Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Mengasihi Tuhan, Ses...
Mengasihi Tuhan, Sesama, dan Diri Sendiri
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 2 November 2012
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 06/01/13

Selain mengasihi TUHAN dan sesama, orang Kristen wajib mengasihi diri sendiri. Perlu kita ketahui, mengasihi diri sendiri berbeda dengan mementingkan diri sendiri.

MARKUS 12 : 30 - 31
30 Kasihilah TUHAN, ALLAH-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

YESUS sendiri mengatakan bahwa ayat di atas merupakan hukum ALLAH yang utama dan sangat penting. Jika diibaratkan pohon, ayat di atas merupakan batang pohon. Tanpa ada batang, ranting dan bagian pohon lainnya tidak dapat bertumbuh dan hidup. Hukum yang pertama adalah mengasihi TUHAN dengan totalitas. Dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama. Kedua hukum itu saling berkaitan. Jadi kalau kita mengasihi sesama, seharusnya kita juga mengasihi ALLAH. Kalau kita mengasihi ALLAH, tapi tidak mengasihi sesama, berarti kita belum mampu mengasihi ALLAH dengan cara yang benar.

Aturan dalam mengasihi sesama adalah mengasihi seperti diri kita sendiri. Dari sini kita belajar bahwa kita boleh, bahkan harus mengasihi diri kita sendiri. Misalnya kita mengasihi diri kita dengan skala 9, kita harus pula mengasihi sesama dengan nilai 9 pula.

Dalam kerohanian, tindakan mengasihi sesama bukan hanya memerhatikan kebutuhan jasmani sesama kita, namun juga termasuk memberitakan kasih ALLAH kepada mereka. Demikian pula dalam menterjemahkan "mengasihi diri sendiri" bukan sekadar menjaga kesehatan, merawat tubuh. Mengasihi diri sendiri dalam arti yang lebih dalam adalah menerima Firman bagi diri sendiri. Karena itu, Paulus menasihatkan bahwa jangan sampai kita memberitakan Injil kepada sesama, tapi kita sendiri terbuang dari hadapan ALLAH.

Dengan mengasihi TUHAN, sesama dan diri sendiri, hidup kita akan sangat sempurna di dunia ini dan siap untuk masuk Surga.

Kita akan belajar dari dari suku Ruben, Gad, dan Manasye tentang mengasihi ALLAH, sesama, dan diri sendiri.

YOSUA 22 : 1 - 3
1 Lalu Yosua memanggil orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu, 2 dan berkata kepada mereka: "Kamu telah memelihara segala yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, dan telah mendengarkan perkataanku dalam segala yang kuperintahkan kepadamu. 3 Kamu tidak meninggalkan saudara-saudaramu selama waktu ini, sampai sekarang, tetapi kamu setia memelihara perintah TUHAN, ALLAH-mu, kepadamu."

Kepada suku Ruben, Gad, dan setengah dari suku Manasye, Yosua mengatakan bahwa mereka telah menaati Firman TUHAN yang disampaikan Musa atau mengasihi TUHAN. Mereka juga mendengarkan perkataan Yosua sebagai pemimpin mereka. Apakah isi Firman dan perkataan Yosua? Mereka diminta tidak meninggalkan saudara-saudara mereka, suku-suku Israel lainnya yang belum mendapat bagian tanah di Kanaan; mereka diminta berperang dan berjuang bagi saudara sebangsa untuk merebut tanah Kanaan. Sedangkan suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye sudah terlebih dahulu mendapat bagian tanah. Hal itu mereka taati. Tindakan ketiga suku ini merupakan bentuk dari mengasihi TUHAN karena TUHAN memerintahkan mereka berbuat demikian. Tindakan ini juga merupakan bentuk mengasihi sesama karena mereka melakukannya bukan untuk diri sendiri.

Kata "selama waktu ini" dalam ayat 3 bukan kurun waktu yang pendek: selama tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu pula, mereka harus berpisah dari keluarga. Tanpa ada rasa kasih kepada TUHAN dan sesama, kemungkinan mereka akan mengatakan, "Untuk apa capek-capek berjuang buat orang lain?" Memang terkadang mengasihi TUHAN dan sesama belum tentu enak buat diri kita sendiri. Tapi, kita harus melakukannya dengan setia.

YOSUA 4 : 12 - 13
12 Juga bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu menyeberang, dengan bersenjata, di depan orang Israel itu, seperti yang dikatakan Musa kepada mereka. 13 Kira-kira empat puluh ribu orang yang siap untuk berperang menyeberang di hadapan TUHAN ke dataran Yerikho untuk berperang.

Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye berada di baris depan sebagai tentara yang memegang senjata. Setelah menyeberang Yordan, mereka siap berperang menghadapi Yerikho. Mereka tak kembali kepada keluarga mereka, namun langsung menghadapi musuh-musuh untuk merebut tanah Kanaan bagi suku-suku lainnya. Sebab berperang dengan diikuti keluarga akan mengganggu konsentrasi. Semua pengorbanan ini sebagai bentuk mengasihi ALLAH dan sesama.

YAKOBUS 2 : 8 - 9
8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," kamu berbuat baik. 9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.

Dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri maka kita sudah berbuat benar sesuai Firman. Mengasihi sesama dengan cara yang benar adalah dengan tidak memandang muka atau membeda-bedakan, tidak pilih kasih. Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye sudah memenuhi syarat itu. Mereka tidak pilih kasih, lebih berpihak kepada suku tertentu dibandingkan suku lainnya. Mereka tak pula mengharapkan imbalan.

Tidak memandang muka bukan berarti kita mengasihi sesama dengan cara yang salah. Misalnya, mengajak para gelandangan yang kita temui untuk tinggal di rumah kita sebagai bentuk kasih. Saya salut kepada Papa (Pdt. Dr. Benny Santoso) yang memberi teladan dalam mengasihi sesama. Terhadap kalangan bawah seperti tukang parkir, Papa berusaha memerhatikan mereka. Terhadap para pendeta dari desa-desa yang datang ke rumah kami, Papa tak segan-segan mengajak mereka makan bareng. Bahkan, Papa juga mengajak makan bareng pendeta yang suka menjelek-jelekkan Papa padahal Papa tahu perbuatan mereka itu.

Jujur saja, masih ada orangtua yang membeda-bedakan dalam mengasihi anak-anaknya. Melakukan hal tersebut, berarti berbuat dosa. Kita diajarkan mengasihi sesama bukan untuk mencari muka dan memandang muka, namun untuk menaati Firman TUHAN bahwa kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dalam mengasihi diri sendiri, tentunya kita tidak membeda-bedakan, misalnya lebih mengasihi tangan kanan dibandingkan tangan kiri, bukan?

YOSUA 22 : 4
4 Tetapi sekarang TUHAN, ALLAH-mu, telah mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu, seperti yang dijanjikan-NYA kepada mereka. Oleh sebab itu, pulanglah ke kemahmu, ke tanah milikmu, yang telah diberikan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, di seberang Yordan.

Setelah mereka menjalankan tugas dan menunjukkan kasih kepada TUHAN dan sesama, TUHAN menyuruh tentara dari suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye itu untuk kembali kepada keluarga mereka di seberang Yordan. Kini, mereka juga harus memerhatikan atau mengasihi diri sendiri. Harus ada keseimbangan dalam mengasihi TUHAN, sesama, dan diri sendiri.

Apakah TUHAN tidak dapat memberikan rasa aman bagi seluruh umat Israel tanpa ketiga suku itu? Tentu saja bisa. Namun, TUHAN mengajarkan kita untuk menjalin hubungan horisontal dengan sesama yaitu mengasihi sesama sebagai tanggung jawab kita sebagai orang Kristen.

Tentara dari ketiga suku itu diminta kembali ke kemah mereka. Sebenarnya saat itu Israel sudah tak lagi mengembara di padang gurun; mereka sudah layak membangun rumah permanen. Tetap tinggal di kemah mengajarkan bahwa di dunia ini hanya sementara saja, rumah abadi kita ada di Surga.

YOSUA 22 : 5 - 6, 8
5 "Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, ALLAH-mu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-NYA, tetap mengikuti perintah-NYA, berpaut pada-NYA dan berbakti kepada-NYA dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu." 6 Lalu Yosua memberkati mereka dan melepas mereka pergi. Maka pulanglah mereka ke kemah mereka, 8 maka ia berkata kepada mereka, demikian: "Pulanglah ke kemahmu dengan kekayaan yang banyak dan dengan sangat banyak ternak, dengan perak, emas, tembaga, besi dan dengan pakaian yang sangat banyak. Bagilah dengan saudara-saudaramu jarahan yang dari musuhmu itu."

Setelah tak lagi berperang, bukan berarti sudah tak ada kewajiban lagi bagi ketiga suku itu. Yosua berpesan agar mereka tetap mengasihi ALLAH dan menaati Firman. Kepulangan mereka kepada keluarga mereka dengan membawa banyak harta kekayaan. Satu lagi pesan Yosua: tetap mengasihi sesama dengan membagi berkat yang telah mereka peroleh kepada saudara sebangsa mereka. Kita tidak boleh melupakan tanggung jawab kita untuk menjadi pembawa berkat bagi saudara-saudara kita.

YOSUA 22 : 9
9 Maka pulanglah bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu dan mereka pergi meninggalkan orang Israel, keluar dari Silo di tanah Kanaan untuk pergi ke tanah Gilead, tanah milik mereka yang didiami mereka sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye kembali ke tanah mereka, tanah Gilead di seberang sungai Yordan. Tanah Gilead merupakan daerah yang tandus. Sedangkan tanah Kanaan merupakan dataran subur. Kendati mendapat tanah tandus, mereka mendapat berkat dari TUHAN berupa kekayaan yang sangat besar. Semua berkat ini karena ketiga suku itu menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dan sesama dengan mau berperang untuk merebut tanah Kanaan bagi suku-suku lainnya.

Mengasihi TUHAN dan sesama memang tak mudah. Namun, dengan mengasihi TUHAN, sesama, dan juga diri sendiri secara seimbang, berkat TUHAN akan selalu kita rasakan karena kita telah menjalankan hukum ALLAH yang utama.