Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Mengalahkan Musuh
Mengalahkan Musuh
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. III Minggu, 1 Februari 2009
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 23/08/09

Mengalahkan musuh memang perlu perjuangan. Tapi di dalam TUHAN tidak ada yang sulit. Jika kita tahu kiat-kiatnya, trofi kemenangan pasti jatuh di tangan kita.

YOSUA 1 : 5
5 Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti AKU menyertai Musa, demikianlah AKU akan menyertai engkau; AKU tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

Dahulu Musa diutus oleh TUHAN untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir yang menggambarkan keluar dari perbudakan dosa dengan tujuan masuk ke Sorga. Sedangkan Yosua, pengganti Musa, mengemban misi untuk membawa seluruh umat Israel masuk ke tanah Kanaan yang dijanjikan TUHAN. Kanaan merupakan gambaran tentang hidup berkemenangan dan berkat yang berkelimpahan. Berarti berkat yang kita teirma adalah berkat rohani di dalam Sorga, dan juga berkat melimpah di dalam dunia ini, yang kita sebut juga sebagai Kanaan.

Kanaan yang akan dimasuki oleh Yosua adalah suatu negeri dengan penduduk asli yang menguasai tanah tersebut. Yosua bertugas untuk membawa umat Israel masuk ke tanah Kanaan dan memusnahkan orang-orang yang menguasai tanah Kanaan. Jadi untuk masuk ke tanah Kanaan dibutuhkan perjuangan. Itu sebabnya TUHAN berkata, bahwa tidak akan ada satu orang pun yang dapat bertahan melawan Yosua. Sedangkan untuk keluar dari perbudakanMesir, hanya cukup berdiam diri dan menantikan TUHAN yang bertindak untuk membawa kita keluar dari Mesir. Jadi sangat berbeda kondisinya antara keluar dari perhambaan Mesir dengan memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan TUHAN.

Kepada Yosua, TUHAN menjanjikan suatu kemenangan yang mutlak; sudah dipastikan Yosua tidak akan mengalami kekalahan. Posisi seperti ini merupakan suatu posisi yang sangat nyaman. Oleh sebab itu, di dalam kehidupan kekristenan tidak memandang segi usia untuk mencapai kemenangan yang dijanjikan TUHAN. Baik tua maupun muda tetap memiliki peluang yang sama, bahkan seumur hidup kita tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk mendapatkan berkat. Jika hingga saat ini kita belum hidup di dalam berkat yang berkelimpahan, itu bukanlah faktor usia dan bukan salah TUHAN, melainkan karena kesalahan kita yang belum mau maju berperang untuk menduduki tanah Kanaan.

Berapa banyak musuh yang harus dihadapi? Jawabannya: cukup banyak! Tetapi sekali lagi kita harus selalu mengingat jaminan yang diberikan oleh TUHAN di mana tidak akan ada seorang pun yang mampu bertahan melawan kita. Asalkan kita mau maju berperang secara benar, maka TUHAN selalu menyertai kita. Hal ini terbukti di dalam kehidupan Musa yang selalu disertai oleh TUHAN, karena Musa melaksanakan segala tugas yang diberikan TUHAN kepadanya dengan baik.

YOSUA 9 : 1 - 2
1 Ketika terdengar oleh raja-raja di sebelah barat sungai Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit dan sepanjang tepi pantai Laut Besar sampai ke seberang gunung Libanon, yakni raja-raja orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, 2 bergabunglah mereka dengan seia sekata untuk memerangi Yosua dan orang Israel.

Dalam ayat ini TUHAN memberitahukan Yosua tentang siapa saja musuh yang harus dihadapinya, yakni ada 6 orang raja. Angka enam berbicara tentang manusia, namun dapat juga berbicara tentang setan. Jadi musuh yang harus dihadapi dan yang seringkali menghambat berkat TUHAN bagi orang Kristen adalah manusia yang jahat dan kuasa si setan yang menunggangi manusia. Musuh-musuh yang akan dihadapi Yosua telah mendengar kedahsyatan penyertaan TUHAN atas Yosua dan Israel. Itu sebabnya mereka menjadi gentar karena mereka mengetahui bahwa Yosua pasti menjadi pemenang.Kegentaran itu membuat musuh-musuh yang akan dihadapi Yosua (keenam raja) bergabung menjadi satu untuk menghadapi Yosua.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa sebenarnya musuh itu lemah dan takut menghadapi Yosua. Namun mereka tidak mundur, melainkan bersatu dengan seia sekata untuk menghadapi Yosua. Tetapi banyak anak TUHAN justru melakukan suatu tindakan yang sebaliknya: kita seringkali mundur dan tidak memiliki keberanian untuk menghadapi musuh yang ada di hadapan kita. Oleh sebab itu strategi yang harus kita gunakan untuk mengatasi musuh adalah bersatu, seia sekata dengan sesama saudara seiman yang lain untuk melawan musuh.

Contoh sederhana saja kita lihat di dalam kehidupan rumah tangga. Jika ada kata sepakat antara suami-istri dan anak-anak, musuh sebesar apa pun pasti dapat kita hadapi dan kalahkan. Tetapi pada kenyataannya sangatlah sulit di dalam kehidupan anak-anak TUHAN untuk memiliki kata sepakat. Dalam perkara kecil saja, misalnya untuk menentukan jurusan di sekolah yang akan diambil oleh anaknya terkadang suami dengan istri tidak memiliki kesepakatan, ditambah lagi anaknya memiliki keinginan yang berbeda dengan orang tuanya.

Jika kondisi seperti ini terus terjadi, bagaimana mungkin kita bisa memperoleh tanah Kanaan yang dijanjikan TUHAN? Kita seharusnya ingat dan malu terhadap musuh yang sesungguhnya gentar menghadapi kita, tetapi mereka justru bersatu dengan yang lain agar dapat menghadapi kita. Orang Kristen harus memiliki kesadaran bahwa jika musuh yang akan menghadapikita saja bersatu, maka kita pun harus bersatu dengan sesama plus dengan TUHAN yang memberikan kuasa dan jaminan kemenangan bagi kita.

2 KORINTUS 13 : 11
11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka ALLAH, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Hal paling awal yang harus ada ketika menghadapi musuh adalah kita harus mampu "bersukacita". Apabila sukacita di hati mulai hilang, itu merupakan langkah awal untuk mengalami kekalahan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang menjadikan alasan bagi kita untuk bersukacita ketika menghadapi musuh? Alasannya adalah yakini setiap perkataan yang ada di dalam Firman TUHAN.

Contohnya: di dalam Yosua 1:5 dikatakan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu bertahan menghadapi kita. Perkataan-NYA ini kita jadikan sebagai landasan untuk bersukacita. Jika setelah kita mendengar perkataan TUHAN ini, namun sukacita kita hilangketika menghadapi musuh, sesungguhnya kita sedang meragukan atau tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh TUHAN. Namun ketika menghadapi musuh dan kita tetap memegang janji TUHAN, maka musuh yang dihadapi tidak akan menjadi beban di dalam hidup ini. Sebab kita sudah mengetahui hasil akhir dari semuanya itu, yakni kita yang akan menjadi pemenang.

Sebagai ilustrasi: Apakah seorang kuli panggul senang bekerja mengangkat karung-karung beras yang beratnya 25 kg dengan tidak mendapatkan upah? Pasti jawabnya adalah tidak senang. Bandingkan dengan orang yang ikut fitness dan mengangkat beban dengan berat yang sama. Jika diajukan pertanyaan yang sama, ia pasti akan memberikan suatu jawaban yang berbeda dengan kuli panggul tadi. Mengapa? Karena sasaran yang ingin dicapai berbeda. Kalau kuli panggul melakukan pekerjaannya hanya untuk memperoleh upah, sedangkan orang yang fitness bertujuan mendapatkan hasil yang lebih dari pada upah yang diterima kuli panggul. Dia bertujuan tubuhnya menjadi sehat, juga semakin terbentuk, dan banyak orang yang mengaguminya. Sekalipun tidak diberi upah (bahkan ia harus mengeluarkan biaya besar), ia akan melakukan hal tersebut dengan sukacita.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah kepastian memperoleh hasil akhir yang akan kita raih berdasarkan janji TUHAN. Upah yang akan kita terima adalah sesuatu yang sangat berharga. Itu sebabnya sukacita akan selalu ada jika kita memiliki pikiran seperti itu.

Langkah kedua setelah menjaga agar sukacita itu tetap ada, Paulus mengatakan agar kita berusaha untuk mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan itu sendiri tidak akan kita peroleh tanpa ada sukacita di dalam hati. Dan orang yang tidak sempurna cenderung mengecewakan orang lain. Contoh: sebelum menikah masing-masing menganggap pasangannya adalah manusia paling sempurna. Tetapi setelah menikah mulai ada rasa kecewa dan sukacita mulai hilang, akhirnya kedua-duanya saling mengecewakan.

Dan bagian ketiga untuk mencapai kesempurnaan, kita juga harus mau mengikuti nasehat yang disampaikan oleh rasul Paulus. Maksudnya adalah kita mau dengar-dengaran terhadap Firman TUHAN. Ketika Firman disampaikan, sukacita itu juga tetap berkobar-kobar, sehingga kita memiliki kemampuan untuk menerima nasehat Firman TUHAN.

Apabila ketiga hal diatas telah kita capai, barulah rasul Paulus melanjutkan pada langkah berikutnya, yaitu "sehati sepikirlah kamu". Seseorang tidak akan mungkin dapat menjadi sehati sepikir dengan orang lain apabila di dalam hatinya tidak ada sukacita yang membuat kita menjadi sempurna. Semuanya itu akan kita raih hanya dengan memiliki hati yang mau mendengar nasehat Firman TUHAN. Jika ketiga hal ini kita laksanakan maka kita akan mampu sehati sepikir, baik dengan pasangan kita atau pun dengan sesama anak TUHAN yang lain. Dengan demikian, setiap kali kita berdoa kepada TUHAN dengan sepakat, maka musuh yang hanyalah manusia (keenam raja) dan kuasa setan yang sesungguhnya tidak punya kuasa atas kita dapat dikalahkan dengan mudah.

Selain memperoleh berkat dan menang terhadap musuh, kita juga akan memperoleh damai sejahtera baik di dalam kehidupan rumah tangga atau pun di dalam lingkup yang lebih besar lagi. Efek yang dihasilkan dari perkara-perkara ini adalah TUHAN yang penuh dengan kasih itu akan senantiasa menyertai kita.

Ada sebuah kesaksian yang dialami oleh Bapak Afan (jemaat GKT Jakarta). Ia bersama istrinya datang kepada saya untuk minta didoakan, sebab mereka hendak menjual rumah yang dimilikinya. Lalu saya berdoa dengan sepakat bersama mereka. Selesai berdoa saya berkata: "Buka harga 15% di atas harga pasaran. Pasti laku!" Tidak lama dari itu ada seseorang yang hendak membeli rumahnya dan tanpa menawar orang tersebut membuka harga sebesar 15% lebih tinggi dari harga pasaran. Padahal saat itu Bapak Afan belum membuka harga sama sekali kepada orang tersebut. Mendengar perkataan calon si pembeli, iman Bapak Afan mulai bangkit, sehingga ia menaikkan lagi harga jual dari apa yang diucapkan oleh calon pembeli. Tetapi karena sudah didoakan dengan sepakat, si calon pembeli itu setuju dengan harga yang ditawarkan oleh Bapak Afan. Jadi jika di antara kita ada kata sepakat, sesuatu yang mustahil dapat terjadi oleh karena TUHAN yang menyertai kita.

Sebaliknya ada jugaseorang jemaat yang datang kepada saya dan berkata: "Pak Pendeta, saya mau menjual apartemen saya kok susah sekali, padahal harganya sudah diturunkan jauh dari harga pasar. Saya minta didoakan dong". Mendengar hal itu saya berkata bahwa saya siap untuk mendoakan, tetapi saya tanyakan apakah dia sudah sepakat dengan istrinya? Sewaktu ia dan istrinya menghadap saya, ternyata keinginan sang suami dan istri berbeda. Sang suami ingin menjual apartemen tersebut, sedangkan sang istri hanya berniat mengontrakkan saja. Jadi tidak ada kata sepakat diantara mereka. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin kita mendapatkan jawaban dari doa kita? TUHAN tidak menjawab doanya bukan karena IA seorang pribadi yang bersikap masa bodoh, tetapi karena kesalahan kita yang tidak memiliki kata sepakat antara satu dengan yang lainnya.

YOSUA 9 : 3
3 Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai,

YOSUA 10 : 2
2 maka sangat takutlah orang, sebab Gibeon itu kota yang besar, seperti salah satu kota kerajaan, bahkan lebih besar dari Ai, dan semua orangnya adalah pahlawan.

Musuh yang dihadapi Yosua adalah raja-raja kecil yang sepakat untuk menghadapi Yosua. Tetapi kemudian Yosua dan bangsa Israel menghadapi sebuah kerajaan yang harus diperhitungkan. Gibeon merupakan sebuah kota yang besar seperrti salah satu kota kerajaan dan semua penduduknya adalah pahlawan; Gibeon bukanlah kota biasa. Pada saat itu orang Gibeon juga mendengar tentang kehebatan Yosua.

YOSUA 9 : 3 - 5
3 Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai, 4 maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali, 5 dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka.

Setelah orang Gibeon mendengar tentang keberhasilan yang diraih Yosua, mereka mulai memakai akalnya untuk menghadapi Yosua. Kondisi seperti ini sering terjadi di dalam hidup kita dan sering kali membuat anak-anak TUHAN kehilangan peluang untuk menikmati berkat di dalam dunia ini. Mengapa? Karena sering diakali oleh orang dunia. Akibatnya orang Kristen acap kali menjadi cemoohan orang lain karena terlalu tulus, sehingga sangat mudah dibodohi oleh orang jahat. Jika kita memiliki strategi untuk menghadapi musuh dan mengetahui strategi yang dipakai musuh, maka kita akan dengan mudah menghadapinya.

Terjemahan yang diambil dari bahasa asli kata "akal" pada ayat di atas mengandung arti "akal licik". Jadi kita perlu ketahui bahwa di dalam dunia ini ada dua jenis akal, yakni "akal licik" atau tipu muslihat, dan akal budi yaitu akal yang telah dikuduskan oleh TUHAN. Itu sebabnya TUHAN menganjurkan kepada kita agar "cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati" agar kita memiliki "akal" yang disertai dengan ketulusan yang tidak membinasakan atau pun merugikan orang lain. Dengan cara inilah kita pasti mampu mematahkan setiap tipu muslihat.

Orang Gibeon bukanlah kumpulan orang yang penakut atau pun lemah, melainkan orang-orang yang kuat. Tetapi ketika hendak menghadapi Yosua, mereka justru tidak mengandalkan kekuatannya, melainkan menggunakan akalnya. Cara yang digunakan adalah mereka yang mendatangi Yosua sebagai utusan (ambassador) yang menunggangi keledai, padahal sebagai pahlawan seharusnya menunggangi kuda. Selain itu, yang mereka pakai adalah pakaian yang serba buruk dan makanan yang dibawa juga adalah makanan yang sudah tidak layak untuk dimakan. Tujuan mereka melakukan semuanya itu adalah untuk menunjukkan, bahwa mereka tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menghadapi Yosua. Orang Gibeon yang adalah pahlawan justru merendahkan dirinya agar mendapatkan rasa iba dan simpati dari Yosua dan dari segenap bangsa Israel. Itulah akal licik yang digunakan oleh orang Gibeon untuk mengelabui Yosua.

Hal seperti ini juga banyak dihadapi dan dialami oleh anak-anak TUHAN pada umumnya, dan tidak sedikit dari kita yang termakan oleh tipu muslihat seperti ini. Dari luar terlihat lemah dan tak berdaya, tetapi setelah kita termakan oleh tipu muslihat tersebut, barulah kita tahu bahwa banyak "pahlawan" yang siap menerjang kita. Gibeon yang kelihatan lemah inilah yang seringkali membuat hidup anak-anak TUHAN tidak memiliki kata sepakat. Misalnya: suami tidak terus terang terhadap istri, sebaliknya istri tidak terus terang kepada suami, karena Gibeon telah mencuri hati mereka masing-masing.

YOSUA 9 : 6 - 7
6 Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: "Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami." 7 Tetapi berkatalah orang-orang Israel kepada orang-orang Hewi itu: "Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu?"

Yosua masuk perangkap orang Gibeon. Seharusnya Yosua dan orang Israel memerangi Gibeon, tetapi malah mengikat perjanjian dengan mereka. Semuanya terjadi karena Yosua terbujuk oleh perkataan yang diucapkan oleh orang Gibeon. TUHAN berjanji untuk menyertai di dalam menghadapi musuh dan menaklukkan seluruh tanah Kanaan, tetapi kalau kita sendiri yang menyerah dan mengikat perjanjian dengan musuh, maka itu adalah kesalahan kita. Oleh sebab itu, kita harus memiliki kepekaan agar tidak mudah tertipu oleh tipu daya Gibeon.

Mengapa Yosua terperdaya oleh Gibeon? Karena di dalam hati mereka terdapat keragu-raguan. Buktinya terdapat dalam ayat 7 yang mengatakan "barangkali". Padahal di dalam kamus orang Kristen tidak ada kata "barangkali" (keragu-raguan). TUHAN YESUS memberikan jaminan keselamatan tidak disertai dengan istilah "barangkali" ataupun "mudah-mudahan". Di dalam DIA selalu ada kepastian.

Saat itu orang Israel telah mendapatkan perintah dari TUHAN, supaya mereka tidak mengikat perjanjian dengan siapa pun kecuali dengan TUHAN sendiri. Tetapi saat itu mereka justru meragukan apa yang dikatakan oleh TUHAN, sehingga mereka mengikat perjanjian dengan pihak musuh.

Kondisi seperti ini sering dialami oleh anak-anak muda. Kasus yang umum adalah ketika mencari calon pasangan hidup. Banyak dari antara mereka yang bertanya, "Apakah boleh berpasangan dengan orang yang tidak seiman?" Dalam Firman TUHAN dituliskan dengan jelas tentang hal ini, bahwa terang tidak mungkin dapat bersatu dengan gelap. Maksudnya adalah orang yang beriman kepada YESUS tidak mungkin dapat berpasangan dengan orang yang tidak beriman kepada YESUS. Tetapi banyak dari antara mereka yang berusaha mencari celah agar mendapatkan persetujuan untuk berpasangan dengan orang yang tidak seiman dengan dalih: "Barangkali ini merupakan rencana TUHAN bagi saya untuk menginjili calon pasangan saya agar bertobat dan menerima YESUS." Hal seperti ini sama sekali tidak benar.

YOSUA 9 : 14
14 Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.

Jika seseorang melakukan tindakan di tengah keragu-raguan, maka tindakannya itu tidak berlandaskan keputusan dari TUHAN. Sebab TUHAN tidak mungkin memberikan keputusan apabila kita sendiri sedang mengalami keragu-raguan di dalam hidup ini; IA memutuskan sesuatu hanya jika kita memiliki kepastian. Di mana kita dapat memperoleh kepastian? Tentunya di dalam Firman. Jadi jika kita tidak hidup di dalam Firman dan mulai ada kata "barangkali", jangan pernah melanjutkan kepada langkah berikutnya. Sebab jika melangkah, maka langkah itu merupakan suatu langkah yang salah.

YOSUA 9 : 15, 19
15 Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka. 19 Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: "Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, ALLAH Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka.

Setelah tiga hari mengikat perjanjian dengan orang Gibeon, barulah Yosua mengetahui bahwa orang Gibeon itu tinggal dekat dengan mereka. Dengan kata lain mereka baru sadar bahwa orang Gibeon adalah salah satu bangsa Kanaan yang harus ditumpas habis. Tetapi karena mereka telah mengikat perjanjian, maka orang Gibeon itu tetap tinggal bersama-sama dengan bangsa Israel.

Jika sudah berada dalam keadaan seperti ini, apabila mengalami kekalahan di dalam hidup, jangan pernah menyalahkan TUHAN. Sebab kita sendiri yang membiarkan Gibeon tetap hidup, padahal mengenai mereka TUHAN memerintahkan Yosua untuk menumpasnya, sebab IA telah menyerahkan mereka ke tangan Yosua. Oleh karena itu di dalam mengambil keputusan, jangan pernah mengandalkan akal manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Yang harus kita perbuat adalah selalu mengandalkan pikiran KRISTUS.

ROMA 6 : 5
5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-NYA, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-NYA.

Untuk melawan "Gibeon", kita harus bersatu dengan kematian dan kebangkitan TUHAN. Akal kita yang lama dikuburkan di dalam kematian bersama YESUS, kemudian kita bangkit bersama-sama dengan YESUS. Sehingga dalam mengambil keputusan kita selalu menggunakan akal budi (hikmat dari Firman TUHAN) dan bukan akal licik, sehingga semua orang Gibeon tidak akan pernah mampu mengalahkan kita. Sebab itu jangan sampai kehilangan "Kanaan" hanya oleh karena suatu kondisi ketidakpastian. Untuk itu hidup di dalam YESUS merupakan suatu bagian yang sangat penting. Cara hidup di dalam YESUS adalah membuang terlebih dahulu segala akal pikiran manusia lama. Dengan demikian kita akan mampu untuk dapat melangkah dengan sepakat dan sehati untuk mencapai kemenangan yang telah pasti.

EFESUS 6 : 10 - 11
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam TUHAN, di dalam kekuatan kuasa-NYA. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata ALLAH, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.

Kita memiliki kekuatan bukan untuk melawan Gibeon, sebab musuh tidak dapat diatasi oleh kekuatan kita sendiri. Yang dimaksud dengan "kuat" dalam hal ini adalah kita kuat di dalam TUHAN, yakni di dalam Firman dan di dalam kekuatan kuasa-NYA.

Tipu muslihat Gibeon ternyata mampu memperdaya Yosua sebagai pemimpin dan seluruh umat Israel. Itu sebabnya setiap kita sangat perlu untuk memperlengkapi hidup kita dengan selengkap senjata ALLAH agar kita mampu bertahan melawan tipu muslihatiblis. Kuncinya adalah membuang hidup kita yang lama, di dalam hidup kita ada kata sepakat dan sehati dengan TUHAN dan sesama anak TUHAN, tidak berjalan berdasarkan kata "barangkali". Jika kita melakukan semua itu, maka Kanaan akan benar-benar menjadi milik kita. Amin.