Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Menara Babel
Menara Babel
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. III Minggu, 21 Oktober 2007
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 17/02/08

Kompak tidak selalu bagus. Terbukti kekompakan pendiri Babel dikacaukan oleh TUHAN. Kekompakan seperti apa yang tidak dikehendaki TUHAN?

KEJADIAN 11 : 1, 7
1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 7 Baiklah KITA turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."

Peristiwa dalam ayat di atas terjadi beberapa ratus tahun setelah banjir besar yang memusnahkan seluruh manusia, kecuali keluarga Nuh. Anak-anak Nuh ini menurunkan bangsa yang besar, dan saat itu hanya ada satu bahasa. Bukan hanya satu bahasa, bahkan logatnya pun hanya satu. Berbeda yang kita alami di masa kini. Contohnya saja, bahasa persatuan kita adalah bahasa Indonesia, namun ada berbagai logat, antara lain logat Jawa yang berbeda dengan logat dari daerah Sumatera, meskipun tetap bahasa Indonesia.

Yang menyebabkan mereka memiliki satu logat adalah karena mereka tinggal di satu lokasi yang sama. Tinggal di lokasi yang sama juga membuat jalinan hubungan sangat erat di antara mereka. Anehnya, TUHAN (memakai kata ganti KITA menggambarkan TRINITAS) justru mau mengacaukan bahasa mereka. Mengapa TUHAN tidak senang dengan persatuan mereka ini? Pasti ada yang salah jika TUHAN tidak menghendaki hal ini terjadi. Dan pasti bukan salah TUHAN, sebab DIA tidak mungkin salah.

Kekompakan tidak selalu bagus di mata TUHAN. Jika persatuan itu memiliki dasar yang salah dan tujuan yang salah, tentu akan dikacaukan TUHAN. Contoh dari sebuah persatuan yang tidak baik: ada seorang bapak memiliki tujuh anak laki-laki yang kompak merampok atau menipu.

KEJADIAN 11 : 4
4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."

Nyatanya, tujuan orang-orang itu bersatu adalah untuk mendirikan kota dengan menara sampai ke langit, yang dalam versi NIV, “Come, let us build ourselves a city, with a tower that reaches to the heavens…” Artinya, tujuannya adalah mulia, yakni mencari TUHAN. Tentu ini membingungkan, mengapa TUHAN belum tentu berkenan kepada orang-orang yang mencari DIA. Keadaan ini bukan saja dialami orang-orang itu, tetapi juga dialami orang Kristen masa kini. Kadang-kadang orang Kristen bertanya, “Saya sudah rajin ke gereja, tetapi bisnis, hubungan keluarga, kesehatan masih kacau. Apakah TUHAN tidak menghendaki saya hidup harmonis dan sukses?”

Jangan gelap mata dan mengetok palu menjatuhkan vonis “bersalah” kepada TUHAN. Kekacauan yang diizinkan TUHAN bertujuan meruntuhkan kekompakan yang salah. Sebab, kekompakan yang dasarnya salah tidak diizinkan TUHAN. Dengan persatuan (yang dasarnya salah), sehingga merasa kuat, kita belum menyadari kesalahan kita. Di saat posisi terserak dan merasa lemah, kita memiliki dorongan untuk mengkoreksi kesalahan kita.

Kesalahan lainnya dari orang-orang yang bersatu itu adalah “marilah kita dirikan bagi kita”. Fokusnya bukan TUHAN, tapi kepentingan diri sendiri. Ditambah lagi, tujuan mereka adalah untuk mencari nama, supaya diingat orang telah mendirikan karya monumental.

Kita akan dikacaukan oleh TUHAN kalau tujuan ke gereja adalah untuk kepentingan diri sendiri: supaya diberkati dalam bidang ekonomi, disembuhkan dari penyakit, agar anak-anak tidak bandel. Atau ke gereja sekedar “mengisi buku absen” agar sang bos yang menjabat majelis gereja tahu karyawannya itu rajin ke gereja.

ULANGAN 12 : 5
5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, ALLAHmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-NYA untuk menegakkan nama-NYA di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.

Tujuan yang benar dalam mendirikan menara ke Sorga atau mencari TUHAN itu adalah untuk menegakkan Nama-NYA. Sayangnya, banyak gereja yang lebih menegakkan nama gerejanya, mencari ketenaran bagi gerejanya sendiri, agar dianggap sebagai gereja yang terbesar, memiliki gedung gereja paling mewah, musiknya yang paling top atau bahkan menjadi pendeta yang lebih tenar dari pada Nama TUHAN YESUS.

Ibadah bukan untuk kepentingan diri sendiri, apalagi untuk mencari nama. Jika ibadah kita masih belum sesuai dengan kehendak TUHAN, maka TUHAN sendiri akan turun dan mengacaukannya, seperti yang dialami orang-orang yang membangun menara Babel untuk mencari TUHAN.

TUHANlah yang menentukan tempat di mana kita mendirikan ibadah kita. Seperti apakah tempat yang ditentukan TUHAN untuk mendirikan ibadah kita?

KEJADIAN 11 : 2
2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

Orang-orang yang akan membangun menara Babel ini berangkat ke sebelah Timur. Ini berlawanan dengan yang dilakukan oleh para majus yang berangkat dari Timur untuk mencari TUHAN. Dapat disimpulkan, menuju ke Timur berarti menjauhi TUHAN. Arah ibadah kita itu mau mencari TUHAN atau justru menjauhi TUHAN? Contoh sikap menjauhi TUHAN ini adalah ke gereja anu karena tertarik pemuda-pemudi anggota gereja itu terkenal keren, siapa tahu dapat jodoh di sana.

Kesalahan fatal lainnya adalah mendirikan hubungan dengan TUHAN “di tanah datar”.

2 TAWARIKH 3 : 1
1 Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu.

Salomo memilih tempat yang tepat untuk mendirikan rumah TUHAN, yakni di Yerusalem (artinya rumah damai), di gunung Moria, tempat yang tinggi. Tujuan kita ke gereja adalah untuk memperoleh kedamaian, bukan kekacauan. Arti kata Babel adalah kacau balau, kebingungan. Kalau hidup kita masih kacau balau, berarti kita telah memilih tanah datar, yaitu hal-hal duniawi seperti mencari kesembuhan, kekayaan, jodoh dalam kita beribadah.

Kita boleh berdoa meminta TUHAN memberkati usaha dan memberi pasangan hidup. Tapi jangan hal-hal duniawi itu menjadi fokus dalam ibadah kita. Carilah dahulu hal-hal di atas; itulah yang berkenan kepada ALLAH.

Gunung Moria adalah tempat Ishak akan dikorbankan oleh Abraham, merupakan lambang kematian dan kebangkitan TUHAN. Hidup kekal yang kita terima karena kematian dan kebangkitan TUHAN, itu merupakan hal utama yang perlu kita cari. Seandainya kita meminta kesembuhan, tetapi tidak menerimanya, kita tidak akan mogok ke gereja. Kita tidak akan mengorbankan Sorga yang kekal hanya untuk kesembuhan jasmani yang berumur puluhan atau bahkan hanya belasan tahun saja.

Raja Salomo belum pernah bertemu TUHAN secara pribadi. Tetapi oleh tuntunan Daud yang punya pengalaman pribadi bergaul erat dengan TUHAN, memampukan Salomo membangun Bait ALLAH di tempat yang benar, dengan cara yang benar, dengan bahan dan ukuran yang tepat. Semua ini dapat terlaksana berkat pengarahan ayahnya.

Sebagai “Salomo-Salomo” muda yang perlu bimbingan dari seniornya, jemaat perlu menerima Firman TUHAN yang disampaikan para pendeta yang punya hubungan pribadi dengan TUHAN. Bukan berarti pendeta tidak usah sekolah Teologia, yang penting punya hubungan pribadi dengan TUHAN. Bukan seperti itu. Titel dalam bidang teologia yang bertumpuk, ramah dan mampu membuat kompak jemaat bukan jaminan seorang pendeta mampu membawa jemaat bertemu TUHAN. Sebaliknya, jika seorang hamba TUHAN punya pengalaman pribadi bertemu TUHAN, jemaat yang tadinya tidak kompak sekalipun dapat dipersatukan di dalam TUHAN YESUS KRISTUS.

Ikatan yang mempersatukan jemaat gereja kita ini adalah membagikan pengalaman pribadi bersama TUHAN. Tiga hari setelah Lebaran, seorang jemaat menelepon, mengabarkan kakak perempuannya sudah tiga hari hilang. Saya bertanya apakah telah melapor kepada polisi, yang dijawabnya, “Saya akan lapor sesudah didoakan oleh pak Pendeta.” Jemaat ini sudah meletakkan menara ibadahnya di bukit Moria, bukan lagi di tanah datar. Dengan meminta dukungan doa, dia meminta dibimbing oleh pendeta yang punya pengalaman berjalan bersama TUHAN untuk bertindak dengan cara yang sesuai kehendak TUHAN.

Setelah doa bersama, saya katakan, “Kakakmu akan dikembalikan oleh TUHAN. Amin!” Beberapa saat kemudian jemaat ini menelpon, mengabari bahwa kakaknya pulang tidak lama setelah doa bersama melalui telepon. Tuntunan yang diberikan hamba TUHAN telah membawanya memiliki pengalaman yang indah bersama TUHAN.

KEJADIAN 11 : 3
3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

Batu bata pada zaman itu merupakan bahan bangunan kelas tinggi yang harganya mahal. Apalagi jika dibakar dengan baik, semakin mahal pulalah batu bata itu, yang pada masa kini dapat disamakan dengan marmer Italia kualitas prima. Sedangkan bahan bangunan yang kelas rakyat jelata adalah dari bahan dedaunan. Tanah yang datar, yang bukan daerah pegunungan, merupakan tempat yang sulit untuk mencari batu.

Selain tempat yang salah, cara yang salah, motivasi yang salah dalam mendirikan menara Babel, orang-orang yang mendirikannya juga memakai bahan yang salah pula! “Materi” yang dipakai untuk membangun ibadah kepada TUHAN yang jadi semula jadi tujuan mereka seharusnya adalah batu, bukan batu bata.

Hal ini menggambarkan, bahwa dalam mencari TUHAN, kita tidak boleh mengatur sesuai dengan selera kita. Sebab TUHAN yang berhak menentukan “bahan” yang sesuai untuk membangun ibadah kita kepada-NYA.

KELUARAN 1 : 14
14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

Pada zaman perbudakan bangsa Israel oleh bangsa Mesir sebelum mereka dibebaskan TUHAN melalui Musa, bangsa Israel dipaksa membuat batu bata oleh orang Mesir. Dari hal ini kita mengetahui, bahwa batu bata itu menggambarkan tentang pemaksaan, pekerjaan berat, tekanan, atau beban.

Membangun hubungan dengan ALLAH itu tidak akan berhasil jika atas dasar paksaan. Misalnya saja, kita memaksa dan menakut-nakuti anak untuk pergi ke Sekolah Minggu atau gereja. Mengancam anak, “tidak ke gereja berarti tidak ada uang saku” mungkin saja ampuh membuat anak tidak pernah absen datang ke gereja. Tapi hanya sebatas fisiknya saja yang hadir di gereja, tetapi hatinya tidak ada di sana, sehingga tidak akan bertemu dengan TUHAN. Tetapi jika kita telah bertemu TUHAN secara pribadi, kita akan mampu membimbing anak kita untuk datang kepada TUHAN. Sebandel apapun anak itu, dia akan bertekuk lutut di hadapan TUHAN.

Terbukti Salomo menurut kepada Daud untuk membangun Bait ALLAH di gunung Moria. Hal ini terjadi bukan karena Daud memaksa Salomo. Daud tidak mengajari Salomo secara teori, tetapi memiliki pengalaman hubungan yang erat dengan TUHAN.

Ibadah bukan merupakan paksaan atau jerih payah, tetapi merupakan anugerah yang datang dari YESUS KRISTUS. Anugerah, sebab TUHAN mati di kayu salib dan kita menerima keselamatan dari TUHAN. Orang Babel mencoba mengganti anugerah TUHAN dengan usahanya sendiri. Misalnya, agar menerima keselamatan harus berpuasa. Memang benar orang Kristen perlu berpuasa, tetapi puasa memiliki tujuan lain, bukan untuk menerima keselamatan.

Saya pernah mendengar ada pendeta yang melepaskan orang yang dirasuk oleh kuasa gelap dengan cara dibaluri oleh garam. Ini merupakan “batu bata”, bukan bahan yang TUHAN kehendaki, dan tentu saja harus kita hindari.

1 PETRUS 2 : 6
6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, AKU meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-NYA, tidak akan dipermalukan."

Walaupun batu bata adalah bahan yang mahal, tetapi nilainya sangat tidak berarti dibandingkan dengan YESUS KRISTUS, Sang Batu Penjuru. Batu Penjuru adalah batu pertama yang diletakkan dalam mendirikan sebuah bangunan. Batu Penjuru dalam mendirikan ibadah adalah YESUS KRISTUS sendiri. Batu Penjuru yang terpilih dan mahal ini tidak bisa diganti dengan apapun juga. TUHAN YESUS yang adalah FIRMAN TUHAN, merupakan landasan iman kita. Dengan YESUS KRISTUS sebagai Batu Penjuru, maka bangunan rohani kita akan kokoh dan teratur, tidak akan menimbulkan kekacauan seperti yang dialami para pendiri Babel.

EFESUS 2 : 20 - 22
20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan KRISTUS YESUS sebagai batu penjuru. 21 Di dalam DIA tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi Bait ALLAH yang kudus, di dalam TUHAN. 22 Di dalam DIA kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman ALLAH, di dalam ROH.

Bangunan ibadah yang sempurna adalah bangunan dengan TUHAN YESUS KRISTUS sebagai Batu Penjuru, dan kemudian di atasnya dibangun dengan dasar para rasul dan nabi. Rasul-rasul dan nabi-nabi ini merupakan sosok yang telah bertemu TUHAN secara pribadi, yang bertugas membimbing jemaat yang dibangun di atasnya menjadi Bait ALLAH di Yerusalem yang berada di tempat yang tinggi.

Gereja tidak akan kacau dan dikacaukan oleh TUHAN jika YESUS KRISTUS yang menjadi Batu Penjurunya dan para hamba TUHAN memperkenalkan jemaat kepada TUHAN.

Coba kita tengok nasib menara Babel yang pembangunannya tidak pernah selesai beserta para pendirinya. Sebelum pembangunan menara Babel, mereka hidup rukun dalam satu bahasa dan satu logat. Tetapi saat mereka mulai membangun, malah timbul kekacauan dan terjadi keributan antara yang satu dengan yang lain. Itu terjadi karena mereka tidak dapat saling memahami perkataan lawan bicaranya yang tiba-tiba memiliki bahasa yang berbeda.

Hal yang sama terjadi pada orang Kristen jika cara ibadah, tujuan, “tempat” dan “bahan” dalam mendirikan hubungan dengan TUHAN tidak sesuai kehendak TUHAN.

Seorang jemaat berkata, bahwa dirinya sudah rajin ke gereja, namun belum juga mengalami berkat TUHAN, yakni suaminya sering tidak pulang ke rumah. Setelah ke gereja, keadaan bukannya membaik, tetapi malah dia dimarahi suaminya. Ibu ini belum membangun ibadahnya di bukit Moria, tetapi masih membangun di tanah datar, yaitu ke gereja dengan motivasi agar suaminya selalu pulang ke rumah untuk menemaninya.

Jika dia membangun ibadahnya untuk mencari hidup yang kekal di Sorga dan memakai YESUS KRISTUS sebagai Batu Penjuru, maka bukan saja suaminya akan pulang ke rumah, namun rumah tangganya akan dipulihkan oleh TUHAN.

Orang Babel yang berfokus kepada kepentingan diri mereka sendiri, yakni untuk mencari nama dan untuk menjaga persatuan, bukan untuk menyembah TUHAN, maka mereka mengalami kekacauan.

Banyak gereja yang tadinya belum memiliki gedung ibadah dapat beribadah dengan rukun. Tetapi di saat sudah memiliki bangunan gereja yang megah, justru terjadi bentrok antara sesama pengurusnya seperti yang dialami pendiri Babel. Sebab masing-masing ingin mengganti “bahan” dan “batu penjuru” sesuai dengan seleranya. Yang satu menyodorkan perubahan liturgi, yang lain meributkan ajaran yang ingin diterapkan di gereja. Masing-masing memiliki selera yang berbeda, yang berujung dengan adu mulut, tidak jarang beradu otot.

Demikian pula sekumpulan orang-orang kaya yang memiliki tujuan bersatu padu untuk membangun gereja, akan bernasib sama dengan menara Babel jika hatinya tidak berpaut kepada TUHAN, tidak menggunakan YESUS KRISTUS sebagai Batu Penjuru.

Pengalaman pribadi bersama TUHAN dan pergaulan yang erat dengan DIA yang dimiliki oleh pendeta sehingga dapat membimbing jemaat agar memiliki pengalaman yang sama, akan mempersatukan gereja tersebut. Pengalaman berjalan bersama TUHAN, membangun ibadah atas dasar kematian dan kebangkitan TUHAN YESUS, dan meletakkan YESUS yaitu Firman TUHAN sebagai Batu Penjuru akan membuat bangunan ibadah kita sekokoh benteng. Berjalan bersama TUHAN, Pemilik harta Sorga dan seluruh dunia, tentu akan membuat kita dapat meraup berkat-berkat jasmani sebanyak yang kita perlukan. Amin.