Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Bahasa Kasih
Bahasa Kasih
Pdt. Dr. Benny Santoso, Ph.D. | Keb. II Minggu, 7 April 2002
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 15/05/05

Dengan ilham ROH KUDUS, orang yang dipenuhi ROH KUDUS dapat berbicara dengan berbagai bahasa, yang menyuarakan kasih ALLAH kepada umat manusia. Selain Bahasa Kasih, anak TUHAN juga memiliki nyanyian baru. Seperti apakah nyanyian baru yang harus selalu kita lantunkan?

KISAH PARA RASUL 2 : 5 - 11
5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan ALLAH."

Sebelum TUHAN YESUS kembali kepada BAPA di Sorga, DIA telah berpesan kepada murid-murid-NYA untuk menantikan turunnya ROH KUDUS ke atas mereka semua. Kedatangan-NYA di dalam dunia adalah untuk menunaikan tugas sebagai ANAK DOMBA ALLAH, yaitu mengorbankan DIRINYA sendiri di atas kayu salib untuk membayar hutang dosa manusia. Kemudian DIA bangkit dalam kemenangan dan memberikan kemenangan bagi kita, sebab kebangkitan-NYA membuktikan bahwa DIA adalah ALLAH yang berkuasa.

TUHAN YESUS mengajarkan kepada murid-murid-NYA, bahwa terlebih baik DIA naik ke Sorga. Dengan kembalinya TUHAN YESUS ke Sorga, maka ROH KUDUS akan turun ke atas orang-orang yang percaya akan kematian dan kebangkitan-NYA. ROH KUDUS tidak akan turun ke atas setiap orang beriman sebelum ALLAH PUTRA kembali ke Sorga. Sebab ALLAH itu Esa, sehingga tidak mungkin ada dua pribadi ALLAH di dalam dunia.

Manifestasi ROH KUDUS yang turun ke atas 120 orang yang tekun berdoa di sebuah loteng di kota Yerusalem berupa angin dan api. Keduanya merupakan kekuasaan TUHAN yang dimanifestasikan ke dalam dunia. Angin membawa kelahiran baru. Proses pembuahan tanaman vanili dapat terjadi dengan bantuan angin. Sedangkan api memiliki fungsi untuk memurnikan dari segala noda dosa. Untuk memisahkannya dari sanga, emas harus dilebur dalam api untuk mendapatkan emas yang murni.

Ke-120 orang itu menerima ilham dari ROH KUDUS yang memampukan mereka berbicara dalam berbagai bahasa. Mereka adalah orang Yahudi, tapi saat itu mereka mampu berbahasa Partia, Media, Elam dan bahasa-bahasa lainnya yang dimengerti oleh orang-orang yang mendengarnya.

Dengan ilham ROH KUDUS berupa kemampuan berbahasa yang sebelumnya tidak mereka kuasai ini, mereka dapat memberitakan pekerjaan TUHAN yang Maha Besar kepada orang-orang dari bangsa lain yang belum mengenal TUHAN. Tujuan dari ilham ROH KUDUS yaitu berbicara dalam berbagai bahasa ini adalah untuk penginjilan. Sedangkan warta yang digemakan dalam "bahasa penginjilan" itu adalah tentang Kasih ALLAH yang dinyatakan kepada umat manusia. Setiap manusia yang mau percaya dan menjalankan perintah TUHAN akan beroleh pengampunan atas segala dosanya. Berita Injil yang tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui ilham ROH KUDUS ini melahirkan gereja TUHAN.

Menurut rasul Paulus, di dalam ibadah atau persekutuan sebaiknya kita memakai bahasa yang dimengerti oleh orang lain, supaya jemaat yang mendengarnya dibangun dalam iman. Sebab seandainya kita berbahasa roh, maka orang lain tidak akan dibangun dalam iman. Berbahasa roh berarti berbicara dengan ALLAH, dan itu adalah karunia. Seseorang yang tidak menerima karunia tersebut jangan memaksakan diri untuk "berbahasa roh". Bila dipaksakan, maka bukan bahasa roh yang keluar dari bibir kita, tetapi "bahasa akal-akalan" sebab bukan datang dari ROH KUDUS.

KEJADIAN 11 : 5 - 6
5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu, 6 dan IA berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

Hanya ada satu bahasa sebelum manusia mendirikan menara Babel. Namun keangkuhan mereka tidak berkenan pada pemandangan ALLAH. Kesombongan mereka runtuh tatkala satu sama lain tidak dapat berkomunikasi karena mereka berbicara dalam bahasa yang dikacaukan oleh ALLAH. Sikap dan tindakan mereka tercermin dari bahasa mereka, yang memiliki bahasa yang menyuarakan dosa, kebencian, dan iri hati.

Bahasa Babel ini berlawanan dengan Bahasa Kasih yang diilhamkan oleh ROH KUDUS. Seorang pendeta Jamaica pernah menulis, mempertanyakan tentang perselisihan dan pertikaian yang kerap ditemukan di kalangan gereja Pantekosta dan Kharismatik. Aliran gereja yang mengklaim sebagai gereja yang "dipenuhi ROH KUDUS" ternyata kurang fasih "berbahasa Roh". Sebab bahasa Roh yang sesungguhnya adalah pernyataan kasih KRISTUS yang membawa pada pertobatan dan pengenalan akan TUHAN, bukan pada pertikaian dan perpecahan. Sebagai sesama anak TUHAN, kita seharusnya memiliki satu bahasa, yaitu pernyataan kasih KRISTUS yang dituangkan atas kita.

YESAYA 30 : 29
29 Kamu akan menyanyikan suatu nyanyian seperti pada waktu malam ketika orang menguduskan diri untuk perayaan, dan kamu akan bersuka hati seperti pada waktu orang berjalan diiringi suling hendak naik ke gunung TUHAN, ke Gunung Batu Israel.

Sebagai orang-orang yang telah dipenuhi dengan ROH KUDUS, kita tidak hanya memiliki bahasa baru, tetapi juga memiliki nyanyian baru. Lagu yang sering kita lantunkan sebelum menjadi orang beriman adalah lagu yang syairnya berupa umpatan dan caci maki. Nyanyian lama itu kita tinggalkan setelah kita menjadi anak TUHAN. Nyanyian baru itu berupa ucapan syukur dan pujian kepada TUHAN, dan tutur kata yang lemah lembut, menunjukkan kasih kita kepada sesama. Lagu yang kita nyanyikan menunjukkan identitas kita, apakah kita termasuk anak TUHAN atau bukan. Orang yang "berbahasa Roh" tetapi suka melantunkan "lagu lama" tidak dapat dikategorikan sebagai anak TUHAN.

Karunia Roh yang kita terima adalah untuk memberitakan kasih TUHAN agar semua orang dapat mengenal DIA. Kita menjadi terang dunia untuk menyinari dunia yang kelam ini. Untuk dapat berfungsi dengan baik sebagai penerang, pelita harus diletakkan pada tempatnya. Pelita tidak diletakkan di bawah, sebab bila demikian maka sinarnya tidak akan dapat menerangi. Pelita juga tidak diletakkan tepat di depan wajah kita, karena akan menyilaukan. Begitu pula kita yang sudah diterangi Api ROH KUDUS harus mempergunakan karunia yang telah kita terima untuk memberitakan Injil. Kita tidak boleh menyembunyikan karunia Roh untuk diri kita sendiri. Atau sebaliknya "memamerkan" karunia yang telah kita terima supaya orang lain kagum. Patut diragukan apakah hal itu benar-benar karunia ROH KUDUS bila seseorang menyombongkannya, sebab orang yang diberi karunia ROH tidak akan berbuat demikian.

KISAH PARA RASUL 2 : 12 - 13
12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" 13 Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."

Tidak semua orang mengerti dan percaya atas pemberitaan tentang Kasih KRISTUS yang telah mereka dengar. Sebagian tercengang-cengang, tetapi tidak mengerti artinya. Orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang dengan santun mendengar khotbah di gereja, namun tidak sadar akan dosanya dan kehidupannya tidak mencerminkan Firman yang telah didengarnya. Sebagian lagi malah mengejek dan secara terang-terangan menolak Firman. Namun ada pula yang mau percaya dan menyadari segala dosanya. Berbahagialah orang yang mau percaya, karena memang tidak banyak orang yang mau benar-benar percaya berita Injil.

YOHANES 9 : 24 - 29
24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan ALLAH; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." 25 Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." 26 Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-NYA padamu? Bagaimana IA memelekkan matamu?" 27 Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-NYA juga?" 28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. 29 Kami tahu, bahwa ALLAH telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang DIA itu kami tidak tahu dari mana IA datang."

Menurut pengertian rohani, orang buta sejak lahir menggambarkan orang yang sejak lahir sudah membawa dosa dan menerima pengampunan tatkala bertemu dengan TUHAN YESUS. Orang-orang Farisi telah melihat pekerjaan TUHAN YESUS mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir, yang mustahil dikerjakan oleh manusia. Mengerjakan sesuatu yang hanya dapat dikerjakan oleh ALLAH menunjukkan bahwa YESUS KRISTUS adalah ALLAH sendiri. Tetapi orang-orang Farisi tetap tidak mau percaya kendati telah melihat mujizat yang dikerjakan oleh ALLAH sendiri.

Orang yang tadinya buta itu memberitakan Injil dengan bertanya apakah orang-orang Farisi mau menjadi murid TUHAN. Orang-orang Farisi tetap bersikukuh, bahwa mereka adalah murid Musa. Pernyataan orang-orang Farisi bahwa mereka adalah murid Musa, tetapi tidak percaya kepada TUHAN YESUS adalah hal yang ganjil. Murid Musa pasti percaya kepada TUHAN YESUS, sebab yang diberitakan oleh Musa dalam kitab Pentateukh (Kitab Kejadian - Ulangan) adalah ALLAH, dan YESUS KRISTUS adalah ALLAH sendiri.

Dengan berani orang-orang Farisi menuduh bahwa YESUS KRISTUS adalah orang berdosa. Mengapa sampai hal itu terjadi? Sebab TUHAN YESUS mencelikkan mata orang buta pada hari Sabat. Melakukan pekerjaan pada hari Sabat dianggap berdosa bagi penganut Yudaisme, yang dianut oleh kebanyakan orang Israel sampai hari ini.

Berkaca pada orang-orang Farisi dan juga mereka yang mengejek orang-orang yang dipenuhi ROH KUDUS di loteng Yerusalem, kita belajar bahwa orang tidak mudah untuk mau menerima berita Injil.

Saya memiliki pengalaman dari kedua orang teman saya sendiri. Ketika saya berkhotbah di dalam suatu Acara KKR, kedua teman saya yang belum mengenal TUHAN ini turut hadir. Salah satu teman saya adalah penderita asma sejak kecil dan selalu bergantung pada obat. Teman saya ini maju sewaktu saya memanggil orang-orang sakit yang mau didoakan. Dia memberikan kesaksian, bahwa ada rasa panas yang mengaliri tubuhnya pada saat saya menumpangkan tangan. Saya memberitahunya, bahwa berkat kesembuhan dari TUHAN telah turun ke atasnya.

Teman saya ini bergegas pulang; dia ingin menguji apakah dia benar-benar telah sembuh dengan cara mandi air dingin. Biasanya, tanpa minum obat, dia pasti sesak nafas bila mandi (walau menggunakan air hangat). Untuk berjaga-jaga, dia menyiapkan obat sebelumnya. Dia menunggu reaksi yang biasanya terjadi. Nafasnya tetap normal. Dia telah sembuh! Dan sejak saat itu tidak mengkonsumsi obat asma lagi. Kesembuhannya ini disaksikannya kepada temannya yang datang bersamanya dalam KKR. Pada mulanya temannya ini tidak percaya. Tetapi setelah melihat sendiri mantan penderita asma ini mandi air dingin di Sarangan (daerah pegunungan dekat kota Madiun) tanpa sesak nafas, dia percaya bahwa temannya telah sembuh. Teman saya yang melihat kesembuhan tersebut akhirnya bertobat. Ironisnya yang menerima kesembuhan justru tidak mau menjadi anak TUHAN.

Menjadi orang Kristen tidak dapat dipaksakan. Walau telah menerima mujizat kesembuhan, tapi ada orang yang tetap berkeras hati tidak mau menerima Injil. Oleh karena itu, kita juga jangan memaksakan orang untuk datang ke gereja, atau memberikan iming-iming supaya orang tersebut tertarik untuk ke gereja. Kalau hal itu terjadi, maka orang tersebut bukan kita menangkan untuk Kerajaan Sorga, tetapi datang ke gereja dengan motivasi yang melenceng. Misalnya saja untuk menyenangkan hati orang lain, atau agar mendapatkan pekerjaan (karena yang mengajak ke gereja menawarkan pekerjaan), atau ke gereja supaya menerima kesembuhan. Bukan berarti TUHAN tidak mau menyembuhkan orang sakit yang datang kepada-NYA. Kalau seseorang mendengar Firman dan percaya kepada TUHAN, kemudian memanjatkan doa dengan penuh iman meminta kesembuhan dari TUHAN, maka TUHAN yang akan mempertimbangkan apakah orang itu layak menerima kesembuhan.

KISAH PARA RASUL 17 : 30 - 34
30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang ALLAH memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. 31 Karena IA telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana IA dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-NYA, sesudah IA memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan DIA dari antara orang mati." 32 Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: "Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu." 33 Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka. 34 Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Pemberitaan Injil sering kali dianggap hal yang irasional bagi banyak orang. Mereka sulit menerima, bahwa YESUS mati untuk mengampuni dosa dan kemudian bangkit. Namun pada waktunya kelak DIA akan kembali ke dalam dunia sebagai HAKIM yang adil untuk menghakimi setiap orang sesuai dengan perbuatannya.

Bahkan orang-orang yang mempelajari Taurat dengan seksama seperti orang Farisi dan ahli Taurat juga tidak mau percaya kebangkitan TUHAN YESUS. Bagi orang yang tidak mau diselamatkan oleh kasih KRISTUS yang dinyatakan dengan penebusan-NYA di atas kayu salib, pemberitaan Injil merupakan suatu kebodohan. Tetapi berita Injil yang disampaikan dengan Bahasa Kasih merupakan berita yang membawa sukacita bagi orang-orang yang mau menerima-NYA. Meskipun ada orang-orang yang mengejek pemberitaan Injil yang disampaikan oleh rasul Paulus, tetapi ada pula yang mau percaya dan menerima KRISTUS sebagai Juru Selamat mereka.

Memberitakan Injil diumpamakan dengan menaburkan benih. Seorang penabur tidak dapat menentukan benih mana yang akan tumbuh dan benih mana yang tidak. Yang perlu diingat adalah kita sudah menjalankan tugas menaburkan benih, yaitu mewartakan Kasih KRISTUS supaya orang lain juga merasakan kasih-NYA di dalam kehidupan mereka. Menumbuhkan benih yang telah kita taburkan merupakan bagian yang akan dikerjakan oleh ALLAH sendiri. Namun satu hal yang pasti: ALLAH akan menuangkan berkat bagi setiap orang yang mengenakan kasut kerelaan untukmelayani-NYA dalam pemberitaan Injil. Amin.