan bahwa raja akan mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang lain yang lebih baik dari padanya.21 Usul itu dipandang baik oleh raja serta para pembesar, jadi bertindaklah raja sesuai dengan usul Memukan itu.

Orang yang sedang mabuk, biasanya mudah sekali marah. Penyebabnya, pikirannya tidak terkendali, atau pikirannya dikendalikan hawa nafsunya atau dikendalikan orang lain. Kesalahan raja: bertanya kepada pihak yang tidak tepat, yaitu penasehat dunia, dan menerima nasehat pun dalam kondisi tidak tepat, kondisi mabuk dan marah.

Pelajaran pertama yang bisa kita ambil, saat menghadapi berbagai kemelut baik ekonomi, rumah tangga atau apa pun, jangan pernah bertanya kepada orang dunia. Tujuh pembesar yang dimintai pendapat oleh raja atas penolakan Wasti ini. Angka tujuh mempunyai arti sempurna. Penasehat yang tidak rohani, sesempurna apa pun dia, akan menyesatkan dan tidak memberi solusi.

Pelajaran kedua, janganlah menerima nasehat dan mengambil tindakan dalam kondisi mabuk atau marah. Mengapa? Karena orang mabuk atau marah tidak mampu menerima nasehat yang benar, dan dia tidak mampu menimbang apakah nasehat yang diterimanya ini adalah nasehat yang baik atau justru menjerumuskan.

YESAYA 28 : 7
7 Tetapi orang-orang disini pun pening karena anggur dan pusing karena arak. Baik imam maupun nabi pening karena arak, kacau oleh anggur; mereka pusing oleh arak, pening pada waktu melihat penglihatan, goyang pada waktu memberi keputusan.

Ternyata bukan orang kafir saja yang mabuk, melainkan pendeta dan jemaat juga pusing karena anggur hawa nafsu, yang mengakibatkan pening pada waktu melihat penglihatan dan goyang di dalam mengambil keputusan. Sebenarnya TUHAN tidak pernah berhenti memberikan visi-NYA, dan kita dapat menerima visi itu jika kita mampu mengendalikan hawa nafsu dan dalam keadaan tidak mabuk. Saya sering mencanangkan jemaat untuk berpuasa karena ini penyangkalan diri yang paling mudah. Kita tidak bisa membuang nafsu makan, tetapi kita bisa menguasai dengan membatasinya. Kalau nafsu makan saja tidak bisa kita kendalikan, bagaimana dapat mengendalian nafsu yang lain?

ESTER 2 : 1
1 Sesudah perstiwa-peristiwa ini, setelah kepanasan murka raja Ahasyweros surut, terkenanglah baginda kepada Wasti dan yang dilakukannya, dan kepada apa yang diputuskan atasnya.

Inilah bahaya besar jika mengambil keputusan di saat mabuk dan marah, yaitu menuai suatu penyesalan, kerugian bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Wasti sudah dipecat sebagai ratu. Dan itu adalah keputusan permanen: ratu Wasti tidak mungkin kembali lagi.

Namun jika kita sudah terlanjur berada dalam situasi seperti ini, janganlah kita dikuasai kenangan masa lalu yang tidak mungkin kembali. Manusia sering tidak bisa maju karena melihat ke belakang, berlarut-larut di dalam penyesalan. Hal ini juga dialami oleh bapak leluhur kita, yaitu bangsa Israel.

BILANGAN 14 : 3
3 "Mengapakah TUHAN membawa kami ke padang gurun ini supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir."

Bangsa Israel yang dikuasai nafsu bersungut-sungut atau ngomel, menganggap masa lalu lebih baik daripada masa kini. Mereka tidak percaya akan visi yang telah dianugerahkan TUHAN. Visi TUHAN sangatlah jelas, yaitu TUHAN membawa Israel keluar dari Mesir adalah semata-mata untuk menerima kemenangan dan kelimpahan. Kalau kita belum menerimanya, yang salah bukan TUHAN. Namun, pola hidup kita yang masih dikuasai oleh hawa nafsu dan kemabukan. Karena itu, bagi kita yang ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang berkualitas, kuasailah semua hawa nafsu, tinggalkan kemabukan, dan carilah nasehat Firman TUHAN, sehingga dalam mengambil setiap keputusan kita dalam kondisi sadar penuh dan dikuasai oleh ROH KUDUS. Amin.