Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Yohanes Pembaptis
Yohanes Pembaptis
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 19 Desember 2006
Disadur oleh Sandra Sumual | Tanggal Terbit : Minggu, 22/04/07
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Kalimat yang diserukan Yohanes Pembaptis, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! jangan ditafsirkan ”kiamat sudah dekat”. Apa sebenarnya makna kalimat tersebut?

LUKAS 1 : 80
80 Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

BERTAMBAH BESAR DAN MAKIN KUAT ROHNYA

Secara fisik manusia terus bertumbuh seiring dengan pertambahan umurnya. Yang dimaksud pertumbuhan jasmani ini juga mencakup pertumbuhan atau perkembangan intelektualitas, perkembangan dalam segi ekonomi dan karir. Misalnya seseorang yang merintis karir dari karyawan biasa, kemudian menduduki posisi yang lebih tinggi dan akhirnya menjadi direktur, atau dari usaha kecil yang lama kelamaan berkembang menjadi perusahaan besar. Inilah yang disebut “bertambah besar” di dalam ayat di atas.

Tetapi ada perbedaan antara orang percaya dan bukan orang percaya. Hal ini terlihat dari pertumbuhan Yohanes Pembaptis yang juga merupakan tipikal pertumbuhan anak TUHAN. Yohanes bukan saja bertumbuh dan bertambah besar secara fisik tetapi juga bertambah kuat rohnya (strong in spirit). Orang percaya bukan saja bertumbuh menjadi kuat secara fisik atau dalam hal-hal jasmani, tetapi juga bertumbuh secara rohani yang semakin lama semakin kuat, “grew and became strong in spirit”.

Pertumbuhan jasmani memang diperlukan oleh semua orang. Tentu karena semua orang ingin hidup sehat dan berhasil dalam segala usahanya. Tetapi anak-anak TUHAN jangan sampai melupakan pertumbuhan rohani, sebab pertumbuhan rohani inilah yang membuat kita “tampil beda” dan punya nilai plus dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengenal TUHAN.

Apakah pertumbuhan jasmani kita sebanding dengan pertumbuhan rohani? Pertumbuhan baik secara jasmani atau pun secara rohani dapat terlihat dalam profil hidup kita. Keseimbangan antara pertumbuhan jasmani dan pertumbuhan rohani ini menjadi tolok ukur apakah kita sudah mencapai pertumbuhan yang ideal sebagai anak TUHAN.

Orang yang mengaku rohaninya bertumbuh, tetapi masih tipu sana tipu sini belum menggambarkan pribadi yang sehat. Demikian pula orang yang sukses besar dalam usahnya belum tentu menjadi orang yang “strong in spirit” bila dia berlaku seperti orang kaya yang bodoh di dalam Injil Lukas. Orang kaya ini memiliki banyak lumbung yang telah terisi penuh semuanya. Karenanya dia bermaksud membangun lumbung baru. Sayangnya orang kaya ini tidak mengimbangi pertumbuhan rohaninya. Akibatnya fatal jika kita seperti orang kaya ini, yang tidak memiliki kesiapan tatkala ALLAH memanggil rohnya untuk kembali.

ULANGAN 32 : 15
15 Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, - bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun - dan ia meninggalkan ALLAH yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya.

Sekedar bertambah besar jasmani secara jasmani tanpa bertambah kuat rohnya justru menjadi faktor utama yang mengakibatkan manusia melupakan ALLAHnya yang telah memberikan berkat berupa kesehatan, keberhasilan dan kemakmuran. Sebab pada saat seperti itu manusia seringkali merasa tidak memerlukan pertolongan dari ALLAH. Karena itu kita harus selalu waspada, memperhatikan dengan teliti hidup kita. Kalau kita tidak strong in spirit maka kita akan menjadi seperti Yesyurun yang “menendang ke belakang”. Kita melupakan bahwa kedatangan YESUS ke dunia bukan sekedar memberikan berkat kehidupan secara jasmani yang menjadikan kita kaya. Yang terlebih penting adalah DIA adalah gunung batu keselamatan yang membawa kita pada hidup yang kekal. Karena itu bandingkanlah pertumbuhan kita, apakah kita bertambah besar dan makin kuat roh kita seperti Yohanes Pembaptis.

TINGGAL DI PADANG GURUN

Padang gurun adalah gambaran tentang dunia ini. Orang-orang percaya maupun orang-orang yang tidak percaya memiliki tempat tinggal yang sama, yakni tinggal di padang gurun. Perbedaan di antara keduanya adalah: bagaimanakah mereka menjalani hidup di padang gurun yang tandus dan penuh persoalan ini. Sebagai orang beriman, jangan kita berharap kita akan meninggalkan padang gurun ini untuk berpindah ke kebun buah-buahan, sehingga kita tidak perlu bersusah payah mencari makanan. Namun ingatlah, orang-orang percaya memiliki roh yang kuat sebagai bekal dalam menapaki kerasnya kehidupan di padang gurun. Inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang dunia.

SAMPAI KEPADA HARI IA HARUS MENAMPAKKAN DIRI

Orang-orang yang tidak percaya yang tinggal di padang gurun, tidak akan tampil, mereka tidak menampakkan diri kepada dunia, tidak menjadi sorotan. Tetapi orang-orang percaya yang juga tinggal di padang gurun ini harus tampil dan layak ditampilkan, dan orang menunggu ingin melihat sosok kita, penampilan kita.

Kapan kita harus “tampil” di hadapan orang lain? TUHAN-lah yang menentukan waktunya. Kita tidak bisa melawan, melanggar atau melarikan diri jika TUHAN telah menetapkan waktunya.

Ketika TUHAN menetapkan waktunya bagi seseorang untuk melayani-NYA, dia harus menunjukkan profilnya sebagai hamba TUHAN yang benar dan layak tampil. Kalau sudah waktunya, dia akan tampil seperti Yohanes Pembaptis yang tampil sebagai pembuka jalan untuk memperkenalkan Sang Mesias bagi dunia. Penampilan Yohanes Pembaptis ini diiringi dengan penampilan YESUS yang diperkenalkannya. Semua itu genap seperti waktu yang ditentukan ALLAH.

Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi hamba TUHAN yang “tampil” sebagai pembawa Firman TUHAN, semua ini tidak pernah ada dalam rencana saya, tetapi ternyata ada di dalam rencana ALLAH yang sempurna. Waktunya untuk saya “tampil” ini ditentukan oleh TUHAN, dan saya tidak mau mengecewakan DIA yang telah mengutus saya. Namun bila saya tidak diutus atau belum waktunya saya menjadi pemberita Firman di mimbar, usaha apapun yang saya lakukan untuk “tampil” akan gagal dan kacau. Dengan berjalan sesuai waktu TUHAN, saya tampil seperti Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di padang gurun memberitakan, bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat.

Kalau kita mengikuti waktu TUHAN untuk menanam, menuai dalam bisnis, dalam rumah tangga, dalam apapun yang kita lakukan, kita akan bertambah besar dan juga bertambah kuat rohani kita. Kita akan seperti Yohanes Pembaptis, bukan seperti Yesyurun yang menendang ke belakang.

MATIUS 3 : 1 - 2
1 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 2 “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

KERAJAAN SORGA SUDAH DEKAT

Mengapa yang tampil cuma Yohanes Pembaptis, sedangkan orang Israel yang lain tidak? Karena Yohanes strong in spirit, sedangkan yang lainnya tidak. Seseorang yang tidak bertumbuh dalam roh, tidak bisa tampil. Sebaliknya anak TUHAN akan tampil di mana pun ia berada dan di situlah orang akan melihatnya sebagai seorang “Yohanes Pembaptis” yang kuat dalam iman dan menjadi profil teladan.

Ada misi khusus dengan tampilnya Yohanes, yakni memberitakan Kerajaan Sorga sudah dekat. Anak TUHAN tampil bukan untuk mejeng tetapi untuk “memberitakan”. Beritanya adalah berita tentang keselamatan di dalam YESUS. Seorang pembawa berita harus tahu apa yang ia beritakan; demikian pula anak TUHAN, siapapun saudara, apapun profesinya, kaum awam sampai kepada hamba TUHAN harus benar-benar tahu dan mengerti makna keselamatan yang ia beritakan itu.

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” itulah isi berita keselamatan yang harus disampaikan kepada semua orang. Berita tentang Kerajaan Sorga sudah dekat seringkali ditafsirkan secara keliru, yakni kiamat sudah dekat. Kerajaan Sorga sudah dekat adalah berita tentang kedatangan seorang Raja yang menjadi Juruselamat dunia. Setiap kali kita merayakan Natal, kita diingatkan bahwa sesungguhnya Raja Sorga sudah turun ke dunia. Sebab Raja dan kerajaan tidak dapat dipisahkan. Kalau Raja, yaitu YESUS sudah lahir, berarti kerajaan-NYA sudah dekat, maka kita harus bertobat.

WAHYU 3:20
20 Lihat, AKU berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-KU dan membukakan pintu, AKU akan masuk mendapatkannya dan AKU makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan AKU.

Mungkin menjadi pertanyaan kita, seberapa dekat Kerajaan Sorga? Sangat dekat, hanya di balik pintu. Selama kita belum membuka pintu hati kita, Kerajaan Sorga masih belum dapat kita lihat karena masih terhalang pintu. YESUS, Sang Raja Sorga, berdiri di depan pintu hati. Bila seseorang membuka hatinya bagi Sang Raja, maka ia akan melihat “Kerajaan Sorga”. Kalau YESUS sudah ada di dalam hati maka suasana padang gurun yang sering membuat kita capek itu tidak akan mempengaruhi kita, sebaliknya suasana Kerajaan Sorga ada di tengah kita.

Pada saat bangsa Israel mengembara di padang gurun, mereka membawa Kemah Tabernakel sepanjang perjalanan mereka. Ketika Kemah Tabernakel itu didirikan dan imam masuk ke dalam kemah itu, yang dia rasakan adalah suasana “sorga”; ia tidak lagi merasakan merasakan cuaca yang tidak bersahabat, baik cuana panas terik atau tiupan angin yang menyengat di luar Kemah Tabernakel.

Sekarang mari kita periksa, selama menjalani hidup di padang gurun ini, apakah panas terik dan dinginnya angin masih terasa dan mempengaruhi kita? Kalau saat ini kita merasa putus asa oleh karena berbagai masalah yang menghimpit, berarti kita belum berada di dalam Kerajaan Sorga -kita belum membuka hati untuk YESUS masuk. Kita hanya akan “tampil beda” dengan orang-orang lain yang hidup di padang gurun ini jika YESUS tinggal di dalam hati kita.

Yohanes menerima tugas memberitakan Kerajaan Sorga karena DIA mengenal Juruselamat. Dan orang-orang yang mendengar dan melihatnya, percaya pada pemberitaannya. Jika kita sudah menikmati “makan” bersama-sama dengan KRISTUS, maka kita dapat meyakinkan orang untuk mempercayai apa yang kita beritakan. Yohanes menampilkan profilnya, dan orang-orang menjadi percaya akan pemberitaannya dan memberi diri dibaptis oleh Yohanes.

MATIUS 3 : 4
4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.

JUBAH BULU UNTA DAN IKAT PINGGANG KULIT

Jubah bulu unta adalah pakaian yang pada umum dipakai orang Israel pada saat itu. Tetapi yang tidak biasa adalah ikat pinggang kulit yang dia kenakan. Penampilan atau dandanan yang kita kenakan sebagai “Yohanes Pembaptis” yang memberitakan Mesias tidak perlu berbeda dengan orang lain. Penampilan kita boleh sama dengan dengan penampilan orang pada umumnya, tetapi yang membedakan adalah kita mengenakan “ikat pinggang” kulit yang tidak dikenakan oleh orang lain.

Kulit berasal dari binatang yang disembelih, yakni binatang yang dikorbankan. Ini adalah lambang korban KRISTUS di kayu salib. Ikat pinggang adalah gambaran tentang “melayani”. Ketika YESUS mau membasuh kaki murid-murid-NYA, DIA menyatakan diri sebagai pelayan dengan mengenakan ikat pinggang. Jadi atribut anak TUHAN adalah hati yang mau melayani. Jangan kita salah mengartikan kata “melayani”. Melayani bukan hanya pelayanan mimbar. Melayani yang dimaksudkan di sini adalah memberitakan keselamatan, baik di lingkungan pekerjaan, di dalam keluarga, di mana pun kita berada. Dan pelayanan ini dinyatakan dalam sikap hidup anak-anak TUHAN.

BELALANG DAN MADU HUTAN

Belalang adalah makanan yang umum dimakan oleh orang Israel, Makanan ini adalah makanan rakyat, yang biasanya dikonsumsi oleh kaum miskin. Meskipun makanan rakyat miskin, belalang adalah makanan yang menyehatkan. Anak-anak TUHAN harus mengkonsumsi makanan rohani yang bersih, murni dan menyehatkan, yaitu Firman TUHAN.

Mengapa Yohanes Pembaptis makan makanan yang dikonsumsi orang miskin? Di dalam Matius 5:3 dikatakan, “Berbahagialah orang yang miskin...” yang di dalam terjemahan bahasa Inggrisnya “Blessed are the poor in spirit” yaitu berbahagialah orang yang merasa miskin rohaninya, artinya orang itu merasa lemah dan membutuhkan pertolongan di dalam menjalani hidupnya. Pribadi yang dapat membimbing hidup kita sebagai anak TUHAN tentunya ROH KUDUS yang adalah ALLAH sendiri. Orang yang telah merasa kuat, maka dia tidak akan meminta pimpinan ROH KUDUS, sehingga ALLAH tidak akan mengaruniakan ROH KUDUS kepadanya. Kesimpulannya, langkah awal anak TUHAN adalah merasa dirinya lemah dan memiliki kerendahan hati untuk meminta bimbingan ROH KUDUS agar bertambah kuat rohnya (strong in spirit).

Selain belalang, yang menjadi makanan Yohanes Pembaptis adalah madu hutan. Makanan ini bukan makanan yang umum dimakan. Yang tercatat di dalam Alkitab, hanya Yonatan dan Yohanes Pembaptis yang makan madu hutan. Madu hutan adalah makanan alami yang dihasilkan oleh alam secara murni. Jadi bukan hasil rekayasa genetika.

Artinya, Firman TUHAN tidak boleh direkayasa atau dimodifikasi, tetapi harus didalami dalam tuntunan ROH KUDUS. Firman TUHAN seringkali direkayasa, sehingga mengakibatkan pemahaman yang keliru dalam beberapa hal. Misalnya ada yang mengajarkan orang Kristen tidak boleh merayakan ulang tahun karena yang orang tercatat di Alkitab merayakan ulang tahunnya adalah Herodes. Atau ada yang mengajarkan agar tidak menghormati bendera, yang tentunya akan membawa akibat siswa yang bersangkutan mendapatkan sanksi atau dikurangi nilainya di sekolah. Jangan kita mau mengecap ajaran Firman TUHAN yang direkayasa atau ditafsirkan secara sembarangan. Rasakanlah selalu kemurnian madu hutan seperti Yohanes Pembaptis, yaitu berita Firman TUHAN “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

YEHEZKIEL 3:3
3 Lalu Firman-NYA kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang KU berikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

Gulungan kitab yang dimaksud di dalam kitab Yehezkiel itu adalah Firman TUHAN. Kepahitan hidup di dunia ini seringkali membuat kita lelah dan putus asa. Yang dibutuhkan adalah makan Firman TUHAN. “Madu yang manis” ini akan menyegarkan dan menguatkan kita setiap saat ketika kita “memakannya”. Kalau kita sendiri sudah mengecap (mengalami) kebaikan TUHAN ini, maka kita dapat menceritakannya kepada orang lain. Saya sendiri harus “makan” madu itu, sehingga saya tahu rasanya dan saya bisa memberitakan itu kepada orang lain. Karena itu saya tidak mau menjiplak khotbah Papa. Tetapi profil Papa menjadi teladan bagi saya untuk belajar Firman TUHAN.

MATIUS 3 : 5 - 6
5 Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. 6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Pada saat Yohanes berseru di padang gurun, semua orang datang dan mereka percaya pada pemberitaannya, kemudian mereka bertobat. Bukan karena Yohanes seorang ahli pidato, tetapi karena dia sendiri telah mengecap manisnya madu Firman ALLAH. Yohanes Pembaptis membuat semua orang -dari Yerusalem, seluruh Yudea dan daerah sekitar Yordan- yang mendengar perkataannya menjadi percaya. Inilah Amanat Agung TUHAN YESUS sebelum IA naik ke Surga : ”…kamu akan menerima kuasa, kalau ROH KUDUS turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-KU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah 1:8).

Bagaimana dengan kita? Sudahkah orang menjadi percaya dengan pemberitaan kita? Kalau belum, apakah penyebabnya? Semua orang yang mendengar pemberitaan Firman yang disampaikan Yohanes menjadi bertobat. Jika ROH KUDUS memimpin hidup kita, maka kita pasti sanggup melaksanakan Amanat Agung untuk memberitakan Injil kepada setiap orang: “Bertobatlah, karena Kerajaan Sorga sudah dekat!” Amin.