Pada tanggal 29 Juli 2008, saya berangkat ke Singapore untuk kunjungan wisata dan berkunjung ke tempat om/paman saya yang sudah menjadi warga negara Singapore. Rencananya, saya baru akan pulang 10 Agustus 2008. Selama berada di sana, saya benar-benar menikmatinya. Saya berjalan-jalan layaknya seorang turis dan saya juga mencoba mempelajari kota ini secara detail, karena saya juga bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan.
Namun kejadian yang tidak saya harapkan menimpa saya tanggal 5 Agustus 2008. Pada pukul 15.00 saya merasakan rasa sakit di tulang punggung dan pinggang yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Saya mencoba menahan rasa sakit dan berdoa, namun rasa sakit itu terus bertambah. Saya minum Panadol dengan harapan bahwa rasa sakit ini akan berkurang. Ternyata rasa sakitnya tidak berkurang, malahan semakin sakit.
Jam 19.30, paman saya kembali dari kantor dan menanyakan keadaan saya; saat itu saya sudah tidak bisa berbaring, hanya bisa duduk dan berdiri sambil menahan rasa sakit. Paman saya menawarkan saya untuk dibawa ke RS terdekat di sana.
Background medical record saya adalah sejak umur 8 bulan, saya mengidap penyakit THALASEMIA. Penyakit ini adalah penyakit genetik dan belum ada obatnya secara kedokteran. Jadi inti dari penyakit ini adalah tulang sumsum saya tidak dapat memproduksi sel-sel darah merah, sehingga saya harus transfusi darah secara rutin. Penderita penyakit ini juga tidak bisa membuang zat besi yang masuk dari efek transfusi tersebut. Cara membuang zat besi ini adalah dengan pemasangan obat desferal, pemakaiannya adalah dengan cara menyuntikkannya ke permukaan kulit.
Selain Thalasemia, saya juga pernah terkena HEPATITIS C sekitar 3 tahun lalu, yang disebabkan dari efek transfusi. Namun MUJIZATNYA NYATA, sehingga saat ini saya sudah sembuh dari Hepatitis C.
Dengan medical record yang rumit ini, saya jadi berfikir dua kali untuk masuk RS di Singapore, dan akirnya setelah saya berunding, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan terakhir.
Sebelum berangkat dari Singapore, orangtua saya juga sudah meminta doa oleh Pdt. Handoyo. Dari bandara Changi saya sudah tidak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda. Sesampainya di Jakarta, saya langsung dibawa ke RS Siloam Kebon Jeruk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di sana saya diperiksa urin dan setelah pemeriksaan tersebut, saya mulai susah buang air kecil. Rasanya setiap beberapa menit saya ingin buang air kecil, namun tak bisa. Dan dari hasil pemeriksaan urin, didiagnosa bahwa ada kristal yang memungkinkan rasa sakit di pinggang dan susah buang air kecil.
Hari pertama dan kedua di rumah sakit, saya menjalani pemeriksaan seputar urologi, seperti pemeriksaan ginjal dan lainnya. Namun dokter urolog saya mengatakan tidak ada apa apa, semua normal, mungkin ada infeksi saluran kemih. Saya masih belum bisa buang air kecil.
Hari ke-3, berdasarkan jadwal, saya harus transfusi darah. Dan atas pertimbangan dari dokter jantung, akhirnya kami memutuskan untuk menambah dokter hematolog. Direncanakan saya menjalani transfusi dua kantong darah. Kantong pertama berjalan lancar, namun saya masih belum bisa buang air kecil dan pada saat itu saya merasakan sudah sangat ingin buang air kecil dan akhirnya “dipancing”. Hasilnya, keluarlah 400 cc urin setelah hampir 1 1/2 hari tidak bisa buang air kecil.
Setelah kantong pertama selesai, tidak ada masalah dan keadaan saya masih normal, sehingga transfusi kantong kedua dijalankan. Namun di tengah-tengah transfusi, keadaan saya drop, tekanan darah saya turun dan detak jantung saya menjadi sangat cepat, sehingga saya dilarikan ke ICU (sekitar pk 00.00) dalam keadaan setengah sadar. Pada tubuh saya dipasangkan kateter, dan siang harinya dokter jantung menyatakan dari hasil EKG, bahwa fungsi jantung saya melemah dan ada cairan, sehingga menyebabkan saya terlihat bengkak dan drop pada saat transfusi.
Akhirnya setelah melakukan perawatan intensif di ICU selama dua malam, pada hari Sabtu 9 Agustus 2008, saya boleh kembali ke ruangan perawatan biasa. Hari itu pula Pdt. Handoyo datang untuk mendoakan saya, dan dengan iman saya percaya bahwa kejadian ini adalah untuk saya mendapatkan kesembuhan sempurna dari YESUS atas semua penyakit saya.
Dan setelah didoakan, saya merasa tenang dan dapat tidur dengan nyenyak, Namun sekitar pk 22.00 saya terbangun dan mendengar suara "STANLEY, MARI IKUT AKU KE SURGA" dan setelah mendengar suara itu, saya melihat keadaan di sekitar saya menjadi seperti awan yang berwarna putih dan badan saya terasa sangat ringan, dan saya seperti mendayuh (gerakan seperti berenang) di awan itu. Saya menjawab "TAPI TUHAN, SAYA MASIH MAU MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA SAYA" lalu IA menjawab "BAIKLAH!" dan sesaat, yang tadinya saya dayuh seperti awan berubah menjadi segenggam batu yang saya kepal dan saya seperti kaget.
Menurut orang tua saya yang juga menyaksikan langsung kejadian tersebut, mereka mengatakan bahwa saya yang tadinya tidur, tiba tiba melek dan memfokuskan pandangan saya pada satu titik dan itu memang saya rasakan. Mereka mencoba mengalihkan pandangan saya dengan cara mereka berjalan, namun pandangan saya tetap fokus.
Saya langsung menceritakan kepada Pdt. Handoyo, dan beliau berkata bahwa seharusnya saya sudah tiada, namun karena kemurahan TUHAN, saya mendapat perpanjangan umur dan semenjak saat itu saya merasa tertegur, karena merasa saya menjauhkan diri dari YESUS dengan meninggalkan pelayanan saya sebagai pemain musik di Sekolah Minggu GKT demi keberhasilan karir pekerjaan saya. Dan sejak saat itu saya merasa terpanggil dan berjanji untuk menyerahkan hidup saya sepenuhnya untuk jadi alat-NYA.
Pada hari Minggu, saya menerima perjamuan di RS yang telah didoakan oleh Pdt. Handoyo dan semenjak saat itu, penyakit saya mulai dapat didiagnosa dan berdasarkan hasil cek darah, saya juga kelebihan zat besi, kadar normal zat besi penderita Thalasemia sekitar 5000, tapi kadar zat besi saya 200.000.
Namun memang KUASA-NYA dashyat, dengan sekali pemasangan desferal, zat besi saya turun menjadi 60.000 dan dengan kuasa minyak urapan yang didoakan, keadaan saya berangsur pulih, rasa sakit di pinggang juga mulai hilang, meskipun saya harus dirawat selama 2 minggu, karena harus terus mengurangi zat besi. Akhirnya 20 Agustus 2008, saya dapat keluar dan keadaan saya terus membaik.
Dan saat ini, saya merasakan bahwa tubuh saya yang sakit ini terus membaik dan tanggal 31 Agustus 2008, saya sudah dapat ke gereja dengan berjalan tanpa kursi roda. 7 September 2008, saya sudah bisa berjalan dengan normal tanpa harus pincang dan tidak ada rasa sakit, meskipun masih sedikit sulit untuk duduk bersila, namun saya sudah kembali melayani TUHAN lewat talenta musik saya di kelas Betlehem.
Dan saya percaya kesembuhan sempurna akan menjadi milik saya, asalkan saya tetap rajin membaca Alkitab, dan melayani-NYA. AMIN, GOD bless!