KELUARAN 15 : 1, 19
1 Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN yang berbunyi: "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab IA tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-NYA ke dalam laut. 19Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut.
Ketika Musa dan bangsa Israel sampai di tepi Laut Teberau yang tak dapat mereka seberangi, pada saat yang sama Firaundan pasukannya (gambaran dari setan) yang mengejar mereka sudah berada sangat dekat dengan mereka. Mereka dalam keadaan terjepit di antara Laut Teberau dan Firaun. Tetapi melalui tongkat yang diangkat oleh Musa, Laut Teberau terbelah sehingga dapat mereka seberangi dan segenap bangsa Israel dapat lepas dari kejaran Firaun dan pasukannya. Ini berarti untuk dapat terluput dari kejaran setan, diperlukan tongkat (gambaran dari salib KRISTUS). Tongkat yang digunakan untuk membelah Laut Teberau, tongkat itu pula digunakan TUHAN untuk membuat air laut yang terbelah berbalik kembali sehingga menenggelamkan Firaun beserta pasukannya.
Peristiwa bebasnya umat Israel dari perbudakan Mesir ini menggambarkan pertobatan, dimana sebelum bertobat kita diperbudak setan, tetapi oleh salib KRISTUS kita ditebus dan terlepas dari kuasa setan. Kelepasan yang dialami oleh Musa dan segenap bangsa Israel tidak memerlukan usaha mereka, melainkan karena kuasa ALLAH yang memberikan kebebasan tersebut. Kita juga dibebaskan dari kuasa dosa bukan karena kekuatan kita, hanya dengan percaya kepada Salib KRISTUS kita bebas dari dari perbudakan setan dan kita menjadi milik ALLAH. Sebab tidak ada satu orang pun yang mampu melawan atau bebas dari kuasa dosa jika ia mengandalkan kekuatannya sendiri.
Bebasnya Musa dan umat Israel dari kejaran Firaun diekspresikan dengan lagu yang penuh sukacita. Syair lagu yang dinyanyikan Musa dan bangsa Israel "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab IA tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-NYA ke dalam laut" menunjukkan bahwa ALLAH-lah yang mengalahkan musuh mereka. Musa dan segenap bangsa Israel tidak berperan apa-apa dalam menenggelamkan musuh. Hal ini berarti bahwa TUHAN-lah yang melemparkan kuasa maut dengan kekuatan-NYA, sehingga kita dilepaskan dari belenggu dosa.
Orang yang baru bertobat dan menerima kelepasan dari kuasa maut, biasanya mengekspresikan rasa sukacitanya dalam bentuk nyanyian untuk memuji TUHAN. Hal seperti ini merupakan sesuatu yang lumrah. Namun perlu diingat oleh mereka, kebebasan dari kejaran Firaun itu bukan akhir perjalanan mereka. Itu justru awal perjalanan iman mereka di dalam mengiring TUHAN. Di balik kebebasan dari kejaran Firaun, langkah-langkah mereka ke depan masih menghadapi tantangan lainnya.
Setelah kita lepas dari perbudakan setan, masih ada perjalanan hidup selanjutnya yang harus kita jalani dengan status sebagai anak ALLAH. Banyak orang beranggapan, setelah bertobat lalu dibaptis maka selesai sudah tugasnya. Padahal tidak seperti itu. Justru pertobatan dan baptisan merupakan langkah awal bagi kita untuk berjalan sebagai orang Kristen.
KELUARAN 15 : 20 - 21
20Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. 21Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: "Menyanyilah bagi TUHAN, sebab IA tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-NYA ke dalam laut."
Jika kita perhatikan, baik Musa dan juga orang Israel menyanyikan nyanyian yang sama, begitu pula dengan Miryam setelah mereka berhasil menyeberangi Laut Teberau saat itu. Usia Miryam saat itu sudah sekitar 90 tahun, namun dia mampu menyanyi memuji TUHAN dengan penuh sukacita. Hal ini umumnya juga dialami oleh orang yang baru menjadi Kristen, mereka begitu bersukacita dan sangat bersemangat dalam mengiring TUHAN. Namun, sampai berapa lama sukacita umat Israel ini dan juga sukacita orang Krist KELUARAN 15 : 22 Baik Musa maupun segenap orang Israel menyanyi dengan penuh sukacita. Namun bersukacita dan menyanyi saja tidak cukup. Perjalanan mereka menunju Tanah Perjanjian baru saja dimulai. Mereka harus mengetahui arah yang harus mereka tempuh. Sekalipun Musa sangat bersukacita karena pertolongan yang TUHAN kerjakan bagi seluruh umat-NYA, ia tidak terlena dalam sukacita dan kebahagiaan. Sebagai pemimpin bangsa Israel, Musa tahu arah dan tujuan yang harus mereka tempuh. Demikian juga dengan kehidupan kita. Banyak orang yang baru menerima YESUS dan menerima baptisan, mereka terlena dengan kebahagiaan yang dialami. Akibatnya mereka tidak mengetahui tindakan selanjutnya yang harus diambil setelah menerima keselamatan dari ALLAH. Itu sebabnya tidak heran jika ada orang yang baru bertobat mengalami kekecewaan karena masih mengalami permasalahan hidup. Setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau dan musuh yang mengejar telah dibinasakan, mereka dipimpin oleh Musa masuk ke padang gurun Syur. Musa mengajak segenap orang Israel untuk melihat kenyataan bahwa masih ada tantangan lain yang harus dihadapi, yakni tidak mendapatkan air selama tiga hari perjalanan mereka itu. Jadi jika kita mengalami kesukaran dalam hidup ini, jangan dengan mudah mengatakan bahwa kesukaran ini karena setan. Tantangan yang kita hadapi tidak selalu disebabkan oleh setan. Yang harus kita pahami adalah hidup di dalam dunia ini memang penuh tantangan. Saya tertarik dengan kata “tiga hari". Mengapa mereka tidak menemukan air dalam waktu tiga hari? Tiga hari berbicara tentang kematian dan kebangkitan TUHAN YESUS. Dan jika dihubungkan dengan ayat sebelumnya, dapat ditarik suatu pengertian bahwa kita dapat dibebaskan dari kejaran setan hanya melalui kematian dan kebangkitan YESUS. Setelah kita menerima kematian dan kebangkitan TUHAN yang membawa kehidupan bagi kita, kita juga dituntut untuk mati dan bangkit bersama-sama dengan YESUS. Salah satunya adalah dengan cara menyalibkan segala hawa nafsu daging yang ada pada hidup kita. Jadi bukan hanya YESUS saja yang mati bagi kita, tetapi kita juga harus mau mati bagi KRISTUS. LUKAS 9 : 23 - 24 TUHAN mengijinkan bangsa Israel berjalan di padang gurun tanpa memperoleh air adalah agar mereka dapat menyalibkan diri bagi TUHAN. Sebab dalam Lukas 9 ini, YESUS mengatakan bahwa setiap orang (tanpa kecuali) harus memikul salib setiap hari. Inilah kewajiban setiap orang Kristen. Kekristenan bukan hanya menerima YESUS, dibebaskan dari ikatan setan saja, tetapi juga harus menyalibkan daging bagi KRISTUS dan mengikut DIA dengan segenap hati.Memikul salib bukan berarti kita harus hidup menderita terus menerus, melainkan menyangkali hawa nafsu kedagingan agar tetap mampu mengikut YESUS. Salah satu cara yang baik untuk menyangkal diri adalah dengan meluangkan waktu untuk berpuasa. Dalam ayat 24 dikatakan bahwa barangsiapa yang hendak menyelamatkan nyawanya justru akan kehilangan nyawanya. Seolah-olah orang Kristen harus berani mati. Maksud sesungguhnya dari ayat tersebut adalah “barangsiapa yang mempertahankan hidup lamanya, ia akan kehilangan nyawanya." Jadi orang Kristen yang tidak mau menyalibkan dirinya, ia akan kehilangan hidupnya. Tetapi jika ada orang yang mau memikul salib bersama YESUS, ia akan diselamatkan. Selain itu, apa yang akan dihadapi selanjutnya (kesukaran dan lain sebagainya) tidak akan mampu merusakkan iman kita kepada ALLAH, justru akan memampukan kita untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik. KELUARAN 15 : 23 - 24 Setibanya di Mara, mereka menemukan air. Tetapi air di sana pahit rasanya sehingga tidak dapat mereka minum. Hal itu membuat seluruh bangsa Israel bersungut-sungut. P adahal dalam ayat sebelumnya, Miryam dan seluruhbangsa Israel menyanyi sambil menari-nari karena kegirangan. Bahkan Miryam yang memimpin para wanita untuk menyanyi dan menari. Tetapi begitu mengalami kesukaran, sukacita yang menggebu-gebu itu hilang begitu saja dan berganti menjadi sungut-sungut. Mampu menghadapi kesulitan tanpa bersungut-sungut merupakan parameter seorang Kristen telah mati dan bangkit bersama dengan KRISTUS. Karena tidak mengikuti keinginan daging, orang yang telah menyalibkan dirinya akan selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Karena setidak-tidaknya ia telah tiba di Mara dengan selamat. Dengan demikian kita harus selalu bersyukur terhadap perjalanan hidup yang berhasil kita tempuh. Orang yang telah menyalibkan dagingnya juga akan tetap bersyukur sekalipun air yang ditemukan rasanya pahit, sebab ia percaya bahwa TUHAN sanggup mengubahkan air yang pahit menjadi manis. Dari antara bangsa Israel, Miryam dan Musa, siapakah dari mereka yang mampu mempertahankan nyanyiannya yang penuh sukacita seperti saat baru menyeberangi Laut Teberau? Musa mampu mempertahankan sukacitanya, karena dia terus memegang tongkat (gambaran salib KRISTUS) sepanjang perjalanan, dan dia menyalibkan dirinya. Sikap bangsa Israel yang mengomel ini menunjukkan bahwa mereka belum menyalibkan diri mereka. Seseorang yang telah menyalibkan dirinya tidak akan bersungut-sungut ketika menemukan air yang pahit rasanya, tetapi ia akan bertanya kepada TUHAN tentang apakah yang harus dilakukannya. Kita perlu menyadari kenyataan bahwa d i dalam dunia ini memang penuh dengan kepahitan. Tetapi jangan pernah kita merasa heran dan kecewa. Sebab jika kita tetap memegang salib KRISTUS di dalam hidup kita, maka segala sesuatu yang pahit akan diubahkan TUHAN menjadi manis. Dan jangan sebaliknya, yakni kepahitan mempengaruhi hidup kita. Untuk anak-anak muda, jangan biarkan hatimu menjadi pahit oleh dunia ini.Oleh karena itu kita perlu menyalibkan diri dan terus berpegang kepada Salib KRISTUS. Inilah salah satu tujuan setiap bulan kita mengikuti Perjamuan Kudus, yakni agar kita selalu ingat bahwa kita harus selalu menyalibkan diri bersama KRISTUS. Itu sebabnya, alangkah baiknya jika seseorang yang baru bertobat jangan langsung diekspos dengan cara menyampaikan kesaksian di sana-sini. Apa lagi orang yang baru bertobat itu berasal dari latar belakang seseorang yang tenar atau mungkin eks dukun, dan lain sebagainya. Sebab kesungguhannya di dalam iman belum teruji, dan banyak contoh yang terjadi. Misalnya eks dukun baru bertobat, kemudian kesaksian di mana-mana, ternyata sebulan berikutnya kembali kepada praktek perdukunannya. Itu sebabnya pertobatan seseorang harus dilihat terlebih dahulu seberapa besar ujian yang dihadapi dan seberapa besar penyaliban diri yang telah dilaluinya. KELUARAN 15 : 25 Orang yang memikul salibnya akan meminta petunjuk TUHANketika menghadapi kesukaran (Mara/kepahitan dunia). Jika kita perhatikan, dari sekian banyak orang Israel, tidak ada satu pun yang berseru kepada TUHAN selain Musa. Hal tersebut menunjukkan bahwa menyalibkan diri tidak semudah pertobatan. Buktinya adalah begitu banyak orang yang bertobat, tetapi sedikit yang mau dengan sungguh-sungguh menyalibkan dagingnya. Padahal jika kita mau mengikuti Firman, maka ketika menghadapi “Mara", tidak akan ada rasa gentar sedikit pun di dalam hati kita. Sekalipun persoalan yang dihadapi adalah sebuah persoalan yang sama, namun orang yang yang mengenal ALLAH akan menyikapinya dengan cara yang berbeda. Dalam hal ini, orang Israel bersungut-sungut kepada Musa, tetapi Musa berseru kepada TUHAN. Jangan sampai kita dikalahkan oleh kepahitan, sebab kepahitan pasti ada di dalam hati semua manusia. Oleh karena itu, kita harus mampu mengusir kepahitan dari hati kita, dan kemudian membuat lingkungan di sekitar kita menjadi manis. Air di Mara yang pahit itu bukan hanya mengganggu segenap bangsa Israel, tetapi juga mengganggu Musa, namun ia mampu menanggalkan kepahitan hatinya dan Musa mampu mengubah air yang pahit menjadi manis. Inilah tugas kita sebagai orang percaya. TUHAN menunjukkan sepotong kayu kepada Musa sebagai jawaban doa Musa. Sepotong kayu memiliki arti sebagai salib yang kita pikul setiap hari; arti sepotong kayu itu bukan salib KRISTUS, sebab tongkat Musa yang menggambarkan Salib KRISTUS. Mau selalu memikul salib dapat menolong kita untuk menyelesaikan segala masalah. Lalu Musa melemparkan sepotong kayu itu ke dalam air maka air yang pahit itu menjadi manis. Apabila kita perhatikan lebih mendalam, air di Mara berubah menjadi air yang manis setelah dilempar dengan sepotong kayu. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa, sebab TUHAN tidak mengubah air pahit menjadi air tawar. Tetapi dalam ayat ini dikatakan dengan jelas bahwa air yang pahit itu menjadi manis. Orang yang telah menyalibkan dirinya, sekalipun ia berada di tengah-tengah persoalan, maka persoalan yang tadinya pahit berubah menjadi manis. Rumah tangga yang di ambang kehancuran, jika orang-orang di dalamnya menyalibkan diri, maka rumah tangga tersebut akan diubahkan menjadi manis. Persoalan ekonomi yang cukup sulit, bagi orang yang menyalibkan diri, maka persoalan itu diubah menjadi berkat. Jadi jika saat ini keadaan kita masih pahit, salibkan diri kita dan taati Firman-NYA maka IA akan mengubah yang pahit menjadi manis. Jadi, kunci kemenangan bagi anak-anak TUHAN adalah salib yang dipikulnya setiap hari. Sedangkan Salib KRISTUSyang mengawali agar kita mampu menyalibkan diri kita dan memikul salib setiap hari. Bangsa Israel keluar dari Mesir dengan sukacita dan masuk ke Mara mendapatkan air pahit, tetapi Musa keluar dari Mesir dengan sukacita dan ketika masuk ke Mara, ia mampu mengubah yang pahit menjadi manis. Inilah perbedaan orang Kristen yang selalu memikul salibnya setiap hari. Sebab banyak orang Kristen yang bersukacita, tetapi ketika menghadapi persoalan, hidupnya menjadi pahit. Ketika menyanyi memuji TUHAN, ekspresinya sungguh luar biasa, tetapi ketika menghadapi kesukaran, sukacitanya berganti dengan kepahitan hati. Bukan berarti kita tidak boleh menyanyi memuji TUHAN, namun yang perlu kita perhatikan adalah isi dari nyanyian itu sesuai dengan hidup kita yang mau mengikuti seluruh perintah TUHAN. Jika hal ini kita lakukan, maka apa yang terjadi di dalam kehidupan Musa juga akan terjadi di dalam hidup kita. Apabila kita memikul salib setiap hari, persoalan atau kesukaran seperti apa pun, kita pasti dapat mengatasinya. Jangan percaya kepada perkataan yang mengatakan “hidup semakin sulit" sebab keadaan dunia memang sudah sulit dan akan selalu sulit. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana caranya agar kita mampu mengubahkan keadaan dunia yang sulit dan pahit menjadi manis seperti yang dilakukan oleh Musa. Selain air yang pahit diubah menjadi manis, ada hasil yang lain jika kita mau menyalibkan diri dan memikul salib setiap hari, yakni TUHAN memberikan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan bagi bangsa Israel. Ketetapan Firman TUHANmenjadi modal bagi kita untuk mampu memikul salib setiap hari. KOLOSE 3 : 10 Kita tidak akan pernah dapat mengenakan manusia baru jika manusia yang lama tidak dilepas atau ditanggalkan terlebih dahulu. Dengan menyalibkan diri kita setiap hari, kita akan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui. Sebaliknya jika kita tidak menyalibkan diri setiap hari, maka kita tidak memiliki manusia baru; yang akan muncul hanyalah manusia lama. Kehidupan Kristen tidak hanya sekedar keluar dari Mesir lalu selesai. Tetapi justru setelah kita keluar dari Mesir, kita harus terus melanjutkan perjalanan hidup ini dengan jalan menyalibkan diri. Menyalibkan diri merupakan bagian yang terpenting didalam kehidupan sebagai anak-anak TUHAN. Bahkan hidup kita harus selalu diperbaharui hingga gambar KRISTUS, kuasa dan karakter-NYA benar-benar nyata di dalam hidup kita. Karena itu, ketika Musa menemukan air di Mara, ia melakukan tindakan yang sama dengan YESUS ketika perjamuan kawin di Kana kehabisan air anggur. KELUARAN 15 : 26 - 27 Ada dua hal yang dikatakan ALLAH kepada bangsa Israel: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengar suara TUHAN“ (NIV: if you listen carefully to the voice of the LORD) dan “memasang telinga kepada perintah-perintah-NYA" (NIV: if you pay attention to HIS commands).Sekilas tidak ada bedanya antara dua hal tersebut. Namun kita perlu mencermati yang membedakan keduanya, yakni apa yang kita dengar atau perhatikan.Yang pertama adalah suara TUHAN dan yang kedua adalah perintah TUHAN. Suara TUHAN memberikan petunjuk bagi kita untuk berjalan ke sebelah sana atau ke sebelah sini. Suara TUHAN ini bukan perintah mutlak yang harus kita ikuti, seandainya kita tidak melaksanakannya, kita tidak berdosa. Konsekuensinya hanyalah kita kehilangan kesempatan meraih berkat. Tetapidan yang kedua, yaitu perintah TUHAN adalah hal yang harus kita laksanakan dan tidak boleh ditawar-tawar.Jika kita tidak melaksanakan perintah-NYA maka kita berdosa. Apabila kita ingin berhasil di dalam hidup ini, maka yang harus kita perbuat adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara-NYA dan mentaati semua perintah-perintah-NYA. Dengan melakukan kedua hal ini, TUHAN tidak akan membiarkan kita ditimpa oleh penyakit. Harus diingat bahwa penyakit itu bukan dari TUHAN. Ayat di atas berarti TUHAN akan menghindarkan kita dari penyakit, dan bila kita sakit DIA akan menyembuhkan kita. Dalam ayat 27 disebutkan bahwa mereka akhirnya tiba di Elim dan menemukan dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma. Orang tidak menyalibkan dirinya, hidupnya hanya akan sampai di Mara yang penuh dengan kepahitan. Tetapi orang seperti Musa yang menyalibkan diri, ada solusi hingga air yang pahit diubah menjadi manis dan hidupnya tidak statis melainkan dinamis. Jika kita menyalibkan diri dan tidak bersungut-sungut, akan ada pula waktunya bagi kita untuk menerima dan menikmati berkat TUHAN seperti Musa yang mampu memimpin bangsa Israel berjalan ke Elim untuk menikmati air yang berlimpah dan manisnya buah kurma. Amin.
22Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air.
23Kata-NYA kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut AKU. 24Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena AKU, ia akan menyelamatkannya."
23Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. 24Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?"
25Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka.
10dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.
26 Firman-NYA: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, ALLAH-mu, dan melakukan apa yang benar di mata-NYA, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-NYA dan tetap mengikuti segala ketetapan-NYA, maka AKU tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah KU-timpakan kepada orang Mesir; sebab AKU TUHAN-lah yang menyembuhkan engkau." 27Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.