Anda memerlukan Adobe Flash Player yang dapat Anda download di sini.

Home | Renungan | Kesaksian | Sentuhan Kasih | Video Streaming | Audio Streaming
Profil | Cabang | Kontak | Konseling | Sekolah Minggu
Halaman Utama > Renungan > Mengalahkan Hawa Naf...
Mengalahkan Hawa Nafsu
Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Jumat, 4 November 2011
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 22/01/12
Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low

Banyak orang Kristen yang berjuang untuk melawan hawa nafsunya, tetapi seringkali mengalami kekalahan. Bagaimana caranya untuk mengendalikan hawa nafsu?

KELUARAN 17 : 8
8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.

Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir karena dilepaskan oleh TUHAN dari perbudakan, mereka memiliki kehidupan yang bebas. Setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir, bangsa Israel menuju Kanaan. Tetapi sementara sedang berjalan menuju Kanaan, orang Israel bertemu dengan orang Amalek yang memerangi orang Israel. Peperangan ini merupakan peperangan yang pertama kali dihadapi oleh orang Israel pasca keluarnya mereka dari Mesir.

Ketika seseorang mengambil keputusan untuk mengikut TUHAN yang melepaskannya dari belenggu setan, tidak secara otomatis ia langsung menikmati berkat TUHAN di Kanaan. Ia harus menghadapi peperangan terlebih dahulu. Peperangan yang pertama adalah berperang melawan "Amalek", gambaran dari hawa nafsu (kedagingan) yang ada di dalam dirinya sendiri.

Selama empat ratus tahun diperbudak di Mesir, orang Israel belum pernah berlatih untuk berperang. Jadi mereka tidak memiliki pengalaman berperang sama sekali, tetapi mau tidak mau mereka tetap harus menghadapi atau memerangi Amalek. Dalam peperangan itu, bukan TUHAN yang berperang melawan Amalek, tetapi orang Israellah yang maju berperang bersama-sama dengan TUHAN. Sebelum masuk Kanaan yang dijanjikan TUHAN, musuh terakhir yang dihadapi bangsa Israael adalah Yerikho. Seperti Amalek, Yerikho juga menggambarkan hawa nafsu. Dengan mampu mengalahkan hawa nafsu, barulah kita dapat beribadah dengan benar.

KEJADIAN 36 : 12
12 Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau.

Dilihat dari silsilahnya, Amalek adalah keturunan Esau (cucu Esau). Sedangkan orang Israel yang keluar dari Mesir adalah keturunan Yakub yang dibawa masuk oleh Yusuf ke Mesir ketika terjadi kelaparan yang sangat panjang. Berarti orang Amalek dan orang Israel merupakan saudara dekat sebab Esau dengan Yakub adalah kakak beradik. Tetapi pada kenyataannya, ketika bangsa Israel berjalan menuju Kanaan, Amalek yang merupakan keturunan Esau justru menghadang dan memerangi orang Israel. Pertikaian antara Esau dan Yakub telah dimulai sejak dari dalam kandungan; mereka sudah bertolak-tolakkan (saling mendorong, tidak akur).

Israel merupakan gambaran pribadi kita, sedangkan Amalek menggambarkan dan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita (sinful desire, sinful nature). Hawa nafsu atau keinginan daging itu ada di dalam diri kita, sehingga tidak mungkin kita "membunuh saudara kita sendiri". Yang harus kita lakukan adalah menguasai dan mengendalikan hawa nafsu tersebut. Mana yang lebih kuat, itulah yang mengendalikan hidup kita. Karena hawa nafsu merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan pribadi kita, diumpamakan sebagai saudara kandung seperti Yakub dengan Esau, maka sangat sulit bagi kita untuk mengalahkan hawa nafsu.

Sekarang kita akan lihat lebih dalam mengenai hawa nafsu yang digambarkan dalam pribadi Esau. Esau disebut sebagai pribadi yang penuh hawa nafsu, yang menukarkan hak kesulungannya hanya dengan semangkuk sup kacang merah. Yang menjadi pertanyaannya, apakah manusia tidak boleh memiliki nafsu, misalnya nafsu makan? Tentu saja boleh. Jika memang demikian, mengapa Esau dipandang telah melakukan sesuatu yang salah? Sebab untuk mencapai keinginannya itu, Esau melakukannya dengan cara yang salah.

Sebenarnya TUHAN memang memberikan "keinginan" di dalam diri manusia. Namun, jika cara untuk mencapai keinginan dengan cara yang salah maka hal itu sudah termasuk ke dalam area hawa nafsu. Keinginan Esau untuk makan sama sekali tidak salah, tetapi yang menjadi kesalahan yang sangat fatal adalah untuk mencapai keinginannya itu ia menjual hak kesulungannya. Inilah yang disebut sebagai tindakan yang dikuasai keinginan daging atau hawa nafsu.

Apakah salah jika seseorang ingin mencapai jenjang pendidikan yang tinggi? Tentu tidak. Tetapi tidak dapat dibenarkan jika untuk mencapai jenjang pendidikan yang tinggi tersebut dengan cara yang salah (mengorbankan TUHAN) dan merugikan orang lain. Demikian pula memiliki anak merupakan hal tidak melanggar Firman. Bahkan ALLAH berfirman, "Beranakcuculah dan bertambah banyak." Tetapi jika cara dan waktu untuk memiliki anak itu salah, misalnya belum menikah sudah memiliki anak, maka perbuatan tersebut merupakan hawa nafsu. Atau sudah menikah, namun wanita yang dinikahinya lebih dari seorang, maka hal itu pun suatu tindakan yang salah.

Contoh lain dalam Alkitab yang menggambarkan tindakan dari hawa nafsu daging adalah ketika Sarai memberikan Hagar kepada Abram, agar dapat memberikan keturunan baginya. Padahal TUHAN telah berjanji untuk memberikan keturunan kepada Abram dan Sarai pada waktu yang telah ditetapkan-NYA. Tetapi Sarai tidak sabar menunggu janji TUHAN, ia lebih memilih mengikuti hawa nafsunya.

KELUARAN 19 : 2
2 Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu.

Setelah bangsa Israel berangkat dari Rafidim; di Rafidim mereka berperang melawan Amalek. Berarti setelah mengalahkan Amalek (kedagingan), mereka berkemah di depan gunung Sinai. Sedangkan Musa naik ke gunung Sinai untuk beribadah kepada TUHAN. Jika Amalek belum dikalahkan, mustahil bagi kita untuk dapat beribadah kepada TUHAN dengan cara yang benar. Sebab iman dan kedagingan merupakan sesuatu yang sangat bertolak belakang. Untuk mencapai keberhasilan, pada umumnya manusia lebih mudah mengorbankan TUHAN daripada mengorbankan yang lain. Contoh: seorang jemaat biasanya Jumat malam datang ke gereja untuk ibadah Pendalaman Alkitab. Tetapi pada suatu hari, Jumat malam, dia diminta klien untuk menandatangani kontrak kerja yang menghasilkan uang cukup besar. Biasanya akan lebih mudah untuk mengorbankan ibadah daripada mengorbankan kontrak kerja yang menghasilkan banyak uang. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya mengalahkan hawa nafsu, "saudara dekat" kita.

Apabila kita telah mampu mengalahkan "Esau" maka kita akan langsung "naik ke gunung Sinai" untuk beribadah kepada ALLAH. Selama masih ada hawa nafsu, kita tetap "berada di Rafidim" karena ditahan oleh "Amalek" sehingga kita tidak dapat beribadah dengan benar.

KELUARAN 17 : 9
9 Musa berkata kepada Yosua: "Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat ALLAH di tanganku."

Apa yang harus kita perbuat agar kita tidak menjadi orang yang dikalahkan oleh hawa nafsu? Pertama, memiliki disiplin diri. Dalam ayat di atas Musa menyuruh Yosua untuk memilih orang-orang untuk berperang melawan orang Amalek. Peperangan yang dihadapi Yosua dan orang-orang yang telah dipilih itu berada di bagian bawah. Artinya, peperangan yang dilakukan hanya secara jasmani saja. Misalnya mendisiplin diri dengan melakukan pola hidup sehat secara jasmani. Tetapi peperangan yang "di bawah" saja tidak akan mampu mengalahkan hawa nafsu. Lagipula orang yang memiliki pola hidup sehat, belum tentu memiliki pikiran dan rohani yang sehat.

Kedua, memiliki disiplin iman. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa untuk mengalahkan hawa nafsu daging, diperlukan peperangan yang harus dilakukan tidak hanya "di bawah" saja, tetapi juga "di atas" atau "di puncak bukit" (iman). Dengan kata lain harus ada keseimbangan antara disiplin diri dan disiplin iman. Seandainya Musa di puncak bukit memegang tongkat TUHAN, tetapi Yosua yang ada di bawah tidak maju berperang maka sudah dipastikan peperangan melawan orang Amalek itu tidak akan dapat dilakukan. Atau sebaliknya, jika di bagian bawah Yosua maju berperang tetapi Musa tidak naik ke puncak bukit untuk mengangkat tongkat TUHAN maka peperangan itu pun tidak akan dapat dimenangkan oleh Yosua. Jadi sudah sangat jelas di sini bahwa antara disiplin diri dan disiplin iman harus ada keseimbangan.

Mengapa orang dunia tidak pernah menang dalam menghadapi hawa nafsunya? Sebab hidup mereka tidak disertai iman kepada TUHAN. Mungkin secara sekilas mereka terlihat mampu mengatasi atau mengalahkan hawa nafsunya. Namun, di sisi lain masih ada hawa nafsu lain yang masih menguasainya. Berbeda dengan kita yang menghadapi peperangan hawa nafsu bukan hanya dengan disiplin diri saja, tetapi juga disertai dengan disiplin iman. Itulah yang membuat kita mampu mengalahkan Amalek.

KELUARAN 17 : 10 - 11
10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. 11 Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.

Yosua melakukan disiplin diri seperti apa yang diperintahkan Musa, yakni maju berperang melawan orang Amalek. Untuk menghadapi peperangan melawan hawa nafsu harus diawali dengan jalan mendisiplin diri. Contoh: ada orang yang ingin lepas dari kecanduan rokok, kemudian ia datang kepada hamba TUHAN untuk didoakan. Tetapi orang itu sendiri masih tetap menyalakan rokoknya, tidak memiliki disiplin diri. Maka doa dari hamba TUHAN tersebut tidak akan berguna apa-apa.

Pada waktu yang bersamaan, Yosua dan pasukannya maju berperang sedangkan Musa, Harun dan Hur naik ke puncak bukit dan Musa mengangkat tongkat ALLAH di tangannya. Tongkat yang diangkat oleh Musa menggambarkan salib KRISTUS. Maka terjadilah, ketika Musa mengangkat tongkat maka lebih kuatlah Israel, tetapi ketika Musa menurunkan tongkat, lebih kuatlah Amalek. Disiplin diri yang disertai dengan salib YESUS, dengan Firman, membuat kita menang mengatasi hawa nafsu. Firman membuat kita mengerti tentang mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Di sisi yang satu, kita berjalan seperti Yosua yang maju berperang melawan Amalek, di sisi lain kita seperti Musa yang mengangkat tongkat untuk meminta pertolongan TUHAN. Jika kedua hal ini dilakukan, maka kita akan mampu mengalahkan hawa nafsu. Hawa nafsu di dalam diri kita masih tetap ada, hanya saja tidak lebih kuat dari diri kita sendiri. Inilah yang disebut dengan menguasai atau mengendalikan hawa nafsu. Nafsu tidak dapat dibunuh. Sebab jika dibunuh secara otomatis manusia itu juga akan mati. Misalnya saja, nafsu makan "dibunuh" maka orang itu akan mati kelaparan. Nafsu makan itu kita kendalikan, bukan kita yang "dikendalikan" oleh nafsu makan tersebut. Orang yang mampu mengendalikan nafsu makan sudah pasti mampu mengatur seberapa banyak makanan yang harus dimakannya, makanan apa saja yang akan dimakannya, dan lain sebagainya. Singkatnya adalah ia mengetahui batasan-batasannya. Untuk dapat mengerti batasan-batasan yang jelas agar hidup kita tidak dikuasai oleh hawa nafsu adalah dengan cara kita mengerti Firman TUHAN dengan baik.

Dalam rangka mengalahkan Amalek, saya selaku hamba TUHAN seringkali mengajak jemaat untuk ambil bagian dalam berdoa dan berpuasa. Sebab berdoa dan berpuasa merupakan salah satu cara bagi kita untuk belajar menguasai hawa nafsu. Ketika berpuasa, kita tidak meminta kepada TUHAN: "TUHAN saya mau berpuasa, buatlah saya supaya tidak makan, ya TUHAN." Mengapa demikian? Karena yang harus mendisiplin diri untuk tidak makan adalah diri kita sendiri dalam rangka mendisiplin iman melalui puasa.

GALATIA 5 : 24 - 25
24 Barangsiapa menjadi milik KRISTUS YESUS, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 25 Jikalau kita hidup oleh ROH, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh ROH.

Ayat 24 dalam terjemahan NIV, "Those who belong to CHRIST JESUS have crucified the sinful nature with its passions and desires." Sinful nature adalah keinginan yang tidak baik, yang secara alamiah sudah ada sejak manusia masih berada dalam kandungan. Contohnya adalah seorang anak tidak pernah diajarkan untuk mengingini milik orang lain, tetapi ketika ia melihat orang lain. Misalnya si adik melihat sesuatu yang dipegang kakaknya, biasanya ia meminta benda yang dipegang kakaknya itu. Jadi tanpa harus diajarkan sesuatu yang tidak baik pun ia sudah dapat melakukannya. "Sinful" merupakan bagian yang harus kita buang dalam mengatasi keinginan yang tidak baik itu, sebab tidak mungkin kita membuang "nature", keadaan alamiah kita.

Mengapa kita harus membuang keinginan yang membawa kita dalam dosa? Sebab keinginan yang tidak baik itu sudah disalibkan. Seharusnya kita sudah mampu membuang keinginan-keinginan tersebut sebab kita telah mati bersama-sama dengan KRISTUS. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak orang Kristen yang masih dikuasai oleh hawa nafsu dan dosa, sehingga ibadah yang dilakukannya tidak berkenan kepada ALLAH.

Kita sering mendengar kesaksian bahwa doa seorang hamba TUHAN selalu dijawab, sedangkan kita sendiri belum pernah menerima jawaban dari doa. Jangan kita iri. Seharusnya kita mengkoreksi diri, "Sudahkah saya mengalahkan 'Amalek' dan beribadah di atas 'gunung Sinai'?" Jika sudah, TUHAN pasti menyediakan segala yang kita butuhkan, dan kita tinggal mengambil berkat yang kita perlukan.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang jemaat yang suaminya mengalami sakit yang cukup parah. Suaminya itu mengalami sesak nafas sehingga harus dibantu dengan alat pernafasan. Sementara dalam perjalanan menuju rumah sakit, jemaat ini menelpon saya dan berkata: "Pak, saya yakin kalau suami saya didoakan, pasti tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Mendengar ucapannya, saya menjadi kagum sebab dalam kondisi kritis, ia masih ingat untuk berdoa kepada TUHAN. Kemudian saya pun mendoakan suaminya. Selesai berdoa saya berkata: "Suamimu sehat sempurna dan tidak ada suatu sakit penyakit apa pun di dalam tubuh suamimu." Setibanya di rumah sakit dan suaminya menjalani pemeriksaan, ternyata memang tidak ada suatu sakit penyakit apa pun seperti yang saya telah katakan. Saat itu juga suaminya boleh pulang dan sehat.

Jadi, jika kita sudah melewati "Rafidim" (telah mengalahkan hawa nafsu) dan "naik ke gunung Sinai" maka apa pun yang kita doakan akan dikabulkan, sebab doa-doa kita tidak terhalang oleh kedagingan. Namun perlu kita ingat, iblis selalu mengintai dan mencari kesempatan untuk kembali menguasai kita. Pada saat kedagingan mulai menguasai diri kita kembali, di saat itulah iblis menunggangi keinginan daging tersebut. Sebab Iblis sangat bersahabat dengan kedagingan. Marilah kita melangkah bersama-sama dengan ROH KUDUS, bukan mengumbar hawa nafsu. Apabila kita hidup dipimpin oleh ROH KUDUS, maka hawa nafsu di dalam kita menjadi lemah atau dapat kita kendalikan. Sedangkan bila kita membiarkan hawa nafsu di dalam diri kita itu berjaya maka roh kita pun menjadi lemah karena ROH KUDUS tidak lagi memimpin kita.

KELUARAN 17 : 12 - 13
12 Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. 13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.

Jika kita bandingkan antara disiplin diri dan disiplin iman, disiplin iman lebih sulit dilakukan. Ayat di atas melukiskannya dengan tangan Musa yang menjadi penat. Sedangkan Yosua tidak disebutkan lelah berperang. Banyak orang Kristen yang lebih cepat lelah atau bosan ketika ia menjalani disiplin iman, misalnya saja dalam hal disiplin berdoa. Sedangkan dalam disiplin diri, biasanya seseorang akan mampu bertahan lebih lama. Padahal, jika disiplin iman seseorang menurun, secara otomatis orang itu akan kalah melawan hawa nafsu. Digambarkan dengan lebih kuatnya Amalek ketika Musa menurunkan tangannya karena penat. Itu sebabnya sangat penting bagi kita untuk selalu mempertahankan disiplin iman sebaik-baiknya, agar kita tidak kalah oleh keinginan daging atau hawa nafsu.

Sayangnya, banyak orang menyepelekan kedisplinan iman. Padahal iman merupakan bagian penting yang harus ada di dalam kehidupan setiap orang percaya. Untuk itu, agar kita dapat memiliki kekuatan iman, yang harus menjadi fondasi utama adalah KRISTUS. Sebab ketika Musa merasa penat, Harun dan Hur mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawah Musa, sehingga ia dapat duduk di atasnya. Kemudian Harun dan Hur menopang tangan kanan dan tangan kiri Musa. Harun adalah kakak dari Musa dan Hur adalah suami dari Miriam (kakak Musa). Ketika iman seseorang mulai penat, saudara terdekat yang memiliki kualitas iman yang sama harus mendukung. Inilah pentingnya prinsip seiman di dalam satu keluarga, yaitu agar sesama anggota keluarga dapat saling mendukung dalam iman.

Dengan Harun dan Hur menopang kedua belah tangan Musa maka tangan Musa yang mengangkat tongkat mampu terus terangkat, tidak bergerak hingga matahari terbenam. Hasilnya, orang Amalek dikalahkan. Ketika kita mampu memiliki iman yang tidak goyah, keinginan dosa tidak lagi menguasai diri kita. Kini yang menguasai adalah keinginan yang bersifat rohani (spiritual desire). Sampai kapan kita harus mengalahkan "Amalek"? Sampai "matahari terbenam", yakni sampai akhir hayat kita.

KELUARAN 17 : 14 - 16
14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa AKU akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit." 15 Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: "TUHAN-lah panji-panjiku!" 16 Ia berkata: "Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun."

Melalui Firman-NYA, hingga hari ini TUHAN mendampingi kita berperang melawan Amalek. Marilah kita maju berperang seperti yang dilakukan oleh Yosua yang berperang di lembah, dan seperti Musa yang mengangkat tongkat di atas gunung Sinai. Jadi tetap ada keseimbangan disiplin diri dengan disiplin iman. Kedua-duanya ini kita lakukan atas dasar yang benar, yakni Firman TUHAN.

Beberapa tahun yang lalu ada tren persekutuan doa, baik di kantor-kantor maupun di rumah-rumah. Ternyata tujuan mendisiplin iman diselewengkan. Kebanyakan dari mereka mengikuti persekutuan doa di sana sini karena mau melarikan diri dari kenyataan. Misalnya, daripada repot mengurus anak, ibu-ibu lebih memilih menyibukkan diri mengikuti persekutuan doa. Sedangkan untuk mengurus anak diserahkan kepada pembantu. Jika hal-hal seperti ini dilakukan, yang terjadi bukanlah mendisiplin diri dan iman, melainkan malah kehancuran.

MAZMUR 133
1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Jika iman kita terasa "penat", Firman TUHAN mengatakan bahwa saudara seimanlah yang dapat menopang hingga iman kita menjadi kuat kembali. Dengan demikian berkat TUHAN dicurahkan atas kita dan akan terus mengalir dari atas (kepala) hingga ke bawah (janggut dan leher jubah), dari bapak ibu mengalir hingga ke anak cucu, dan seterusnya. Bukan hanya berkat jasmani saja. Ayat 3 mengatakan bahwa berkat yang tercurah juga meliputi kehidupan. Banyak orang yang menerima berkat jasmani, tetapi ia tidak merasakan gairah hidup, tidak memiliki kehidupan yang semarak. Tetapi dengan memiliki keseimbangan antara disiplin diri dan disiplin iman, kita akan mampu mengalahkan "Amalek", serta menikmati berkat jasmani dan hidup yang penuh warna. Amin.