Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Pengakuan Dosa
Pengakuan Dosa
Pdt. Dr. Benny Santoso, Ph.D. | Keb. II Minggu, 2 Juli 2000
Disadur oleh Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 25/04/04

2 SAMUEL 12:1-6
1 TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. 2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; 3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. 4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu." 5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. 6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."

Natan diutus TUHAN untuk menegur Daud karena Daud telah berzinah dengan Batsyeba -istri dari Uria (salah satu panglima perang Daud). Daud berusaha menutupi dosanya dengan mengirim Uria ke medan peperangan dengan tujuan supaya dia mati dalam perang. Tetapi upaya Daud ini tidak berhasil menutupi dosanya, karena ALLAH tetap melihat kejahatan Daud ini. Oleh karena itu ALLAH mengirim Natan untuk menegur Daud.

Dalam menegur Daud, Natan tidak berkata-kata dengan keras, sebab ia bijaksana dan yang diajak bicara adalah seorang raja. Natan tahu bagaimana seharusnya bersikap terhadap seorang raja. Kalau Natan berbicara dengan kata-kata yang keras dan Daud tersinggung, maka Natan beresiko dihukum. Memang TUHAN dapat melindungi Natan, tetapi kebijaksanaan Natan dalam menegur Daud ini dapat menjadi pelajaran yang baik bagi kita. Natan menggunakan perumpamaan pada saat menegur Daud. Dari perumpamaan tersebut Natan menanyakan tentang apa yang akan diputuskan oleh Daud. Terbukti bagaimana Daud menjadi sangat marah mendengar perumpamaan yang diberikan Natan. Bahkan Daud memutuskan untuk "menghukum mati" orang yang digambarkan sudah melakukan kecurangan itu. Jawaban dan reaksi Daud menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. "Hukuman" yang dijatuhkan Daud inilah yang sebenarnya harus dialami Daud, karena sebenarnya orang yang curang dalam perumpamaan itu adalah Daud sendiri.

Seharusnya Daud tidak perlu menutupi dosanya. Kita harus sadar bahwa tidak ada satu manusiapun yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Memang kita harus berusaha untuk hidup benar sesuai dengan Firman TUHAN, tetapi kadang-kala kita lemah dan berbuat kesalahan. Dan jika hal ini terjadi, kita tidak boleh putus asa dan lari meninggalkan TUHAN. Yang terpenting adalah kita segera menyadari kesalahan dan dosa yang sudah kita lakukan, sehingga kita dapat segera datang kepada ALLAH untuk mengakuinya dan memohon pengampunan. Itulah satu-satunya solusi, karena sebelum kita menerima pengampunan dari TUHAN, kita akan selalu mengalami tekanan dan penderitaan dalam diri kita. Seberapapun besar usaha yang kita lakukan untuk menutupi dosa, kita pasti akan tertekan oleh penderitaan, karena dosa itu ibarat api yang menyala-nyala dalam diri orang yang sudah melakukannya.

Jika kita meminta di dalam doa yang sungguh-sungguh kepada TUHAN supaya kita tidak berbuat dosa lagi, maka DIA pasti mengampuni apapun juga kesalahan kita dan kita akan diberi kemampuan untuk tidak jatuh dalam dosa. Amsal Salomo mangatakan bahwa air curian itu manis rasanya. Ayat ini mengajarkan bahwa memang manusia cenderung untuk melakukan dosa, karena dosa merupakan sesuatu yang menarik seperti air anggur yang merah warnanya. Tetapi ketika kita minum anggur tersebut, kita akan mabuk. Anggur yang disebutkan di dalam Amsal Salomo ini adalah anggur yang tidak dicampur air sehingga memabukkan orang yang meminumnya, yaitu gambaran hawa nafsu. Hawa nafsu memang terlihat indah dan enak, tetapi akibat yang ditimbulkannya akan sangat berbahaya.

AYUB 5:17
17 Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur ALLAH; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.

Jelas sekali bagaimana setiap orang beriman harus bereaksi atas teguran yang diberikan oleh TUHAN bagi kita. Dengan memberikan teguran sebenarnya DIA sungguh-sungguh menunjukkan kasih-NYA karena DIA ingin kita kembali ke dalam jalan yang benar. Tetapi memang seringkali kita tidak peka akan teguran TUHAN sehingga reaksi kita justru menjadi marah kepada TUHAN. Padahal seharusnya kita bersyukur pada saat menerima teguran. Dengan demikian kita akan segera sadar akan kesalahan kita dan tidak akan terperosok kedalam dosa yang lebih besar. Teguran itu dapat berupa teguran yang langsung kita terima dari Firman TUHAN yang kita dengar melalui hamba TUHAN atau kita ditegur oleh saudara seiman kita. Tetapi kadang-kadang teguran itu kita terima melalui ROH KUDUS yang diam di dalam diri kita yang memberi peringatan atas dosa yang telah kita perbuat. Jika kita marah kepada TUHAN yang menegur kita, sebenarnya justru kita sudah membuat dosa yang lebih besar. Siapa diri kita sehingga marah kepada ALLAH yang menciptakan kita? Mengapa kita sampai berani menentang DIA yang Maha Kuasa?

AMSAL 15:31-33
31 Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. 32 Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi. 33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Inilah sikap yang dikehendaki oleh TUHAN untuk dilakukan setiap anak-anak-NYA. Jika kita memiliki kedewasaan yang ditandai dengan bersuka cita dan bersyukur saat menerima teguran dari TUHAN, sama dengan kita sudah berlaku sebagai orang bijak. Janganlah kita mudah tersinggung, kesal, atau bahkan marah pada teguran TUHAN. Pada umumnya setiap orang lebih suka dipuji daripada dicela, terlebih lagi dicela oleh orang yang dianggapnya lebih muda/lebih rendah.

Suatu hari saya tanpa sengaja bersendawa ketika sedang makan bersama anak bungsu saya. Melihat "contoh" tersebut anak saya juga melakukan hal yang sama sehingga saya menegurnya bahwa hal itu tidak sopan. Ternyata anak saya balik menegur saya dengan mengatakan bahwa dia hanya meniru perbuatan saya. Teguran anak saya tersebut tidak membuat saya marah, tetapi menyadarkan saya bahwa harus berhati-hati dalam berbuat sesuatu karena perbuatan orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Orang yang mau ditegur disebut orang yang berbahagia, karena ia menjadi orang bijak. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki takut akan ALLAH, tetapi menentang dan menganggap enteng teguran TUHAN, akan menjadi orang yang paling celaka, karena kita akan terus berkubang dalam dosa. Satu syarat yang harus kita penuhi untuk dapat menjadi orang bijak yang dapat menerima teguran TUHAN adalah dengan memiliki kerendahan hati.

MATIUS 7:1-3
1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Tetapi apakah dengan mudah kita dapat menjadi orang yang memiliki kerendahan hati? Tidak. Manusia cenderung untuk merasa diri benar. Sering kali kita cenderung untuk mudah menghakimi dan menyalahkan orang lain. Karena itu kita harus berhati-hati dan jangan mudah menyalahkan orang lain. Apabila kita ditegur karena melakukan kesalahan terhadap orang lain, hendaknya kita meminta maaf kepada orang tersebut. Sebab dengan bersikap demikian sesungguhnya bukannya diri kita semakin direndahkan, justru sebaliknya kehormatan kita akan semakin terlihat sebab kita mampu berjiwa besar dengan mengakui kesalahan kita. Permintaan maaf dari seorang suami kepada istrinya menyebabkan si istri merasa dihargai oleh suaminya sehingga dia akan menghormati suaminya yang berani bersikap demikian.

ROMA 2:1
1 Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

Ayat di atas mengajarkan agar kita jangan menghakimi orang lain, karena kita juga masih melakukan kesalahan yang sama. Surat Roma ini ditujukan kepada orang Yahudi di Roma. Mereka sangat sombong karena merasa lebih benar dari pada orang lain. Kesombongan ini terlihat ketika mereka menangkap basah seorang wanita pelacur dan membawanya ke hadapan YESUS dan bertanya hukuman apakah yang patut diterima perempuan itu. Tetapi YESUS menjawab: "Barang siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama kali melemparkan batu kepada perempuan itu." Setelah mendengar perkataan TUHAN YESUS, tidak ada seorangpun yang berani melempar batu kepada wanita itu. Mereka tidak bereaksi apa-apa tetapi justru meninggalkan wanita itu seorang diri. Dari perkataan YESUS, mereka sadar bahwa tidak satupun dari mereka yang tidak pernah melakukan dosa.

Pada saat kita menghakimi dan menjatuhkan hukuman terhadap seseorang, berarti kita merasa lebih benar dan lebih berkuasa dari orang yang kita hakimi itu. Orang yang demikian lupa bahwa di atas manusia masih ada ALLAH yang jauh lebih berkuasa dan benar dari pada mereka. Dan satu-satunya yang memiliki kuasa dan hak untuk menjatuhkan penghakiman adalah DIA sendiri. Di hadapan TUHAN, kebenaran yang kita miliki seperti kain yang kotor dan tidak berharga. Maka kita diingatkan untuk tidak gegabah menjatuhkan hukuman atau penghakiman kepada orang lain.

2 SAMUEL 12:7-9
7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah Firman TUHAN, ALLAH Israel: AKUlah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan AKUlah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. 8 Telah KUberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. AKU telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu KUtambah lagi ini dan itu kepadamu. 9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-NYA? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.

Setelah Daud menganggap bersalah orang yang di dalam perumpamaan yang diceritakan nabi Natan, barulah Natan menegur Daud dengan terus terang. Kita melihat bagaimana Natan tidak segan atau takut untuk menegur Daud, sekalipun yang dihadapinya adalah seorang raja. Sikap seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap pendeta. Yaitu tidak pandang bulu dalam menegakkan kebenaran Firman TUHAN. Seorang pendeta yang benar-benar pilihan TUHAN tidak akan segan menegur jemaatnya yang melakukan dosa dan kesalahan di mata TUHAN. Pendeta tidak boleh "membohongi" jemaat dengan perkataan yang menyenangkan, jika seharusnya mereka ditegur dengan tegas.

Dengan teguran yang sangat indah ini, Daud kemudian menyesali perbuatannya yang jahat dan segera bertobat di hadapan TUHAN. Daud berpikir bahwa ketika dia berzinah, tidak akan ada satu orangpun yang mengetahui perbuatannya. Padahal sebenarnya ALLAH tahu segala hal yang sudah dilakukan Daud. Daud hanya satu kali berzinah dengan Batsyeba, tetapi ALLAH ingin membukakan dosa Daud dengan membuat Batsyeba hamil. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada satu halpun yang tersembunyi di hadapan TUHAN.

MAZMUR 90:8
8 ENGKAU menaruh kesalahan kami di hadapan-MU, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-MU.

Dosa yang kita lakukan diletakkan di hadapan ALLAH sehingga sia-sialah usaha sekeras apapun yang kita lakukan untuk menutupinya. Yeremia 2 : 22 menggambarkan dosa kita tidak dapat dihapus dengan apapun juga dan akan tetap tampak di mata ALLAH. Daud mencoba untuk menutupi dosanya dengan cara menyuruh Uria, suami Batsyeba untuk pulang ke rumah dari medan perang. Tetapi TUHAN membuat Uria tidak mau pulang. Akhirnya Daud merancang kematian untuk Uria. Ia berusaha sedemikian rupa untuk menutupi kesalahannya, tetapi sekeras apapun usaha yang dilakukannya untuk menutupi dosanya, ALLAH tetap mengetahui pelanggarannya. Manusia tidak pernah berhasil menutupi kesalahan yang diperbuatnya di hadapan ALLAH. Dengan menutupi kesalahan sama dengan kita menutupi jalan anugerah pengampunan yang sudah disediakan TUHAN untuk kita dan hal ini akan membuahkan penghukuman.

YEREMIA 3:13
13 Hanya akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap TUHAN, ALLAHmu, telah melampiaskan cinta berahimu kepada orang-orang asing di bawah setiap pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan suara-KU, demikianlah Firman TUHAN."

Inilah jalan keluar yang sangat jelas bagi setiap orang yang sudah menyadari dosa dan kesalahannya. Yaitu segera datang kepada TUHAN dan sujud di hadapan-NYA. Maka satu-satunya jalan untuk dapat lepas dari noda dosa adalah dengan mengakui secara jujur di hadapan TUHAN segala dosa dan kesalahan yang sudah kita lakukan. Dengan demikian, jika TUHAN melihat ketulusan hati kita untuk mengakui dosa dan memohon pengampunan dari DIA, DIA sendiri yang akan membersihkan segala noda yang ada pada diri kita.

YEREMIA 33:6-9
6 Sesungguhnya, AKU akan mendatangkan kepada mereka kesehatan dan kesembuhan, dan AKU akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka kesejahteraan dan keamanan yang berlimpah-limpah. 7 AKU akan memulihkan keadaan Yehuda dan Israel dan akan membangun mereka seperti dahulu: 8 AKU akan mentahirkan mereka dari segala kesalahan yang mereka lakukan dengan berdosa terhadap AKU, dan AKU akan mengampuni segala kesalahan yang mereka lakukan dengan berdosa dan dengan memberontak terhadap AKU. 9 Dan kota ini akan menjadi pokok kegirangan: ternama, terpuji dan terhormat bagi-KU di depan segala bangsa di bumi yang telah mendengar tentang segala kebajikan yang KUlakukan kepadanya; mereka akan terkejut dan gemetar karena segala kebajikan dan segala kesejahteraan yang KUlakukan kepadanya.

Ayat ini adalah suatu nubuat yang disampaikan oleh ALLAH melalui Yeremia. ALLAH menyatakan bahwa DIA berjanji untuk memberikan kesembuhan melalui bilurNYA kepada setiap orang yang percaya. Artinya kita yang percaya kepada YESUS KRISTUS akan menerima pengampunan dan akan dipulihkan keadaan kita seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa dan kuasa setan. Tidak hanya berhenti di sana saja, karena TUHAN juga akan mentahirkan kita dari segala kesalahan dan pelanggaran yang kita lakukan setelah kita menerima TUHAN sebagai Juru Selamat.

"Kota" yang dimaksudkan oleh TUHAN adalah Gereja. Maka setiap orang beriman atau Gereja TUHAN akan menjadi tempat kegirangan karena TUHAN telah mentahirkan dan memulihkan kita sehingga kita layak untuk datang di hadapan ALLAH. Saat itulah Gereja TUHAN akan menerima kemuliaan setelah segala noda dosa sudah dihapuskan. Dan inilah saat dimana Gereja TUHAN boleh kembali bertemu dengan-NYA dalam kemuliaan ALLAH yang besar.

Kesalahan apapun yang sudah kita lakukan, jangan sekali-kali berpikir untuk mentutupinya atau lari dari kesalahan itu. Tetapi kita harus segera datang kepada TUHAN, mengakui segala kesalahan kita dan memohon pemulihan. Dengan demikian, damai sejahtera akan kembali kita alami, karena kemuliaan ALLAH kembali diberikan bagi hidup kita. Amin.