Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Roti Hidup
Roti Hidup
Pdt. Handoyo Santoso, M.Min. | PA Selasa, 8 Maret 2005
Disadur oleh Sandra Sumual | Tanggal Terbit : Minggu, 12/06/05

Tatkala murid-murid YESUS lupa membawa roti dalam perjalanan mereka menyeberang danau, TUHAN YESUS menanggapinya dengan memberi peringatan "Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki". Mengapa TUHAN YESUS berkata demikian?

MATIUS 16 : 5
5 Pada waktu murid-murid YESUS menyeberang danau, mereka lupa membawa roti.

Murid-murid YESUS lupa membawa roti ketika mereka bersama-sama menyeberang danau. "Roti" yang dimaksud di sini memiliki arti rohani, yaitu Roti Hidup atau "Firman TUHAN". Perbuatan murid-murid YESUS ini menggambarkan orang-orang Kristen yang seringkali "lupa" mengikut-sertakan ajaran Firman TUHAN di dalam menjalani kehidupan ini. Contoh yang sering kita lihat, atau bahkan lakukan adalah lupa membawa Alkitab ketika ke gereja. Hal ini kelihatan remeh, tetapi sangat ironis jika seorang anak TUHAN datang ke gereja tanpa membawa Alkitab.

KELUARAN 16 : 4
4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya AKU akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka KUcoba, apakah mereka hidup menurut hukum-KU atau tidak."

Sejak dalam Perjanjian Lama, ALLAH sudah memerintahkan bangsa Israel agar mereka memungut roti setiap hari. Dalam versi bahasa Inggris, kata "Kucoba" adalah "test" atau "menguji". ALLAH ingin menguji umat-NYA apakah mereka taat perintah-NYA atau tidak. Pada waktu itu umat Israel kelaparan di padang gurun, dan ALLAH berfirman bahwa IA akan menurunkan berkat besar, yakni hujan roti. Tanpa berbuat apa-apa, ALLAH sendiri mengirimkan makanan yang mereka butuhkan. Ujiannya adalah apakah mereka taat untuk memungutnya tiap-tiap hari sebanyak yang mereka perlukan.

ALLAH menginginkan kita untuk memungut manna, Roti dari TUHAN secukupnya setiap hari. Kita harus memungutnya setiap hari, bukan mengambilnya untuk beberapa hari sekaligus. Jadi "cukup untuk sehari" berarti hidup kita setiap hari tidak boleh terlepas dari Firman TUHAN.

Bangsa Israel harus memungut manna pada waktu pagi (Keluaran 16 : 21), saat baru bangun tidur. Biasanya di saat bangun tidur kondisi kita dalam keadaan "fresh" atau prima. Dan pagi hari merupakan permulaan hari di mana kita memulai segala kegiatan pada hari itu. Pada pagi hari, sebelum kita melakukan segala aktifitas, kita perlu makan "roti" yakni Firman ALLAH. Meskipun demikian, penekanan di sini bukanlah soal waktu pagi, siang, atau malam, melainkan kita menyediakan waktu yang terbaik untuk TUHAN dan mengutamakan makan "roti" yaitu "Firman" sebelum kita memulai segala sesuatu. Namun Anak TUHAN kadang-kadang ada "hari" yang terlewatkan tanpa makan Firman atau lupa menambah porsi Roti Hidup itu.

Apakah sesungguhnya yang dilupakan murid-murid YESUS? Roti yang lupa dibawa oleh mereka sesungguhnya adalah YESUS sendiri. Di dalam Yohanes 6 : 35, YESUS memberikan pernyataan yang sangat jelas: "AKUlah roti hidup..." Murid-murid tidak membawa YESUS atau Firman di dalam hatinya. Firman itu adalah YESUS sendiri seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 1 : 14 bahwa Firman itu telah menjadi "manusia" yaitu YESUS. Murid-murid -gambaran orang Kristen- berulangkali melupakan YESUS, melupakan Firman dalam mengarungi hidupnya.

Mengabaikan YESUS di dalam mengarungi kehidupan digambarkan dalam peristiwa lain, yaitu membiarkan YESUS tidur di dalam perahu ketika murid-murid menyeberang danau bersama-NYA (Lukas 8 : 22- 24). Ini merupakan gambaran anak-anak TUHAN yang menyeberang danau kehidupan bersama YESUS, tetapi tidak menjadikan YESUS sebagai nakhoda kehidupannya. YESUS tidur bukan menyatakan bahwa IA kelelahan, tetapi IA mau menunjukkan kepada kita bahwa pada saat kita tidak menghargai kehadiran-NYA, maka IA mempersilahkan kita menjadi nakhoda kehidupan kita sendiri. Seperti yang dialami murid-murid-NYA, sekonyong-konyong "badai kehidupan" itu menerpa hidup kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi dalam mengarungi kehidupan ini, dan bagaimana kita menghadapi keadaan itu, sebab "badai" itu datang sekonyong-konyong.

Saya juga pernah mengalami "badai" kehidupan yang sekonyong-konyong datang menerpa. Saya adalah anak sulung dari Papa Benny Santoso. Saya melayani bersama papa di bidang musik selama kurang lebih dua puluh lima tahun. Tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa pada suatu hari saya akan berdiri di mimbar ini untuk memberitakan Firman ALLAH. Tetapi sekonyong-konyong saat itu tiba, pada saat Papa dipanggil kembali ke rumah BAPA di Surga, saya baru menyadari bahwa selama ini TUHAN telah mempersiapkan saya untuk menjadi hamba-NYA, bukan di bidang musik saja tetapi sebagai pemberita Firman. Saya merasa apa yang TUHAN sudah anugerahkan kepada saya selama melayani bersama papa sangat berarti buat saya sendiri, juga buat jemaat yang mendengarkan khotbah saya.

MATIUS 16 : 6
6 YESUS berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki."

Menanggapi murid-murid-NYA yang lupa membawa roti, YESUS memperingatkan supaya mereka waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Dari peringatan YESUS ini, menunjukkan, bahwa roti yang dimaksud bukanlah roti biasa, tetapi Roti Hidup atau Firman. Jika seorang anak TUHAN tidak makan "roti kehidupan" maka akan sangat berbahaya karena makanan alternatif yang tersedia adalah roti yang mengandung ragi orang Farisi yaitu kemunafikan. Roti hidup yang kita terima akan memancarkan inner beauty atau kecantikan rohani dari dalam batin kita. Sebaliknya yang dilakukan orang Farisi adalah memoles bagian luarnya untuk menutupi sifat-sifat buruk yang tidak sesuai dengan Firman ALLAH.

MATIUS 16 : 7 - 10
7 Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-NYA karena kita tidak membawa roti." 8 Dan ketika YESUS mengetahui apa yang mereka perbincangkan, IA berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya! 9 Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian? 10 Ataupun akan tujuh roti untuk empat ribu orang itu dan berapa bakul kamu kumpulkan kemudian?

Ketika YESUS berkata "berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki," murid-muridNYA tidak mengerti. Mereka saling bertanya satu sama sama lain dan mengira bahwa yang TUHAN YESUS maksudkan adalah mereka lupa membawa roti untuk mereka makan pada saat itu. Kalau anak TUHAN lupa membawa Roti Hidup, artinya tidak memiliki Firman dalam hidupnya, otomatis ia tidak akan mengerti apa yang diucapkan oleh YESUS, sebab DIA-lah Roti Hidup itu. YESUS menegur mereka karena mereka hanya memikirkan soal roti untuk mengenyangkan perut. Bukankah orang Kristen seringkali datang ke gereja dengan tujuan hanya supaya kebutuhan jasmaniahnya tercukupi? Teori kemakmuran menganut pola pikir seperti yangdimiliki oleh para murid YESUS ini. Standar sukses sebagai orang Kristen didasarkan atas hal-hal jasmani saja: misalnya kekayaan dan kesembuhan. Padahal hal-hal jasmani hanyalah akibat yang kita terima bila kita memiliki Roti Hidup.

TUHAN YESUS tidak pernah mengabaikan kebutuhan jasmani anak-anak TUHAN, tetapi yang DIA inginkan adalah anak-anak-NYA lebih mengutamakan makanan rohani yaitu Firman ALLAH. Bukankah IA sendiri pernah berkata "Carilah dahulu Kerajaan ALLAH dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"? (Matius 6 : 33). Kebutuhan jasmani merupakan hal yang sepele di mata TUHAN. Bukankan 5 roti dan 2 ikan itu cukup memberi makan 5000 orang karena TUHAN yang memberkatinya? Justru hal utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana Roti atau Firman itu menjadi satu dengan kita sehingga kita memiliki kekuatan untuk menghadapi gelombang kehidupan yang sekonyong-konyong datang menerpa hidup kita.

LUKAS 12 : 1
1 Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu YESUS mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-NYA: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.

Kembali YESUS mencela kemunafikan orang Farisi, dan memperingatkan murid-murid-NYA untuk berhati-hati agar tidak terbawa arus kemunafikan mereka. Ragi orang Farisi ini sangat berbahaya dan harus diwaspadai oleh anak-anak TUHAN karena orang Farisi menolak kebenaran akan kematian dan kebangkitan TUHAN YESUS. Dengan demikian ragi orang Farisi adalah ketidak-percayaan akan kuasa Firman TUHAN. Menjadi murid YESUS yang baik bukan sekedar rutinitas beribadah tetapi mengenal YESUS sebagai TUHAN dan mengenal kuasa kebangkitan-NYA.

Pada satu ketika Sadhu Sundar Singh, seorang penginjil India yang terkenal, sedang melakukan perjalanan dengan menumpang sebuah kereta api di India. Di situ ia bertemu dengan seseorang, dan ia ingin sekali orang itu mau percaya kepada TUHAN YESUS. Pada saat itu ia hanya membawa kitab Injil Yohanes dan memberikan kepada orang itu. Sadhu berdoa agar kuasa TUHAN bekerja sehingga orang yang membaca Injil itu akan bertobat. Tetapi kenyataannya sungguh berbeda. Orang itu langsung merobek-robek lembaran Alkitab itu dan membuangnya keluar jendela. Tetapi kisah ini belum selesai...

Seorang pertapa yang sedang mencari ilmu, menyusuri rel kereta api dan menemukan sobekan lembaran kertas. Ia membacanya, dan ternyata itu adalah sobekan dari Alkitab yang dirobek oleh orang yang diinjili Sadhu Sundar Singh di kereta api. Sobekan yang bertuliskan Yohanes 6 : 35 "Akulah roti hidup..." sangat menyentuh hatinya. Dia mencari-cari arti kalimat itu, yang membawanya mengenal YESUS dan mengubah hidup pertapa itu. Ia menjadi seorang yang percaya kepada YESUS, Roti Hidup yang memberinya hidup kekal. Pertapa itu kemudian menyerahkan hidupnya untuk melayani TUHAN dan menjadi seorang penginjil.

Kuasa ALLAH bekerja kadang-kadang di luar logika manusia. Sesungguhnya "Roti" itu tidak pernah terbuang dengan sia-sia karena kuasa ALLAH ada di dalamnya dan sanggup mengubah hidup seseorang. Demikian pula di dalam hidup orang percaya: bila kuasa Firman itu bekerja maka di manapun dan apapun masalah yang dihadapi, Roti Hidup itu sanggup mengatasinya.

KELUARAN 12 : 15
15 Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.

Untuk mempersiapkan Paskah, maka orang Israel harus makan roti yang tidak beragi selama tujuh hari. Orang yang makan roti yang beragi akan dilenyapkan dari antara orang Israel, gambaran anak TUHAN. Tujuh hari adalah angka sempurna. Untuk layak menerima Domba Paskah, yaitu KRISTUS sendiri, kita harus membuang ragi dari kehidupan kita, yaitu ajaran-ajaran orang Farisi yang tidak mempercayai kematian dan kebangkitan YESUS. Kalau tidak, kita akan binasa dan kehilangan keselamatan kekal.

YOHANES 12 : 24
24 AKU berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Orang Farisi dan Saduki menolak dan ingin menutupi kebenaran tentang kematian dan kebangkitan YESUS. Melalui perkataan ini, YESUS menerangkan dengan jelas arti kematian dan kebangkitan-NYA. Jika biji gandum -bahan utama roti- ini tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tidak akan tumbuh dan menghasilkan banyak buah. Artinya TUHAN YESUS menjadi Roti Hidup bagi kita setelah DIA mati dan bangkit. Biji gandum yang mati itu menghasilkan banyak buah, artinya kita, orang-orang percaya, merupakan buah yang dihasilkan dari kematian dan kebangkitan TUHAN.

MATIUS 16 : 11 - 12
11 Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti bahwa bukan roti yang KUmaksudkan. AKU berkata kepadamu: Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." 12 Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-NYA supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki.

TUHAN YESUS tidak menjelaskan panjang lebar mengenai ragi orang Farisi dan Saduki. DIA hanya mengingatkan mereka tentang mujizat-mujizat yang telah disaksikan sendiri oleh mereka, yaitu beberapa potong roti menjadi makanan untuk ribuan orang. Murid-murid yang sebelumnya tidak mengerti tentang peringatan yang diberikan YESUS tentang ragi Farisi, sekarang dapat menangkap maksud TUHAN.

YESUS memiliki metode khusus untuk mengajar dan membuat murid-murid-NYA mengerti perkataan-NYA. Ketika pertama kali YESUS berkata "waspadalah ..." dan murid-murid-NYA tidak mengerti (Matius 16 : 6). YESUS kemudian mengulanginya lagi, menyampaikan hal yang sama (Matius 16 : 12), barulah murid-murid itu mengerti. Firman yang disampaikan dua kali mengenai "waspadalah terhadap ragi Farisi" ini menggambarkan tentang Firman dan Kuasa. Firman yang disampaikan dengan kuasa yang berasal dari TUHAN, sanggup bekerja dan membuat orang itu mengerti.

Inilah yang saya gumuli sebagai hamba TUHAN yang menyampaikan Firman ALLAH kepada jemaat. Saya tidak ingin hanya sekedar belajar dan menghafal Firman TUHAN atau membaca buku-buku rohani tanpa saya mengerti atau hanya menjiplaknya. Saya ingin belajar dan mempersilahkan ALLAH bekerja di dalam diri saya, sehingga bukan kekuatan saya sendiri melainkan kuasa ALLAH yang bekerja sehingga Firman yang saya sampaikan itu akan membuat jemaat yang mendengarnya mengerti. Jika kita membiarkan kuasa ALLAH itu bekerja di dalam diri kita maka Firman itu akan bekerja dan orang yang mendengarnya akan terbuka hatinya.

Contoh lainnya yang melupakan Roti Hidup adalah orang tua jasmani YESUS sendiri. Pada umur dua belas tahun, YESUS diajak oleh orang tuanya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Namun ketika dalam perjalanan pulang, orang tua-NYA baru menyadari bahwa YESUS tidak bersama-sama dengan mereka (Lukas 2 : 41 - 43). Hal ini yang seringkali terjadi dalam kehidupan anak-anak TUHAN; beribadah ke gereja tetapi "meninggalkan" YESUS, atau ke gereja tetapi tidak mengajak YESUS "pulang". Hal ini sangat berbahaya. Mungkin kita sudah puas menjadi orang Kristen: rajin ke gereja, memberi persembahan yang banyak, berbuat banyak kebaikan, dsb. Tetapi kita mungkin melupakan hal yang sangat penting, yakni kehadiran YESUS di dalam hidup kita dan memimpin hidup kita, sehingga ketika badai kehidupan datang sekonyong-konyong barulah kita "kelabakan" mencari YESUS.

LUKAS 2 : 45 - 46
45 Karena mereka tidak menemukan DIA, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari DIA. 46 Sesudah tiga hari mereka menemukan DIA dalam Bait ALLAH; IA sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Kalau saat ini kita merasa belum memiliki YESUS sebagai Roti hidup, maka yang harus kita lakukan adalah "kembali ke Yerusalem" seperti yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria. Kembali ke Yerusalem, artinya kembali kepada ALLAH. Firman dan kuasa-NYA memanggil kita untuk bertobat dan kembali kepada ALLAH.

Orang tua YESUS kembali dan menemukan YESUS setelah tiga hari mencari-NYA. Hal ini memiliki arti rohani yaitu YESUS mati dan bangkit tiga hari kemudian. Dengan percaya akan kematian dan kebangkitan YESUS membuat kita dapat bertemu dengan YESUS dan menjadi satu dalam kuasa kebangkitan-NYA. Kalau kita sudah menjadi satu dengan YESUS, maka kita akan sanggup menghadapi segala masalah, bahkan sekalipun sekonyong-konyong masalah itu datang. Bersama YESUS, kita akan mampu mengatasi masalah apapun. Kebutuhan jasmani merupakan masalah kecil, seperti kata YESUS, "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!"

ROMA 6 : 5
5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-NYA, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-NYA.

Jika kita mau menerima hal yang terpenting dalam hidup kita, yaitu kuasa kematian dan kebangkitan-NYA, maka kita juga harus mati dan bangkit bersama DIA. Artinya, kita harus menyalibkan hawa nafsu duniawi dan memulai hidup yang baru dalam tuntunan Firman-NYA. Firman TUHAN itu adalah Roti Hidup yang menjadi makanan rohani kita setiap hari, sehingga hidup kita menjadi serupa dengan KRISTUS. Amin.