Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Garam Dunia dan Tera...
Garam Dunia dan Terang Dunia
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 2 Minggu, 18 April 2010
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 20/06/10
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

YESUS menyebut kita sebagai garam dunia, terang dunia dan kota yang terletak di atas gunung. Apakah keistimewaan ketiga sebutan yang diberikan YESUS itu?

MATIUS 5 : 13 - 14
13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."

Mengapa TUHAN YESUS menyebut kita sebagai garam dunia dan terang dunia? Karakter garam dan terang: tidak dapat diubah. Garam tidak dapat dibuat menjadi tawar. Garam mengalahkan rasa hambar, punya cita rasa, dan menyedapkan. Demikian pula terang, tidak dapat dikalahkan oleh gelap. Sebaliknya, gelap pasti dikalahkan oleh terang. Karakter garam dunia dan terang dunia ini merupakan karakter Kristen yang tidak dapat dipengaruhi oleh dunia, namun mampu mempengaruhi dan mengubah dunia. Di mana pun, dalam situasi apa pun, karakter garam dunia dan terang dunia tidak terpengaruh atau berubah. Karakter kuat seperti inilah yang menjadi karakter kita. Orang Kristen yang menjadi garam dunia dan terang dunia memiliki posisi yang tinggi dan dihormati, seperti kota yang terletak di atas gunung.

MATIUS 5 : 15 - 16
15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan BAPA-mu yang di sorga."

Zaman Injil ini ditulis, penerangan masih menggunakan lampu tempel atau pelita. Setelah pelita dinyalakan, orang meletakkannya di tempat yang cukup tinggi agar sinarnya menerangi seluruh ruangan. TUHAN YESUS menyebut kita dengan "terang dunia", bukan "pelita dunia". Sebab bila tidak dinyalakan, pelita tak mengeluarkan sinar terang. Terang itulah yang menerangi, yang mengusir kegelapan, bukan pelita itu.

Orang tidak meletakkan pelita yang telah menyala di bawah gantang (guci) yang akan menutupi sinarnya atau meletakkannya di bawah ranjang. Mengapa banyak orang Kristen yang posisinya masih di bawah, belum "terlihat" atau belum eksis? Sebab masih menjadi pelita, belum menyala, atau belum menjadi terang dunia. Yang dicari orang adalah sinarnya, bukan pelita itu sendiri. Kekristenan dilihat dari sinar terang yang kita pancarkan. Sinar ini tidak mungkin ada tanpa minyak --ROH KUDUS. Setelah ROH KUDUS dicurahkan atas kita, barulah kita dapat menjadi terang dunia.

Marilah kita melihat diri kita masing-masing, sudahkah kita sebagai terang dunia yang ditunggu-tunggu kehadirannya di dalam keluarga? Ataukah setiap anggota keluarga seperti siput yang segera berlindung di dalam cangkangnya begitu kita berada di dekat mereka? Apakah semua orang, di dalam rumah kita, termasuk asisten (PRT) telah menikmati terang itu? Saya tidak mengatakan kita harus mengkristenkan asisten kita. Sebagai gambaran, asisten dan sopir keluarga kami, mereka semua tahu saya adalah hamba TUHAN dan punya kuasa TUHAN. Sehingga saat anak sopir saya sakit, dia minta saya mendoakan anaknya.

Seseorang disebut Kristen bukan dari KTP-nya yang mencantumkan agama Kristen, tetapi dari perbuatannya yang baik. Perbuatan yang mencerminkan perbuatan terang dunia dan garam dunia, yakni perbuatan yang mampu mengubah hati yang tawar, perbuatan yang mampu menerangi hati yang gelap. Sebenarnya tidak ada manusia yang mampu berbuat baik. Kita akan mampu berbuat baik bila ROH KUDUS ada di dalam hati kita.

Perbuatan baik sebagai garam dan terang dunia itu memiliki dampak positif. Pertama, kita diibaratkan kota yang terletak di atas gunung, artinya memiliki status yang tinggi dan dihormati. Karena itu jangan kita minder. Kedua, BAPA dipermuliakan karena perbuatan kita. Menyenangkan hati BAPA dengan mempermuliakan DIA, kita akan menerima berkat dari BAPA, baik berkat di dunia maupun di Sorga.

Banyak orang Kristen bertanya, mampukah dia menjadi garam dunia dan terang dunia? Syarat menjadi garam dunia dan terang dunia bukan dilihat dari kekayaan, kadar intelektualitas, atau pun status sosial. Kita akan mempelajari dua orang yang mampu menjadi garam dunia dan terang dunia, kendati mereka bukan "siapa-siapa".

ESTER 2 : 5 - 7
5 Pada waktu itu ada di dalam benteng Susan seorang Yahudi, yang bernama Mordekhai bin Yair bin Simei bin Kish, seorang Benyamin 6 yang diangkut dari Yerusalem sebagai salah seorang buangan yang turut dengan Yekhonya, raja Yehuda, ketika ia diangkut ke dalam pembuangan oleh raja Nebukadnezar, raja Babel. 7 Mordekhai itu pengasuh Hadasa, yakni Ester, anak saudara ayahnya, sebab anak itu tidak beribu bapa lagi; gadis itu elok perawakannya dan cantik parasnya. Ketika ibu bapanya mati, ia diangkat sebagai anak oleh Mordekhai.

Mordekhai adalah seorang tawanan yang diangkut ke pembuangan, menunjukkan status sosial yang sangat rendah, bahkan sama sekali tak berharga. Arti namanya pun "little man". Latar belakangnya yang berasal dari suku Benyamin, suku terkecil bangsa Israel, menjadi pelengkap yang pas sebagai seseorang yang tidak ada artinya. 

Seorang lagi yang tak kalah mengenaskan nasibnya adalah Hadasa atau Ester, seorang yatim piatu dan seorang buangan. Hadasa kemudian diasuh oleh Mordekhai. Arti nama Hadasa adalah "Myrtle", sejenis tumbuhan yang melambangkan cinta kasih. Namanya sangat sesuai sebagai orang yang menjadi garam dunia dan terang dunia, yang memiliki kasih dalam hidupnya. Kemudian, oleh raja Ahasyweros namanya diganti menjadi Ester, nama Persia yang berarti dewa kesuburan atau dewa peperangan. Penggantian nama ini tidak mampu mengubah karakter Hadasa, karakter seorang garam dunia. 

Ester tidak berubah karakternya karena pengasuhnya, Mordekhai, seorang beriman. Iman Mordekhai ini ditransfer kepada Ester yang diasuhnya. Penting diketahui orangtua bahwa pengasuh mempengaruhi perilaku anak yang diasuhnya. Saya bukan seorang yang anti babysitter. Hanya, kita perlu waspada sebab pengasuh ikut menentukan hari depan anak-anak yang diasuhnya. Terlihat dari kehidupan Ester. Kendati yatim piatu, dengan pengasuhan yang benar Ester mampu menjadi garam dan terang dunia. 

ESTER 2 : 17 - 18
17 Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti. 18 Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah-daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja.

Suatu ketika raja Ahasyweros memecat ratu Wasti dan mencari ratu baru sebagai gantinya. Semua gadis cantik di seluruh kerajaan dikumpulkan untuk mengikuti kontes pemilihan ratu. Dari sekian banyak kontestan, Ester, gadis yatim piatu, yang terpilih menjadi ratu. 

Apa nilai plus Ester yang membuatnya terpilih? Selain cantik, Ester memiliki kasih (Ester 2:7 NKJV "...the young woman was lovely and beautiful..."). Hari ini seseorang menjadi yang tercantik, besok mungkin dikalahkan orang lain yang lebih cantik; hari ini cantik dan muda, beberapa tahun kemudian keriput di sana-sini mulai menghiasi wajah dan tubuh. Ester tak sekadar memiliki kecantikan yang bertahan sementara saja; dia mampu memenangkan persaingan itu karena memiliki kasih, memiliki terang ROH KUDUS. 

Kebahagiaan raja memiliki ratu baru dinyatakan dengan mengadakan pesta, kebebasan pajak dan memberikan hadiah bagi orang-orang. Ester sebagai garam dunia dan terang dunia membawa dampak positif bagi seluruh istana dan wilayah kerajaan yang ikut menikmati kegembiraan. Demikian pula bila satu orang dalam keluarga menjadi garam dunia, semua orang dalam rumah itu menikmati suasana yang menyenangkan, dan akan membuat mereka mengenal YESUS. Raja Ahasyweros, raja kafir yang kikir, diubahkan menjadi raja yang memiliki kasih dan dermawan. Cinderella versi Alkitab ini, seorang gadis yatim piatu yang tadinya hanyalah orang buangan yang tidak lebih berharga daripada anjing sang raja, kini menduduki posisi ratu dan mampu mengubahkan raja.

ESTER 5 : 3
3 Tanya raja kepadanya: "Apa maksudmu, hai ratu Ester, dan apa keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu."

Sebutan "ratu" merupakan pengakuan dan kehormatan dari sang raja bagi Ester yang kini sudah menjadi "kota yang terletak di atas gunung". Raja menanggapi Ester yang menghadap dengan menanyakan keinginan sang ratu; apa pun yang diinginkan sang ratu, bahkan setengah kerajaan pun akan diberikan kepadanya. Satu orang menjadi garam, setengah kerajaan menjadi miliknya. Dua orang: Ester dan Mordekhai menjadi garam dunia, seluruh kerajaan akan menjadi milik mereka. Ester dan Mordekhai tak perlu curang untuk menguasai kerajaan, sebab kemenangan itu diperolehnya karena menjadi garam dunia. Kemenangan itu juga pasti menjadi milik kita bila suami-istri menjadi garam dunia. Dampak yang lebih besar akan diperoleh bila seluruh anggota keluarga: suami, istri dan anak-anak, semuanya menjadi garam dunia.

ESTER 10 : 3
3 Karena Mordekhai, orang Yahudi itu, menjadi orang kedua di bawah raja Ahasyweros, dan ia dihormati oleh orang Yahudi serta disukai oleh banyak sanak saudaranya, sebab ia mengikhtiarkan yang baik bagi bangsanya dan berbicara untuk keselamatan bagi semua orang sebangsanya.

Dua orang: Ester dan Mordekhai menjadi garam dunia, seluruh kerajaan dikuasai mereka. Terbukti Mordekhai menjadi orang kedua di bawah raja. Sebagai ratu, Ester pun menjadi orang kedua di bawah raja. Dua orang "orang kedua di bawah raja" yang sehati memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi raja Ahasyweros. Mereka berdua mampu mengubah struktur pemerintahan di kerajaan itu.

Tanpa perlu mencari hormat, hanya dengan menjadi garam dunia dan terang dunia, kehormatan itu datang dengan sendirinya bagi Mordekhai. Mordekhai dihormati oleh orang Yahudi (gambaran sesama orang Kristen), dan disukai sanak saudara (keluarga). Penting menjadi garam dunia dan terang dunia di lingkungan keluarga terlebih dahulu. Jika belum menjadi garam dan terang bagi keluarga, bagaimana mungkin dapat menjadi garam dan terang bagi dunia ini? Setelah menjadi garam dunia dan terang dunia di tengah keluarga, kemudian di lingkungan orang Kristen, baru kemudian mencapai lingkup yang lebih luas: dunia.

Sesuai dengan karakternya sebagai garam dunia dan terang dunia, Mordekhai melakukan perbuatan yang baik bagi bangsa Yahudi. Dia juga berbicara untuk keselamatan bangsanya. Sudahkah kita seperti Mordekhai yang membicarakan tentang KRISTUS di dalam lingkungan keluarga?

Ingin memiliki posisi tinggi dan dihormati Ester dan Mordekhai, seperti kota yang terletak di atas gunung, kita harus menjadi garam dunia dan terang dunia terlebih dahulu. Sebagai terang dunia, tentu kita harus berbicara tentang terang KRISTUS, dan sebagai garam dunia, perbuatan kita harus menyedapkan kehidupan orang di sekitar kita. Amin.