MAZMUR 147 : 2 - 3
2 TUHAN membangun Yerusalem, IA mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 IA menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.
Mungkin ada beberapa di antara kita yang berpikir, "Bagaimana mungkin dapat merasakan patah hati jika berpacaran saja belum pernah?" Sebenarnya banyak orang yang mengalami patah hati, sebab patah hati bukan hanya karena disakiti oleh pasangan (pacar) saja, melainkan oleh siapa pun yang ada di dalam dunia ini. Misalnya, orangtua yang patah hati karena anaknya atau sebaliknya anak patah hati dan terluka karena perlakuan orangtuanya, dan lain sebagainya.
Karena berkaitan dengan patah hati, luka yang dimaksud dalam ayat 3 adalah luka hati. Yang dimaksud Yerusalem adalah gereja. Gereja bertugas untuk memulihkan orang yang patah hati. Kemampuan ini tentunya hanya dimiliki oleh gereja yang telah dibangun oleh TUHAN, yaitu dibangun dengan dasar Firman TUHAN.
Banyak anak yang patah hati (pahit hati) disebabkan oleh orangtuanya. Mungkin karena anaknya tidak menonjol dalam prestasi maka orangtua pernah mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan. Akibatnya perkataan tersebut selalu menempel di dalam ingatannya. Inilah yang menyebabkan anak menjadi patah hati atau patah semangat. Selain orangtua versus anak, banyak juga suami atau istri secara tidak sadar saling menyakiti. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan kepahitan di dalam hati. Kondisi seperti ini tidak mungkin dapat dipulihkan jika bukan TUHAN yang memulihkannya, yakni dengan menggunakan gereja sebagai sarana untuk memulihkan setiap hati yang patah dan luka.
Karena itu TUHAN membangun Yerusalem dan mengumpulkan orang Israel yang tercerai berai untuk disembuhkan hatinya yang patah dan luka, barulah kemudian akan mencurahkan berkat yang melimpah.
1 SAMUEL 30 : 6
6 Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, ALLAH-nya.
Tindakan orang yang pedih hati atau pahit hati (bitter in spirit) biasanya adalah merusak dan tidak didasari akal sehat. Terbukti dari tindakan rakyat Israel yang hendak melempari Daud dengan batu karena menganggap Daud yang harus bertanggung jawab atas ditawannya anak-anak dan istri seluruh pengikut Daud oleh pasukan Amalek. Seandainya mereka benar-benar melempari Daud dengan batu, apakah kondisinya menjadi lebih baik? Apakah dengan demikian anak-istri mereka akan kembali kepada mereka? Tentu tidak. Itu sebabnya pemulihan hati menjadi suatu agenda prioritas. Tujuannya agar kita tidak melakukan suatu tindakan seperti yang dilakukan oleh rakyat yang mengikuti Daud.
Salah satu penyebab patah hati adalah karena kehilangan sesuatu yang berharga. Istri patah hati karena merasa kehilangan kasih atau perhatian suami, demikian pula sebaliknya dengan suami, dan lain sebagainya. Orang-orang seperti ini perlu dipulihkan. Pemulihan hati lebih penting daripada pemulihan yang lain. Sebab sekalipun seseorang memiliki segala sesuatu, namun jika hatinya belum dipulihkan maka tidak akan ada kebahagiaan di dalam hidupnya. Patah hati yang tidak dipulihkan akan membuat seseorang membalas dendam. Jika dia memiliki cukup uang, ia akan membalas patah hati itu dengan uangnya. Jika tidak, ia akan melakukan tindakan lain yang membahayakan orang lain, sama seperti rakyat yang hendak melempari Daud dengan batu.
Rakyat maupun Daud mengalami persoalan yang sama, yakni istri dan anak-anaknya ditawan Amalek. Sekalipun demikian, mengapa Daud tidak melakukan hal yang sama dengan tindakan rakyat? Karena Daud tidak patah hati sehingga dia tidak melakukan hal yang di luar akal sehat. Ia mendapatkan kekuatan dari TUHAN sehingga tidak bertindak seperti orang lain yang patah hati.
1 SAMUEL 30 : 7 – 8
7Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: "Bawalah efod itu kepadaku." Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. 8 Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan IA berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."
Orang yang hatinya telah dipulihkan, baik pada saat ada tekanan ataupun tidak ada tekanan, tidak mudah putus asa; dia akan selalu mencari TUHAN. Dibuktikan oleh Daud, ketika mengalami kesukaran, ia bertanya kepada TUHAN tentang bagaimana langkah yang harus ditempuhnya. Daud memerintahkan kepada Abyatar untuk mengambilkan Efod baginya untuk meminta petunjuk TUHAN. Tetapi orang yang patah hati, dia tidak sempat, bahkan tidak mau mencari TUHAN; ia akan selalu tertekan, bahkan ingin mati sekalipun mungkin secara ekonomi berkelebihan.
Baju Efod bentuknya seperti sebuah rompi, pada bagian tengahnya terdapat dua buah kantung yang di dalamnya terdapat batu yang disebut Urim dan Tumim. Efod juga sering disebut sebagai tutup dada yang menggambarkan sebagai penutup hati. Urim dan Tumim ini berfungsi untuk meminta petunjuk TUHAN, menggambarkan Firman TUHAN.
Secara logika, pertanyaan Daud, "Haruskah aku mengejar geromboloan itu?" adalah pertanyaan yang tidak masuk akal. Sebab saat itu istri Daud juga ditawan oleh orang Amalek sehingga sudah merupakan kewajibannya mengejar musuh untuk membebaskan istri dan rakyat yang tertawan. Tetapi dari sini kita pelajari bahwa Daud memang orang yang mengutamakan TUHAN sehingga ia meminta petunjuk TUHAN. Selain itu, tindakan Daud ini memperkuat bukti bahwa hati Daud telah dipulihkan. Sebab orang yang patah hati pasti akan melakukan suatu tindakan yang tidak masuk akal (nekad) dan tidak memperhitungkan segala sesuatu sesuai dengan standar Firman TUHAN. Orang yang patah hati akan berpikir, "Sekalian saja mati, musuh sekuat apapun dikejar saja, toh ujung-ujungnya pasti mati."
Pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan Daud kepada TUHAN adalah: "Akan dapatkah mereka kususul?" Dengan kata lain Daud menanyakan kepada TUHAN hasil yang akan dicapai seperti apa jika ia mengejar musuh.
Jadi tindakan orang yang tidak patah hati adalah mencari TUHAN untuk menanyakan tindakan apa yang harus dilakukannya ketika mengalami persoalan. Kemudian yang kedua adalah ia juga menanyakan hasil yang akan dicapai jika ia melakukan tindakan tersebut. Sebab ALLAH bisa saja memberikan solusi yang berbeda dengan pikiran manusia.
Kemudian poin yang tidak kalah penting adalah orang yang hatinya telah dipulihkan dan tidak ada luka hati, ketika ia bertanya kepada TUHAN, maka IA akan menjawab. Dan jawaban yang diberikan oleh TUHAN adalah suatu jawaban yang pasti dan lengkap.
Apabila hingga saat ini kita merasa sudah sekian lama doa belum dijawab, apakah hal tersebut disebabkan oleh karena kita masih patah hati. Jika kita sadar bahwa hati ini masih luka, mintalah kepada TUHAN supaya IA menyembuhkan luka batin kita, sebab hanya ALLAH saja yang dapat menyembuhkan luka hati kita. Dengan memiliki kerinduan untuk dipulihkan, kita akan mengalami seperti apa yang dialami oleh Daud. Segala sesuatu yang tadinya telah hilang, pada akhirnya akan kembali dengan utuh. Sebab TUHAN mengatakan bahwa Daud akan membebaskan semua tawanan tanpa terkecuali. Caranya adalah dengan tidak mengijinkan putus asa tinggal di dalam hatinya dan memiliki keterbukaan hati untuk dibalut dan disembuhkan oleh TUHAN.
1 SAMUEL 30 : 10
10 Maka Daud melanjutkan pengejaran itu beserta empat ratus orang. Dua ratus orang yang terlalu lelah untuk menyeberangi sungai Besor itu, berhenti di sana.
Setelah mendapatkan petunjuk dari TUHAN, dengan segera Daud mengumpulkan enam ratus orang untuk mengejar gerombolan orang Amalek, padahal saat itu pasukan Daud sudah kelelahan. Musuh yang dihadapi juga dalam jumlah yang besar. Namun karena Daud tidak patah hati, Daud dapat memimpin dan mengarahkan pasukannya untuk mengejar musuh. Hal sebaliknya terjadi bagi orang yang hatinya rapuh. Meskipun masih muda yang tubuhnya masih kuat, namun bila hatinya rapuh atau masih patah hati, mereka tidak akan mampu menghadapi segala tantangan dan persoalan. Dari enam ratus orang yang mengikut Daud, ada dua ratus orang yang sangat kelelahan sehingga mereka tinggal (tidak melanjutkan perjalanan). Kondisi ini tidak menyurutkan Daud untuk tetap melanjutkan perjalanannya hingga mencapai keberhasilan.
1 SAMUEL 30 : 11 - 12
11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air, 12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam.
Di tengah perjalanan mengejar musuh yang menawan anak dan istri mereka, ada seorang Mesir yang tergeletak karena kelaparan. Tindakan yang dilakukan oleh Daud adalah menolong orang tersebut dengan memberi roti dan minum. Ini berarti orang yang tidak patah hati akan memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan dapat memulihkan hati orang lain. Orang Mesir yang tergeletak di jalan itu dapat dikatakan sebagai orang yang patah hati. Ia salah satu budak orang Amalek yang menyerang Daud pada waktu itu. Ketika ia sakit dan dianggap tidak berguna maka ia digeletakkan begitu saja di jalan dan ditinggalkan oleh orang Amalek itu. Namun Daud sebagai seorang yang telah dipulihkan oleh TUHAN, ia mampu untuk menolong dan memulihkan orang lain.
Banyak orangtua yang kewalahan terhadap perilaku anak-anaknya, bahkan sudah tidak mampu mengendalikan anak-anaknya lagi. Sebagai orangtua, yang perlu kita perbuat adalah mengkoreksi diri kita sendiri, apakah hati kita sudah dipulihkan atau belum? Sebab, jika hati ini telah dipulihkan, maka kita akan memiliki kemampuan untuk mengubahkan hati anak-anak kita. Orangtua yang hatinya yang telah dipulihkan akan mampu menyalurkan kasih dari ALLAH sehingga hati anak-anaknya akan dipulihkan oleh kasih ALLAH itu.
Dengan jelas dikatakan bahwa Daud tidak hanya memberi orang Mesir itu roti, tetapi juga memberikan air untuk minum serta kue ara dan kismis (menggambarkan sesuatu yang manis). Hasil dari pertolongan yang diberikan oleh Daud adalah orang Mesir ini menjadi segar kembali. Berati orang yang hatinya telah pulih, mampu memberikan kasih yang manis kepada semua orang. Inilah kunci keberhasilan yang diberikan TUHAN bagi kita. Jadi, anak jangan menyalahkan orang tuanya, atau sebaliknya orang tua menyalahkan anak. Yang perlu kita perbuat adalah meminta kepada ALLAH agar DIA memulihkan hidup kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah seperti apakah pertolongan yang baik itu? Apakah saat bertemu seorang pengemis, pertolongan yang kita berikan adalah memberikan sedikit uang agar penderitaan pengemis tersebut dapat sedikit berkurang? Hal itu sesungguhnya bukanlah pertolongan yang tepat. Pertolongan yang tepat adalah seperti apa yang dilakukan oleh Daud. Sebagai seorang panglima perang, Daud mau berkomunikasi secara langsung dengan seorang budak yang statusnya jelas berbeda. Kita dapat melihat bahwa sebagai seorang panglima perang, Daud bersikap tidak sombong; ia mau merendahkan dirinya untuk berdekatan dengan seorang budak. Mengapa hal ini mampu Daud lakukan? Karena hatinya telah pulih dan tidak menyimpan kepahitan di dalam hatinya. Sedangkan orang yang masih menyimpan pahit hati, ia akan memiliki kecenderungan untuk menyombongkan diri sebagai salah satu cara untuk menutupi kepahitan hatinya tersebut.
1 SAMUEL 30 : 15 - 16
15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi ALLAH, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu." 16 Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda.
Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang tidak patah hati tidak akan pernah sia-sia. Justru melalui orang Mesir yang ditolongnya itu, Daud memperoleh informasi tentang gerombolan orang Amalek, informasi yang sangat dibutuhkan Daud saat itu.
Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk menyelamatkan orang lain ataupun keluarganya sendiri. Itu semua disebabkan oleh kita sendiri yang tidak mau berbuat baik kepada orang lain. Namun, jika kita mau berbuat baik kepada orang lain, maka mereka pun akan mau berbuat baik kepada kita. Daud berbuat baik hanya dengan memberi makan orang Mesir itu dan juga memberikan kue ara dan kue kismis. Tetapi sebagai balasannya, Daud mendapatkan kembali anak dan istri dari seluruh pengikut Daud yang ditawan oleh gerombolan Amalek. Itu semua berkat informasi yang diberikan oleh orang Mesir yang ditolongnya.
1 SAMUEL 30 : 17 – 19
17 Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorang pun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. 18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. 19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali.
Perbandingan antara tentara Daud dan tentara musuh tidak seimbang; Daud hanya membawa empat ratus orang yang sudah kelelahan, sedangkan jumlah tentara musuh yang lolos saja empat ratus orang, berarti jumlah musuh jauh lebih banyak dari itu. Sekalipun demikian, Daud tidak dapat dihancurkan oleh masalah. Daud yang hatinya telah dipulihkan oleh TUHAN juga tidak menghancurkan orang lain. Tetapi sebaliknya, orang yang masih menyimpan kepahitan di dalam hatinya, harta bendanya dibawa lari oleh musuh, dan ia sendiri sibuk berusaha untuk membunuh orang lain, seperti yang tadinya akan dilakukan oleh orang-orang yang hendak melempari Daud dengan batu.
Sebagai hasil dari hati yang dipulihkan, Daud berhasil membebaskan semua orang yang ditawan Amalek, termasuk kedua orang istrinya. Dijelaskan juga didalam ayat 19 bahwa dari antara mereka yang tadinya tertawan tidak kehilangan sesuatu apa pun dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Berarti orang yang hatinya menjadi pahit adalah orang yang mengalami kehilangan.
Jika demikian, bagaimana caranya agar kita dapat mengatasi segala persoalan, baik urusan yang paling kecil hingga yang paling besar? Caranya hanya ada satu, yakni hati kita dipulihkan dengan mendengar Firman yang disampaikan di dalam gereja.
MAZMUR 147 : 5 – 6
5 Besarlah TUHAN kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-NYA tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.
Setelah hati kita dipulihkan oleh TUHAN, barulah segala tekanan yang menekan kita diangkat oleh-NYA. Jadi, jangan pernah kita berpikir untuk meminta penyelesaian masalah yang kita hadapi telebih dahulu tanpa memberikan hati kita untuk dipulihkan oleh TUHAN. Sebab jika hati masih luka, persoalan akan mudah timbul kembali.
MAZMUR 147 : 7 – 11
7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi ALLAH kita dengan kecapi! 8 DIA, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 DIA, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 IA tidak suka kepada kegagahan kuda, IA tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan DIA, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-NYA.
Setelah hati kita dipulihkan dan segala tekanan dalam hidup ini diangkat-NYA maka kita akan meraih kemenangan. Kemenangan yang seperti apa yang akan kita peroleh? Ayat delapan menjelaskan bentuk kemenangan yang akan kita raih, yakni TUHAN akan menyelimuti bumi dengan awan-awan yang mendatangkan hujan.
Jika hujannya diturunkan terlebih dahulu sedangkan hati kita belum dipulihkan, yang terjadi adalah hujan tersebut tidak menjadi berkat, misalnya saja banjir. Namun jika hatinya telah dipulihkan, ia akan memiliki kemampuan untuk mengelola hujan yang didatangkan oleh TUHAN, misalnya untuk mengairi sawah, dengan kata lain siap untuk menerima berkat. Bahkan TUHAN memberikan suatu jaminan bahwa burung gagak saja IA beri makan, terlebih lagi orang-orang yang hatinya telah dipulihkan-NYA.
Dalam ayat sepuluh dikatakan bahwa TUHAN tidak suka kepada kekuatan kuda dan kekuatan kaki laki-laki. Maksud dari pernyataan di dalam ayat tersebut adalah TUHAN tidak menyukai manusia yang mengandalkan kekuatannya sendiri. Tetapi TUHAN berkenan kepada orang yang takut akan TUHAN. Sikap tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan hidup takut akan TUHAN dapat terjadi hanya apabila hati kita telah dipulihkan dari kepahitan atau patah hati.
Tidak membuka hati bagi TUHAN sehingga Firman TUHAN yang didengarnya akan berlalu begitu saja, bahkan disangkalnya, tidak akan membuat hati orang itu dipulihkan. Untuk itu, bukalah hati terlebih dahulu agar mampu mendengar Firman TUHAN dan mengaminkannya, sehingga hati kita dipulihkan oleh TUHAN. Sebab hanya TUHAN yang mampu memulihkan hati kita. Kata-kata penghiburan seperti apa pun dari manusia tidak ada yang sempurna dan mampu memulihkan hati yang terluka. Jika hati kita telah dipulihkan, TUHAN mampu mengembalikan semua hal yang tadinya hilang dari hidup kita, baik itu kebahagiaan dalam keluarga, kondisi ekonomi atau apa pun juga. Semuanya kembali utuh, seutuh hati kita yang telah dipulihkan TUHAN. Amin.