Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Ibadah Yang Berkenan
Ibadah Yang Berkenan
Pdt. Dr. Benny Santoso, Ph.D. | PA Selasa, 9 Mei 2000
Disadur oleh Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 08/08/04

IMAMAT 10:1-2
1 Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-NYA kepada mereka. 2 Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati

Dalam setiap ibadah kepada TUHAN, kita tidak dapat menetapkan sendiri tata cara ibadah yang berkenan bagi TUHAN, tetapi harus memenuhi tata cara yang ditetapkan oleh TUHAN sendiri. Jadi apapun aturan yang dibuat manusia dalam ibadah, bila hal itu tidak sesuai dengan ketetapan TUHAN, maka ibadah itu akan sia-sia. Dalam ibadah yang ditetapkan TUHAN harus ada mezbah, api dan kemenyan (ukupan). Jika api atau unsur lain yang digunakan tidak seperti yang dikehendaki TUHAN, maka akan terjadi seperti Nadab dan Abihu. Mereka mati disambar oleh Api ALLAH karena mereka melanggar ketentuan TUHAN, yaitu membakar ukupan dengan api yang bukan dari ALLAH (api asing).

Ukupan yang dibakar itu menggambarkan penyembahan atau doa yang dinaikkan kepada TUHAN. Api asing yang digunakan Nadab dan Abihu menggambarkan doa dan penyembahan yang dilakukan bukan dengan aturan yang ditetapkan TUHAN tetapi menggunakan aturan yang dibuat manusia. Karena itu kita harus berhati-hati dalam menjalankan ibadah. Pada saat kita sudah tunduk kepada aturan manusia, dan mengabaikan ketetapan ALLAH, maka segala ibadah yang kita lakukan akan sia-sia karena tidak berkenan bagi DIA.

IMAMAT 16:13
13 Kemudian ia harus meletakkan ukupan itu di atas api yang di hadapan TUHAN, sehingga asap ukupan itu menutupi tutup pendamaian yang di atas hukum ALLAH, supaya ia jangan mati.

Api untuk membakar ukupan tidak boleh diambil dari sembarang tempat. Imam harus mengambil api dari api yang ada di mezbah korban bakaran -menggambarkan salib KRISTUS. Jadi mengambil api dari mezbah korban bakaran untuk membakar ukupan memiliki pengertian, bahwa kita harus menyembah ALLAH dengan dasar kematian TUHAN YESUS yang membawa kuasa keselamatan. Dengan kata lain, kita berdoa dengan hati yang benar-benar beriman bahwa korban penebusan KRISTUS di kayu salib adalah dasar dari segala pengharapan dalam setiap doa dan penyembahan kita. Jadi jangan menjadi kecewa atau menyalahkan TUHAN jika doa yang selama ini kita naikkan belum mendapat jawaban dari DIA. Justru hal ini harus menjadi teguran apakah api yang kita gunakan dalam membakar ukupan (menaikkan doa) sudah datang dari mezbah korban bakaran yaitu dasar kematian TUHAN YESUS atau dari pikiran kita sendiri.

1 RAJA-RAJA 18:38-39
38 Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. 39 Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, DIAlah ALLAH! TUHAN, DIAlah ALLAH!"

Elia menunjukkan bagaimana ibadah yang berkenan bagi ALLAH di hadapan rakyat Israel dan nabi-nabi Baal. Elia menaruh korban di atas mezbah, kemudian berdoa memohon api TUHAN. Maka turunlah api dari TUHAN membakar habis korban tersebut. Ini menandakan bahwa TUHAN berkenan atas korban yang dipersembahkan Elia. Api TUHAN yang menyambar korban yang dipersembahkan pada mezbah menjelaskan bahwa DIA berkenan atas persembahan hati kita sehingga DIA memberi kuasa supaya kita dapat menerima berkat yang besar dari DIA.

Saat kita menyembah ALLAH dengan benar, maka DIA berkenan menyambar persembahan hati kita dengan api-NYA. Saat kita mempersembahkan korban, ALLAH memberikan berkat melalui api-nya yang menyambar hati kita yang bertobat. Dengan demikian kita akan merasakan kuasa ALLAH turun atas kita. Saat kita memberikan persembahan/berdoa kepada TUHAN, jawaban berupa api dari TUHAN ini merupakan persekutuan atau perjamuan antara kita dengan TUHAN sendiri.

IMAMAT 9:24
24 Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah.

Dalam ayat di atas diterangkan bahwa kita harus membawa korban yang ditaruh di atas mezbah sebelum api TUHAN turun menyambar korban yang ada. Mezbah korban bakaran merupakan suatu tempat untuk mempersembahkan korban berupa binatang yang sudah disembelih. Kemudian imam berdoa memohon TUHAN menerima persembahan itu. Jika persembahan itu berkenan kepada TUHAN maka korban akan dibakar oleh api yang dari TUHAN.

Mezbah Korban memiliki arti YESUS KRISTUS yang telah mati disalib sebagai korban pendamaian antara manusia dengan ALLAH, dan api yang menyambar korban adalah ROH KUDUS. Hal ini menunjukkan bahwa ALLAH sangat berkenan akan korban yang dipersembahkan oleh YESUS, melalui kematian-NYA di kayu salib. Karena ALLAH berkenan menerima korban KRISTUS, maka barang siapa yang percaya kepada DIA akan menerima pengampunan dosa. Ibadah yang tidak berkenan kepada ALLAH mungkin disebabkan oleh karena tidak mengerti arti penting tentang mezbah yang benar, yaitu tidak memiliki hubungan yang harmonis antara manusia dengan ALLAH karena belum menerima penebusan oleh Darah KRISTUS. Dengan demikian ROH KUDUS tidak menyala di dalam Gereja itu, sehingga Gereja itu terasa dingin dan hambar. Gereja yang disambar ROH KUDUS adalah yang mengerti dan menjalankan Firman dengan benar, sehingga setiap aturan dan tata cara yang dilakukan dalam ibadah adalah apa yang sudah ditetapkan oleh ALLAH, bukan aturan manusia. Tanpa mengerti bahwa dasar ibadah yang benar adalah salib KRISTUS yang penuh kuasa untuk melepaskan kita dari segala dosa dan hukuman kekal, maka sia-sialah segala ibadah yang kita lakukan.

IMAMAT 6:9
9 "Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.

Hal lain yang sangat penting saat menjalankan ibadah adalah imam harus memelihara api TUHAN di mezbah korban bakaran. Api ALLAH yang sudah turun menyambar korban bakaran harus selalu dipelihara dan dijaga supaya tidak sampai padam. Cara untuk menjaga api ini tetap menyala adalah dengan memberikan dan menambahkan kayu di atas mezbah itu secara terus menerus. Imam harus selalu melihat apakah kayu yang digunakan untuk membakar korban bakaran masih tetap menyala atau tidak.

Kayu bakar yang akan menjaga api TUHAN selalu menyala adalah Firman TUHAN. Jika Gereja tidak memiliki kebenaran Firman TUHAN, maka dapat dipastikan bahwa imam (pendeta) yang menggembalakan jemaat tidak menjalankan perintah TUHAN dengan benar. Agar api itu tetap terpelihara dan terus menyala, maka imam harus hidup dengan benar sesuai dengan perintah dan Firman TUHAN. ALLAH yang kita sembah adalah ROH. Jadi hamba TUHAN memiliki peranan yang sangat penting untuk membawa Gereja TUHAN agar dapat "melihat" ALLAH yang adalah ROH. Yaitu dengan cara memberikan pengajaran Firman yang murni, dan juga menjalani Firman ini dengan taat dan tulus. Inilah cara bagaimana seorang pendeta dapat menjaga agar api yang di atas mezbah akan selalu menyala.

Hal ini dapat diilustrasikan seperti orang yang menggunakan setrika arang dengan menggunakan arang yang membara untuk memanaskan setrika. Jika arang di dalam setrika sudah mulai tertutup abu, maka panas akan berkurang. Itulah saatnya mengipas arang dalam setrika untuk menghilangkan abu dan menambah arang supaya ada tambahan bara dan setrika kembali panas. Seperti itulah yang harus dilakukan setiap pendeta bagi jemaat TUHAN. Setiap pendeta harus menjaga hidupnya dalam kebenaran Firman supaya api ROH KUDUS tetap membara di dalam hatinya. Pendeta yang tidak hidup benar di hadapan TUHAN, sama dengan bara yang sudah tertutup abu. Artinya dia sudah tidak lagi hidup dalam kuasa api TUHAN, tetapi sudah diselimuti oleh abu atau dosa. Dan jika pendeta itu terus hidup dalam dosa dan tidak memohon pengampunan maka satu saat api ROH KUDUS yang sudah ada di dalamnya akan segera padam. Jika dia sendiri tidak lagi memiliki api ROH KUDUS, pasti lambat-laun jemaat juga akan mengalami kematian rohani.

WAHYU 3:15-18
15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, AKU akan memuntahkan engkau dari mulut-KU. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka AKU menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-KU emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Ada gereja yang merasa kaya atau merasa paling benar sehingga menjadi sombong rohani dan paling layak untuk dihormati. Padahal yang terpenting adalah apakah gereja itu benar di hadapan ALLAH. Karena itu banyak Gereja yang merasa kaya, padahal mereka melarat, miskin, buta dan telanjang di hadapan ALLAH. Gereja harus membeli emas yang telah dimurnikan oleh TUHAN, yaitu beriman kepada kematian KRISTUS. Dengan demikian maka kita yang miskin diubahkan menjadi orang yang kaya dan berpakaian "jubah putih" karena kita sudah dikuduskan dengan darah-NYA. Kita tidak lagi disebut sebagai manusia yang telanjang karena kita sudah ditutupi dengan jubah KRISTUS yang sudah mati dan bangkit dari maut.

Hal ini sangat penting, karena banyak orang yang mengaku sebagai Gereja TUHAN dan beribadah dengan tekun, tetapi dalam kehidupan dan perilaku sehari-harinya tidak menunjukkan adanya tuntunan ROH KUDUS. Atau mereka masih hidup di dalam kuasa dosa. Orang yang demikian disebut sebagai Gereja yang suam-suam kuku, yaitu beribadah tetapi tidak mengerti kebenaran Firman TUHAN dan masih hidup dalam kedagingan dan dosa. Gereja yang demikian tidak akan pernah berkenan di mata TUHAN dan pada akhirnya akan dimuntahkan-NYA. Oleh karena itu, biarlah kita senantiasa menjaga agar ROH KUDUS selalu berkenan diam di dalam hati kita supaya mata rohani kita mampu melihat dan mengenal TUHAN.

KELUARAN 30:9
9 Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun korban bakaran ataupun korban sajian, juga korban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya.

Pada saat kita melakukan ibadah, haruslah kita melakukannya sesuai dengan ketetapan-NYA. Jika seorang imam melakukan penyimpangan dalam memberikan persembahan, maka apa yang dinaikkan kepada ALLAH tidak akan pernah diterima oleh DIA. Demikian juga dalam berdoa, kita harus berdoa sesuai dengan apa yang TUHAN ajarkan dan kehendaki. Jika kita berdoa berdasarkan keinginan kita sendiri, maka doa kita tersebut tidak akan dijawab oleh TUHAN.

IMAMAT 10:3
3 Berkatalah Musa kepada Harun: "Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-KU KUnyatakan kekudusan-KU, dan di muka seluruh bangsa itu akan KUperlihatkan kemuliaan-KU." Dan Harun berdiam diri.

Harun tidak membantah pada saat mengetahui anaknya -Nadab dan Abihu- mati disambar oleh api TUHAN. Saat itu Musa mengatakan bahwa hal itu terjadi, supaya setiap orang tahu bahwa TUHAN adalah Kudus. Kita belajar bagaimana kita tidak boleh sembrono dan tidak bersungguh-sungguh jika berhadapan dan beribadah kepada ALLAH, karena DIA adalah Suci dan Kudus. Itulah sebabnya dalam Doa BAPA Kami dikatakan "Dikuduskanlah nama MU….". Kita diajarkan untuk tidak meremehkan Nama TUHAN ALLAH di manapun kita berada.

Meremehkan Nama TUHAN dapat terjadi antara lain pada saat kita melakukan kejahatan, tetapi kita masih berdoa agar DIA memberkati kita. Seharusnya kita lebih dahulu datang kepada DIA mengakui kesalahan dan memohon pengampunan, bukan dengan tanpa malu meminta berkat dari DIA. Atau kita berdoa tetapi dengan sikap hati yang tidak semestinya. Misalnya: kita terlihat tekun berdoa dan beribadah, tetapi kelakuan sehari-hari tidak menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak tebusan TUHAN. Atau yang lebih buruk adalah kita beribadah dengan aturan manusia sehingga orang lain mentertawakan kita dan mentertawakan TUHAN.

Sekarang ini banyak orang yang mengaku Kristen tetapi melakukan ibadah dengan cara yang menyimpang dari ketetapan ALLAH. Kita diingatkan untuk tidak beribadah dengan sembrono dan sembarangan atau dengan menggunakan aturan manusia yang sensasional hanya untuk menarik atau menyenangkan banyak orang. Jika hal itu dijalankan terus, maka murka TUHAN akan turun atas kita. Sebaliknya kita harus tetap menjunjung tinggi ketetapan ALLAH dalam segala tata-cara ibadah yang kita lakukan supaya ALLAH berkenan akan persembahan ukupan yang kita naikkan bagi-NYA.

Seperti apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama pada saat Uza dihukum ALLAH karena kelalaiannya. Saat itu Uza mendapat tugas untuk mengiring kereta yang membawa Tabut Perjanjian ALLAH ke Yerusalem. Pada waktu kereta berjalan miring dan Tabut Perjanjian ALLAH akan terjatuh, Uza mengulurkan tangannya untuk menahan Tabut Perjanjian itu supaya tidak jatuh. Tetapi yang terjadi justru ALLAH menyambar Uza hingga mati di dekat Tabut Perjanjian ALLAH.

Pelajaran di atas juga mengajarkan bahwa ALLAH adalah Maha Kuasa, sehingga tidak ada kekuatan manusiapun yang dapat menandinginya. Artinya, jangan sampai kita bertindak seperti Uza yang ingin "menolong" supaya Tabut Perjanjian ALLAH tidak jatuh hingga melupakan bahwa Tabut ALLAH adalah satu hal yang harus dikuduskan dan dihormati sehingga tidak boleh sembarang orang menjamah-NYA.

Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati dalam menjalani ibadah sebagai Gereja TUHAN yang berkenan. Banyak hal yang membelokkan kita dari ketetapan ALLAH sehingga ibadah kita tidak berkenan di hadapan-NYA. Tetapi pada saat kita menjaga api ROH KUDUS tetap menyala dengan cara mempelajari dan menjalankan kebenaran Firman TUHAN, maka kita akan dituntun kembali dalam kebenaran-NYA. Dengan demikian kita akan mampu melakukan ibadah yang berkenan bagi TUHAN, dan kita dapat hidup sebagai saksi yang nyata akan kasih TUHAN sehingga banyak orang mau datang untuk mengenal DIA. Amin.