Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Cara ALLAH yang Tak ...
Cara ALLAH yang Tak Terselami
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 12 Oktober 2012
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 03/02/13

Bagian ALLAH adalah bekerja dengan cara-NYA yang tak terselami dalam memberi kemenangan dan memberkati kita. Sedangkan bagian kita adalah menjaga kekudusan hidup agar berkat-NYA dapat selalu kita nikmati.

YOSUA 3 : 15 - 16
15 Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu - sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai - 16 maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho.

Sewaktu bangsa Israel menyeberangi Yordan, para imam pengangkat Tabut yang berjalan di barisan depan mencelupkan kaki ke dalam air sungai yang saat itu sedang meluap sesuai perintah TUHAN. Mereka menyeberang Yordan di bagian yang berhadapan dengan kota Yerikho. Seketika itu juga, aliran air sungai terputus. Aliran air yang turun dari hulu berbalik sehingga sungai kering arah sampai di dekat kota Adam. Sedangkan yang arah ke hilir, yang menuju Laut Asin atau Laut Mati terputus alirannya dan menjadi kering seluruhnya karena tidak mendapat pasokan air dari hulu. Sungai Yordan yang dikeringkan TUHAN dari dekat kota Adam sampai Laut Mati itu sepanjang puluhan kilometer! Jadi, ALLAH tak mengeringkan sungai Yordan hanya sebatas menyediakan area yang cukup untuk bangsa Israel menyeberang.

Terkadang kita tak habis pikir, mengapa ALLAH "repot-repot" mengeringkan Yordan sedemikian luas? Tindakan ALLAH terkesan berlebihan. Tentunya, tindakan ALLAH tersebut memiliki tujuan tertentu.

YOSUA 5 : 1
1 Ketika semua raja orang Amori di sebelah barat sungai Yordan dan semua raja orang Kanaan di tepi laut mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air sungai Yordan di depan orang Israel, sampai mereka dapat menyeberang, tawarlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel itu.

Tanah Kanaan yang dijanjikan ALLAH itu meliputi sepanjang daerah yang dialiri sungai Yordan. Dan saat itu, daerah tersebut masih diduduki penduduk asli Kanaan. Daerah sepanjang sungai Yordan adalah daerah yang subur sehingga banyak orang tinggal di situ. Jika ALLAH mengeringkan sungai Yordan hanya di sekitar tempat imam berdiri di dasar sungai, yang menyaksikan kedahsyatan ALLAH tersebut hanya orang Israel dan sedikit orang Kanaan saja. Dengan mengeringkan Yordan sepanjang puluhan kilometer, orang-orang Amori dan orang-orang yang tinggal di tepi sungai Yordan tersebut melihat ajaibnya kuasa ALLAH.

Menyaksikan kuasa ALLAH yang sungguh dahsyat itu, penduduk, bahkan raja-raja yang tinggal di sekitar Yordan menjadi takut kepada ALLAH. Semangat mereka menciut untuk memerangi orang Israel yang disertai ALLAH. Sebelum bangsa Israel berperang dengan penduduk asli Kanaan untuk menduduki tanah Kanaan, ALLAH sudah lebih dahulu "memerangi" musuh Israel. Sungguh, ALLAH telah memiliki rencana jauh ke depan yang tidak mampu dijangkau pikiran manusia.

MARKUS 6 : 42 - 44
42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. 43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. 44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

YESUS mengadakan mujizat memberi makan lima ribu orang laki-laki (belum terhitung wanita dan anak-anak) dengan lima roti dan dua ikan yang diserahkan oleh seorang anak laki-laki. Orang-orang yang merasakan mujizat YESUS itu makan bukan hanya sekadar sampai kenyang, tapi sampai puas. Dalam Alkitab versi NIV: They all ate and were satisfied. Dan setelah semua orang makan sampai puas, masih tersisa dua belas bakul. Kenapa TUHAN tidak membuat mujizat secukupnya saja, sampai puas dan pas, tak bersisa? Biasanya saat kita makan di resto, kita cenderung memesan makanan tak sampai berlebih. Jadi memesan secukupnya saja.

TUHAN mengadakan mujizat sampai tersisa roti dua belas bakul bukan karena salah kalkulasi. Salah satunya adalah karena TUHAN memiliki rencana besar yang mau ditunjukkan kepada kita, bahwa yang kita butuhkan selalu lebih kecil daripada yang mampu TUHAN lakukan. Dan dengan adanya sisa roti, murid-murid YESUS yakin bahwa semua orang yang makan roti telah makan sampai kenyang dan puas.

Dari sisa roti dalam mujizat ini, dari luasnya bagian sungai Yordan yang dikeringkan TUHAN, kita tahu bahwa TUHAN memiliki rencana yang jauh lebih detail dibandingkan apa yang kita pikirkan. Mengetahui hal ini, kita tidak akan "mengatur" TUHAN dalam menolong kita; DIA tak pernah kehabisan ide yang berada di luar jangkauan logika manusia.

YOSUA 5 : 2 - 3
2 Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu, untuk kedua kalinya." 3 Lalu Yosua membuat pisau dari batu dan disunatnyalah orang Israel itu di Bukit Kulit Khatan.

Secara logika pula, mumpung hati musuh kecut menghadapi Israel, seharusnya bangsa Israel cepat-cepat menduduki Kanaan. Memang kita harus sigap meraih berkat. Tapi, TUHAN mengajarkan agar jangan sampai berkat menjadi bumerang bagi kita. Agar siap menerima dan menikmati berkat, ALLAH memerintahkan Yosua untuk terlebih dahulu menyunat orang Israel.

Arti sunat adalah menanggalkan atau membuang hidup lama yang dikuasai hawa nafsu. Bangsa Israel akan tersandung dan jatuh jika hidup lama masih tersisa. Karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah disunat. Ada tempat khusus untuk menyunatkan: di Bukit Kulit Khatan, di tempat yang tinggi.

Sunat berlaku di zaman Perjanjian Lama, sedangkan dalam Perjanjian Baru, sunat diganti dengan baptisan; keduanya punya arti yang sama, yakni menguburkan hidup yang lama. Disunatkan dengan batu memiliki arti yang sama dengan mati dan bangkit bersama YESUS di dalam baptisan air. Jadi, kita tak lagi disunat, namun dibaptis.

Dengan mati dan menguburkan hidup kita yang penuh kelemahan lalu bangkit dalam kemenangan bersama YESUS, kita menjadi pribadi yang siap menerima berkat TUHAN dan tak mudah kehilangan kontrol terhadap diri sendiri. Jika hidup yang lama masih menguasai orang Kristen, saat orang itu menerima berkat, dia akan mudah jatuh kembali pada kebiasaan lama yang buruk. Misalnya mantan penjudi menjadi Kristen, tapi lupa meninggalkan hidup lama. Pada awal kekristenannya, mungkin dia masih dapat bertahan. Namun saat sudah sukses, dia akan mudah tergoda untuk kembali pada kebiasaan buruknya.

Perlu dibedakan antara sunat untuk kesehatan dan sunat zaman Yosua. Banyak jemaat yang baru melahirkan anak laki-laki ditawari agar bayinya disunat. Sunat yang dilakukan di rumah sakit itu untuk alasan kesehatan, tak ada kaitan dengan hal rohani. Dan hal itu boleh-boleh saja.

MAZMUR 95 : 1 - 2
1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap wajah-NYA dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-NYA dengan nyanyian mazmur.

Zaman Yosua sudah mengenal besi. Tetapi mengapa alat yang dipakai menyunat adalah pisau dari batu? Batu memiliki arti TUHAN, gunung batu keselamatan kita. Sebelum memasuki Kanaan yang penuh berkat, ALLAH terlebih dahulu menyiapkan kita menghadapi musuh dari dalam, yaitu hawa nafsu kita. Yang mampu mengalahkan hawa nafsu kita adalah TUHAN, ALLAH sendiri.

YOSUA 5 : 4 - 6
4 Inilah sebabnya Yosua menyunat mereka: semua orang yang keluar dari Mesir, yakni yang laki-laki, semua prajurit, telah mati di padang gurun di tengah jalan, setelah mereka keluar dari Mesir. 5 Sebab, semua orang yang keluar dari Mesir itu telah bersunat, tetapi semua orang yang lahir di padang gurun dalam perjalanan sejak keluar dari Mesir, belum disunat. 6 Sebab empat puluh tahun lamanya orang Israel itu berjalan melalui padang gurun, sampai habis mati seluruh bangsa itu, yakni prajurit yang keluar dari Mesir, yang tidak mendengarkan Firman TUHAN. Kepada mereka itu TUHAN telah bersumpah, bahwa IA tidak akan mengizinkan mereka melihat negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

Yosua 5:2 mengatakan agar orang Israel disunat untuk kedua kalinya ini bukan berarti orang yang sama disunat sampai dua kali. Sunat yang pertama kali adalah sunat pada zaman Musa. Namun di dalam perjalanan menuju Kanaan, generasi yang lahir di padang gurun belum disunat. Inilah sunat yang kedua kalinya.

Semua orang Israel yang telah disunat pada zaman Musa telah mati di padang gurun. Mereka mati karena tidak mempertahankan kekudusan; mereka mulai hidup dalam hawa nafsu. Disiplin iman yang kendor membuat bangsa Israel yang lahir di padang gurun belum disunat. Dengan menyunatkan generasi yang belum bersunat, Yosua mulai menegakkan kembali disiplin iman.

Peristiwa yang dialami bangsa Israel itu mengingatkan kita, jangan kita yang sudah dibaptis, merasa sudah "beres" urusannya, pasti masuk Surga nantinya. Sehabis dibaptis, kembali hidup dalam hawa nafsu. Arti baptisan bukan seperti itu. Baptisan adalah awal kekudusan yang harus dipertahankan.

Seharusnya bangsa Israel menyadari bahwa sunat bukan hanya sebagai syarat untuk keluar dari perbudakan Mesir saja. Membuang kehidupan lama bukan hanya saat kita dibaptis saja, namun harus kita lakukan sepanjang hidup kita. Kalau hal ini kita lakukan, kita akan mampu bertahan di "padang gurun" yang gersang, dan juga mampu menikmati berkat di "Kanaan". Karena itu, jagalah disiplin iman kita. Jangan sampai berkat yang telah kita terima malah menyeret kita kembali pada hawa nafsu.

Tadi, jam 2 dinihari (12 Oktober 2012) seorang jemaat menelpon saya dengan latar belakang suara anak yang menangis menjerit-jerit. Dia mengatakan anaknya tiba-tiba kesakitan tidak karuan. Mereka sedang berlibur di Bali. Dan setelah anaknya melihat "sesuatu", anaknya menjadi sangat kesakitan. Saya mendoakan anaknya, mengusir setan yang mengganggu. Lima menit kemudian jemaat itu mengirim SMS kepada saya, "Amin, Pak. (anak saya) sudah tidur sekarang." Sebagai hamba TUHAN, saya selalu menjaga disiplin iman agar siap mendoakan jemaat. Jika saya lengah dan tidak menjaga kekudusan, jangan harap saya diberi kuasa TUHAN untuk mengusir setan, jangan harap berkat Kanaan itu tetap saya miliki.

YOSUA 5 : 8 - 9
8 Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh. 9 Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah KU-hapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang.

Untuk pulih dari bekas luka sunat dibutuhkan beberapa hari. TUHAN telah mempersiapkan rencana yang luar biasa agar umat Israel agar tidak diserang penduduk asli Kanaan saat mereka sedang tak berdaya akibat belum pulih dari luka sunat. Dengan menyaksikan kedahsyatan TUHAN yang mengeringkan sungai Yordan sampai berpuluh kilometer, orang-orang Kanaan sudah tak berani menyerang Israel. Kendati Israel dalam keadaan tak berdaya sementara waktu karena disunat, TUHAN menyertai mereka.

Keadaan yang dialami Israel ini mengajarkan bahwa menanggalkan hawa nafsu bukan berarti kita hidup dalam keadaan terkucil, tidak dapat sukses, sulit diterima lingkungan. Kalau kita menurut dengan mau meninggalkan hawa nafsu, maka berkat berlimpah akan kita terima.

Cara TUHAN yang tak terselami dalam menolong umat-NYA bukan hanya dirasakan orang Israel. Sampai saat ini cara-NYA yang ajaib tetap dapat kita rasakan. Salah seorang jemaat GKT menderita hipertiroid. Tiga bulan lalu dia mendapat diagnosis dokter bahwa penyakitnya bisa diobati, tapi tak dapat tuntas. Andai secara medis bisa tuntas, tak ada dananya. TUHAN sudah siapkan berkat. Caranya? Terserah TUHAN, jangan mengatur DIA. Saya katakan agar dia beriman dan taat. Setelah itu dia tak melakukan pengobatan apa pun. Setelah tiga bulan, dia melakukan pemeriksaan kembali. Hasilnya, normal!

Sebelum memasuki Kanaan, umat Israel masih membawa cela Mesir atau hidupnya masih dipermalukan. Demikian pula dengan kita, Israel rohani. Misalnya, sebelum menerima baptisan, orang Kristen yang memiliki hutang (cela) tidak otomatis hutangnya lenyap saat dia menerima baptisan. Namun, jika dia berjalan terus di dalam Firman, tetap mempertahankan hidup baru di dalam KRISTUS, maka celanya diganti TUHAN dengan berkat berlimpah.

Gilgal tempat mereka disunat memiliki arti "lingkaran", lambang kekekalan. Batu yang dipakai untuk menyunat juga berbentuk lingkaran. Dengan menanggalkan hidup lama yang penuh hawa nafsu, hidup kekal dan hidup kelimpahan jadi milik kita.

Untuk mempertahankan hidup kekal dan hidup kelimpahan yang diberikan TUHAN dengan cara-NYA yang ajaib, kita harus tetap menjaga kekudusan kita, agar kita tak seperti bangsa Israel yang mati di padang gurun karena tak menjaga kekudusan hidup mereka.