Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Perumpamaan Tentang ...
Perumpamaan Tentang Biji Sesawi
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 3 Minggu, 12 Desember 2010
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 03/07/11
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Pada umumnya orang Indonesia tidak begitu familiar dengan biji sesawi, bahkan mungkin banyak yang berpikir sesawi adalah sejenis sayuran. Akan lebih jelas jika kita melihat padanan kata sesawi dalam bahasa Inggris yaitu mustard, tanaman (pohon) yang dapat bertumbuh besar. Kita akan mempelajari arti dari perumpamaan tentang biji sesawi ini.

MATIUS 13 : 31
31 YESUS membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

Untuk menjelaskan hal Kerajaan Sorga, YESUS juga mengumpamakan Kerajaan ALLAH dengan menggunakan biji sesawi. Berbicara tentang kerajaan, sebuah kerajaan dapat dikatakan sah jika memiliki raja, rakyat yang dipimpin, dan ada teritorial. Itu sebabnya dalam ayat ini terdapat ketiga unsur yang diperlukan agar sebuah kerajaan dapat benar-benar dikatakan sebagai kerajaan, yakni biji sesawi (mustard seed), orang yang menabur biji sesawi, dan ladang. Siapakah yang berperan sebagai biji sesawi, orang yang menaburkan biji sesawi, dan di manakah ladangnya?

MATIUS 13 : 36 - 38
36 Maka YESUS pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-NYA datang dan berkata kepada-NYA: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." 37 Ia menjawab, kata-NYA: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Sebelum mengutarakan perumpamaan tentang biji sesawi, YESUS mengutarakan perumpamaan tentang gandum dan lalang. Ada pendengar yang minta penjelasan tentang perumpamaan lalang dan gandum tersebut. Maka YESUS menjelaskan bahwa orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia (YESUS). Berarti Raja dalam kerajaan ALLAH adalah Anak Manusia (YESUS). Sedangkan yang menjadi ladang adalah dunia. Sedangkan benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan, yakni semua orang yang percaya kepada YESUS. Makna ladang, benih dan penabur dalam perumpamaan lalang dan gandum ini memiliki makna sama dengan perumpamaan tentang biji sesawi.

Dari penjelasan ayat ini kita ketahui bahwa wilayah Kerajaan ALLAH bukan hanya berbicara tentang Sorga yang nanti akan kita diami, tetapi dunia ini juga merupakan salah satu bagian teritorial kerajaan ALLAH. Artinya, jika kita mengakui bahwa YESUS adalah Raja dalam Kerajaan ALLAH, maka dunia ini adalah Sorga bagi kita.Tujuan ALLAH "menabur" kita di dalam dunia ini adalah untuk menikmati Sorga selama masih di dalam dunia ini. Jika hingga saat ini kita belum merasakan Sorga, itu bukan karena TUHAN yang keliru melainkan kita yang belum menerima YESUS sebagai Raja dalam hidup kita. Sebagai benih, kita ditabur ALLAH supaya dapat bertumbuh sebagai anak Raja,bukan untuk menderita.

MATIUS 13 : 32
32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Ketika seseorang baru menerima YESUS sebagai Raja dan Juruselamat di dalam hidupnya, sesungguhnya ia masih "benih" atau "biji" yang kecil. Namun, yang kecil itu dapat menjadi sesuatu yang besar dan memiliki kemampuan untuk bertahan jika dia bertumbuh. Dengan demikian ia tidak dikalahkan dunia,melainkan mampu mengalahkan dunia. Bahkan dari biji sesawi ini dapat bertumbuh menjadi sebatang pohon,menjadi tempat bersarang bagi burung-burung.

Untuk menjadi tempat perlindungan bagi burung-burung, biji sesawi itu perlu ditanam dan bertumbuh besar. Kita, "biji sesawi" yang kecil ini bertumbuh dengan mau mendengar dan melakukan Firman TUHAN, bukan hanya menjadi pendengar Firman saja tetapi juga mau bertumbuh di dalam pengenalan Firman. Dengan bertumbuh menjadi besar, kita tidak mencari perlindungan pada dunia ini, sebaliknya justru menjadi perlindungan bagi dunia. Sebab di dalam dunia ini kita memiliki kerajaan ALLAH.

Sebuah pohon dapat bertumbuh besar jika disirami air. Demikian pula kita sebagai "pohon sesawi" dapat bertumbuh dalam kerajaan ALLAH jika kita disirami air hidup (Firman) dan ROH KUDUS. Siraman Firman dan ROH KUDUS ini akan kita dapatkan dalam ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Inilah syarat agar kita dapat bertumbuh.

MATIUS 13 : 39
39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Ternyata selain Anak Manusia yang menaburkan benih, ada pribadi lain yang menabur di dunia, di ladang TUHAN, yakni iblis yang menaburkan kerajaan neraka. Yang ditaburnya adalah benih lalang yang tidak menghasilkan apa-apa. Jika kita terus menjadi "biji sesawi" yang tak bertumbuh, dengan mudah kita akan digeser oleh "lalang" yang ditaburkan oleh setan. Tetapi sebaliknya, apabila kita bertumbuh menjadi besar, lalang yang ditaburkan oleh setan itu dapat kita singkirkan.

Apakah benih "lalang" yang ditaburkan setan? Kekacauan, pertengkaran, penyakit, dan segala masalah. Untuk itu, jika kita masih kalah, jangan bertanya mengapa kalah. Tapi, tanyalah kepada diri sendiri mengapa saya tidak bertumbuh sehingga dapat dikalahkan oleh dunia ini. Hal itu akan mendorong kita untuk meminta kepada TUHAN agar IA menyirami kita dengan Air Hidup yang membuat kita bertumbuh.

MATIUS 17 : 15 - 16
15 katanya: "TUHAN, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. 16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-MU, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya."

Benih yang ditabur setan membuat manusia mengalami masalah berat. Dilukiskan dalam ayat di atas ada seorang ayah yang datang kepada YESUS dengan membawa masalah anaknya laki-laki yang menderita sejenis penyakit ayan. Penyakit yang disebabkan oleh setan itu membuat anaknya tidak mampu menguasai dirinya sehingga ia sering jatuh ke dalam api dan air. Lebih ironisnya, orang ini telah membawa anaknya kepada murid-murid YESUS, namun mereka tidak dapat menyembuhkannya. Mengapa mereka tidak dapat menyembuhkan penyakit anak tersebut? Karena mereka belum menjadi "biji sesawi" yang bertumbuh, sehingga dengan mudah dikalahkan setan.

MATIUS 17 : 17 - 19
17 Maka kata YESUS: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi AKU harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi AKU harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" 18 Dengan keras YESUS menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga. 19 Kemudian murid-murid YESUS datang dan ketika mereka sendirian dengan DIA, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?"

Penyebab murid-murid tidak mampu menyembuhkan atau mengusir setan pada anak itu adalah karena mereka kurang percaya kepada TUHAN, artinya belum bertumbuh dalam pengenalan Firman dan iman kepada TUHAN. Dari perkataan YESUS, "Berapa lama lagi AKU harus sabar terhadap kamu?" menyatakan bahwa sudah sekian lama mereka diajar oleh YESUS, bahkan juga sudah melihat banyak mujizat yang dilakukan DIA, namun mereka masih belum percaya juga. Setelah itu YESUS mengusir setan yang merasuk anak itu, dan seketika itu juga keluarlah setan yang menguasainya. Tidak perlu menunggu, saat itu juga ada solusi dari YESUS.

Biji sesawi yang bertumbuh dengan sempurna (gambaran YESUS) mampu menyingkirkan benih yang ditaburkan oleh setan (sakit penyakit, dan masalah lainnya). Jika YESUS mampu mengusir segala masalah, kita pun yang berada dalam teritorial yang sama (kerajaan Sorga) seharusnya juga mampu melakukan seperti YESUS.

Pengalaman dari seorang anak TUHAN yang bernama Henokh Rudi ini merupakan contoh "biji sesawi" yang bertumbuh mengatasi problem berupa penyakit. Beberapa waktu yang lalu anak TUHAN ini mengalami sakit secara mendadak. Tubuhnya menggigil dan nafasnya menjadi sesak. Lalu ia menelpon saya untuk didoakan. Setelah didoakan, tidak lama kemudian anak TUHAN ini sembuh dari sakitnya itu dan sekarang ia sudah dapat beribadah dan beraktifitas kembali seperti biasa yang dilakukannya.

MATIUS 17 : 20
20 IA berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab AKU berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Dalam menjawab murid-murid mengapa mereka tidak dapat mengusir setan, YESUS kembali menggunakan istilah "biji sesawi". Kata "kurang percaya" (NIV: so little faith), yang artinya imannya terlalu kecil karena tidak bertumbuh. YESUS berkata bahwa jika mereka mempunyai iman sebesar biji sesawi yang bertumbuh, mereka akan mampu melakukan apa pun. Jadi maksud iman sebesar biji sesawi itu bukanlah sekecil biji sesawi, melainkan seperti biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon yang besar.

Mengapa YESUS mengatakan mereka dapat memindahkan gunung, bukan mengatakan mampu mengusir setan? Permasalahan yang dihadapi saat itu adalah setan yang menaburkan penyakit. Masalah memindahkan gunung dan mengusir setan merupakan permasalahan yang sangat berbeda. Memindahkan gunung gambaran masalah-masalah biasa yang penanganannya tidak diperlukan sesuatu yang khusus, cukup dengan iman. Sedangkan persoalan mengusir setan, diperlukan sesuatu yang tidak hanya sekedar iman, tetapi ada yang lain. Apakah itu?

MATIUS 17 : 21
21(Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)

Dari ayat di atas, barulah lebih jelas mengapa YESUS berkata bahwa dengan iman sebesar biji sesawi saja kita mampu memindahkan gunung. Mengusir setan lebih sulit dari pada memindahkan gunung. Itu sebabnya untuk mengusir setan, tidak hanya memerlukan iman, tetapi juga diperlukan doa dan puasa. Artinya, kita perlu bertumbuh lebih besar lagi untuk menghadapi setan yang mampu bergerak dan bukan sebagai benda mati. Dengan pertumbuhan rohani yang lebih besar lagi, barulah setan dapat kita kalahkan.

Nah, jika setan saja dapat kita usir, apalagi persoalan-persoalan biasa. Semuanya itu dapat kita pindahkan jauh dari kehidupan kita. Kuncinya, sudahkah kita (biji sesawi) tertanam di tempat yang benar (kerajaan Sorga),sudahkah kita disirami dengan Air Hidup? Itu semua menentukan bertumbuh atau tidaknya biji sesawi tersebut.

Apabila hingga saat ini masih banyak kendala dan persoalan yang belum terselesaikan, jadilah biji sesawi yang bertumbuh di dalam kerajaan Sorga. Maka kita akan benar-benar memiliki kerajaan Sorga itu sejak masih ada di dalam dunia.

Banyak kesaksian dari mujizat-mujizat yang TUHAN nyatakan kepada anak-anak-NYA di gereja ini sebagai bukti bahwa kerajaan Sorga itu sudah kita alami sejak saat kita masih di dalam dunia. Salah satu kesaksian adalah seorang anak TUHAN yang mengalami permasalahan ekonomi beberapa waktu yang lalu. Anak TUHAN ini melakukan sebuah pekerjaan yang cukup besar. Dalam pekerjaannya ini ia melakukan sebuah persetujuan kerja dengan pihak lain sebesar 2,4 juta dolar US. Tetapi beberapa saat kemudian ia menghadapi suatu persoalan. Di tengah persoalannya,anak TUHAN ini datang kepada saya untuk minta didoakan. Selesai berdoa saya mengatakan kepadanya bahwa besok persoalannya akan selesai. Dengan kejujuran anak TUHAN ini berkata bahwa ia percaya kepada TUHAN, tetapi ia merasa bingung sebab persoalannya bukanlah berkaitan dengan uang berjumlah sedikit. Namun di tengah kebingungannya itu TUHAN menunjukkan kuasa-NYA. Persis seperti apa yang saya ucapkan, keesokan harinya persoalannya anak TUHAN ini terselesaikan dengan baik.

Ketika seorang anak TUHAN tertanam dan bertumbuh, maka ia akan menerima dan merasakan kerajaan Sorga yang dijanjikan ALLAH. Itu sebabnya kita tidak boleh hanya tertanam, tetapi juga mau bertumbuh. Dengan demikian, kita yang tadinya memiliki kekuatan yang kecil, karena bertumbuh dapat menjadi kuat dan memiliki kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi segala persoalan hidup ini. Amin.