Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Wisdom, Knowledge &a...
Wisdom, Knowledge & Power
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 15 November 2011
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 04/03/12
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Setiap manusia memiliki corak hidup yang berbeda-beda, dan setiap manusia bertanggung jawab terhadap kehidupannya secara pribadi. Ketiga unsur: wisdom, power, dan knowledge diperlukan dalam mengelola hidup anak TUHAN. Bagaimana komposisi yang pas dari ketiga unsur itu agar kualitas hidup kita maksimal?

HAKIM-HAKIM 15 : 3
3 Lalu kata Simson kepadanya: "Sekali ini aku tidak bersalah terhadap orang Filistin, apabila aku mendatangkan celaka kepada mereka."

Simson adalah seorang pribadi yang memiliki kekuatan yang luar biasa, tetapi kurang memiliki kemampuan dalam mengelola hidupnya. Salah satu bukti dari ketidakmampuan Simson tampak dari kegagalannya dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Usia perkawinannya hanya mampu bertahan hingga tujuh hari saja. Sejak saat itu, terjadilah keributan-keributan antara Simson dengan orang Filistin. Di tengah-tengah keributan yang dibuat oleh Simson, ia justru berkata, "Sekali ini aku tidak bersalah." Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadap orang Filistin, sekalipun ia sudah mendatangkan celaka terhadap bangsa itu.

Padahal, baik Simson maupun orang Filstin, sama-sama melakukan kesalahan. Tetapi kedua belah pihak sama-sama merasa benar dan sama-sama mengatakan bahwa kesalahan berada pada pihak lain. Dalam skala besar, hal ini yang sering menjadi penyebab terjadinya peperangan di dalam dunia ini. Dalam skala yang lebih kecil, dalam berumah tangga banyak suami atau istri yang bersikap sama seperti Simson yang memandang dirinya tidak bersalah. Akibatnya, seringkali terjadi perselisihan antara suami dengan istri.

Penilaian bahwa dirinya tidak bersalah dapat dipahami jika berdasarkan jalan pikiran atau sudut pandangnya sendiri. Orang yang menilai dirinya sendiri berdasarkan pikirannya sendiri, sudah pasti akan mengatakan dirinya benar, bahkan akan memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain. Contohnya, saat Hawa dan Adam jatuh ke dalam dosa, tidak ada dari antara mereka yang mau mengakui kesalahannya. Yang ada justru saling menyalahkan satu sama lain.

Apabila hidup kita masih terjebak di dalam sikap hidup ataupun situasi seperti yang dilakukan oleh Simson, kita tidak akan mencapai sesuatu yang berarti. Sekalipun kita memiliki kekuatan dan daya pikir yang luar biasa, semuanya itu tidak akan pernah dapat berguna dengan baik dan maksimal. Simson memiliki power yang luar biasa dan knowledge, tetapi ia tidak kurang memiliki wisdom. Sehingga yang terjadi adalah ia tidak mampu menguasai diri dan lebih menyukai untuk merasa diri paling benar dan menyalahkan orang lain. Akibatnya selalu terjadi pertengkaran antara Simson dengan orang Filistin.

AYUB 1 : 8
8 Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-KU Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan ALLAH dan menjauhi kejahatan."

Siapakah "juri" yang paling obyektif dalam menilai manusia? TUHAN. Jika TUHAN bertanya kepada Iblis, apakah ia memperhatikan Ayub, berarti jauh sebelumnya TUHAN sudah memperhatikan Ayub terlebih dahulu. Dengan demikian penilaian yang diberikan ALLAH terhadap Ayub merupakan suatu penilaian yang akurat. Tidak seperti penilaian yang diberikan oleh Simson terhadap dirinya sendiri. Jika ALLAH menyatakan bahwa Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur maka Ayub adalah pribadi yang benar-benar saleh dan jujur di hadapan ALLAH. Sebab alat pengukur yang digunakan untuk menilai Ayub adalah sudut pandang ALLAH sehingga penilaian itu tidak mungkin keliru. Berbeda dengan penilaian berdasarkan sudut pandang manusia yang seringkali salah, atau penilaian diri sendiri yang cenderung membenarkan diri sendiri.

HAKIM-HAKIM 15 : 4 - 5
4 Maka pergilah Simson, ditangkapnya tiga ratus anjing hutan, diambilnya obor, diikatnya ekor dengan ekor dan ditaruhnya sebuah obor di antara tiap-tiap dua ekor. 5 Kemudian dinyalakannyalah obor itu dan dilepaskannya anjing-anjing hutan itu ke gandum yang belum dituai kepunyaan orang Filistin, sehingga terbakarlah tumpukan-tumpukan gandum dan gandum yang belum dituai dan kebun-kebun pohon zaitun.

Dengan kekuatannya yang sangat besar, Simson seorang diri mampu menangkap tiga ratus anjing hutan hanya dalam waktu satu hari saja. Kemudian dengan menggunakan akalnya ia menemukan cara yang sangat efektif untuk membakar gandum orang Filistin. Caranya, dia mengikat serigala-serigala itu ekor dengan ekor dan ditaruhnya sebuah obor di antara tiap-tiap dua ekor. Anjing-anjing hutan itu dilepaskan di tengah ladang Filistin. Bisa ditebak akibatnya: ketika anjing-anjing yang melihat ekornya ada api, anjing-anjing itu akan panik dan berlari, dan akan terjadi tarik menarik antara tiap-tiap dua anjing hutan yang diikat itu. Hasilnya, kebakaran hebat di ladang Filistin, baik yang siap panen, maupun gandum yang sudah dipanen namun masih ditumpuk di ladang. Kebun-kebun zaitun Filistin pun tak luput dari kebakaran.

TUHAN sudah memberikan manusia power dan knowledge, sehingga manusia dapat melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Tetapi sangat disayangkan karena hanya sedikit orang yang memiliki wisdom. Hanya orang-orang yang memiliki wisdom-lah yang mampu mengelola hidupnya secara baik, yakni mampu mengelola power dan knowledge yang dimilikinya. Jika seseorang hanya memiliki power dan knowledge saja, maka akan menjadi sesuatu yang sangat berbahaya baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Tanpa adanya wisdom maka akan terjadi kerusakan demi kerusakan seperti yang dilakukan Simson. Memang yang dirusak oleh Simson adalah milik orang Filistin. Tetapi kita harus tahu membedakan antara merusak dengan mengalahkan musuh. Sebab tindakan merusak tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya akan berujung pada kekalahan. Sedangkan mengalahkan musuh akan melahirkan kemenangan dan penyelesaian masalah.

YESAYA 11 : 1 - 3
1 Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. 2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; 3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

Dalam ayat di atas, Roh hikmat dan pengertian (the Spirit of wisdom and understanding) berada dalam posisi pertama yang disebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa roh hikmat dan pengertian sangat dibutuhkan untuk mengelola kehidupan. Penjabaran roh hikmat dan pengertian sebagai berikut: hikmat adalah kemampuan memahami Firman TUHAN, dan pengertian yang dimaksud di sini bukan knowlegde, tapi kemampuan untuk memahami masalah dan diri sendiri. Sedangkan keperkasaan (power) berada di urutan berikutnya.

Simson memiliki power dan knowledge, tetapi ia kurang memiliki pengertian dan pemahaman yang benar terhadap Firman TUHAN. Akibatnya ia tidak mampu mengendalikan dirinya sehingga kekuatan yang ia miliki digunakan tanpa ada hikmat dari TUHAN. Memang secara sekilas dengan kekuatan dan pikiran yang dimilikinya, Simson mencapai keberhasilan, yakni menghancurkan ladang-ladang orang Filistin. Tetapi pada akhirnya hasil yang diperoleh dari penggunaan kekuatan dan pikirannya itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Keinginan Simson yang sebenarnya adalah berjumpa dan mendapatkan kembali (mantan) istrinya. Namun karena tidak memiliki sprit of wisdom and understanding, ia justru tidak dapat mencapai keinginannya itu.

Dari hal ini dapat kita tarik suatu pelajaran bahwa wisdom dan understanding sangat penting, baik bagi kita sendiri maupun bagi keluarga (istri atau suami dan anak-anak). Sebagai orang tua, jangan kita mempersiapkan anak-anak hanya dengan power dan knowledge, yang pada akhirnya akan menyebabkan mereka bertumbuh menjadi pribadi yang berbahaya. Mereka memiliki kekuatan luar biasa (kekayaan) dan memiliki kemampuan dalam bidang akademis, namun terjerumus dalam melakukan tindak kejahatan. Jika kita perhatikan kejahatan-kejahatan zaman sekarang ini semakin berkembang karena kurangnya pembekalan wisdom dan understanding bagi anak-anak.

Sekalipun banyak contoh negatif di sekitar kita, pada kenyataannya masih banyak orangtua yang tidak mengutamakan pembekalan wisdom dan understanding terhadap anak-anaknya. Sangat sedikit orangtua yang menyadari pentingnya kerohanian bagi anak-anaknya. Hal ini terbukti ketika musim ujian di sekolah tiba. Banyak para ibu atau ayah yang minta kepada hamba TUHAN untuk mendoakan anaknya agar dapat mencapai hasil ujian dengan baik. Bahkan tidak sedikit yang terus terang berkata: "Pak, tolong doakan agar nilai agama anak saya di sekolah dapat mencapai nilai yang bagus. Sebab jika tidak memperoleh nilai pelajaran agama yang bagus, anak saya tidak bisa naik kelas." Jadi bukannya minta didoakan agar kerohanian anaknya menjadi lebih baik, tapi hanya sekadar untuk mengejar nilai pelajaran agama agar supaya dapat memperoleh nilai yang bagus.

Memiliki wisdom dan understanding merupakan hal yang sangat penting. Sekalipun power yang dimiliki tidak besar, namun jika memiliki wisdom and understanding maka power itu akan mampu kita gunakan tepat waktu dan tepat guna. Demikian pula dengan knowledge yang tidak seberapa tetapi jika dikuasai oleh wisdom maka kita mampu mengelola hidup kita ini secara maksimal. Contohnya, dalam kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang dipimpin oleh wisdom (Firman TUHAN) maka secara otomatis di dalamnya akan ada understanding atau saling mengerti satu dengan lain dan akan mampu mengelola power dan knowledge.

Dalam ayat 3 dikatakan bahwa orang yang memiliki wisdom dan understanding serta power dan knowledge, ia akan hidup dalam takut akan TUHAN, dan juga tidak akan menghakimi sesuatu hanya berdasarkan apa yang kelihatan dan terdengar saja. Simson menghakimi orang Filistin hanya berdasarkan pada apa yang ia lihat dan rasakan tanpa disertai oleh rasa takut kepada TUHAN. Sehingga Simson tidak pernah bertanya kepada TUHAN tentang apa yang harus ia lakukan terhadap orang Filistin.

HAKIM-HAKIM 15 : 6
6 Berkatalah orang Filistin: "Siapakah yang melakukan ini?" Orang menjawab: "Simson, menantu orang Timna itu, sebab orang itu telah mengambil isteri Simson dan memberikannya kepada kawannya." Kemudian pergilah orang Filistin ke sana dan membakar perempuan itu beserta ayahnya.

Akibat tidak disertai hikmat dan pengertian, keinginan Simson (bertemu dan mendapatkan kembali mantan istrinya) tidak tercapai, bahkan orang lain juga menjadi korban. Alasan Simson merusak ladang-ladang orang Filistin adalah karena mertuanya memberikan istri Simson kepada orang lain. Mertua Simson sendiri memiliki alasan dari tindakannya itu, yakni karena Simson pergi meninggalkan istrinya. Dan istri Simson menuruti kemauan ayahnya. Jadi masing-masing pihak memiliki "kebenarannya" masing-masing. Tetapi lagi-lagi, karena Simson hanya memiliki power dan knowledge, yang terjadi justru kehancuran yang mengerikan. Orang-orang Filistin membakar mantan mertua dan mantan istri Simson.

Dari pengalaman Simson, marilah kita melihat kehidupan kita sendiri. Banyak dari antara kita yang mengalami permasalahan dalam berumah tangga karena jor-joran dalam menggunakan power atau knowledge. Misalnya, suami menonjolkan kekuasaan dan hartanya, istri membangga-banggakan gelar akademisnya yang lebih tinggi dari suaminya. Keadaan itu membuat suasana meruncing. Banyak orang yang tidak mau berdamai dengan orang lain karena merasa memiliki kelebihan dari orang yang lain. Akibatnya, kita lebih suka menuntut orang lain untuk terlebih dahulu merendahkan diri kepada kita. Tetapi apabila kita memiliki wisdom, maka kita akan menjadi sama seperti YESUS.

Setelah orang Filistin tahu bahwa yang melakukan perusakan terhadap ladang mereka adalah Simson, yang menjadi menantu orang Timna, maka mereka pergi ke sana dan membakar mantan istri Simson beserta ayahnya. Mantan mertua dan mantan istri Simson itu merupakan orang Filistin. Filistin tetaplah Filstin. Mereka tidak tidak perduli jika yang mereka bakar adalah sesama orang Filistin. Artinya, jangan kita beranggapan bahwa orang dunia bersahabat dengan sesama orang dunia. Sebab prinsip orang dunia adalah barang siapa yang dianggap mengganggu ketenangan salah satu pihak, dia akan dibinasakan pihak lain. Sebab yang dimiliki oleh dunia adalah power dan knowledge, mereka tidak memiliki hikmat TUHAN.

PENGKHOTBAH 1 : 1 - 3
1 Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. 2 Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. 3 Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?

Yang berbicara dalam ayat ini adalah Raja Salomo yang memiliki kesuksesan yang begitu luar biasa. Tetapi mengapa Salomo berkata bahwa segala sesuatu adalah sia-sia? Karena Salomo mulai meninggalkan wisdom dan mengutamakan power dan knowledge-nya. Akhirnya kebahagiaan hidup tidak tercapai, merasa sia-sia dan hampa. Tetapi jika wisdom tetap menjadi bagian yang utama di dalam hidup ini, seberapa pun besarnya power dan knowledge yang ada pada kita, kebahagiaan hidup akan dapat tercapai, dan kita tidak akan merasa jerih payahnya sia-sia. Sebab wisdom dapat mengendalikan power dan knowledge dengan baik.

HAKIM-HAKIM 15 : 7 - 8
7 Lalu berkatalah Simson kepada mereka: "Jika kamu berbuat demikian, sesungguhnya aku takkan berhenti sebelum aku membalaskannya kepada kamu." 8 Dan dengan pukulan yang hebat ia meremukkan tulang-tulang mereka. Lalu pergilah ia dan tinggal dalam gua di bukit batu Etam.

Karena Simson mengandalkan power dan knowledge-nya, bukan hanya keinginannya tidak tercapai, tetapi juga ketakutan mulai menyerangnya. Buktinya setelah mengalahkan orang Filistin, ia pergi dan tinggal di dalam gua di bukit Etam. Padahal Simson adalah seorang hakim yang memiliki tugas untuk memimpin bangsa Israel. Jika ia tinggal di gua, berarti ia gagal melakukan tugasnya sebagai hakim atas Israel. Oleh sebab itu kita jangan pernah menganggap bahwa jika sudah memiliki power dan knowledge yang luar biasa, hidup kita pasti akan berhasil. Hal sudah dibuktikan baik di dalam hidup Simson maupun Salomo, yang keduanya memiliki power dan knowledge, tetapi karena tidak dipimpin oleh wisdom, hidup mereka menjadi gagal.

Perkataan Simson dalam ayat 7 menunjukkan bahwa jalan pikirannya tidak mau berubah, dan pola pikirnya tidak ada bedanya dengan pola pikir orang Filistin, orang dunia. Padahal gaya hidup seperti ini akan membuat seseorang menjadi lelah dalam menjalani hidupnya, membuatnya tidak bahagia, dan tidak akan mencapai hasil. Buktinya adalah ketika ia bertemu dengan Delilia, ia kembali melakukan kesalahan yang sama. Ia tetap mengandalkan kekuatan dan pikirannya sendiri. Berkali-kali ia permainkan Delilah dengan membohonginya ketika Delila memintanya menceritakan kelemahannya. Namun, karena tidak ada wisdom dan understanding, akhirnya Simson pun tamat riwayatnya.

YESUS memiliki power yang jauh lebih besar dari Simson, sebab IA adalah ALLAH. Namun YESUS mengajarkan kepada kita dengan tidak menggunakan kekuatan-NYA dengan cara yang salah. DIA mengelola kuasa-NYA sehingga tujuan YESUS di muka bumi ini dapat tercapai dengan sangat baik. Bahkan berakibat sangat luas, yakni membawa keselamatan bagi setiap manusia.

GALATIA 5 : 23
23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Penguasaan diri merupakan bagian dari buah Roh. Yang menjadi pertanyaan, penguasaan diri terhadap apa? Tentunya terhadap power yang kita miliki, yakni dengan jalan mengelola power yang ada pada kita. Dengan cara memberikan ruang yang luas bagi ROH KUDUS untuk memimpin hidup kita. Dengan cara ini kita pasti mampu mengendalikan power yang ada pada diri kita. Power yang besar disertai dengan penguasaan diri, maka apa pun yang dikerjakan pasti akan berhasil

Simson mengelola power yang dimilikinya hanya dengan menggunakan pikirannya saja, sehingga kekuatan yang ada padanya tidak mampu dikelola secara maksimal. Tetapi jika ROH KUDUS menguasai seluruh kehidupan kita, maka karakter YESUS akan semakin nampak di dalam diri kita.

Berkaitan dengan penguasaan diri, ada pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh jemaat, yakni bolehkah seseorang marah? Apakah marah merupakan suatu dosa? Seseorang tidak salah bila dia marah, asalkan ada suatu alasan yang jelas. Marah akan menjadi dosa jika orang itu tidak dapat mengendalikan amarahnya. Begitu juga dengan hal-hal yang lainnya. Segala sesuatu yang dilakukan dalam taraf kewajaran (terkendali), boleh-boleh saja. Tetapi sesuatu yang kita lakukan tanpa kendali, itulah yang tidak diperbolehkan. Contoh sederhananya: merupakan hal wajar jika seseorang tertawa karena merasa sukacita. Tetapi tertawa yang tidak terkendali akan membuat orang lain memandangnya dengan mengerutkan dahi!

Simson tidak mampu mengendalikan amarah sehingga ia juga tidak mampu mengendalikan kekuatan, pikiran, dan emosinya. Akibatnya banyak kerusakan-kerusakan yang timbul. Dari pengalaman hidup Simson, kita harus selalu ingat untuk menempatkan wisdom di urutan paling utama. Agar segala yang kita lakukan tidak mengakibatkan kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kuncinya adalah terimalah ROH KUDUS, agar wisdom dari ALLAH benar-benar menguasai hidup kita sehingga kita mampu meraih keberhasilan secara maksimal. Amin.