Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Manusia Duniawi dan ...
Manusia Duniawi dan Manusia Rohani
Pdt. DR. Benny Santoso, Ph.D. | PA Selasa, 15 September 1998
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 13/07/08

Injil diberitakan bagi semua orang, tetapi respon setiap orang terhadap Injil tidaklah sama. Terbentuk tiga golongan manusia berdasarkan respon mereka dalam menyikapi keselamatan yang disediakan TUHAN YESUS.

1 KORINTUS 2 : 14 - 15
14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari ROH ALLAH, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. 15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.

Golongan pertama adalah manusia duniawi, atau di dalam Alkitab New King James Version disebut natural man. Golongan ini adalah manusia yang tidak mau menerima Injil. Sedangkan golongan lainnya disebut manusia rohani, dalam Alkitab terjemahan New International Version disebut spiritual man atau spiritual Christian. Manusia rohani adalah orang Kristen yang sudah dewasa secara rohani, yang benar-benar memahami Firman ALLAH.

1 KORINTUS 3 : 3
3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

Di dalam 1 Korintus 2:14 dan 1 Korintus 3:3 sama-sama disebutkan “manusia duniawi”. Tetapi ada perbedaan di antara keduanya. Manusia duniawi 1 Korintus 3:3 (NKJV) dituliskan, “for you are still carnal...” Manusia duniawi di dalam ayat ini adalah orang Kristen yang masih kedagingan atau carnal Christian. Kelompok ketiga ini adalah orang Kristen, tetapi belum sepenuhnya dewasa rohani, yang masih memendam iri hati dan masih suka bertengkar.

Perbedaan antara carnal Christian dan spiritual Christian terlihat jelas dalam menangani masalah. Orang Kristen yang segera berdoa meminta petunjuk TUHAN sebelum melakukan tindakan lainnya, itu adalah salah satu ciri bahwa dia adalah orang Kristen yang sudah dewasa rohani. Sedangkan bila orang Kristen dilanda kepanikan saat menghadapi problema, bisa ditebak dia masih Kristen bayi. Bahkan golongan ini kadang-kadang masih tergoda untuk meminta petunjuk kepada paranormal.

MATIUS 7 : 6
6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Natural man bagaikan babi yang menginjak-injak mutiara –gambaran orang yang mencemooh Firman ALLAH. Memang mereka ini adalah golongan manusia yang memang tidak dapat menerima Firman. Karena itu orang Kristen harus penuh hikmat dan berdoa terlebih dahulu sebelum bersaksi atau memberitakan Injil. Jangan terus mendesak golongan natural man untuk menerima Injil, sebab hal itu akan mengakibatkan Firman TUHAN dihina mereka dan mengakibatkan situasi memanas.

Sewaktu orang Gadara dilepaskan dari setan, setan permisi kepada TUHAN YESUS untuk masuk ke dalam kawanan babi (Matius 8:31). Hal ini memperkuat gambaran babi sebagai orang duniawi yang tidak mau menerima Firman, yang dipilih oleh setan sebagai tempat tinggalnya.

Saya sendiri bukan orang yang mudah menerima KRISTUS. Tidak mudah, tetapi masih ada kemungkinan. Saat terdesak masalah yang tidak mampu saya pikirkan jalan keluarnya, saya menyerah di hadapan ALLAH yang memiliki jawaban atas masalah saya.

Istilah lain dari natural man adalah orang bebal. Bebal berbeda dengan bodoh. Orang bodoh ibarat besi tumpul yang bila diasah bisa menjadi tajam, gambaran orang yang mau belajar Firman akan bijaksana. Tetapi orang bebal selamanya tidak mau menerima ajaran Firman.

KEJADIAN 24 : 47
47 Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Ayahku Betuel anak Nahor yang dilahirkan Milka. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya.

Sebagai calon mempelai, Ribka menerima anting-anting di hidungnya atau cincin (dalam bahasa Inggris disebut ring) dari Eliezer. Ribka menggambarkan gereja TUHAN, calon mempelai bagi Ishak, gambaran TUHAN YESUS. Pemberian cincin ini pertanda Eliezer (gambaran ROH KUDUS) telah mantap memilih Ribka sebagai mempelai KRISTUS.

Bandingkan dengan perumpamaan Salomo “Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila” (Amsal 11:22). Babi yang mengenakan anting-anting di hidungnya maupun wanita asusila menggambarkan natural man yang tidak bisa terima Firman walau diberi pengajaran Firman TUHAN. Golongan ini sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai calon mempelai KRISTUS.

EFESUS 1 : 13 - 14
13 Di dalam DIA kamu juga--karena kamu telah mendengar Firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam DIA kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan ROH KUDUS, yang dijanjikan-NYA itu. 14 Dan ROH KUDUS itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik ALLAH, untuk memuji kemuliaan-NYA.

Untuk memenuhi syarat sebagai calon pengantin KRISTUS, tentu kita harus terlebih dahulu menjadi orang Kristen yang dewasa rohani. Tidak mungkin calon pengantin itu masih anak-anak. Pertumbuhan kerohanian itu dimulai dengan kita dimeterai ROH KUDUS saat menerima Injil. Pertumbuhan ini harus terus disirami dengan Firman TUHAN, sehingga kita akan menerima baptisan ROH KUDUS, dan menghasilkan buah ROH di dalam hidup kita. Setiap orang akan dapat melihat ROH KUDUS yang terpancar dari dalam diri kita; hal ini nyata sekali dan tidak dapat dipalsukan. Baru tahap berikutnya karunia ROH diberikan ALLAH untuk melengkapi orang Kristen yang dewasa rohani.

MAZMUR 32 : 9
9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.

Untuk mengendalikan kuda diperlukan tali kekang. Tali kekang yang mengikat puncak kepala dan bagian wajah bagian bawah kuda (area hidung dan mulut) ini dihubungkan dengan cincin. Seperti kegunaan tali kekang yang mengendalikan kuda, demikianlah calon mempelai KRISTUS diberi cincin pada hidungnya sebagai kekang agar jalan hidupnya tidak melenceng. ROH KUDUS bertugas menuntun dan mengerem calon mempelai KRISTUS bila mulai melirik kehidupan dalam hawa nafsu.

GALATIA 5 : 16 - 17
16 Maksudku ialah: hiduplah oleh ROH, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan ROH dan keinginan ROH berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

Orang Kristen sering melakukan kehendak sendiri, contohnya malas berdoa dengan alasan capek, enggan ke gereja karena ada kesibukan lainnya, malu menolak ajakan minum-minum, dan sebagainya. Keinginan daging ini harus dilawan, dan kita sebagai manusia yang penuh kelemahan tak mampu melawannya sendirian. Kita perlu dipimpin oleh ROH KUDUS agar mampu mengalahkan diri kita sendiri.

Dituntun ROH KUDUS itu bukan sekedar rajin ke gereja, menyanyi memuji TUHAN, tidak terlambat membawa perpuluhan. Dituntun ROH berarti benar-benar mengalahkan hawa nafsu. Ibarat atlit lari gawang, kita perlu terus berlatih agar semakin hari semakin sedikit gawang yang jatuh, dan akhirnya tanpa sebuah gawang pun yang jatuh. Namun jangan putus asa bila terjatuh. Mintalah ampun kepada TUHAN yang akan memulihkan dan memberikan kita tuntunan dan kemenangan.

MAZMUR 78 : 14
14 dituntun-NYA mereka dengan awan pada waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang api.

Tanpa menerima tuntunan TUHAN yang berwujud tiang awan, yakni gambaran tuntunan FIRMAN TUHAN dan tiang api, gambaran tuntunan ROH KUDUS, bangsa Israel tidak akan mampu berjalan sampai ke tanah perjanjian, Kanaan. Perjalanan bangsa Israel ini adalah perjalanan melalui padang gurun, gambaran dunia yang gersang dan panas. Tanpa tiang awan, orang Israel akan meleleh oleh ganasnya matahari yang membakar kulit mereka. Dan di tengah gulitanya malam (gambaran situasi tak menentu), mereka dihangatkan dan diterangi api TUHAN.

Mau hidup dalam tuntunan Firman TUHAN dan ROH KUDUS membuat kita pantas menyandang predikat spiritual Christian. Kita bukan lagi carnal Christian yang mudah menyerah pada kehendak hawa nafsu. Ketaatan pada TUHAN akan membawa kita berhasil mencapai tanah perjanjian yang berlimpah berkat dan kebahagiaan. Amin.