Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Iri Hati
Iri Hati
Pdt. Handoyo Santoso, M.Min. | Keb. III Minggu, 10 Juli 2005
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 30/04/06
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Iri hati sudah mewabah dan merambah di semua kalangan usia. Anak balita sampai opa oma tidak ada yang luput dari jamahan iri hati. Padahal, sampai sekarang juga belum pernah ada sekolah yang memiliki kurikulum pelajaran iri hati. Inilah bukti kelemahan kita sebagai manusia.

AMSAL 14 : 30
30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Semua orang yang ada di dalam dunia ini, baik secara sadar ataupun tidak sadar, pasti memiliki bibit iri hati. Namun, tergantung dari cara kita untuk mengatasi bibit iri hati tersebut, sehingga tidak berkembang menjadi iri hati. Nah, jika demikian bagaimana seseorang dapat dikatakan iri hati? Untuk mengetahuinya tentu kita harus tahu ciri-ciri dari orang yang iri hati tersebut. Jika kita melihat Kitab Amsal, di dalamnya hampir selalu membandingkan dua hal yang memiliki pengertian yang berlawanan seperti "hati yang tenang" versus "iri hati". Orang yang memiliki iri hati, hati orang tersebut tidak akan menjadi tenang. Kalau hati kita tidak tenang, periksalah, jangan-jangan iri hati sudah mulai tumbuh di dalam hati kita. Kemudian orang yang memiliki hati yang tenang, maka tubuhnya menjadi segar, sedangkan orang yang memiliki iri hati, tulangnya menjadi busuk. Namun istilah "membusukkan tulang" tidak memiliki pengertian secara literal. Maksud dari membusukkan tulang di sini adalah orang yang memiliki iri hati keadaannya akan menjadi lebih buruk dari kematian. Jadi kita dapat menangkap suatu pelajaran bahwa ciri orang yang iri hati adalah pertama, hati orang tersebut tidak akan pernah menjadi tenang. Kedua, ia mengalami kematian secara rohani.

Iri hati tidak hanya terdapat pada orang dewasa atau pada usia tertentu saja, iri hati juga terdapat atau menjangkau segala umur. Anak kecil yang berusia relatif masih muda saja sudah memiliki iri hati. Contohnya banyak di temukan pada anak-anak kita (tentunya bagi saudara yang sudah berkeluarga dan memiliki anak). Apabila anak yang satu dibelikan sebuah mainan dengan warna hitam, sedangkan anak yang satunya lagi dibelikan jenis mainan yang sama tetapi berbeda warna, anak yang diberikan mainan (yang berbeda warna) tersebut pasti menjadi iri hati. Makanya tidak jarang orang tua membelikan mainan yang sama bagi kedua anaknya dengan warna yang sama pula. Jadi pada intinya adalah tanpa diajarkan atau tanpa ada "sekolah" yang mengajarkan iri hati pun, seseorang bisa memiliki iri hati.

AMSAL 27 : 20
20 Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.

Penyebab iri hati pertama-tama disebabkan oleh karena mata manusia tidak pernah merasa puas. Sebab kategori atau ukuran untuk menyebutkan "puas" tergantung kepada diri kita sendiri atau dengan kata lain kita sendiri yang menentukan. Rasa puas itu adalah garis yang menentukan di mana posisi kita berada: berada dalam posisi iri hati atau tidak.

Contohnya saja jika ada seseorang yang memiliki uang sebesar satu milyar, tetapi merasa tidak puas dengan uangnya tersebut sehingga ia menginginkan uangnya yang berjumlah satu milyar menjadi dua milyar dan seterusnya. Sehingga ketika melihat orang yang memiliki uang lebih banyak dari yang dimilikinya, maka ia menjadi iri terhadap orang tersebut. Sebab pada dasarnya semua manusia tidak pernah merasa puas. Tetapi jika kita merasa puas akan sesuatu, maka hati ini jauh dari rasa iri hati.

Kalau dilihat jauh ke belakang, sesungguhnya rasa iri hati dalam manusia pertama kali dipicu oleh Iblis di taman Firdaus. Saat itu hawa dibujuk iblis agar memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Dengan mengatakan bahwa jika Hawa memakan buat tersebut, ia akan menjadi seperti TUHAN. Trik Iblis untuk membuat manusia menjadi iri adalah membuka "fakta" bahwa TUHAN menyimpan sesuatu yang baik sehingga menimbulkan ketidakpuasan di dalam hati manusia. Karena manusia mau mendengar hasutan iblis tersebut, tanpa sadar manusia menjadi "iri" terhadap TUHAN, sehingga manusia memiliki keinginan, yaitu untuk menjadi sama seperti ALLAH. Iri hati membuahkan dosa. Dan akibatnya sungguh fatal: kematian yang dialami oleh manusia. Inilah yang dimaksud dengan iri hati membusukkan tulang.

Setelah kita tahu tentang ciri-ciri dan penyebab dari iri hati, yang menjadi bahan pertanyaan bagi kita saat ini adalah bagaimana cara untuk mengatasi iri hati? Bila kita merasa, bahwa kita tidak punya rasa iri hati. Tapi kita tetap patut berhati-hati, sebab mungkin saja ada orang lain yang iri hati melihat keberhasilan yang kita peroleh. Apakah yang harus kita lakukan dalam menyikapi orang-orang yang iri hati kepada kita?

KEJADIAN 4 : 3 - 6
3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-NYA. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?

Akibat Hawa "iri" kepada TUHAN, keturunan manusia pertama ini, Kain, mewarisi tabiat iri hati. Dari pembacaan ayat ini, ada suatu hal yang sangat ironis sebab dalam situasi beribadah, justru iri hati dan kebencian timbul di hati Kain, dan pada akhirnya membuahkan dosa, yaitu pembunuhan.

Mungkin kita berkilah bahwa kita tidak memiliki rasa iri hati dalam ibadah kita. Sebuah contoh yang sederhana tentang hal ini: Kita berdoa kepada TUHAN, misalnya saja meminta sepeda. Namun doa kita tersebut tidak dikabulkan oleh TUHAN. Di lain pihak, kita mendengar orang lain menerima berkat yang luar biasa dari TUHAN. Dia memberikan kesaksian, bahwa dia berdoa meminta sepeda motor, malah menerima mobil. Timbul iri hati, kenapa orang itu didengar doanya, sedangkan saya tidak? Karena itu kita harus mewaspadai agar jangan sampai saat kita beribadah, iri hati dikobarkan oleh si iblis di dalam hati kita.

KEJADIAN 37 : 4, 10 - 11
4 Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. 10 Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?" 11 Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.

Pada awalnya saudara-saudara Yusuf membenci Yusuf karena Yakub lebih sayang kepadanya. Tetapi yang menyebabkan iri hati makin berkobar di dada mereka adalah mimpi yang diceritakannya tentang visi yang Yusuf terima dari TUHAN. Dari hal ini dapat kita pelajari bahwa orang yang tidak mengenal YESUS memiliki iri hati kepada kita yang telah menjadi pengikut KRISTUS karena kita memiliki visi yang jelas dari TUHAN, bahwa kita ditentukan untuk menjadi seorang pemimpin atau penguasa. Maksudnya adalah kita dikaruniai oleh TUHAN kemampuan dalam mengatasi segala masalah. Itulah yang menyebabkan orang yang bukan anak TUHAN iri hati kepada anak TUHAN. Jadi sangat salah besar apabila kita sebagai anak-anak TUHAN memiliki iri hati terhadap orang yang bukan anak-anak-NYA.

Jika kita berbicara tentang iri hati, mampukan orang yang iri hati mengubah nasib orang yang sedang menjadi "korbannya" tersebut? Tentu saja tidak. Hal ini terbukti dari pengalaman hidup yang dialami oleh Yusuf. Sekalipun saudara-saudara Yusuf berusaha mengagalkan visi yang TUHAN berikan dengan berbagai macam cara, namun apa yang telah digariskan oleh TUHAN dalam hidup Yusuf tidak pernah gagal. Yusuf tetap menjadi seorang pemimpin seperti yang telah digariskan oleh TUHAN.

KEJADIAN 50 : 20
20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi ALLAH telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Jika posisi kita saat ini sebagai orang yang menjadi korban dari orang yang iri hati terhadap kita, bagaimana sikap kita apabila visi itu digenapi? Yusuf justru menerima saudara-saudaranya dan memelihara mereka, bahkan dengan penuh keyakinan ia mengatakan bahwa sekalipun mereka melakukan sesuatu yang jahat, namun apa yang jahat itu digunakan TUHAN untuk menggenapi mimpi atau visi yang diterimanya. Sebelum Yusuf menenangkan hati kakak-kakaknya, mereka merasa ketakutan terhadap Yusuf karena perbuatan mereka yang jahat ketika visi Yusuf digenapi oleh TUHAN. Ini berarti orang yang iri hati biasanya akan hidup dalam ketakutan ketika visi orang yang di-iri-nya itu digenapi TUHAN. Selain itu orang yang iri hidupnya tidak akan pernah sesukses orang yang di-iri-nya tersebut. Jadi posisi mana yang lebih kita pilih? Apakah posisi Yusuf atau saudara-saudaranya?

Suatu ketika ada seorang pelayan TUHAN yang mengaku melayani TUHAN, namun dari sifat dan tingkah lakunya tidak mencerminkan dirinya sebagai pelayan TUHAN. Orang tersebut datang kepada Papa untuk meminta bantuan keuangan dengan berbagai macam alasan dan berjanji akan mengembalikannya dalam jangka waktu sekian bulan. Lalu Papa memberikan uang yang diperlukannya. Selang beberapa bulan, orang tersebut datang kembali menemui Papa, namun kali ini tidak bertujuan untuk mengembalikan uang yang dia janjikan kepada Papa. Bahkan yang dia lakukan adalah meminta bantuan Papa kembali dalam hal yang sama. Ketika melihat hal itu, saya mulai mempertanyakan apa yang dilakukan pelayan TUHAN tersebut kepada Papa tentang perbuatannya tersebut.

Kemudian Papa menjawabnya dengan simple demikian: "Papa hanya memberi apa yang harus Papa berikan tanpa harus mengetahui untuk apa uang tersebut. Bisa saja orang itu berbuat demikian karena iri melihat Papa diberkati, tetapi Papa tidak akan pernah ambil pusing terhadap sikap orang tersebut karena Papa tidak mau tulang Papa jadi busuk. "Karena itu Papa bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan orang tersebut. Ada satu perkataan Papa yang saya pikir tidak masuk di akal. Papa berkata seperti ini: "Papa tidak akan pernah bosan memberi, tapi biarkan orang tersebut bosan meminta kepada Papa." Memang benar. Ternyata setelah kali ketiga ia meminta bantuan kepada Papa, akhirnya ia bosan sendiri dan tidak pernah datang lagi. Jadi biarkanlah orang yang iri selalu berbuat jahat, tetapi kita harus tetap melakukan kebaikan. Sebab orang yang iri terhadap kita hidupnya tidak akan pernah lebih baik dari hidup kita.

I YOHANES 4 : 20
20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi ALLAH," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi ALLAH, yang tidak dilihatnya.

Kasih dan iri hati sangat bertolak belakang, sehingga orang yang memiliki iri hati, pada dasarnya ia tidak memiliki kasih dalam hidupnya. Jika kita tidak memiliki kasih, maka kita masuk ke dalam golongan saudara-saudara Yusuf yang tidak memiliki visi tentang masa depan. Masa depan hidup kita sangat jelas, yaitu memiliki janji hidup kekal dan berkelimpahan. Karena itu baiklah kita masing-masing menimbang hati kita. Apakah memiliki kasih atau ada iri hati? Jika kita memiliki Firman yang adalah ALLAH, di mana ALLAH itu adalah kasih, maka tidak akan ada iri hati dalam hati ini.

I SAMUEL 16 : 6, 10 - 11
6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-NYA." 10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." 11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

Merupakan hal yang wajar bila kakak-kakak Yusuf iri hati kepada Yusuf karena dia berada dalam posisi yang dimanja dan menjadi prioritas nomor satu bagi Yakub ayahnya. Tetapi bagaimana jika posisi kita berada pada posisi seperti kakak-kakak Yusuf yang merasa di bawah, haruskah kita iri hati?

Berbeda dengan Yusuf, Daud merupakan anak yang tidak diperhitungkan dalam keluarganya. Hal ini terbukti ketika Samuel diperintahkan TUHAN untuk mengurapi salah satu anak dari Isai sebagai raja Israel, yang disangka Samuel akan dipilih TUHAN adalah kakak Daud yang gagah. Mengapa Daud tidak diperhitungkan oleh ayahnya? Karena pekerjaan Daud hanya sebagai gembala domba, yang merupakan pekerjaan yang rendah atau hina bagi orang Israel. Sedangkan kakak-kakaknya adalah prajurit dari Saul.

Tetapi yang dapat kita pelajari dari pengalaman Daud adalah dia tidak merasa iri terhadap kakak-kakaknya. Jika kita pelajari lebih lanjut, karena Daud memiliki visi yang memampukan dia untuk tidak iri. Karena Daud mengerti visi maka nasibnya berubah menjadi seorang raja Israel, sedangkan kakak-kakaknya yang diperhitungkan oleh ayahnya tetap menjadi prajurit.

I SAMUEL 18 : 8
8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya."

Dari pembacaan ayat ini kita dapat melihat bahwa raja Saul iri kepada Daud yang notabene adalah bawahannya. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena Daud memiliki visi sedangkan Saul tidak. Hal inilah yang menyebabkan ketakutan Saul terhadap Daud. Dengan visi yang jelas, Daud memiliki kepercayaan diri, sehingga dia tidak iri hati terhadap kakak-kakaknya. Jadi jika saat ini posisi kita berada di bawah, kita harus tetap menjaga hati kita agar tidak iri. Jangan pernah berkata bahwa karena berada di posisi yang rendah maka jika kita merasa iri terhadap orang yang ada di posisi yang tinggi adalah sesuatu yang wajar. Tidak demikian. Oleh sebab itu jangan pernah kita berpikir "posisi kita saat ini ada di mana" tetapi coba kita melihat apakah kita sudah memiliki visi: berkat hidup kekal dan hidup kelimpahan yang diberikan oleh TUHAN.

YAKOBUS 4 : 2
2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.

Penyebab iri hati adalah keinginan yang tidak dapat dipenuhi atau tidak tercapai. Padahal dengan iri hati, tidak akan mempercepat atau membuat kita mencapai keinginan kita (sia-sia), melainkan hanya akan membuat kita menderita. Jadi jika kita menginginkan sesuatu, sesuai dengan Firman yang baru saja kita baca, hendaklah kita berdoa kepada TUHAN dan jangan membiarkan iri hati muncul dalam hati kita.

FILIPI 4 : 6
6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada ALLAH dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Penyebab lain dari iri hati adalah rasa kuatir. Karena itu selain mengutarakan segala kuatir kepada TUHAN, kita juga harus selalu mengucap syukur. Sebab ucapan syukur merupakan suatu tanda bahwa kita merasa puas. Sebaliknya iri dipicu oleh rasa tidak puas. Jadi kalau kita berdoa dengan mengucap syukur tanda puas, maka selain mendapat jawaban dari TUHAN, hal itu menunjukkan kita tidak memiliki rasa iri.

Yohanes 14 : 23 menyatakan jaminan yang diberikan YESUS bagi kita adalah DIA akan diam bersama-sama dengan kita. Itu sama artinya dengan Sorga ada di dalam hati kita. Namun syaratnya adalah: jika kita mengasihi DIA. Jadi kuncinya adalah kasih. Sedangkan kasih bertolak belakang dengan iri hati. Dengan kata lain: untuk merasakan berkat yang besar itu, iri hati tidak boleh bertahta dalam hati kita. Amin.