Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Menjalani Peran Sesu...
Menjalani Peran Sesuai Skenario
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | Keb. 2 Minggu, 30 September 2012
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 13/01/13

Sukses dalam panggung kehidupan akan dicapai bila kita -para pemerannya- mampu menjalani peran sesuai skenario kehidupan yang telah digariskan TUHAN.

YOSUA 1 : 1 - 3
1 Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian: 2 "Hamba-KU Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan KU-berikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. 3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu KU-berikan kepada kamu, seperti yang telah KU-janjikan kepada Musa."

Bagai anak ayam kehilangan induknya, bangsa Israel mandek di Sitim setelah Musa meninggal. Mereka tak tahu harus berbuat apa; yang mereka lakukan hanyalah sibuk meratapi kematian pemimpin mereka itu. TUHAN tak ingin membiarkan umat Israel seperti itu. Mereka diminta TUHAN bersiap menghadapi tantangan baru.

Banyak orang Kristen yang bersikap seperti umat Israel tersebut: terpaku, meratapi situasi yang kurang mengenakkan. Kita tak boleh jalan di tempat; kita harus terus maju dan bersiap menghadapi tantangan baru.

Beda zaman, beda tantangan. Pada era Musa, tantangannya berupa padang gurun di mana air menjadi barang mewah. Era Yosua, tantangannya berupa menaklukkan sungai Yordan yang saat itu airnya sedang deras atau banjir. Dalam hidup ini, umat TUHAN bukan melulu menghadapi tantangan. Ada pelangi yang indah di balik hujan, ada janji TUHAN berupa berkat tanah Kanaan setelah mampu menaklukkan tantangan sungai Yordan.

Persiapan apa yang harus kita lakukan agar berkat TUHAN kita terima?

YOSUA 3 : 1 - 5
1 Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang. 2 Setelah lewat tiga hari, para pengatur pasukan menjalani seluruh perkemahan, 3 dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: "Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, ALLAH-mu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya - 4 hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya - maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu." 5 Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."

Sebelum menyeberangi sungai Yordan, mereka menginap tiga hari di tepi sungai Yordan. Tujuannya tentu bukan sekadar iseng-iseng menikmati panorama alam. Selama tiga hari itu, para pengatur pasukan berkeliling memberitahukan cara pelaksanaan menyeberangi Yordan seperti yang tercatat dalam ayat 3-5.

Akan terjadi kekacauan bila umat Israel tidak menerima petunjuk dengan jelas dalam menyeberangi sungai Yordan. Akibat yang mungkin terjadi: ada orang yang tertinggal atau bahkan tenggelam di sungai Yordan. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara tiga unsur: Yosua yang memimpin bangsa, imam yang mengangkat Tabut, dan umat yang mengikuti perintah dengan taat. Kerjasama yang baik mendatangkan hasil yang baik pula. Umat Israel bukan satu dua orang, tapi jutaan manusia. Dibutuhkan perintah yang jelas dan kerjasama yang baik agar semuanya dapat berjalan dengan tertib dan teratur.

Mengapa di dalam keluarga sering terjadi kekacauan? Karena masing-masing menjalankan rencananya sendiri-sendiri tanpa saling berkomunikasi, tanpa saling percaya dan menghargai.

Umat Israel yang akan menyeberangi Yordan ini adalah generasi baru yang tidak mengalami perjalanan menyeberangi Laut Teberau yang dikeringkan TUHAN. Mereka harus diberi arahan, yaitu fokus pada Tabut TUHAN -gambaran Firman TUHAN. Dalam menyeberangi sungai Yordan, tugas para imam mengangkat Tabut dan umat Israel mengikutinya dari belakang. Jika Tabut bergerak, umat Israel juga harus ikut bergerak sesuai arah Tabut yang dipikul para imam itu.

Sebagai anak TUHAN, kita diminta fokus pada Firman TUHAN yang diajarkan oleh para hamba TUHAN. Tanpa jemaat mau mendengar Firman TUHAN, kita tidak akan dapat "menyeberangi sungai Yordan yang dikeringkan TUHAN".

Antara Tabut dan umat Israel harus ada jarak dua ribu hasta, kira-kira satu kilometer jauhnya. Apakah itu berarti anak TUHAN tidak boleh terlalu dekat dengan TUHAN? Bukan seperti itu. Jumlah orang Israel terlalu banyak. Jika mereka terlalu dekat dengan Tabut TUHAN, yang dapat melihat Tabut hanya sebagian kecil saja, yaitu mereka yang ada di bagian depan. Karena itu, perlu diberi jarak supaya semua orang bisa melihat arah pergerakan Tabut dengan jelas. Hal ini memiliki arti rohani bahwa gereja mempunyai tugas untuk menyampaikan Firman TUHAN agar semua lapisan jemaat dapat mengerti petunjuk TUHAN dengan jelas. Saya bukan seorang pendeta yang sempurna. Namun saya mencoba memberikan Firman TUHAN semudah mungkin untuk dapat dimengerti oleh semua kalangan.

Contoh jarak yang terlalu dekat berakibat orang lain tidak dapat melihat TUHAN adalah dalam peristiwa Zakheus. Ketika Zakheus ingin bertemu dengan TUHAN YESUS, Zakheus tidak dapat melihat YESUS karena orang-orang terlalu dekat mengerumuni atau mengelilingi TUHAN YESUS. Mereka terlalu dekat dengan TUHAN YESUS bukan karena cinta YESUS. Mereka egois, mau memiliki TUHAN YESUS hanya untuk diri mereka sendiri, ingin berada di paling depan agar terlihat.

Di dalam gereja tidak boleh saling mementingkan diri sendiri. Yang harus kita lakukan adalah kita saling menghormati. Saya menghormati majelis, para pelayan TUHAN dan jemaat. Begitu pula majelis menghargai pendeta dan jemaat. Sehebat apa pun pendeta, jika tak ada seorang jemaat pun yang hadir, khotbahnya tidak ada artinya. Sebaliknya, jemaat sebanyak apa pun tanpa ada hamba TUHAN yang berkhotbah dan membimbing dalam iman, di dalam gereja itu tentunya tidak akan ada berkat TUHAN.

Semakin besar gereja, semakin banyak pendapat dan ide. Namun, kalau aturannya jelas, seluruh komponen gereja akan maju dalam aturan yang sama, yakni Firman TUHAN. Dengan demikian akan semakin besar kemenangan dan berkat yang diterima, baik berkat bagi jemaat secara individu maupun berkat bagi gereja tersebut.

Di dalam keluarga Kristen pun berlaku aturan yang sama. Sesama anggota keluarga jangan saling menghalangi dalam melihat petunjuk TUHAN. Tanpa sadar, orangtua sering tidak mau repot-repot menjelaskan Firman TUHAN ketika anak-anaknya bertanya tentang Firman. Sikap seperti ini merupakan salah satu bentuk menghalangi anak untuk mengenal TUHAN. Marilah kita bersama-sama "mengatur jarak" agar semuanya dapat melihat TUHAN secara jelas dan menikmati berkat bersama-sama.

Umat Israel perlu mendapat tuntunan dari TUHAN sebab mereka belum pernah melewati jalan tersebut. Dalam perjalanan kehidupan, kita juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik kemudian. Melangkah dengan tuntunan Firman yang memampukan kita meraih berkat TUHAN.

Dan yang tak kalah pentingnya, umat TUHAN diminta menjaga kekudusan. Jika masing-masing individu menjaga kekudusan maka TUHAN akan melakukan tanda ajaib. Jika jumlah mereka tiga juta orang, berarti tiga juta tanda ajaib akan dilakukan TUHAN di tengah-tengah mereka. Semakin besar gereja, jika semuanya menguduskan diri, semakin besar pula mujizat yang terjadi. Sebaliknya, tanpa pengudusan diri, bila masing-masing punya ambisi dan kepentingan diri sendiri, semakin besar pula kerusakan yang terjadi. Karena itu, marilah kita masing-masing menjaga kekudusan kita.

YOSUA 3 : 7 - 8
7 Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah AKU mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu AKU menyertai Musa, demikianlah AKU akan menyertai engkau. 8 Maka kau perintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu."

Yosua dibesarkan namanya oleh TUHAN, umat Israel juga dihormati di mata bangsa-bangsa Kanaan. Hal itu terjadi kalau mereka memfokuskan pandangan pada Tabut TUHAN.

Jadi, kesuksesan kita bukan berasal dari usaha kita sendiri; kita sukses karena TUHAN yang membesarkan kita. Dengan mengingat ayat di atas, kita tak akan berambisi dan sikut-sikutan, menjatuhkan orang lain agar tak ada saingan seperti yang dilakukan oleh orang-orang dunia. Kehidupan rohani kita akan benar kalau kita fokus pada Firman TUHAN, tidak akan saling iri namun malah saling melengkapi satu sama lain.

Rumah tangga akan rusak kalau masing-masing menganggap dirinya yang paling berperan. Misalnya, suami yang tadinya merintis usaha laundry kecil-kecilan dibantu istrinya yang mencuci, sedangkan suami yang menyeterika dan anaknya yang mengantar cucian. Begitu sudah sukses, usahanya dilengkapi mesin canggih, mulai menganggap dirinya yang paling berperan dan tak lagi bercermin pada Firman TUHAN, maka kekompakan keluarga tersebut berikut bisnis mereka akan hancur.

YOSUA 3 : 14 - 17
14 Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. 15 Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu - sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai - 16 maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho. 17 Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan.

Hari bersejarah pun tiba. Sesuai dengan aturan yang ditetapkan TUHAN, para imam berjalan di barisan paling depan dengan mengangkat Tabut. Saat imam mencelupkan kaki mereka ke Yordan, arus air sungai Yordan masih mengalir deras. Namun, seketika itu juga air sungai pun terbelah dan menjadi tanah kering. Seandainya orang awam yang harus melakukan hal itu, kemungkinan besar mereka tak akan berani mencelupkan kaki di air yang mengalir deras itu. Para imam yang sudah memiliki kematangan iman mampu melaksanakan Firman TUHAN yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Para imam yang pertama masuk sungai, namun mereka bukan yang pertama keluar dari sungai Yordan. Mereka tetap berdiri di tengah-tengah sungai kering sambil memikul Tabut, menunggu seluruh umat Israel menyeberang. Seandainya jumlah umat Israel tiga juta orang, dibutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin seharian hingga seluruhnya menyeberangi sungai. Imam-imam menjalankan perannya dengan sangat baik sesuai dengan skenario yang digariskan TUHAN.

Bagaimana dengan kita? Relakah kita seandainya kita harus mendahulukan kepentingan orang lain di dalam keluarga maupun di dalam komunitas gereja? Maukah kita menjalan peran kita yang kelihatannya tidak enak demi kesuksesan bersama?

Seluruh pihak menjalankan perannya masing-masing. Yosua yang memberikan komando dalam menyeberangi Yordan sesuai perintah TUHAN, imam yang mengangkat Tabut dan menunggu di tengah sungai, umat Israel yang dengan tertib menaati perintah untuk mengikuti arah Tabut. Sukses menjalankan peran masing masing berbuah manis. Tantangan berupa Yordan yang berarus deras mampu mereka taklukkan.