Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Menyikapi Provokasi
Menyikapi Provokasi
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 3 Minggu, 20 November 2011
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 18/03/12
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Perlu hati-hati dalam menyikapi provokasi. Salah menyikapi, diri sendiri pasti rugi. Firman TUHAN yang membeberkan pengalaman raja Hizkia saat diprovokasi Sanherib mengajarkan kepada kita kiat-kiat dalam menyikapi provokasi.

2 TAWARIKH 31 : 20 - 21
20 Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, ALLAH-nya. 21 Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah ALLAH, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah ALLAH, ia mencari ALLAH-nya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

Deskripsi cara hidup Hizkia dalam ayat di atas, yakni perbuatan yang baik, jujur dan benar di hadapan TUHAN, serta ibadah yang dilakukannya dengan segenap hati merupakan kriteria yang seharusnya dipenuhi anak-anak TUHAN. Standar baik, jujur, dan benar di hadapan TUHAN berbeda dengan standar hukum dan manusia; yang dibenarkan (dilegalkan) menurut hukum dan manusia belum tentu benar menurut TUHAN. Contohnya saja, banyak negara yang melegalkan penjualan dan konsumsi minuman beralkohol sampai kadar tertentu. Namun, Firman TUHAN mengatakan agar kita menjauhi minuman yang memabukkan.

Di samping perbuatannya baik, jujur dan benar di hadapan TUHAN, Hizkia juga menjadi role model dalam ibadahnya. Ibadah kita sebagai anak TUHAN bukan hanya menunjukkan sikap kekristenan di dalam gereja saja. Di luar gereja pun kita harus menunjukkan identitas kekristenan yang kita sandang. Jangan di dalam gereja berkata, "Haleluya, Puji TUHAN!" namun saat di rumah memarahi anaknya dengan makian, "Setan lu!" Orang yang perbuatan dan perkataan yang tidak benar di hadapan TUHAN, ibadahnya juga tidak akan berkenan kepada TUHAN. Sedangkan perbuatan dan ibadah yang benar akan membuat usaha anak TUHAN selalu berhasil seperti yang dialami oleh Hizkia.

2 TAWARIKH 32 : 1
1 Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya.

Mengejutkan... Ternyata orang yang kekristenannya benar seperti Hizkia yang setia kepada TUHAN tetap tidak lepas dari masalah. Kota-kota Yehuda menghadapi pengepungan dari Sanherib. "Kalau begitu, buat apa kita berbuat baik dan benar sesuai Firman TUHAN?" mungkin pikiran seperti ini akan menyelinap di benak sebagian anak TUHAN. Yang harus kita ketahui: anak TUHAN tidak kebal dari masalah. Namun, perbuatan dan ibadah yang benar di hadapan TUHAN merupakan senjata kita dalam menghadapi musuh atau masalah. Terlambat jika orang Kristen baru mencari senjatanya saat musuh sudah di depan mata.

Nyatanya, banyak orang Kristen yang sudah lama tidak beribadah, suatu hari datang ke gereja sambil menangis karena ditimpa kesulitan. Ke mana saja dia selama ini? Orang Kristen yang memenuhi kriteria yang ditentukan TUHAN adalah selalu beribadah dengan setia dan menunjukkan perbuatan yang sesuai dengan Firman TUHAN. Jangan setelah sakit, baru sibuk berdoa dan ke gereja setiap hari.

Banyak pula pola pikir yang salah dari jemaat. Banyak jemaat yang membawa orang (yang belum Kristen) yang punya problem atau sakit untuk datang ke gereja. Orang yang punya problem tersebut berjanji mau menjadi orang Kristen kalau masalahnya beres atau penyakitnya sembuh. Ingat, TUHAN tidak bisa disogok atau diiming-imingi.

2 TAWARIKH 32 : 7 - 8
7 "Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. 8 Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, ALLAH kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita." Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali.

Hizkia tidak pernah tahu kapan musuh mengepung. Persiapan matang melalui perbuatan dan ibadah yang benar kepada TUHAN membuat Hizkia tidak panik dan histeris menghadapi pengepungan Asyur atas kota-kota Yehuda. Hizkia dapat memberi semangat kepada rakyatnya dengan perkataan, "Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!" Sebagai orang yang mampu mengatakan demikian, Hizkia menunjukkan kekuatan semangat dan keteguhan hatinya.

Dalam ayat di atas, tentara Asyur belum menyerang, mereka baru mengepung Yehuda. Menyikapi pengepungan Asyur, rakyat Yehuda sudah takut dan patah semangat. Merasa lemah, takut dan patah semangat merupakan hal-hal yang dikehendaki musuh dalam memprovokasi lawannya. Strategi ini sering dipakai dalam pertandingan tinju. Beberapa saat sebelum bertanding, kedua petinju biasanya saling gertak. Misalnya mengatakan, "Di ronde pertama akan saya meng-KO dia!" Tujuannya, supaya mental lawan menjadi lemah dan patah semangat.

Modal lain yang perlu dimiliki anak TUHAN dalam menghadapi masalah adalah mengetahui seberapa besar kekuatan diri sendiri dan kekuatan musuh. Hizkia menguatkan hati rakyat dengan mengatakan bahwa kekuatan Yehuda lebih besar daripada lawan yang mengepung. Musuh Yehuda adalah manusia, ciptaan TUHAN, sedangkan yang menyertai Yehuda adalah TUHAN, Sang Pencipta sehingga kekuatan Yehuda jauh lebih besar daripada Asyur. Bukan hanya menyertai, TUHAN sendiri yang melakukan peperangan melawan Asyur. Dari mana Hizkia tahu semua itu? Sebagai orang yang tekun beribadah, Hizkia mengenal TUHAN-nya yang sangat berkuasa.

Demikian juga dengan kita. Jika kita mengenal TUHAN kita, kita akan memiliki keyakinan mampu menghadapi musuh. Keyakinan mengalahkan musuh yang berasal dari ibadah yang benar membuat kita memenangkan peperangan sebelum berperang.

Keyakinan yang disuntikkan Hizkia ke pikiran rakyat Yehuda telah membuat rakyat memiliki keyakinan untuk menang. Keyakinan menang merupakan hal yang sangat penting. Sebab keyakinan yang rontok membuat seseorang tak lagi memiliki semangat juang yang sangat penting dalam memenangkan pertempuran. Dari pengalaman Hizkia ini kita belajar bahwa orang yang beribadah dengan benar di hadapan TUHAN tidak hanya memiliki keyakinan, namun juga mampu meyakinkan orang lain untuk mampu menghadapi musuh.

2 TAWARIKH 32 : 9 - 11
9 Sesudah itu Sanherib, raja Asyur, yang sedang mengepung Lakhis dengan seluruh kekuatan tentaranya, mengutus beberapa pegawai ke Yerusalem, kepada Hizkia, raja Yehuda, dan kepada semua orang Yehuda yang ada di Yerusalem, dengan pesan: 10 "Beginilah titah Sanherib, raja Asyur: Apakah yang kamu harapkan, maka kamu tinggal saja di Yerusalem yang terkepung ini? 11 Bukankah Hizkia memperdayakan kamu, supaya kamu mati kelaparan dan kehausan, dengan mengatakan: TUHAN, ALLAH kita, akan melepaskan kita dari tangan raja Asyur?

Musuh masih belum kehabisan stok strategi untuk melemahkan kita. Setelah tindakan mengepung kota-kota Yehuda tidak menghancurkan semangat Yehuda, Sanherib meluncurkan strategi berikutnya. Dia mengutus beberapa orang untuk menyampaikan pesan negatif kepada Hizkia dan rakyat Yehuda yang bertujuan melemahkan Hizkia dan rakyatnya, bahkan mengintimidasi mereka dengan mengatakan risiko kelaparan yang akan ditanggung mereka.

Dari tindakan Sanherib ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Sanherib tidak memiliki keyakinan penuh untuk mampu mengalahkan Hizkia dan Yehuda. Seandainya yakin, Sanherib tanpa ba-bi-bu tentu sudah langsung menyerbu dan menduduki kota-kota Yehuda. Dalam hatinya Sanherib tahu bahwa dia hanya memiliki tentara dan senjata, sedangkan Hizkia memiliki ALLAH yang Mahakuasa. Sayangnya, banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa dia memiliki ALLAH yang mampu memberikan kemenangan atas segala persoalan sehingga dia takut sebelum maju perang.

Provokasi yang dilancarkan utusan Sanherib adalah, "Apakah yang kamu harapkan...?" Dalam Alkitab NIV: "On what are you basing your confidence...?" atau apakah landasan keyakinanmu? Landasan keyakinan merupakan hal penting. Keyakinan Hizkia untuk menang atas Asyur bukan tanpa landasan. Sebab keyakinan tanpa landasan merupakan keyakinan yang rapuh. Dalam seminarnya, para motivator sering membangkitkan semangat, mengatakan "Jangan takut menghadapi musuhmu, sekecil apa pun engkau, pasti menang." Sayangnya mereka lupa menjelaskan apa landasannya tidak takut menghadapi musuh.

Bagi kita, anak TUHAN, landasan keyakinan kita untuk mampu menghadapi persoalan adalah TUHAN yang membela kita. Seringkali jemaat melandaskan keyakinannya pada hal yang salah (walau tampaknya cukup rohani). Saat mereka meminta penumpangan tangan untuk anaknya yang sakit, saya sering bertanya mengapa bukan mereka yang mendoakan anaknya. Kebanyakan dari mereka menjawab, bahwa tangan saya "beda". Landasan keyakinan pada penumpangan tangan saya sudah sudah merupakan landasan yang salah. Seharusnya landasan keyakinan mereka itu pada kuasa TUHAN yang mampu menyembuhkan.

2 TAWARIKH 32 : 12 - 13
12 Bukankah Hizkia ini yang menjauhkan segala bukit pengorbanan dan mezbah TUHAN itu, dan berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Hanya di depan satu mezbah kamu harus sujud menyembah dan membakar korban di atasnya? 13 Tidakkah kamu ketahui apa yang aku dan nenek moyangku lakukan terhadap semua bangsa negeri-negeri lain? Apakah para allah bangsa-bangsa segala negeri itu pernah berhasil melepaskan negeri mereka dari tanganku?

Kali ini yang diutak-utik Sanherib adalah iman kepada TUHAN. Dengan lubang hidung yang mendongak ke atas, Sanherib mengatakan bangsa-bangsa lain kalah terhadap Sanherib kendati mereka beribadah kepada allah-allah (dewa-dewa), apalagi Hizkia yang hanya beribadah kepada (satu) ALLAH akan dapat dikalahkannya. Kita harus bedakan ALLAH kita yang hidup dan allah bangsa-bangsa lain yang tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan sungguh-sungguh mengenal ALLAH melalui ketekunan ibadah kita, pengaruh provokasi tidak mampu menggoyahkan keyakinan kita menang mengatasi musuh.

Ada cerita lucu mengenai TUHAN yang Mahakuasa versus setan yang terbatas kuasanya. Seorang teman dari jemaat gereja kita memiliki masalah kesehatan. Karena sang teman tidak beriman, dia mencari solusi dengan berkonsultasi kepada paranormal. Paranormal itu mengatakan sang teman itu diganggu oleh "setan lokal". Jika ingin sehat, paranormal itu menganjurkannya tinggal di luar negeri agar si setan tak dapat mengganggunya lagi. Saya baru tahu, ternyata setan juga perlu paspor!

2 TAWARIKH 32 : 18 - 19
18 Dan mereka berseru dengan suara nyaring dalam bahasa Yehuda kepada rakyat Yerusalem yang ada di atas tembok, untuk menakutkan dan mengejutkan mereka, supaya mereka dapat merebut kota itu. 19 Mereka berbicara tentang ALLAH Yerusalem seperti tentang para allah bangsa-bangsa di dunia, adalah buatan tangan manusia.

Tidak mempan atas provokasi-provokasi yang dilancarkannya, Sanherib melakukan pendekatan baru: melakukan provokasi dalam bahasa Yehuda (bahasa Ibrani), bahasa yang dipakai oleh bangsa Yehuda. Provokasi ini menggambarkan provokasi yang dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan kita. Contohnya, Abram (kemudian ALLAH mengganti namanya menjadi Abraham) jatuh dalam provokasi Sarai untuk memilih Hagar menjadi istri yang mampu melahirkan anak. Contoh lainnya, Adam jatuh dalam dosa karena provokasi Hawa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang istri mengatakan, "Sudahlah, memang kita ditakdirkan melarat" saat suaminya bertekun dalam doa memohon berkat dari TUHAN, sehingga iman suaminya drop.

Selain pasangan dan keluarga, "orang" terdekat dengan kita adalah diri kita sendiri yang masih diliputi kedagingan. Di saat kita berdoa, mengatakan bahwa TUHAN yakin akan menolong, di saat yang sama dalam hati kita timbul keraguan (mendengar provokasi dari diri sendiri) apakah TUHAN mampu menolong kita.

2 TAWARIKH 32 : 20
20 Tetapi oleh karena itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada sorga.

Dengan cara apakah kita menaklukkan provokasi? Selain persiapan dalam hidup dan ibadah, raja Hizkia dan nabi Yesaya memfokuskan doa mereka kepada TUHAN. Hizkia dan Yesaya tidak nguping dan mempedulikan provokasi yang dilancarkan Sanherib dan anak buahnya. Mereka mengarahkan doa kepada TUHAN; mereka tidak mengarahkan telinga ke provokasi musuh.

Sebaliknya, memberi kesempatan pada bisikan provokator membuat kita jatuh. Kita akan kalah sebelum berperang kalau kita mau mendengarkan provokasi yang mengatakan bahwa kita lemah, bahwa banyak orang yang beriman juga mengalami kebangkrutan. Jangan pula kita mengandalkan logika kita yang memprovokasi kita bahwa masalah yang kita hadapi terlalu sulit. Fokus, fokus, dan fokus dalam doa kita kepada TUHAN yang akan membawa kita pada kemenangan. Dalam suratnya, Yakobus memberikan nasehatnya supaya kita tidak berdoa di dalam kebimbangan. Sebab orang yang hatinya bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin sehingga tidak mencapai tujuan kemenangan seperti yang diidam-idamkannya.

2 TAWARIKH 32 : 21 - 22
21 Lalu TUHAN mengirim malaikat yang melenyapkan semua pahlawan yang gagah perkasa, pemuka dan panglima yang ada di perkemahan raja Asyur, sehingga ia kemalu-maluan kembali ke negerinya. Kemudian ia ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak kandungnya sendiri ketika ia memasuki rumah allahnya. 22 Demikianlah TUHAN menyelamatkan Hizkia dan penduduk Yerusalem dari tangan Sanherib, raja Asyur, dan dari tangan semua musuhnya. Dan IA mengaruniakan keamanan kepada mereka di segala penjuru.

Hanya dengan berdoa, Hizkia tidak perlu mengerahkan segenap tentaranya untuk mengangkat pedang atau melepaskan anak panah untuk melawan tentara Asyur. Ibadah dan perbuatan yang benar disertai fokus kepada TUHAN membawa kemenangan besar dari TUHAN yang membuat panglima-panglima dan prajurit Asyur seketika menjadi almarhum. Kekuatan militer kerajaan Asyur tidak main-main, baik dilihat dari jumlah tentara yang besar maupun mesin perang yang mereka miliki. Mereka semua bagaikan mainan yang dilumatkan dengan gampangnya oleh malaikat yang diutus TUHAN untuk membela Hizkia dan rakyat Yehuda.

TUHAN tidak mengutus seribu malaikat. Tidak. TUHAN hanya mengutus seorang malaikat saja. Dalam Alkitab bahasa Inggris dengan jelas ditulis "an angel". Satu malaikat mampu membereskan musuh yang begitu besar. Apalagi bila TUHAN sendiri yang turun tangan. Keyakinan raja Hizkia bahwa kekuatan yang menyertai Yehuda jauh lebih besar daripada kekuatan musuh benar-benar terbukti. Keyakinan inilah yang membuat Hizkia mampu menguatkan rakyatnya, membuatnya tetap tinggal di Yerusalem dan tidak menyerahkan diri ke tangan raja Sanherib.

Bagaimana nasib Sanherib yang sudah berkoar-koar dengan sombongnya? Bayangkan betapa malunya dia! Peperangan tanpa perlawanan dari Hizkia -yang berperang hanya seorang malaikat- telah membuat Sanherib pulang ke negerinya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Nasib sial Sanherib masih terus berlanjut. Ketika raja yang telah kehilangan muka itu pergi ke rumah allahnya (rumah ibadahnya), anak-anak kandungnya (dalam Alkitab NIV: some of his own offspring atau orang yang sedarah-daging dengan raja Sanherib) membunuhnya dengan pedang. Dewa-dewa sesembahan Sanherib tidak mampu membelanya saat TUHAN bertindak atas dia.

Jangkauan Tangan TUHAN tidak pernah terbatas dalam mengejar untuk menuntaskan musuh hingga habis bersih. Bahkan TUHAN dapat menjangkau Sanherib melalui orang-orang yang sedarah-daging dengan dia untuk membunuhnya. Demikian juga yang dialami oleh orang-orang yang perbuatannya sesuai Firman, tekun beribadah dan mengarahkan doanya kepada TUHAN. Sebesar apa pun problem, pasti dapat diselesaikan oleh TUHAN sampai tuntas dengan kuasa-NYA yang sungguh tak terbatas.