Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Menyangkal Diri Deng...
Menyangkal Diri Dengan Puasa
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 5 Januari 2007
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 05/08/07
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Tidak semua anak TUHAN memahami arti puasa, kapan dan bagaimana cara berpuasa. Bahkan mungkin ada yang bertanya seperti ini: “Apakah ada puasa bagi orang Kristen?” Untuk menjawab semua pertanyaan ini, kita perlu belajar tentang seluk beluk puasa.

KELUARAN 34 : 28
28  Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.

Berpuasa adalah tidak memakan apapun selama kurun waktu tertentu. Kita harus tahu bahwa tidak memakan apapun berbeda dengan mengurangi porsi makan kita sehari-hari. Jadi berpuasa bukan mengurangi seberapa takaran makanan yang masuk ke dalam perut, melainkan secara total tidak memakan makanan apapun.

Orang-orang non-Kristen ada yang melakukan puasa dan mereka memiliki tujuan tertentu dalam berpuasa. Apakah tujuan orang Kristen berpuasa? Orang Kristen berpuasa sesungguhnya bukan hanya sekedar tidak memasukkan makanan apapun ke dalam tubuh, tetapi ada tujuan khusus yang diemban.

Contohnya adalah Musa yang tidak memakan roti, tidak minum air pada saat mengemban tugas khusus, yaitu menuliskan Sepuluh Hukum TUHAN pada loh batu. Jadi berpuasanya orang Kristen memiliki tujuan untuk menjalin komunikasi dengan TUHAN dan memuliakan nama-NYA.

Jika seseorang tidak boleh memakan dan minum oleh karena tujuan tertentu yang bukan untuk menjalin komunikasi dan memuliakan nama TUHAN (misalnya sebelum melakukan operasi), hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai berpuasa menurut Alkitab. Jadi, anak TUHAN yang melakukan puasa memiliki tujuan untuk merenungkan Firman TUHAN, mengaplikasikannya dalam hidup kita secara pribadi.

Setelah kita mengerti arti dan tujuan dari puasa bagi anak-anak TUHAN, mungkin ada pertanyaan lain yang muncul dalam benak kita. Yakni, “berapa lama kita harus berpuasa? Jika waktunya harus sama seperti yang dilakukan Musa (40 hari tidak makan dan tidak minum) mana mungkin kita mampu melakukannya?” Dengan jelas TUHAN tidak memerintahkan kepada kita untuk berpuasa selama itu.

Namun, dari kurun waktu puasa yang dilakukan Musa ada suatu arti tersendiri. Angka empat puluh berbicara tentang kedagingan yang mati. Pada saat air bah melanda bumi selama empat puluh hari, semua mahluk di muka bumi (kecuali Nuh dan keluarganya yang ada di dalam bahtera) mati.

Jadi tujuan puasa bukan supaya kita menjadi lebih sakti sehingga kebal terhadap segala sesuatu, tetapi untuk menjalin komunikasi dengan TUHAN. Tujuan lainnya adalah agar kedagingan atau hawa nafsu yang melekat dalam diri ktia ini mati. Jadi angka empat puluh hari bukan secara hurufiah.

Oleh karena berpuasa memiliki tujuan untuk menjalin komunikasi dengan TUHAN serta mematikan kedagingan atau hawa nafsu, maka dalam melakukannya pun bukan atas dasar kekuatan sendiri, melainkan dengan kekuatan TUHAN. Dalam ayat di atas dikatakan bahwa selama empat puluh hari Musa berpuasa dan ada bersama-sama dengan TUHAN.

Jika kita berpuasa bersama-sama dengan TUHAN maka kita akan memiliki kemampuan untuk melakukannya, terlebih lagi jika memiliki tujuan yang benar dan melakukannya atas dasar kerelaan dan kesadaran hati, bukan karena terpaksa.

DANIEL 1 : 8, 12
8 Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. 12  "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum.

Mungkin selama ini kita pernah mendengar ada anak-anak TUHAN atau hamba-hamba TUHAN yang lain berkata bahwa ada yang disebut “puasa Daniel”. Istilah “puasa Daniel” sebenarnya kurang tepat jika kita mengacu pada definisi puasa seperti yang telah dirumuskan di atas. Kita sering terjebak akan hal ini karena yang kita tekankan hanya pada ayat 12 saja yang menceritakan Daniel hanya makan sayur dan minum air saja, dan melupakan konteks yang terjadi pada waktu itu.

Saat itu Daniel memutuskan untuk tidak memakan makanan yang biasa dimakan oleh raja karena ia tidak mau makanan yang najis. Makanan raja itu biasanya berupa daging yang haram bagi orang Israel, misalnya daging babi. Atau daging yang sebelum dikonsumsi dipersembahkan terlebih dahulu kepada dewa-dewa mereka. Daniel tidak berpuasa, tetapi melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan oleh orang beriman: tidak mau makanan yang najis.

Daniel tetap makan dan minum. Namun ia hanya memakan sayur  dan minum air sebagai ganti anggur. Namun pada intinya ia tetap makan. Sedangkan definisi berpuasa adalah tidak makan dan tidak minum untuk menyalibkan kedagingan/hawa nafsu.

MATIUS 6 : 16
16  "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. AKU berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

YESUS mengajarkan berpuasa yang tepat dan benar, selain itu membuktikan bahwa berpuasa tidak hanya berlaku pada masa Perjanjian Lama, tapi juga masih berlaku pada masa Perjanjian Baru hingga sekarang.

Dikatakan oleh YESUS: “...dan apabila kamu berpuasa...” ini berarti orang Kristen harus berpuasa. Jadi jika ada orang yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak perlu puasa, berarti ia tidak menerima apa yang dikatakan Firman TUHAN. Selanjutnya YESUS mengajarkan jika kita berpuasa, jangan kita melakukannya seperti cara berpuasa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi yang munafik.

Ketika berpuasa mereka mengubah air mukanya dengan tujuan agar orang lain melihat bahwa ia sedang berpuasa. Sehingga banyak orang yang memuji dan menganggapnya  lebih rohani, dll. Akhirnya tujuan mereka berpuasa bukan untuk memuliakan nama TUHAN dan menyalibkan kedagingan, tetapi malah untuk mencari pujian dan kepuasan diri sendiri. Hal ini tidak boleh dilakukan oleh anak-anak TUHAN yang sungguh-sungguh ingin melakukan Firman-NYA.

MATIUS 4 : 2, 17 – 19
2  Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah YESUS. 17  Sejak waktu itulah YESUS memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" 18  Dan ketika YESUS sedang berjalan menyusur danau Galilea, IA melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19  YESUS berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah AKU, dan kamu akan KUjadikan penjala manusia."

Ayat di atas meneguhkan kita bahwa orang Kristen memang harus berpuasa, sebab yang memberikan teladan bukan hanya para nabi, tetapi YESUS sendiri memberikan teladan bagi orang-orang beriman. Mungkin akan muncul pertanyaan: “mengapa YESUS berpuasa?” Yang pertama adalah untuk memberikan teladan kepada kita semua. Di samping itu IA juga ingin menunjukkan, bahwa untuk memulai misi atau pelayanan di muka bumi ini dan menentukan keduabelas murid, YESUS berpuasa terlebih dahulu.

Dari keteladanan yang TUHAN YESUS berikan, dapat diambil suatu pelajaran bahwa orang Kristen perlu berpuasa pada saat akan memulai segala sesuatu yang besar dalam hidupnya. Misalnya saja pada saat akan memulai karier, akan memutuskan sesuatu yang menentukan hidup kita selanjutnya, dll.

Hal ini sangat penting, sebab ketika hawa nafsu daging kita dikikis, maka setiap keputusan yang diambil tidak berdasarkan hawa nafsu. Mengapa Lot memilih sesuatu yang salah? Karena ia melakukannya atas dasar hawa nafsu, sedangkan Abraham memilih berdasarkan pimpinan ROH ALLAH. Pilihan yang benar dan tepat tidak mungkin diambil jika berdasarkan hawa nafsu.

Jika kita berpuasa sehingga hawa nafsu mati, maka dalam memulai pelayanan ataupun pekerjaan, ataupun dalam menentukan pilihan, maka kita akan tahu apa yang harus dilakukan dan diputuskan.

MARKUS 2 : 18 - 19
18  Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada YESUS: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-MU tidak?" 19  Jawab YESUS kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.

Murid Yohanes Pembaptis berpuasa karena pada saat itu Yohanes dijebloskan ke dalam penjara. Oleh karena itu ketika ditanya oleh orang Farisi mengapa murid-murid YESUS tidak berpuasa, IA menjawab bahwa “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai berpuasa, sementara sang Mempelai ada bersama-sama dengan mereka?” Dari perkataan-NYA itu, YESUS ingin memberitahukan bahwa berpuasa itu tidak ditentukan dari tanggal, bulan dan tahun berapa. Tetapi berpuasa dapat dilakukan pada saat akan memulai sesuatu yang besar atau akan memutuskan sesuatu, dan pada saat sedang menghadapi masalah atau sedang membutuhkan sesuatu dari TUHAN.

Hal lain yang kita pelajari dari perkataan TUHAN YESUS ini, bahwa pada saat berpuasa, kita tidak boleh melihat orang lain. Berpuasa sesungguhnya bersifat pribadi, yaitu antara kita dengan TUHAN. Maksudnya adalah jangan marah ketika kita berpuasa, sedangkan orang lain tidak melakukan hal yang sama. Sebab mungkin saja kita sedang menghadapi pergumulan sehingga kita memutuskan untuk berpuasa, sedangkan orang lain tidak sedang menghadapi masalah.

Namun ada juga berpuasa yang bersifat kelompok, seperti yang seluruh murid Yohanes Pembaptis. Mereka ini punya satu tujuan: berpuasa untuk Yohanes Pembaptis agar dibebaskan dari penjara. Dari contoh ini jika dalam keluarga menghadapi permasalahan, alangkah baiknya jika seluruh anggota keluarga ikut berpuasa, sebab hal itu untuk kepentingan seluruh anggota keluarga.

MATIUS 17 : 19 - 21
19  Kemudian murid-murid YESUS datang dan ketika mereka sendirian dengan DIA, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" 20  IA berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab AKU berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. 21  (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)"

Selain pada saat akan memulai atau memutuskan sesuatu dan pada saat kita menghadapi persoalan, saat yang tepat untuk berpuasa adalah pada saat akan mengusir kuasa si jahat (setan). Namun sebelum kita melakukan puasa, tentunya kita harus memiliki iman sebagai landasan seperti yang diajarkan oleh TUHAN YESUS.

Dari hal ini saya secara pribadi mengingat pengajaran yang Papa ajarkan kepada semua hamba TUHAN, bahwa untuk melayani Perjamuan Kudus, para Pendeta dan Evangelis harus berpuasa terlebih dahulu. Tujuannya apa? Untuk mempersiapkan pelayanan yang akan dilakukan. Sehingga dalam melayani, kuasa TUHAN dinyatakan di dalam setiap pelayanan kita. Hal ini terbukti di dalam setiap pelayanan saya dan rekan-rekan hamba TUHAN yang lainnya. Khususnya ketika melayani orang-orang yang dirasuk kuasa kegelapan ataupun pada saat mendoakan tempat-tempat yang dikuasai si setan. Dengan berdoa dan berpuasa, maka kuasa ALLAH dinyatakan.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang jemaat TUHAN yang anaknya dirasuk oleh kuasa gelap yang dibawa oleh baby sitter yang baru bekerja di keluarga itu. Ketika anak tersebut didoakan melalui telepon dan waktu berikutnya mengambil kesempatan untuk mendoakan secara langsung, maka anak tersebut dilepaskan dari kuasa jahat tersebut. Itu dapat terjadi karena dalam mendoakan anak tersebut disertai dengan berpuasa.

Kesaksian yang lain adalah ketika mendoakan restoran milik bapak dan ibu Rudy Nanggulangi. Di tempat usahanya itu ada setan yang selalu mengganggu, antara lain terdengar suara orang sedang masak, atau ada yang sedang mandi, padahal tidak ada siapapun juga yang sedang melakukan aktivitas tersebut. Kemudian saya beserta beberapa Evangelist melayani dan mendoakan tempat tersebut. Namun sebelum melakukan pelayanan tersebut, kami berdoa dan berpuasa beberapa hari sebelumnya. Oleh karena tindakan iman yang disertai dengan doa dan puasa, maka semuanya itu membuat kuasa TUHAN dinyatakan. Kuasa gelap yang selalu mengganggu tersebut disingkirkan oleh kuasa TUHAN.

ZAKHARIA 7 : 5
5  "Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para imam, demikian: Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk AKU?

Doa dan berpuasa adalah suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh semua anak TUHAN dan bukan hanya untuk hamba-hamba TUHAN saja. Sebab ayat di atas mengatakan: “ketika seluruh rakyat berpuasa…” menunjukkan bukan orang-orang tertentu saja yang melakukannya. Hal ini merupakan teguran baik untuk seluruh jemaat maupun seluruh hamba-hamba TUHAN.

YOEL 2 : 12
12  "Tetapi sekarang juga," demikianlah Firman TUHAN, "berbaliklah kepada-KU dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

Bangsa Israel melakukan puasa sebagai hari perkabungan karena penyesalan dan pertobatan mereka dari dosa. Ini berarti puasa juga dapat dilakukan sebagai penyangkalan diri sebagai bukti bahwa kita bertobat dan meninggalkan hawa nafsu dan berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati.  Dosa membuat kita menjauh dari TUHAN. Untuk itu dengan berdoa dan berpuasa, sesungguhnya kita sedang mendekatkan diri dengan TUHAN dan mulai membangun suatu hubungan yang baik kembali dengan DIA.

Jika hubungan dengan TUHAN sudah dipulihkan, kita harus tetap menyangkal diri agar iman tetap bertumbuh.

MATIUS 6 : 17
17  Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu.

TUHAN YESUS mengajarkan kepada murid-murid tentang metode berpuasa. Ia berkata: “jika engkau berpuasa, minyakilah rambutmu.” Perkataan YESUS ini jangan selalu ditafsirkan secara hurufiah, sebab “minyakilah rambutmu” menyerahkan pikiran kita untuk dikuasai oleh ROH KUDUS, sebab minyak adalah lambang ROH KUDUS. Jadi yang membedakan puasa orang Kristen dengan orang yang tidak mengenal ALLAH adalah berpuasa dalam pimpinan ROH KUDUS. Dengan demikian, puasa kita akan benar di hadapan TUHAN, dan tujuan puasa kita bukan untuk menyombongkan diri. Maka kita akan melihat hasil puasa itu,  puasa yang berkuasa untuk menghancurkan segala kuasa gelap, mampu mengatasi segala masalah kita, mampu mengambil keputusan yang tepat.

Selain agar kepala kita diminyaki, TUHAN YESUS juga mengatakan agar pada saat berpuasa hendaknya kita membasuh muka kita. Masudnya adalah wajah kita atau hidup kita bercermin kepada Firman TUHAN. Akibatnya wajah kita tidak akan menjadi lesu, melainkan selalu segar karena Firman yang menyegarkan. Terbukti wajah Musa bercahaya setelah berpuasa di gunung Sinai selama 40 hari.

Karena mau belajar menyangkal diri dengan berdoa dan berpuasa, maka kita diberikan kemampuan untuk merefleksikan kasih TUHAN dalam hidup ini. Itulah berkat-berkat yang kita terima jika kita menyangkal diri dengan berpuasa.

Memang puasa orang Kristen tidak terikat pada waktu, melainkan kepada kebutuhan pribadi dan tujuan yang murni kepada TUHAN. Seberapa lama kita harus berpuasa? Sekuat atau semampu kita. Sebagai panduan saja, kita dapat mulai berpuasa setelah makan malam hingga esok hari, misalnya sampai sore hari, tergantung kemampuan kita. Sedangkan menurut hukum Musa, berpuasa itu sejak dari terbenamnya matahari hingga terbenamnya kembali. Untuk mengawalinya, dapat kita lakukan setahap demi setahap, dan semakin hari kita akan mampu menambah jangka waktu kita berpuasa.
Jika kita melakukan ini, maka kita akan merasakan manfaat yang sangat besar di dalam kehidupan kita secara pribadi. Amin.